Aqidah

Kritikan Tajam Kitab Suci Al-Qur’an kepada Kita Semua

Marhaban ilaika, marhaban. Marhaban ya Nuraini, marhaban. Marhaban ya Rasulullah. Shallallahu ‘ala Muhammad. Sallallahu ‘alaihi wasallam. Sallallahu ‘ala Muhammad. Sallallahu ‘alaihi wasallam. Sallallahu ‘ala Muhammad. Sallallahu ‘alaihi wasallam. Ya Rabbi shalli wa sallim. Shallallahu ‘ala Muhammad. Ya Rabbi shalli wa sallim.

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh.

Bismillahirrahmanirrahim. Alhamdulillahi rabbil ‘alamin. Washalatu wassalamu ‘ala sayyidina wa nabiyyina wa maulana Muhammadin wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in. Amma ba’du.

Yang kami muliakan, segenap para undangan dalam rangka Maulid Baginda Besar Nabi Muhammad ﷺ, serta Guru kita, Ayahanda Kiai yang ke-25, khususnya yang saya muliakan, Profesor Dr. Al-Ustaz Menachem Ali. Beliau datang dari Surabaya. Alhamdulillah, hadir di tengah-tengah kita dalam rangka cinta kepada sesama kaum muslimin, dalam rangka nasihat pada Maulid Baginda Nabi Besar Muhammad ﷺ.

Yang kami muliakan, Ketua Masjid Jami’ Al-Bah, Ayahanda Bapak Haji, yang kami muliakan Aa Kiai Hadri, yang kami muliakan Ayahanda Dr. H. Al-Mukarrom, Kiai Ahmad, serta para hadirin lainnya yang tidak dapat kami sebutkan satu per satu. Untuk mempersingkat waktu, yang pertama saya mengucapkan ribuan terima kasih kepada para jemaah, para tetangga, dan para undangan yang sejak pagi telah hadir dalam membaca Al-Qur’an. Kita khususkan bacaan tersebut, kemudian kita lanjutkan pagi hari ini dengan rangkaian peringatan Maulid Nabi Besar Muhammad ﷺ.

Bapak-bapak jemaah yang kami muliakan, pagi ini kita kedatangan seorang tokoh yang begitu giat dan bertekad untuk menjaga serta melindungi akidah kaum muslimin, dan juga membentengi saudara-saudara kita yang baru saja memeluk agama Islam. Beliau adalah Prof. Dr. Menachem Ali. Dalam hal ini, beliau adalah dosen di Universitas Airlangga Surabaya. Beliau pun sebagai pendiri Yayasan Pembina Muallaf yang saat ini tengah membangun pesantren dan masjid di daerah Jombang.

Sangat penting bagi kita untuk menyimak apa yang beliau sampaikan sebagai bekal di tengah-tengah masyarakat, terlebih di zaman digitalisasi semacam ini, di mana informasi begitu mudah diputarbalikkan. Maka dari itu, saya selaku pribadi dan keluarga besar almarhum Kiai mengucapkan ribuan terima kasih atas kehadiran Prof. Dr. Menachem Ali. Saya pun awalnya belum pernah bertatap muka dengan beliau, tetapi dengan besarnya semangat beliau untuk menyampaikan ilmu Allah kepada kita semua, di tengah kesibukannya, beliau sudah hadir di tengah-tengah kita.

Hanya ini yang dapat saya sampaikan. Saya ulangi, yang pertama mengucapkan banyak terima kasih atas kehadiran para alim, para ulama, para orang tua, para tetangga, dan tentunya diiringi permohonan maaf yang seluas-luasnya bilamana sikap dan penerimaan panitia dalam peringatan Maulid ini kurang berkenan. Demikian saya sampaikan. Billahi taufiq wal hidayah. Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh.

Hadirin, demikianlah tadi sambutan panitia peringatan Maulid dan haul Guru kita, Kiai H. Ahmad Marji yang ke-25. Kini tibalah saatnya kita untuk mendengarkan tausiah yang akan disampaikan oleh Al-Ustaz Prof. Dr. Menachem Ali. Kami mohon kepada jemaah yang masih berada di luar untuk mengisi ruang utama karena masih terlihat tempat yang lowong. Silakan. Mohon didapatkan kembali sound system yang ada di jalan. Kepada Prof. Dr. Menachem Ali, kami persilakan.

