Al-Qur’an Satu Nabi, Satu Bahasa, Satu Periode: Mengapa Tetap Beragam Qira’at, dan Mengapa Itu Bukan Masalah (Bahkan Lebih Terjaga Daripada Kitab-Kitab Sebelumnya)
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Malam Jumat seperti biasa, channel Kitaed M Ali Official & Graha Mualaf kembali menggelar live kajian bersama Ustaz Menahem Ali. Kali ini topiknya adalah lanjutan dari tuduhan “ada ayat Al-Qur’an yang hilang di mushaf Ibnu Mas’ud” dan tanggapan atas komentar seorang penonton bernama “kionomo zua 9669” yang menyatakan:
“Harusnya Al-Qur’an itu tidak ada perbedaan karena nabinya satu, zamannya satu, bahasanya satu (bahasa Arab), periodenya sama. Harusnya wajib sama, tidak ada perbedaan dialek dan sebagainya… Berbeda dengan Alkitab yang memang ditulis banyak orang, jadi wajar ada perbedaan.”
Ustaz Menahem Ali menjawab dengan sangat terperinci dan membalik argumen dengan membandingkan Al-Qur’an dengan Taurat Nabi Musa yang memenuhi kriteria “satu nabi, satu bahasa, satu periode” yang sama.
1. Kitab Suci adalah Proses Historis, Bukan Turun Jadi Buku
Ustaz Ali memulai:
“Istilah ‘kitab suci’ itu problematik karena terkesan taken for granted. Al-Qur’an maupun Bibel menjadi ‘kitab suci’ melalui proses sejarah yang panjang, bukan turun dari langit dalam bentuk buku jadi.”
2. Komparasi yang Adil: Taurat Musa vs Al-Qur’an
Ustaz menjelaskan bahwa Taurat (Pentateukh) diklaim umat Yahudi dan Kristen ditulis oleh satu orang: Musa, dalam satu bahasa (Ibrani kuno), pada satu periode kenabian Musa. Jika argumen komentator diterapkan, maka Taurat harusnya “wajib sama, tidak boleh ada perbedaan dialek apalagi redaksi”.
Namun faktanya?
3. Fakta Menyentak: Ada Dua Taurat yang Masih Ada Sampai Hari Ini
- Taurat Versi Yahudi (Masoretik)
- Taurat Versi Samaria (Samaritan Pentateuch)
Keduanya dalam bahasa Ibrani, sama-sama mengaku diturunkan kepada Musa, tapi teksnya berbeda ribuan tempat!
Contoh 1 – Kejadian 2:2 (Hari Tuhan Menyelesaikan Penciptaan)
Versi Yahudi (Masoretik):
בַּיּוֹם הַשְּׁבִיעִי – “Pada hari ketujuh Allah menyelesaikan pekerjaan-Nya…”
Versi Samaria:
בַּיּוֹם הַשִּׁשִּׁי – “Pada hari keenam Allah menyelesaikan pekerjaan-Nya…”
Akibatnya:
Orang Yahudi menjadikan Sabat hari Sabtu (ke-7), sementara komunitas Samaria menguduskan hari Jumat (ke-6). Satu nabi, satu bahasa, satu zaman → tapi hari Sabat berbeda karena teksnya berbeda!
Contoh 2 – Kejadian 22:2 (Perintah Kurban Ishak)
Versi Yahudi:
לְאֶרֶץ הַמֹּרִיָּה – “ke tanah Moria” (sekarang Yerusalem)
Versi Samaria:
לְאֶרֶץ הַמּוֹרֶה – “ke tanah Moreh” (di Nablus, 70 km utara Yerusalem)
Lokasi kurban berbeda ratusan kilometer! Bukan sekadar dialek, tapi objek berbeda.
Contoh 3 – Keluaran (Exodus) pasal 11 dst.
Ada ayat-ayat yang ada di versi Samaria tapi hilang di versi Yahudi, begitu pula sebaliknya. Total perbedaan mencapai ribuan tempat.
