Fiqih

Filter Medsos sesuai kaidah 

Melihat fenomena hari-hari ini sungguh sangat luar biasa, banyaknya media sosial dari berbagai macam platform digital memberikan informasi secara cepat, ringkas, padat, namun terkadang tanpa filter daripada penggunanya. Semua orang dapat mengakses dengan cepat di manapun dan juga kapanpun segala informasi yang ingin mereka dapatkan. Banyak hal yang dapat mereka ambil dari berbagai macam platform media sosial tersebut. Mulai dari tentang kehidupan, berumah tangga, mengasuh anak, kuliner, otomotif, dan banyak lainnya yang bertebaran di medsos tersebut. Hal ini memberikan pengaruh yang sangat luar biasa kepada setiap individu yang mengakses informasi tersebut. Ada dua sisi yang akan selalu dihadirkan dari berbagai macam informasi yang silih berganti berdatangan. Sisi yang pertama adalah sisi yang dapat diambil manfaatnya secara positif dari informasi-informasi yang didapatkan dari media sosial tersebut agar bisa diaplikasikan dalam kehidupan nyata. Sisi yang kedua adalah hal-hal buruk yang dapat terjadi dan dapat mengganggu dalam kehidupan nyata karena apa yang disampaikan di media sosial sungguh sangat perfect atau dapat dikatakan dalam ranah yang paling baik. Namun pada kenyataannya yang didapatkan dari media sosial tersebut tidak bisa langsung diaplikasikan dalam kehidupan nyata. Ketika orang mendapatkan materi yang disampaikan daripada media sosial mereka dapat menggunakannya atau menangkapnya dengan mudah, nah kendalanya adalah ketika mereka yang menangkap informasi tersebut tidak memiliki kesanggupan ataupun kecakapan untuk menyampaikan kembali kepada orang-orang di sekitarnya maka itu menjadi sebuah masalah. 

Yang dikatakan oleh Kyai haji almarhum Hasyim Muzadi bahwasanya beliau berkata materi itu adalah hal yang penting namun jika penyampaian materi dari seseorang yang memiliki materi itu tidak benar maka materi yang tadi sudah bagus tidak dapat tersampaikan dengan maksimal, bahkan bisa jadi materi yang disampaikan malah menjerumuskan ke dalam kesalahan-kesalahan yang besar. Dalam bahasa Arab disebut dengan at thoriqoh ahammu minal maddah. Jadi apabila informasi yang didapat itu adalah sebuah hal yang bisa dikatakan sebuah materi namun ketika materi yang baik itu disampaikan kembali dengan cara yang tidak pas, cara penyampaiannya kepada orang lain tidak sesuai, bahkan menjadi hal yang rancu, mengapa penerima materi tersebut atau hal-hal baik tersebut bisa menjadi bumerang bagi yang menyampaikannya.

Materi-materi yang ada di media sosial yang disampaikan oleh orang-orang yang membuat konten-konten tersebut mungkin perlu banyak pertimbangan-pertimbangan atau bahkan butuh waktu untuk bisa memposting ke media sosial mereka masing-masing. Namun ada juga yang langsung memposting apa yang ingin mereka sampaikan tanpa terlebih dahulu melakukan filter terhadap konten yang akan diberikan sehingga penerima dengan berbagai macam sudut pandang secara kasat mata langsung menangkap apa yang mereka terima dari media sosial, lanjutnya tanpa ada pertimbangan mereka sampaikan kepada orang lain yang menurut mereka tidak sesuai dengan apa yang disajikan oleh media sosial. Kecantikan, ketampanan, kekayaan, kepintaran, dan kelayakan dalam hidup ditampilkan sedemikian rupa sehingga menarik orang lain bahwasanya hidup yang sempurna adalah apa yang disampaikan oleh media sosial. Baik itu berupa unsur-unsur yang dikaitkan dengan kehidupan sosial masyarakat ataupun juga dalam hal agama. Maka dari itu apa yang didapat dari media sosial tidak semuanya dalam kategori negatif namun juga banyak yang memberikan hal-hal positif. Namun sebagai pengguna media sosial perlu melakukan riset, melakukan kroscek, melakukan analisis, berpikir kritis, dan juga belajar untuk bisa menyampaikan kembali kepada orang lain, agar apa saja yang dia tangkap bisa diserap dengan baik sesuai dengan kehidupan yang dia jalani. Dan apabila nanti disampaikan kepada orang lain nantinya menjadi sebuah materi yang bisa memberikan manfaat kepada orang lain tersebut dan juga dapat dipahami maksud dan tujuannya. 

