Kisah IslamiSejarah

Gaya Bahasa Al-Qur’an dan Taurat Membuktikan yang Dikorbankan adalah Ismail AS

Gaya Bahasa Al-Qur’an dan Taurat Membuktikan yang Dikorbankan adalah Ismail AS

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Dalam kajian rutin malam Jumat channel Graha Muallaf At-Tauhid, Ustadz Menachem Ali bersama Ustadz Edy Prayitno melanjutkan pembahasan mendalam tentang siapa putra Nabi Ibrahim AS yang diperintahkan untuk dikorbankan. Kajian ini terinspirasi dari komentar netizen yang beragam pasca-episode sebelumnya, serta melengkapi pernyataan Gus Baha.

Kali ini fokus pada karakter bahasa semitik (Arab dan Ibrani) dalam Al-Qur’an dan Taurat, serta perubahan terjemahan Alkitab Terjemahan Baru edisi 2 (TB2) tahun 2023 yang menuai perhatian.

Pendahuluan: Mengapa Bahasa Penting?

Banyak komentar netizen merujuk hadis atau tafsir, padahal para ulama sendiri berbeda pendapat sejak generasi awal. Kajian ini menekankan gaya bahasa Al-Qur’an yang konsisten dan paralel dengan Taurat.

Sebelumnya telah dibahas bahwa tafsir paling awal sudah menunjukkan dua pendapat seimbang:

  • Tafsir Muqatil bin Sulaiman (w. 150 H) menyebut Ishak tanpa sanad.
  • Tafsir Sufyan ats-Tsauri (w. 161 H) menyebut Ismail dengan sanad yang jelas.

Pendapat Ismail lebih kuat secara sanad hadis. Kini, analisis linguistik semakin memperkuat argumen tersebut.

Analisis Gaya Bahasa Al-Qur’an: Berita Gembira Kelahiran

Dalam Surah Ash-Shaffat ayat 112, Allah berfirman:

وَبَشَّرْنَاهُ بِإِسْحَاقَ نَبِيًّا مِنَ الصَّالِحِينَ ۝١١٢
“Dan Kami beri dia kabar gembira dengan Ishak, seorang nabi dari orang-orang yang saleh.”

Kata “basyyarnāhu bi Ishāqa” (Kami beri kabar gembira kepadanya tentang Ishak) menunjukkan berita kelahiran Ishak AS, bukan kenabian semata. Ishak baru disebut setelah peristiwa pengorbanan (ayat 100–111). Logikanya sederhana: anak yang dikorbankan adalah putra sebelum kelahiran Ishak, yaitu Ismail AS.

Redaksi ini paralel dengan berita kelahiran Nabi Yahya AS dalam Surah Ali ‘Imran ayat 39:

فَنَادَتْهُ الْمَلَائِكَةُ وَهُوَ قَائِمٌ يُصَلِّي فِي الْمِحْرَابِ أَنَّ اللَّهَ يُبَشِّرُكَ بِيَحْيَىٰ مُصَدِّقًا بِكَلِمَةٍ مِّنَ اللَّهِ وَسَيِّدًا وَحَصُورًا وَنَبِيًّا مِّنَ الصَّالِحِينَ

“Maka malaikat-malaikat memanggilnya, sedang ia berdiri shalat di mihrab: ‘Sesungguhnya Allah memberi kabar gembira kepadamu dengan (kelahiran) Yahya, yang membenarkan kalimat dari Allah, menjadi pemimpin, menahan diri dari hawa nafsu, dan seorang nabi termasuk keturunan orang-orang saleh.’”

Redaksi “yubashshiruka bi Yahyā” jelas berita kelahiran, bukan hanya kenabian. Demikian pula di Ash-Shaffat: berita kelahiran Ishak setelah pengorbanan, sehingga anak yang “halīm” (sabar) di ayat 101 adalah Ismail.

Al-Qur’an juga menghubungkan nama dengan makna:

  • Ismail berasal dari “sami‘a” (Allah telah mendengar) doa Ibrahim: رَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِينَ (Surah Ash-Shaffat: 100).
  • Ishak terkait “ḍaḥika” (tertawa), karena Sarah tertawa mendengar berita kelahiran (Surah Hud: 71).

