Kisah IslamiKristologi

Abraham/Ibrahim: Tokoh Payung Bersama dalam Tradisi Yahudi, Kisten, dan Islam

Pendahuluan

Abraham, atau dalam tradisi Islam dikenal sebagai Ibrahim, adalah figur sentral yang dihormati dalam tiga agama besar: Yahudi, Kristen, dan Islam, yang dalam tradisi pesantren sering disebut sebagai Ahlul Kitab (Pemilik Kitab Suci). Gelar “Bapak Bangsa-Bangsa” (Shuttle of Nations) yang disematkan kepada Abraham/Ibrahim mencerminkan perannya sebagai tokoh yang menyatukan umat beriman dari berbagai tradisi keagamaan. Artikel ini akan membahas pentingnya Abraham/Ibrahim sebagai simbol bersama, menyoroti kedekatan linguistik antara bahasa Ibrani dan Arab, serta mengeksplorasi relevansi teks suci, termasuk isu Israiliyat dan hubungannya dengan naskah Laut Mati.

Abraham/Ibrahim dalam Teks Suci

Abraham/Ibrahim disebutkan dalam kitab suci ketiga agama besar:

  • Dalam Al-Qur’an (Islam): Nama Ibrahim muncul dalam berbagai ayat, termasuk dalam shalawat Ibrahimiyah yang diucapkan dalam setiap salat umat Islam, seperti dalam doa “Allahumma sholli ‘ala Muhammad wa ‘ala ali Muhammad, kama shallaita ‘ala Ibrahim…”. Ini menunjukkan peran sentral Ibrahim dalam ibadah dan teologi Islam.
  • Dalam Taurat (Yahudi): Dalam kitab Kejadian (Genesis), Abraham disebut sebagai bapa leluhur bangsa Israel, dengan kisah-kisah seperti pengurbanan Ishak (Kejadian 22).
  • Dalam Perjanjian Baru (Kristen): Abraham diakui sebagai bapa iman, sebagaimana disebutkan dalam Roma 4:16, yang menegaskan perannya dalam warisan spiritual Kristen.

Meskipun refleksi iman terhadap Abraham/Ibrahim berbeda di setiap agama, ketiganya sepakat bahwa ia adalah tokoh kunci yang menjadi landasan teologis dan historis.

Kedekatan Linguistik: Bahasa Ibrani dan Arab

Salah satu aspek menarik dari Abraham/Ibrahim adalah kedekatan linguistik antara bahasa Ibrani dan Arab dalam penyebutan namanya serta istilah-istilah terkait. Bahasa Ibrani dan Arab memiliki kemiripan dalam struktur tulisan (dari kanan ke kiri) dan pelafalan. Berikut beberapa contoh:

  • Nama Abraham/Ibrahim: Dalam bahasa Ibrani, disebut Avraham, sedangkan dalam bahasa Arab, disebut Ibrahim atau Ibraham (dalam variasi qira’ah, seperti riwayat Ibnu Katsir dalam mushaf Utsmani).
  • Kemiripan abjad dan pelafalan:
    • Arab: ‘ayn (ع) vs. Ibrani: ‘ayin (ע).
    • Arab: jin (ج) vs. Ibrani: gimmel (ג).
    • Arab: lam (ل) vs. Ibrani: lamed (ל).
    • Arab: ha (ه) vs. Ibrani: hei (ה).

Kemiripan ini terlihat jelas dalam teks Taurat, misalnya pada Kejadian 25:9, yang menyebutkan bahwa Ishak dan Ismail menguburkan Abraham di gua Makhpela. Dalam Al-Qur’an (misalnya, Surah Al-Baqarah: 260), urutan penyebutan nama Ismail dan Ishak berbeda, yang menimbulkan pertanyaan: apakah perbedaan ini mengandung pesan teologis? Menggunakan teori semiotik, perbedaan ini bisa dianggap sebagai penanda (signifier) dan pertanda (signified), yang mengundang kajian lebih mendalam.