4. Taurat Yahudi Sendiri Terpecah Lagi
Teks Masoretik yang dipakai Yahudi dan Kristen Protestan pun bukan satu, tapi ada dua versi besar:
- Versi Ben Asher (yang sekarang dominan)
- Versi Ben Naftali (manuskripnya banyak dibakar)
5. Alkitab Kristen Sendiri Berbeda-beda
- Mazmur versi Yahudi/Katolik/Protestan = 150 pasal
- Mazmur versi Ortodoks (Septuaginta) = 151 pasal (ada tambahan Mazmur 151 dengan 7 ayat)
- Kitab deuterokanonika (Tobit, Yudit, Makabe 1-2, Kebijaksanaan Salomo, dll.) dianggap kanonik oleh Katolik & Ortodoks, tapi apokrif oleh Protestan → Alkitab Protestan paling tipis, Katolik lebih tebal, Ortodoks paling tebal.
6. Lalu Bagaimana dengan Qira’at Berbeda di Al-Qur’an?
Ustaz Ali memberikan contoh nyata menggunakan dua mushaf cetak yang sama-sama terbitan modern:
Surah Al-Baqarah ayat “Fi qulubihim maradhun…”
Di mushaf riwayat Hafs (yang umum di Indonesia) → ayat ke-10
Di mushaf riwayat Hisyam → ayat ke-9
Ada yang langsung bilang “Ayatnya beda! Ada yang hilang!”
Ustaz Ali menjelaskan:
“Penomoran ayat itu bukan wahyu. Dulu Al-Qur’an turun tanpa nomor ayat, tanpa nomor surah, bahkan tanpa titik dan harakat. Penomoran baru muncul berabad-abad kemudian. Yang berbeda hanya cara meletakkan angka, bukan isi ayatnya.”
Bunyi ayat dan urutannya tetap sama persis dari awal sampai akhir surah. Total ayat Surah Al-Baqarah di semua qira’at mutawatir tetap 286 ayat.
Perbedaan qira’at hanya pada:
- Dialek pelafalan (contoh: يُكَذِّبُونَ vs يَكْذِبُونَ)
- Sedikit variasi harakat yang tidak mengubah makna inti
Semuanya diturunkan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sendiri dan termasuk bagian dari mukjizat tujuh ahruf.
7. Kisah Pembakaran Mushaf di Zaman Utsman
Ustaz Ali menegaskan:
“Yang dibakar Utsman bukan Al-Qur’an Nabi, tapi mushaf-mushaf pribadi sahabat yang mencampur ayat Al-Qur’an dengan catatan tafsir, asbabun nuzul, atau hadis. Riwayat Ibnu Mas’ud, mushaf Ali, dll. tetap terjaga sampai sekarang dalam bentuk qira’at yang 10 (mutawatir). Tulisan rasmi diseragamkan, tapi cara bacanya tetap beragam sesuai sunnah Nabi.”
Kesimpulan Ustaz Menahem Ali
“Al-Qur’an diturunkan kepada satu nabi, dalam satu bahasa, pada satu periode → dan sampai hari ini isinya sama, tidak ada penambahan, tidak ada pengurangan, tidak ada lokasi yang berbeda, tidak ada hari Sabat yang berbeda.
Sedangkan Taurat Musa yang memenuhi kriteria sama, sampai hari ini masih ada dua (bahkan lebih) versi dengan ribuan perbedaan redaksional yang mengubah makna dan praktik keagamaan.
Jadi pertanyaan ‘kenapa Al-Qur’an tidak satu dialek saja?’ justru harus dibalik: ‘kenapa Taurat Musa yang satu nabi, satu bahasa, satu zaman, malah berbeda ribuan tempat?’”
Live ditutup dengan promosi buku terbaru Ustaz Ali berjudul “Ismail dalam Alkitab dan Manuskrip Qumran” (terbit Januari 2024) yang memuat bukti-bukti tekstual ini secara lebih lengkap, serta ajakan donasi pembangunan masjid Yayasan Attauhid.
Wallahu a’lam bish-shawab.
Semoga bermanfaat dan menjadi pencerah bagi kita semua.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

