Kritikan Gus Baha || Kitab Tafsir Tertua Sebut Ishak Qurban Ibrahim dan Bukan Ishmael
Dalam kajian rutin malam Jumat di channel Graha Muallaf At-Tauhid, Ustadz Menachem Ali bersama Ustadz Edy Prayitno mengupas secara mendalam salah satu tema perennial Idul Qurban: siapa sebenarnya putra Nabi Ibrahim AS yang diperintahkan untuk dikorbankan? Kajian ini menjadi respons langsung terhadap pernyataan Gus Baha yang menyebutkan bahwa ulama top di Arab Saudi cenderung condong kepada Ishak AS, sementara di Indonesia mayoritas ulama dan tradisi masyarakat lebih mengikuti pendapat Ismail AS.
Kajian ini menekankan bahwa perdebatan bukan sekadar soal nama, melainkan menjawab tuduhan kelompok non-Muslim yang sering memanfaatkan isu ini untuk mengklaim superioritas keturunan Ishak (Bani Israil) atas Ismail (nenek moyang bangsa Arab). Yang terpenting, hikmah Idul Qurban adalah korban cinta agung dan penyerahan diri total kepada Allah, bukan doktrin penebusan dosa seperti dalam tradisi Yahudi-Kristen.
Pijakan Utama: Al-Qur’an Tidak Menyebut Nama Secara Eksplisit
Al-Qur’an hanya membahas kisah ini dalam Surah Ash-Shaffat ayat 100–113. Tidak ada penyebutan nama putra secara harfiah di ayat-ayat kunci (101), melainkan disebut “ghulāmin ḥalīm” (seorang anak yang sangat sabar/forbearing).
Berikut teks lengkap ayat-ayat inti beserta terjemahan (Kementerian Agama RI):
Ayat 100–102
رَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِينَ ١٠٠
فَبَشَّرْنَاهُ بِغُلَامٍ حَلِيمٍ ١٠١
فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَىٰ فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرَىٰ ۚ قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ ۖ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ ١٠٢
“Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang saleh.” Maka Kami beri kabar gembira kepadanya dengan (kelahiran) seorang anak yang sangat sabar (ghulāmin ḥalīm). Maka ketika anak itu sampai (pada umur) sanggup berusaha bersamanya, (Ibrahim) berkata, “Wahai anakku! Sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu!” Dia menjawab, “Wahai ayahku! Lakukanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.”
Ayat 103–107 (puncak ujian dan tebusan)
فَلَمَّا أَسْلَمَا وَتَلَّهُ لِلْجَبِينِ ١٠٣
وَنَادَيْنَاهُ أَنْ يَا إِبْرَاهِيمُ ١٠٤
قَدْ صَدَّقْتَ الرُّؤْيَا ۚ إِنَّا كَذَٰلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ ١٠٥
إِنَّ هَٰذَا لَهُوَ الْبَلَاءُ الْمُبِينُ ١٠٦
وَفَدَيْنَاهُ بِذِبْحٍ عَظِيمٍ ١٠٧
Ayat 112–113 (penyebutan Ishak sebagai anak berikutnya)
وَبَشَّرْنَاهُ بِإِسْحَاقَ نَبِيًّا مِنَ الصَّالِحِينَ ١١٢
وَبَارَكْنَا عَلَيْهِ وَعَلَىٰ إِسْحَاقَ ۚ وَمِنْ ذُرِّيَّتِهِمَا مُحْسِنٌ وَظَالِمٌ لِنَفْسِهِ مُبِينٌ ١١٣
Konteks ayat menunjukkan anak yang dikorbankan adalah anak sulung yang sudah “baligh” dan ikut berusaha, dan Ishak baru disebutkan setelah peristiwa itu selesai. Inilah yang membuat mayoritas ulama Indonesia dan tradisi Ahlus Sunnah klasik lebih condong kepada Ismail AS.
Perbandingan dengan Kitab Taurat (Ibrani)
Dalam tradisi Yahudi dan Kristen, kisah ini disebut Akedah dan selalu dikaitkan dengan Ishak. Namun kajian Graha Muallaf menunjukkan perbedaan signifikan antara teks asli dan terjemahan modern.
Kejadian (Genesis) 21:9 – Saat Ismail “bermain”
Teks Ibrani asli (versi Yahudi dan Samaritan):
וַתֵּרֶא שָׂרָה אֶת־בֶּן־הָגָר הַמִּצְרִית אֲשֶׁר־יָלְדָה לְאַבְרָהָם מְצַחֵק׃
(“Dan Sara melihat anak Hagar orang Mesir yang dilahirkan untuk Abraham, sedang bermain/metzacheq.”)