Makna Simbolis: Gua Makhpela dan Masjid Ibrahim

Gua Makhpela, yang dalam tradisi Islam dikenal sebagai Al-Haram Al-Ibrahimi (Masjid Ibrahim) di Hebron, menjadi simbol penting persatuan antaragama. Pada tahun 2017, UNESCO menetapkan situs ini sebagai warisan dunia yang tidak boleh dikuasai oleh satu pihak, melainkan menjadi milik bersama umat Yahudi, Kristen, dan Islam. Bangunan ini unik karena memiliki dua tempat ibadah yang bersebelahan, dipisahkan oleh kuburan Abraham/Ibrahim, yang menjadi titik temu spiritual. Umat Islam membaca shalawat Ibrahimiyah, sementara umat Yahudi melafalkan doa yang menyebut nama Abraham dalam bahasa Ibrani. Meskipun berbeda dalam lafal, keduanya merujuk pada tokoh yang sama.

Pada momen tertentu, umat Yahudi dapat beribadah di area masjid, dan sebaliknya, umat Islam dapat menggunakan area sinagoge, menunjukkan bahwa situs ini adalah ruang bersama yang diatur dengan ketentuan khusus. Hal ini mencerminkan Abraham/Ibrahim sebagai simbol persatuan yang melintasi batas agama.

Israiliyat dan Naskah Laut Mati

Pertanyaan menarik muncul terkait istilah Israiliyat. Dalam tradisi Islam, hadis Israiliyat sering dipandang dengan skeptisisme karena perawi-perawinya dianggap berasal dari kalangan Ahlul Kitab yang belum tentu dapat dipercaya. Namun, apakah ada yang disebut sebagai ayat-ayat Israiliyat dalam Al-Qur’an? Meskipun Al-Qur’an diakui sebagai wahyu ilahi yang tidak diragukan oleh umat Islam, banyak informasi dalam Al-Qur’an yang memiliki kesejajaran dengan teks Yahudi dan Kristen, seperti kisah Ibrahim yang dibakar dalam api (Surah Al-Anbiya: 68-69).

Kisah Ibrahim yang diselamatkan dari api tidak tercantum dalam Perjanjian Lama (Tanakh), tetapi diakui dalam tradisi Yahudi dan Kristen purba. Misalnya, sejarawan Yunani abad pertama, Flavius Josephus, dalam Antiquities of the Jews, mencatat kisah Abraham yang selamat dari api di Ur, yang sejajar dengan narasi Al-Qur’an. Selain itu, naskah Laut Mati (Dead Sea Scrolls), ditemukan pada 1947 di Qumran, menyediakan bukti tekstual yang lebih tua (abad ke-3 SM hingga abad ke-1 M). Meskipun tidak secara eksplisit menyebut kisah api, naskah ini menyebut Abraham dalam konteks perjalanannya ke tanah Kanaan, yang dapat dihubungkan dengan narasi Al-Qur’an.

Naskah Laut Mati menawarkan wawasan penting karena usianya yang mendahului Al-Qur’an sekitar 1000 tahun. Namun, tidak ada catatan dalam Sirah Nabawiyah yang menyebutkan kontak langsung Nabi Muhammad atau sahabatnya dengan naskah-naskah ini. Penemuan naskah ini oleh seorang Badui Arab, yang awalnya menjualnya sebagai barang antik, menunjukkan kurangnya kesadaran akan nilai ilmiahnya pada masa itu. Namun, kajian modern menunjukkan adanya kesejajaran antara narasi Al-Qur’an dan teks-teks kuno ini, yang mengundang diskusi tentang fakta versus fiksi.