Dalam hal ini penulis ingin menyampaikan hal-hal yang mungkin berkaitan dengan apa yang disampaikan dalam ajaran agama Islam. Mengenai berbagai macam konten-konten islami yang disajikan oleh para content creator dalam memberikan informasi yang sangat luas. Sejatinya apa yang ingin di sharing merupakan hal-hal yang mungkin menjadi pengalaman pribadi daripada orang yang memberikan informasi ke media sosial. Namun perlu diingat bahwasanya setiap orang yang menerima tidak bisa serta merta melakukan apa yang disampaikan oleh media sosial tersebut karena kondisi kehidupan yang berbeda, latar belakang cara berpikir yang berbeda, latar belakang ekonomi sosial budaya yang berbeda, dan juga latar belakang daya tangkap terhadap informasi yang didapatkan pastilah sangat berbeda. Maka dari itu konten-konten kreator memberikan informasi-informasi sejatinya bisa lebih menekankan bahwasanya apa yang mereka sampaikan itu tujuannya kepada siapa?, lalu bagaimana cara menanggulanginya?, dan bagaimana cara menanggapi orang-orang yang telah mendapatkan informasi tersebut untuk bisa nantinya memberikan manfaat, sehingga orang-orang yang menerima tidak langsung serta merta menangkap apa yang mereka dapatkan di dalam konten-konten islami yang mereka tonton, dengan serta merta pula disampaikan langsung kepada orang-orang terdekat mereka. Bisa jadi ketika dalam kondisi tersebut niatnya untuk memberikan sebuah pencerahan namun yang terjadi adalah perpecahan. 

Ilmu dan amal harus saling berkaitan, ketika mendapatkan ilmu memang harus diamalkan. Namun juga harus dipikirkan bagaimana cara penyampaian yang baik sebuah ilmu yang didapatkan kepada orang lain yang ingin kita sampaikan mengenai ilmu tersebut. Kita harus melihat juga berbagai macam latar belakang yang tadi disebutkan oleh penulis bahwasanya hal-hal tersebut juga akan mempengaruhi tingkat pemahaman dalam mengaplikasikan di malam kehidupan sehari-hari. 

Hadis-hadis yang disampaikan dan berbagai macam ayat-ayat Alquran disampaikan dalam media sosial memang sangat baik namun di dalam hal tersebut terdapat unsur-unsur yang Allah sudah sampaikan, kepada siapa saja ayat itu diturunkan, apa maksud ayat itu diturunkan dan lain sebagainya. Begitu juga hadis Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam, bahwasanya yang disampaikan Rasulullah itu tertuju pada seseorang, kepada suatu pribadi, dan kepada suatu kondisi di masa itu ketika Rasulullah menyampaikan hadis tersebut. Maka dari itu kita yang menerima informasi-informasi tersebut perlu kiranya untuk memfitter kembali layakkah kita menyampaikan hal tersebut kepada orang lain, atau cukup informasi tersebut kita dalami sendiri, lalu kita praktekkan dalam kehidupan kita tanpa perlu untuk memberikan informasi tersebut kepada orang lain. Kiranya jika kita mampu maka kita juga disunnahkan untuk menyampaikan kebaikan-kebaikan tersebut. Namun kiranya jika kita belum mampu maka lebih baik kita berkata baik ataupun diam. 

