KristologiSejarah

Ulangan 18:18 dalam Perspektif Lintas Agama

Acara: Ngobrol Santai Bareng Dondi dan Aristo (Ngobras Doa)
Penyelenggara: Yayasan Pembina Mualaf Attauhid
Pemateri: Dr. Manahem Ali, Dosen Filologi Universitas Airlangga, Surabaya
Pemandu: Pak Dondi dan Aristo
Tema: Ulangan 18:18 dan Wacana Nubuatan Nabi dalam Tradisi Yahudi, Kristen, dan Islam

Pembukaan

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Alhamdulillah, acara Ngobras Doa kembali hadir dengan puji syukur kepada Allah SWT atas kenikmatan hidup. Shalawat dan salam terhatur kepada Nabi Muhammad SAW, keluarganya, sahabatnya, dan umat yang setia mengikuti sunnahnya. Semoga shalawat ini membawa syafaat di akhir zaman. Acara malam ini menghadirkan narasumber istimewa, Dr. Manahem Ali, dosen filologi Universitas Airlangga, yang karya-karyanya diakui dunia, termasuk akan diterbitkan oleh Springer, Jerman. Tema kali ini membahas Ulangan 18:18, sebuah ayat kunci dalam tradisi Yahudi, Kristen, dan Islam, dengan pendekatan lintas agama.

Latar Belakang Diskusi

Diskusi ini merespons wacana yang dipopulerkan oleh Ustadz Zainal dan seorang akademisi dari STT Rajawali, Batam, yang mengusung tema Counterattack Ulangan 18:18. Pak Dondi mengkritik narasi akademisi tersebut yang menggunakan bahasa kasar seperti “goblok” dan “tikus,” yang menurutnya tidak mencerminkan nilai akademis. Ia merujuk pada Matius 5:22, yang menyatakan bahwa menyebut seseorang “goblok” berisiko mendatangkan hukuman neraka. Kajian ini bertujuan menjawab tantangan akademisi tersebut, yang mengajukan empat syarat untuk membuktikan bahwa Ulangan 18:18 merujuk pada Nabi Muhammad SAW, dengan pendekatan filologis dan teologis.

Inti Pembahasan: Ulangan 18:18 dalam Perspektif Lintas Agama

Perspektif Yahudi

Dr. Manahem Ali memulai dengan menjelaskan bahwa Perjanjian Lama (Tanakh: Torah, Nevi’im, Ketuvim) adalah kitab suci Yahudi. Dalam tradisi Yahudi, Ulangan 18:18 (Devarim 18:18) merujuk pada Yosua bin Nun, sebagaimana ditafsirkan oleh Rabi Rashi dan Rambam (Maimonides). Ayat ini berbunyi: “Aku akan membangkitkan bagi mereka seorang nabi dari antara saudara mereka, seperti engkau [Musa].” Bagi Yahudi, Yosua adalah “nabi seperti Musa,” sehingga wacana ini dianggap korpus tertutup dalam tradisi mereka.

Perspektif Kristen

Dalam tradisi Kristen, Ulangan 18:18 diklaim merujuk pada Yesus Kristus. Dr. Ali mengutip Yohanes 5:46, di mana Yesus berkata: “Sebab jikalau kamu percaya kepada Musa, tentu kamu akan percaya juga kepadaku, sebab ia telah menulis tentang aku.” Juga, Kisah Para Rasul 7:37 memperkuat klaim ini. Namun, Yahudi menolak klaim ini, menyebut Yesus sebagai “mamzer” (anak zina) dan “sehun admob” (semoga tulangnya diremukkan), menunjukkan penolakan teologis terhadap Yesus sebagai nabi dalam Ulangan 18:18.

Perspektif Islam

Dalam Islam, Ulangan 18:18 dikaitkan dengan Nabi Muhammad SAW. Dr. Ali merujuk pada Al-Qur’an, Surah Al-A’raf 7:157, yang menyatakan bahwa Nabi Muhammad adalah nabi ummi yang termaktub dalam Taurat dan Injil. Ayat ini melegitimasi klaim bahwa Nabi Muhammad adalah nabi yang dinubuatkan dalam Ulangan 18:18, yang berasal dari keturunan Ismail.

Tanggapan terhadap Tantangan Akademisi

Akademisi dari STT Rajawali mengajukan empat syarat untuk membuktikan bahwa Ulangan 18:18 merujuk pada Nabi Muhammad SAW. Dr. Ali menjawab satu per satu:

  1. Buktikan bahwa Nabi Muhammad SAW adalah keturunan Ismail berdasarkan Al-Qur’an dan Hadis
  1. Al-Qur’an: Surah Al-Baqarah 2:127-129 menyebutkan doa Nabi Ibrahim dan Ismail, yang meminta keturunan mereka menjadi umat muslim dan munculnya seorang rasul dari keturunan Ismail. Tafsir klasik dan modern sepakat bahwa rasul ini adalah Nabi Muhammad SAW. Surah Al-Hajj 22:78 juga menyebut Ibrahim sebagai “bapak” bangsa Arab, menegaskan hubungan nasab.
  2. Hadis: Dalam Sahih Muslim, Nabi Muhammad SAW bersabda: “Sesungguhnya Allah memilih Kinanah dari keturunan Ismail, Quraisy dari Kinanah, Bani Hasyim dari Quraisy, dan aku dari Bani Hasyim.” Hadis ini menegaskan nasab Nabi Muhammad hingga Ismail.
  3. Buktikan melalui sumber pra-Islam bahwa Ismail pergi ke Mekkah dan menikah hingga nasabnya bersambung ke Quraisy
  1. Targum Jonathan ben Uzziel: Dokumen Yahudi abad pertama Masehi menyebutkan bahwa Ismail tinggal di padang gurun Paran, dan ibunya (Hajar) mengambil istri bernama Fatimah dari tanah Mesir (Kejadian 21:21). Paran diidentifikasi sebagai Hijaz dalam dokumen Yudeo-Arabik.
  2. Herodotus (abad ke-5 SM): Dalam Historia, Herodotus menyebut wilayah Arabia dan penduduknya sebagai arabyoi, dengan dewi Alilat (setara dengan Al-Lat dalam tradisi Arab pra-Islam), menegaskan keberadaan budaya Arab di Hijaz.
  3. Targum Samaria: Menyebut Paran sebagai Al-Hijaz, memperkuat bahwa Ismail tinggal di wilayah Mekkah, bukan Mesir.
  4. Buktikan silsilah lengkap dari Ismail hingga Nabi Muhammad SAW
  5. Dr. Ali merujuk pada Tarikh ath-Thabari dan Sirah Ibnu Hisyam, yang mencatat silsilah lengkap: Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muthalib bin Hasyim bin Abdi Manaf bin Qusay bin Kilab hingga Ismail. Dokumen Yahudi, seperti tulisan Rambam, juga mengakui bahwa Nabi Muhammad adalah keturunan Quraisy dan Kedar, yang terkait dengan Ismail.
  6. Buktikan berdasarkan Al-Qur’an (Surah Al-Ankabut 29:27) bahwa jalur kenabian berasal dari Ismail
  7. Surah Al-Baqarah 2:136, Ali Imran 3:84, An-Nisa 4:163, dan Maryam 19:54 secara eksplisit menyebut Ismail sebagai nabi dan rasul yang menerima wahyu. Surah Maryam 19:54 berbunyi: “Dan ingatlah Ismail dalam Al-Kitab, sesungguhnya ia adalah seorang yang benar janjinya, seorang rasul dan nabi.” Ini membantah klaim bahwa Ismail tidak memiliki jalur kenabian.

Bukti Tambahan

  • Dokumen Yahudi: Rambam dalam Iggeret Teiman menyebut Nabi Muhammad sebagai “meshuggah” (orang gila) dari keturunan Kedar dan Quraisy, mengakui nasabnya secara historis meskipun menolak kenabiannya secara teologis.
  • Dokumen Kristen: Buku Memahami Hati Tuhan bagi Kaum Kedar oleh Faisal Malik menyebut umat Islam sebagai keturunan Ismail, sejalan dengan pandangan historis.
  • Dokumen Arkeologi: Inskripsi Sabean di Yaman dan karya Ptolemy menyebut Yatsrib (Madinah) dan Mekkah, mendukung keberadaan Ismail di Hijaz.

Tantangan Balik: Anakronisme dalam Gospel

Dr. Ali menantang akademisi tersebut dengan menyoroti anakronisme dalam Injil:

  • Matius 2:1-23 menyebut Yesus lahir sebelum kematian Herodes Agung (4 SM), sedangkan Lukas 2:1-40 menyebut Yesus lahir pada masa sensus Kirenius (6 M). Perbedaan ini menunjukkan inkonsistensi kronologi.
  • Kisah kelahiran Yesus juga berbeda: dalam Matius, Yesus dibawa ke Mesir untuk menghindari pembunuhan Herodes; dalam Lukas, Yesus disunat di Bait Allah dan kembali ke Nazaret. Dr. Ali bertanya, “Ada berapa Yesus dalam Gospel?” untuk menegaskan kontradiksi ini, didukung oleh referensi sejarawan seperti Josephus, Emil Schurer, dan Cambridge Ancient History.

Penutup

Dr. Ali menegaskan bahwa Ulangan 18:18 lebih tepat merujuk pada Nabi Muhammad SAW, yang “seperti Musa” karena bertemu langsung dengan Allah saat Mi’raj, sebagaimana Musa bertemu Allah secara langsung (Ulangan 34:10). Dalam tradisi Kristen, Yesus lebih dikaitkan dengan Daud (Lukas 1:32), bukan Musa, sebagaimana ditegaskan oleh Joseph Ratzinger (Paus Benediktus XVI). Kajian ini menjawab tantangan akademisi dengan bukti filologis dan teologis yang kuat, membuktikan bahwa klaim Islam atas Ulangan 18:18 dapat dipertanggungjawabkan.

Ucapan Penutup: Kajian ini menggarisbawahi pentingnya dialog lintas agama yang berbasis data dan fakta. Terima kasih kepada Dr. Manahem Ali atas paparan yang lugas dan cerdas. Minggu depan, kajian akan membahas dokumen Bapa Gereja Purba yang mendukung bahwa Nabi Muhammad SAW adalah keturunan Ismail. Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Kajian ini dapat anda simak di ; https://youtu.be/2HH_Y3l7T3w?si=FlmdyLzQ1WUQVjGF

Silahkan bagikan di :