Validasi Fakta: Antara Tradisi dan Revisionisme

Kisah Ibrahim yang dibakar dalam api, sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an (“Wahai api, jadilah dingin dan selamatkanlah”), menimbulkan pertanyaan: apakah ini fakta historis atau narasi teologis? Dalam tradisi Islam, Al-Qur’an dianggap sebagai kebenaran mutlak. Namun, untuk memvalidasi secara historis, diperlukan teks pembanding yang sezaman atau lebih tua. Naskah Laut Mati, misalnya, tidak menyebutkan kisah api secara langsung, tetapi tradisi Kristen purba (seperti Gereja Koptik) dan catatan Flavius Josephus mendukung narasi ini. Tradisi Yahudi juga mengakui Abraham sebagai figur historis, meskipun kisah api tidak tercantum dalam Tanakh.

Perdebatan antara sarjana tradisional dan revisionis menjadi relevan di sini. Sarjana tradisional cenderung mengandalkan dokumen keislaman, tetapi kurang menggunakan pendekatan kritis. Sebaliknya, sarjana revisionis sering menggunakan sumber sekunder, yang dapat melemahkan argumen mereka. Untuk mempertemukan keduanya, diperlukan kajian sumber primer, seperti naskah Laut Mati, untuk memverifikasi kesejajaran teks.

Konteks Geografis dan Historis

Nama-nama tempat seperti Ur (Kaldea) dan Makhpela muncul dalam teks Yahudi dan Kristen, yang memiliki kesejajaran dengan narasi Islam. Misalnya, Ur disebut sebagai tempat asal Abraham dalam Kejadian 11:31, yang diakui oleh tradisi Kristen purba dan Islam. Peta kuno, seperti yang disusun oleh Ptolemy (Geographia), juga menyebutkan nama-nama tempat yang relevan, seperti suku Kahtan dalam bahasa Arab, yang dalam bahasa Yunani disebut Katanitai. Ini menunjukkan proses Arabisasi istilah, bukan Helenisasi dari bahasa Ibrani, sebagaimana dibuktikan oleh analisis morfologis.

Tradisi Takwil dan Kesejajaran dengan Yahudi

Konsep takwil (penafsiran non-harfiah) dalam Islam, seperti yang dikembangkan oleh Imam Ahmad bin Hanbal pada abad ke-9 M, memiliki kesejajaran dengan tradisi Yahudi. Misalnya, dalam tafsir Muqatil bin Sulaiman (w. 150 H), frasa “Allah menyertai anak itu” (misalnya, Ishak) tidak dimaknai secara fisik, melainkan sebagai kehadiran spiritual. Tradisi Yahudi juga menghindari penafsiran antropomorfis, seperti menyebut “tangan Tuhan” secara harfiah. Kesejajaran ini menunjukkan bahwa tradisi takwil bukanlah hal baru dalam Islam, melainkan memiliki akar dalam tradisi agama sebelumnya.

Kesimpulan

Abraham/Ibrahim adalah tokoh payung yang menyatukan tradisi Yahudi, Kristen, dan Islam. Kedekatan linguistik antara bahasa Ibrani dan Arab, kesejajaran teks suci, serta temuan naskah Laut Mati memperkuat peran Abraham/Ibrahim sebagai simbol persatuan. Meskipun kisah-kisah seperti Ibrahim yang dibakar dalam api tidak selalu tercatat dalam semua teks suci, kesejajaran dengan sumber-sumber seperti Flavius Josephus dan tradisi Kristen purba menunjukkan bahwa narasi ini bukan sekadar fiksi teologis. Kajian lebih lanjut tentang Israiliyat dan naskah kuno dapat menjadi jembatan untuk memahami hubungan antaragama secara teologis, sastrawi, dan historis. Dengan pendekatan ilmiah yang berani, kita dapat mempertemukan tradisi dan revisionisme untuk memperkaya wawasan keimanan.

Hadanallah Waiyyakum.

Kajian ini dapat anda simak di; https://youtu.be/CMKmF0yaIAg?si=25YexXwxfreo8jn9

Silahkan bagikan di :