Semisal ada hadis yang menerangkan tentang lelaki sebagai Qowam alannisa, bahwasanya laki-laki itu harus memberikan tanggung jawab nafkah dan lain sebagainya kepada istri dan anak-anaknya, memberikan fasilitas-fasilitas kepada anak-anaknya dan juga istrinya, memberikan berbagai macam kebutuhan baik kebutuhan secara duniawi dan akhiratnya, dan lain sebagainya dan lain sebagainya. Namun akhirnya para pengguna media sosial dari kalangan wanita menjadikan senjata hadis tersebut ketika tidak cocok dengan pasangannya yang tidak sesuai dengan hadis tersebut dia menyampaikan hadis tersebut kepada pasangannya. Padahal materi yang disampaikan adalah baik namun cara penyampaiannya yang salah sehingga terjadilah keributan dalam rumah tangga. Padahal yang perlu dipahami adalah apa yang disampaikan hal tersebut atau hadis tersebut adalah ditujukan kepada setiap laki-laki. Maka dari itu laki-laki sejatinya harus mendalami apa yang disampaikan Rasulullah sehingga bisa menjadi perbaikan terhadap dirinya untuk memberikan pelayanan kepada keluarganya. namun karena hal yang tidak sesuai dengan kehidupan nyata para ibu-ibu ataupun para istri-istri menjadikan senjata hadis tersebut untuk mengintimidasi pasangannya, harusnya begitu dan begini sesuai dengan apa yang diajarkan oleh hadis tersebut.  

Namun para wanita lupa akan habis yang disampaikan untuk mereka dirinya sendiri-sendiri, yang di bagaimana harus menjadi seorang istri yang taat dan patuh kepada apa yang suaminya perintah, menjadi seorang istri yang memberikan pelayanan terbaik kepada anak-anaknya, menjaga harta suaminya baik suaminya ada maupun tiada, dan berbagai macam jenis pelayanan lainnya yang disebutkan dalam hadits, namun sayang sekali mereka belum menggunakan hadis ini untuk dijalani dalam kehidupannya sendiri sebagai seorang istri maupun ibu, namun mereka melihat dari sudut pandang hadis laki-laki sehingga tidak ada kesinkronan. Mereka belum menjalankan apa yang seharusnya dijalankan oleh seorang ibu ataupun istri, namun mereka menuntut dari apa yang disampaikan hadits kepada para laki-laki. Sehingga para laki-laki yang sedang berusaha melakukan hal tersebut kiranya menjadi emosi dan juga terkadang banyak yang diam ketika hal itu disodorkan.  

Padahal jika masing-masing daripada pasangan suami istri melaksanakan hadis-hadis yang sesuai dengan apa yang ditujukan kepadanya maka kehidupan itu akan menjadi lebih indah. Kiranya tidak langsung memberikan sebuah hal-hal yang nantinya dapat menyinggung perasaan pasangannya, di mana seharusnya bisa dijadikan pengingat bahwasanya ketika mengingatkan seseorang perlu dengan cara dan juga penyampaian yang baik yang sesuai dengan kondisi pasangan kita masing-masing. Sejatinya apa yang disampaikan di berbagai macam media sosial yang diambil daripada Alquran maupun al-hadits semuanya itu adalah baik. Sekali lagi yang membuat terjadinya kesalahpahaman adalah cara penyampaian materi tersebut yang tidak melihat kondisi keadaan kehidupan dikala itu. 

Dan berbagai macam informasi-informasi lainnya didapat seharusnya kita sebagai penerima informasi tersebut bisa memfilter terlebih dahulu apa yang disampaikan oleh media sosial. Jika kiranya kita ingin menyampaikan kepada orang lain, kepada pasangan kita, kepada anak-anak kita, kepada orang tua kita, kepada kerabat teman dan saudara, maka kita kiranya harus tahu kapasitas kita dalam menyampaikan hal tersebut dengan cara melihat kondisi orang yang sedang kita ingin berikan nasehat. Dan juga melihat kembali diri kita sendiri Apakah kita sudah mulai melaksanakan hal-hal kecil yang sudah diperintahkan dalam ayat tersebut. Sehingga tidak dikatakan seperti di Alquran menyebutkan bahwasanya anta Quullu Maala taf’alun, yang artinya kamu membicarakan hal yang kamu ingin bicarakan, perubahan nasihat dan lain sebagainya, namun apa yang kamu obrolkan kepada orang lain itu tidak ada satupun yang kamu lakukan dalam sebuah tindakan. Maka alangkah lebih baiknya kita melakukan hal tersebut kita jalani, kita lakukan, kalau kiranya kita mendapatkan hasil baru kita bisa sampaikan kepada orang-orang lain.  

