Begal Nasab Jalur Perempuan: Kritik Al-Qur’an terhadap Adat Jahiliyah dalam Tradisi Yahudi dan Arab Pra-Islam
Pengantar
Video YouTube berjudul “Begal Nasab Jalur Perempuan || Kritik Quran terhadap Adat Jahiliyah” yang diunggah di channel Menachem Ali Official (Airlangga University) pada 29 Agustus 2024, menyajikan diskusi mendalam antara Ustadz Menachem Ali (disebut sebagai Prof. Menachem Ali) dan Ustaz Edy Prayitno (Pak Edi) dalam format acara Graha Muallaf. Diskusi ini berdurasi sekitar 48 menit dan membahas isu nasab (garis keturunan) melalui jalur perempuan (female line) sebagai kritik tajam Al-Qur’an terhadap adat Jahiliyah (pra-Islam) yang dominan di kalangan Yahudi dan Arab.
Diskusi dimulai dengan salam “Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh” (السلام عليكم ورحمة الله وبركاته), diikuti pertanyaan provokatif: Apakah nasab Nabi Isa AS (Yesus) dan Nabi Muhammad SAW “terputus” (abtar) karena bergantung pada garis laki-laki? Ustadz Menachem Ali menjawab bahwa Al-Qur’an “merampok” (begal) tradisi patriarkal ini dengan menegaskan nasab melalui perempuan, seperti menyebut Isa sebagai “Ibn Maryam” (ابن مريم – putra Maryam) dan keturunan Nabi Muhammad melalui Fatimah az-Zahra RA.
Pembahasan dibagi menjadi bagian-bagian utama: latar belakang adat Jahiliyah, paralel Yahudi-Islam, kasus Nabi Isa AS, kasus Nabi Muhammad SAW, kritik terhadap tradisi patriarkal, implikasi kontemporer, serta kesimpulan. Tujuan adalah menjadikan ini sebagai artikel akademis yang membela pandangan Al-Qur’an sebagai koreksi ilahi terhadap kebiasaan manusiawi yang keliru.
Latar Belakang Adat Jahiliyah: Patriarki dalam Nasab Yahudi dan Arab
Jahiliyah (الجاهلية – masa ketidaktahuan) merujuk pada era pra-Islam di Arab dan pengaruhnya pada masyarakat sekitar, termasuk Yahudi. Dalam tradisi Yahudi, nasab (lineage) sangat ketat melalui garis laki-laki (patrilineal). Ini didasarkan pada dua pilar utama: Torah Tertulis (Taura Sebikhtab, atau Tanakh/Torah Nevi’im Ketuvim – توراه שבכתב) dan Torah Lisan (Taura Sebialpe, kemudian ditulis sebagai Mishnah dan Talmud – توراه שבעל פה).
Ustadz Menachem Ali membandingkan dengan Islam: Al-Qur’an sebagai “Torah Tertulis” dan Hadis (termasuk Musnad Ahmad, Sunan, Sahih Bukhari-Muslim) sebagai “Torah Lisan”. Istilah seperti Misna (Mishnah Yahudi) mirip Musnad (kumpulan Hadis), Tehar (pemurnian Yahudi) paralel Thaharah (طهارة – kesucian dalam Hadis).
Dalam Yahudi, nasab laki-laki adalah aturan tetap (fixed paradigm). Misalnya, keturunan Cohen (imam) harus melalui ayah, seperti dalam Keluaran 28:1: “וְאַתָּה הַקְרֵב אֵלֶיךָ אֶת־אַהֲרֹן אָחִיךָ” (We’attah haqreb eleikha et-Aharon akhikha – Dan engkau, bawalah Harun saudaramu…). Ini menjadikan garis perempuan “terputus” jika tidak ada laki-laki.
Di Arab Jahiliyah, nasab juga patrilineal. Jika anak laki-laki mati, keturunan disebut “abtar” (أبتر – terpotong), seperti ejekan terhadap Nabi Muhammad SAW setelah kematian putra-putranya (Qasim, Abdullah, Ibrahim). Ini tercermin dalam Al-Qur’an Surah Al-Kautsar 108:3: “إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْأَبْتَرُ” (Inna shani’aka huwa al-abtar – Sesungguhnya orang yang membencimu, dialah yang terputus).
Al-Qur’an “merampok” tradisi ini dengan menegaskan nasab melalui perempuan, membuktikan bahwa garis keturunan nabi tetap mulia meski tanpa laki-laki langsung.
Paralel Yahudi-Islam: Pilar Doktrin dan Bahasa Semitik
Diskusi menyoroti kemiripan struktur:
- Yahudi: Torah Tertulis (Tanakh) + Torah Lisan (Mishnah/Talmud).
- Islam: Al-Qur’an + Hadis/Sunnah (Musnad, Sahih).
Istilah Semitik: Misna (משנה – pengulangan) mirip Musnad (مسند – yang disandarkan). Tehar (טהר – suci) paralel Thaharah (طهارة).
Ini menunjukkan akar Semitik bersama, tapi Al-Qur’an merevisi patriarki Yahudi dengan contoh Nabi Isa AS.