Paralel dengan Kitab Kejadian (Taurat) – Kisah Tamu Malaikat

Al-Qur’an menceritakan kedatangan utusan (malaikat) membawa kabar gembira kepada Ibrahim, di mana beliau menyembelih anak sapi terbaik (Surah Hud: 69–73 atau Al-Hijr: 51–56). Ini sangat mirip dengan Kejadian 18:1–8.

Teks Ibrani asli Kejadian 18:7:
וְאֶל־הַבָּקָ֖ר רָ֣ץ אַבְרָהָ֑ם וַיִּקַּ֨ח בֶּן־בָּקָ֜ר רַ֤ךְ וָטוֹב֙ וַיִּתֵּ֣ן אֶל־הַנַּ֔עַר וַיְמַהֵ֖ר לַעֲשׂ֥וֹת אֹתֽוֹ׃

Terjemahan harfiah: Abraham berlari ke kawanan sapi, mengambil seekor anak lembu yang empuk dan baik, lalu memberikannya kepada ha-na‘ar (הַנַּ֔עַר – the young man / pemuda / bujang).

Dalam tradisi Yahudi (Midrash dan komentar Rashi serta sumber lain), “ha-na‘ar” ini diidentifikasi sebagai Ismail AS, putra Ibrahim yang saat itu berusia sekitar 13 tahun (usia ketika anak laki-laki mulai bertanggung jawab atas perintah Taurat / mitzvot).

Ini memperkuat bahwa sebelum Ishak lahir, Ismail sudah aktif membantu ayahnya dan mengetahui peristiwa penting dalam keluarga.

Catatan Penting: Perubahan Terjemahan Alkitab Indonesia

Kajian menyoroti pergeseran terjemahan dalam Alkitab Terjemahan Baru (TB) edisi revisi:

  • Versi lama (TB): “seorang bujangnya” atau “anak muda”.
  • TB2 (2023): “seorang hambanya” (hamba sahaya).

Padahal teks Ibrani asli menggunakan na‘ar (pemuda/anak muda), bukan kata untuk hamba sahaya (ebed). Perubahan ini menurunkan derajat Ismail dari putra menjadi “hamba”, yang bertentangan dengan tradisi Yahudi sendiri yang mengakui Ismail sebagai putra Ibrahim.

Ini menjadi contoh bagaimana terjemahan bisa mengandung muatan teologis atau politik, dan mengapa umat Islam perlu literasi dokumen asli (bahasa Arab & Ibrani) untuk memahami narasi secara adil.

Kesimpulan Kajian

Dari analisis bahasa semitik:

  • Al-Qur’an secara linguistik menempatkan pengorbanan sebelum kelahiran Ishak → merujuk pada Ismail AS.
  • Lokasi tetap di Mina (Hijaz), bukan Moriah/Moreh di Palestina.
  • Tradisi Yahudi sendiri (melalui Midrash) melibatkan Ismail dalam peristiwa keluarga Ibrahim sebelum Ishak lahir.
  • Usia 13 tahun muncul sebagai angka kunci yang selaras antara beberapa tafsir Islam dan tradisi Yahudi.

Hikmah utama bukan perdebatan nama, melainkan ketakwaan, kesabaran, dan penyerahan diri total kepada Allah SWT. Idul Qurban mengajarkan kita mengorbankan yang paling dicintai karena cinta kepada-Nya, bukan untuk penebusan dosa.

Kajian ini mengajak umat berpikir kritis berbasis teks asli, bukan sekadar terjemahan, agar terhindar dari pemahaman yang bias atau dimanfaatkan untuk memecah belah.

Semoga bermanfaat sebagai bahan renungan dan dakwah. Wallahu a’lam bish-shawab.

Artikel ini disusun berdasarkan transkrip kajian lanjutan Graha Muallaf yang Anda bagikan. Semoga menambah kedalaman wawasan umat.

Silahkan bagikan di :