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh.

Alhamdulillahi rabbil ‘alamin. Alhamdulillahilladzi arsala rasulahu bil huda wa dinil haqqi liyuzhirahu ‘alad dini kullihi wa kafa billahi syahida. Asyhadu an la ilaha illallah wahdahu la syarika lah, wa asyhadu anna Muhammadan ‘abduhu wa rasuluh.

Qalallahu ta’ala fil Qur’anil ‘aziz: A’udzubillahi minasy-syaitanir-rajim. Bismillahirrahmanirrahim.
“Wa ma arsalnaka illa rahmatan lil ‘alamin.”

Pertama-tama, yang saya muliakan Kiai Fauzi Marji yang saya benar-benar hormati dan taati, para alim ulama, para kiai, para asatidz yang saya banggakan, dan para jemaah yang sudah hadir di masjid ini dalam rangka haul Kiai Haji Ahmad Marji. Semoga Allah merahmati beliau.

Pada pagi ini kita akan mencoba menghadirkan hati kita dalam rangka tholabul ‘ilm, dan sekaligus kita dapat meneladani teladan utama Nabi kita Muhammad ﷺ melalui peringatan Maulid Nabi yang senantiasa kita renungkan setiap tahun.

Saudara-saudara sekalian, ini merupakan pertama kalinya saya datang ke kawasan ini. Mudah-mudahan kehadiran saya di tempat ini bisa memberikan sesuatu yang baru, dan semoga semakin meningkatkan iman dan takwa kita kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Amin. Sekaligus semakin menambah ukhuwah Islamiyah.

Saudara-saudara sekalian, sebelum saya berbicara hal yang paling detail, saya awali dengan apa yang termaktub di dalam Al-Qur’anul Karim, sebagaimana ayat yang tadi saya sitir. Allah Tabaraka wa Ta’ala mengabadikan sekaligus mengumumkan kepada semua penghuni jagat semesta ini bahwa ada misi besar, misi yang sangat besar, yang Allah sampaikan kepada siapa pun, dan ditegaskan dengan kalimat yang sangat pendek tetapi memiliki makna yang amat dahsyat.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
“Wa ma arsalnaka illa rahmatan lil ‘alamin.”
Tidaklah Kami utus engkau, yakni Muhammad ﷺ, kecuali sebagai rahmat bagi seluruh jagat semesta ini.

Ini merupakan sebuah pengumuman yang Allah sampaikan kepada kita. Apa visi besar itu? Tentu saja ini ada kaitan dengan ayat yang lain yang termaktub dalam Surah Al-Baqarah, yang barangkali sebagian kita hafal ayat itu. Surah Al-Baqarah, surah yang kedua, ayat 129, mengabadikan apa yang dulu pernah dimunajatkan oleh seorang tokoh yang senantiasa kita sebut namanya setiap hari. Apa yang beliau ucapkan melalui pewahyuan Allah Subhanahu wa Ta’ala diabadikan di dalam Al-Qur’an, dan sampai hari ini membekas di hati kita.

Apa yang dimunajatkan, apa yang dimohonkan, dikatakan di ayat 129:
“Rabbana wab’ats fihim rasulan minhum yatlu ‘alaihim ayatika wa yu’allimuhumul kitaba wal hikmata wa yuzakkiihim. Innaka antal ‘azizul hakim.”

Kalau ayat itu secara sederhana kita pahami, itu merupakan ungkapan yang sangat serius, ungkapan yang penuh ketakjuban, ungkapan yang penuh harap-harap cemas dari seorang Nabi Ibrahim ‘alaihissalam kepada Tuhan yang beliau sembah. Beliau berkata, “Wahai Tuhan kami, utuslah di kalangan mereka seorang rasul dari kalangan mereka sendiri.”