Kasus Nabi Isa AS: Ibn Maryam dan Kritik terhadap Jahiliyah Yahudi
Nabi Isa AS disebut “Ibn Maryam” (ابن مريم) di Al-Qur’an, menekankan garis ibu. Ini kontras dengan Yahudi yang memerlukan ayah untuk nasab sah.
Ayat kunci: Surah Maryam 19:28: “يَا أُخْتَ هَارُونَ مَا كَانَ أَبُوكِ امْرَأَ سَوْءٍ وَمَا كَانَتْ أُمُّكِ بَغِيًّا” (Ya ukhta Haruna ma kana abuki imra’a saw’in wa ma kanat ummuki baghiyya – Wahai saudari Harun, ayahmu bukan orang jahat, ibumu bukan pezina).
Tafsir Sheikh Abdur Rauf Singkel (Al-Qur’anul Karim Tarjuman Al-Mafid, dalam huruf Arab-Melayu): Menjelaskan tuduhan Yahudi bahwa Maryam berzina, tapi Al-Qur’an membantahnya. Isa lahir mukjizat, tanpa ayah manusia.
Dalam Talmud (Sanhedrin 67a atau varian), Isa disebut “Yeshu ha-Notzri” (ישו הנוצרי – Yesus orang Nazaret), anak dari “Pantera” (פנטר – Pantera, seorang Romawi), disebut “mamzer” (ממזר – anak zina). Ayahnya “goyi” (גוי – non-Yahudi, jamak goyim), ibunya Yahudi tapi Isa tetap mamzer karena ayah asing.
Ini menjelaskan penolakan Yahudi terhadap Isa: Karena nasab melalui perempuan, bukan laki-laki Daud. Mereka menunggu Mesias dari garis laki-laki Daud.
Al-Qur’an “begal” tradisi ini: Isa tetap nabi mulia sebagai Ibn Maryam.
Kasus Nabi Muhammad SAW: Abtar dan Keturunan melalui Fatimah
Surah Al-Kautsar 108:3: “إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْأَبْتَرُ” (Inna shani’aka huwa al-abtar).
Tafsir Abdur Rauf Singkel: Orang yang membenci Nabi akan terputus dari kebaikan, termasuk keturunan. Ejekan dari Al-‘Ash ibn Wa’il setelah kematian putra Nabi.
Namun, keturunan Nabi melalui Fatimah RA (putri) ke Hasan dan Husain RA, disebut Sayyid/Syarif (شريف – mulia). Ini membuktikan nasab tidak terputus.
Al-Qur’an Surah Al-Ahzab 33:40: “مَا كَانَ مُحَمَّدٌ أَبَا أَحَدٍ مِنْ رِجَالِكُمْ وَلَٰكِنْ رَسُولَ اللَّهِ وَخَاتَمَ النَّبِيِّينَ” (Ma kana Muhammadun aba ahadin min rijalikum wa lakin rasula Allahi wa khataman nabiyyin – Muhammad bukan ayah dari laki-laki kalian, tapi Rasul Allah dan penutup para nabi).
Ini menegaskan peran Nabi sebagai penutup, tapi keturunan melalui perempuan tetap ada.
Kritik terhadap Tradisi Patriarkal Jahiliyah
Al-Qur’an mereformasi adat Jahiliyah:
- Yahudi: Nasab laki-laki untuk Cohen, Levi, dll.
- Arab: Nasab hanya laki-laki, perempuan tidak dihitung.
Al-Qur’an membuktikan dengan Isa (mukjizat tanpa ayah) dan Muhammad (keturunan melalui Fatimah). Ini menunjukkan keadilan ilahi atas adat manusiawi.
Dalam Halakha Yahudi, anak dari perempuan zina tetap Yahudi melalui ibu, tapi status rendah. Al-Qur’an menolak tuduhan itu.
Implikasi Kontemporer: Nasab dalam Masyarakat Modern
Di Indonesia, isu nasab relevan dengan keturunan Arab (Habib/Sayyid). Video menekankan ikuti Al-Qur’an, bukan ashabiyah (fanatisme suku).
Donasi untuk Yayasan At-Tauhid disebutkan untuk masjid dan mualaf.
Ekspansi Historis: Evolusi Nasab di Semitik
Nasab patrilineal umum di Timur Tengah kuno (Asyur, Babilonia). Yahudi mempertahankannya pasca pembuangan. Islam merevisinya dengan contoh nabi.
Analisis Linguistik: Istilah Kunci
- Abtar (أبتر): Terpotong.
- Ibn Maryam (ابن مريم).
- Mamzer (ממזר): Anak zina.
- Goyi (גוי): Non-Yahudi.
Studi Kasus: Tafsir Abdur Rauf Singkel
Tafsir dalam Melayu-Arab: Detail tuduhan Yahudi dan pembelaan Al-Qur’an.
Kritik terhadap Penolakan Yahudi Modern
Beberapa Yahudi kini terima garis perempuan, tapi inkonsistensi tetap.
Kesimpulan
Al-Qur’an “begal” adat Jahiliyah dengan menegaskan nasab perempuan. Ini bukti kebenaran ilahi.
“Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh” (وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته).