Walaupun kiranya sudut pandang yang penulis tuliskan ini tidak sesuai, dengan kondisi dan juga perjalanan kehidupan masing-masing daripada pembaca, maka semuanya kami kembalikan kepada Allah Subhanahu Wa ta’ala. Mengenai maksud dan tujuan penulis membuat tulisan ini untuk bisa disampaikan. Dan juga kiranya ada kebenaran maka semuanya itu terletak pada Hidayah dan juga pertolongan Allah Subhanahu Wa ta’ala. Dan bila ada kekeliruan dan kekhilafan maka dalam tulisan ini semuanya terletak pada diri penulis sendiri. Penyampaian yang juga penulis ingin sampaikan dalam tulisan ini kepada para pembaca sekiranya juga bisa menjadi introspeksi kepada diri kami sendiri, bahwasanya memberikan informasi perlu kiranya ada filter dalam diri dan juga pertanyaan dalam diri kita masing-masing. Apakah informasi yang kita dapatkan itu sudah kita laksanakan?, Apakah informasi yang kita dapatkan itu sudah sesuai dengan kondisi orang yang sedang menerimanya?, Apakah informasi ini sudah layak disampaikan sesuai dengan kondisi kala itu?, dan lain sebagainya. 

Semoga daripada tulisan singkat ini kita sebagai masyarakat di tahun 2024 ini, bisa lebih banyak merenungi akan hal-hal yang silih berganti berdatangan di dalam kehidupan kita. Informasi yang tidak terbendung itu perlu kiranya kita mulai memfilter, dengan cara membaca dengan nama Allah, yang menciptakan manusia dari segumpal tanah, dan yang mengajarkan manusia dengan perantara pena. Kembali lagi kita harus merenungi apa yang menjadi Wahyu dari ilahi ini, sebagai ayat pertama yang turun kepada Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wasallam, bahwasanya kita disuruh untuk membaca dengan menyebut nama Allah. Membaca dengan ayat-ayat yang Allah tunjukkan di hamparan semesta yang luas ini, membaca dengan penuh ketundukan karena apa yang kita ingin informasikan sejatinya adalah karena Allah Subhanahu Wa ta’ala telah memberikan informasi tersebut, bukan hal yang kita dapatkan dari pada media sosial ataupun dari diri kita, karena kita sejatinya hanya bisa mengulangi, melihat, mendengar, dan merasakan apa saja yang Allah telah berikan kepada diri kita. Maka daripada itu semua ilmu yang bertebaran di muka bumi ini, semua info informasi yang tersebar di seluruh alam jagat ini, dan semua yang menjadikan hidup kita sekarang ini ada sejatinya adalah bersumber dari Allah subhanahu wa ta’ala. 

Semoga kita lebih bijak dalam menerima, mengolah, dan memberikan informasi yang ada dalam diri kita masing-masing untuk bisa merenungi bahwasanya semuanya itu harus kembali kepada Allah Subhanahu Wa ta’ala. 

Hadanallah wa iyyakum 

Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh 

Blitar, Kamis pagi, 12 November 2024, jam 09.26 WIB. 

Tulisan ini terinspirasi daripada obrolan dengan adik sepupu kami, ketika melakukan perjalanan dari Jogja menuju Blitar. Sebuah renungan yang dapat direnungkan dalam diri sehingga memberikan sebuah gambaran informasi yang dapat menjadikan diri kita untuk bisa memfilter berbagai macam informasi yang kita dapatkan, dan nantinya apa yang kita sampaikan kepada orang lain tersebut bisa menjadi sesuai dengan apa yang memang Allah inginkan. 

Silahkan bagikan di :