Tidak ada kata “dengan Ishak” dalam teks Ibrani asli. Penambahan “dengan Ishak anaknya” hanya muncul di terjemahan Indonesia dan beberapa versi lain. Ini menunjukkan bahwa terjemahan sering menambahkan nama untuk memperjelas, sama seperti catatan kaki dalam terjemahan Al-Qur’an yang menyebut Ismail.
Kejadian (Genesis) 22:1-2 – Perintah pengorbanan
Teks Ibrani Masoretik (versi standar modern, abad ke-9 M):
וַיֹּאמֶר קַח־נָא אֶת־בִּנְךָ אֶת־יְחִידְךָ אֲשֶׁר־אָהַבְתָּ אֶת־יִצְחָק וְלֶךְ־לְךָ אֶל־אֶרֶץ הַמֹּרִיָּה וְהַעֲלֵהוּ שָׁם לְעֹלָה…
(“Ambillah anakmu yang tunggal itu, yang engkau kasihi, yakni Ishak…”)
Namun, naskah tertua Gulungan Laut Mati (Dead Sea Scrolls) – yang berasal dari abad ke-3 SM hingga abad ke-1 M – tidak menyebutkan nama “Ishak” secara eksplisit di bagian ini. Hanya disebut “anak” atau “putra sulung”. Nama Ishak baru muncul tegas dalam manuskrip Masoretik abad ke-9 M (setelah Islam lahir).
Perbedaan Lokasi
- Versi Yahudi: Tanah Moriah (bagian selatan Palestina).
- Versi Samaritan: Tanah Moreh (dekat Sichem/Nablus, utara Palestina).
Ini menunjukkan perpecahan politik-teologis antara Yahudi dan Samaritan soal kiblat suci. Sementara dalam Islam, semua ulama sepakat lokasi pengorbanan adalah Mina di Hijaz (Mekkah), bukan di Palestina.
Tafsir Ulama Generasi Awal: Bukan Hanya Ishak
Kajian menegaskan bahwa pendapat “Ishak” bukanlah satu-satunya yang dominan sejak awal:
- Tafsir Muqatil bin Sulaiman (w. 150 H) – salah satu tafsir tertua – menyebut Ishak AS.
- Tafsir Sufyan ats-Tsauri (w. 161 H) – sezaman dengan Muqatil – menyebut Ismail AS dengan sanad yang jelas: Sufyan ana Abi Najih ‘an Mujahid.
Kedua tafsir ini generasi paling awal, dan keduanya hidup di zaman yang sama. Artinya, sejak generasi tabi’in awal sudah ada dua pendapat yang kuat. Klaim “semua tafsir awal menyebut Ishak” adalah penyederhanaan yang tidak akurat.
Mayoritas ulama Indonesia mengikuti pendapat Ismail karena lebih sesuai dengan konteks Al-Qur’an, lokasi Mina, dan riwayat hadis yang kuat. Sementara di Arab Saudi, ada kecenderungan Ishak karena pengaruh tafsir yang merujuk sumber Israiliyat.
Hikmah Idul Qurban yang Sejati
Perdebatan nama bukanlah inti. Baik Ismail maupun Ishak adalah putra saleh yang diberkahi Allah. Yang terpenting adalah:
- Penyerahan diri total (Islam) kepada perintah Allah.
- Kesabaran anak dan ketakwaan ayah.
- Tebusan berupa sembelihan agung (kurban) yang menjadi teladan bagi umat.
Idul Qurban bukan tentang penebusan dosa, melainkan mengorbankan yang paling dicintai karena cinta kepada Allah. Lokasi Mina yang disepakati semua ulama Islam menjadi bukti bahwa kiblat umat ini tetap di Mekkah, bukan dipengaruhi perpecahan Yahudi-Samaritan.
Kesimpulan
Kajian Graha Muallaf ini mengajak umat berpikir kritis berbasis dokumen primer: Al-Qur’an, teks Ibrani asli, naskah Laut Mati, dan tafsir generasi awal. Perdebatan ulama sejak dulu sudah ada dua pendapat, dan itu kekayaan ilmu, bukan sumber perpecahan.
Seperti yang ditegaskan Ustadz Menachem Ali: jangan terjebak pada tuduhan kelompok lain yang memanfaatkan isu ini untuk menjelekkan keturunan Ismail. Fokuslah pada hikmah: berkurban karena Allah, bukan karena klaim superioritas kelompok.
Semoga kajian ini menambah wawasan dan memperkuat keyakinan kita sebagai umat yang mengikuti ajaran Nabi Ibrahim AS – bapak para nabi. Wallahu a’lam bish-shawab.
Artikel ini disusun berdasarkan transkrip lengkap kajian Graha Muallaf yang Anda bagikan. Semoga bermanfaat untuk dakwah dan kajian keluarga.