Dikatakan “seorang rasul.” Tidak dikatakan sekian banyak rasul. Beliau hanya meminta satu rasul saja, seorang rasul dari kalangan mereka, yang akan membacakan ayat-ayat-Mu kepada mereka, mengajarkan Kitab dan Hikmah, dan sekaligus menyucikan jiwa mereka. Sesungguhnya Engkau Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.

Ini arti harfiah dari ayat itu. Ada sesuatu yang patut kita tanyakan, ada sesuatu yang patut kita renungkan di ayat itu. Mengapa beliau fokus pada ungkapan “rasulan,” seorang rasul? Siapa yang dimaksud di sini? Mengapa beliau tidak menyebutkan nama secara langsung? Nama harfiah secara langsung tidak disebutkan di ayat itu. Hanya satu fokusnya: rasul, satu orang rasul.

Tetapi ada sesuatu yang penting yang harus kita pahami. Kalau kita membaca semua tafsir dari generasi salaf, generasi terdahulu, sampai generasi khalaf, generasi kemudian, sampai generasi kita sekarang, semua kitab tafsir yang kita buka, tidak ada satu pun ahli tafsir yang memahami bahwa ungkapan “rasulan” yang dimaksud di situ merujuk kepada selain Nabi kita Muhammad ﷺ.

Artinya apa? Semua ahli tafsir, mulai zaman bahala (kalau orang Sunda bilang “bahala” atau “bahula”), mulai zaman terdahulu sampai zaman sekarang, tidak ada satu pun ulama yang berselisih bahwa ayat yang dimaksud di situ merujuk kepada Khataman Nabiyyin, Muhammad ﷺ.

Tentu saja kita bertanya, mengapa tidak ada satu pun ulama yang berbeda pemahaman? Padahal, kalau kita sering mengaji, sering membaca Al-Qur’an, kemudian para asatidz mengajarkan kepada kita, ada peluang perbedaan pemahaman terkait ayat-ayat tertentu di dalam Al-Qur’an. Apalagi kalau bicara soal fikih, ada peluang beda pemahaman, ada peluang berbeda interpretasi. Artinya memang ada peluang untuk berbeda. Tetapi ketika memahami ayat 129 itu, mengapa mereka tidak berbeda pendapat? Seakan-akan satu suara, seakan-akan hanya satu pemahaman. Dan itu bukan direkayasa, tetapi karena ayat itu tidak memberikan peluang untuk ditafsirkan berbeda.

Karena Allah Subhanahu wa Ta’ala, kalau berbicara mengenai hal yang paling sentral, tidak mungkin muncul perbedaan interpretasi atau pemahaman, sebab ini berkaitan dengan akidah. Apa itu akidah? Sesuatu yang pokok, bukan yang cabang. Kalau fikih itu ada perbedaan, mengapa ada perbedaan? Karena berkaitan dengan cabang. Sedangkan yang pokok tidak ada peluang untuk berbeda. Ini yang harus kita pahami di ayat itu.

Nah, sebelum saya uraikan lebih detail, tadi di awal saya berkata bahwa ayat itu adalah munajat seorang tokoh besar yang namanya selalu muncul dalam salat kita. Nama itu kita sebut. Siapakah beliau? Nabiuna Ibrahim ‘alaihissalam.

Ibrahim ‘alaihissalam berkata, “Rabbana wab’ats fihim rasulan minhum.” Wahai Ya Rabb, utuslah nanti di kalangan mereka seorang rasul dari kalangan mereka sendiri. Hanya satu yang menjadi impian Ibrahim.

Kalau kita memahami ayat ini, ada peluang doa munajat Ibrahim itu diterima atau ditolak. Hanya dua opsi: doa itu bisa diterima, bisa ditolak. Kita bisa belajar dalam Al-Qur’an, adakah doa seorang nabi yang ditolak? Ada. Kita ingat salah satu permohonan Nabi Nuh ‘alaihissalam. Ketika beliau meminta kepada Tuhannya untuk putra kandungnya sendiri, salah satu di antara anaknya, adakah yang tidak selamat? Ada. Artinya apa? Walaupun statusnya seorang nabi, bisa jadi Allah Subhanahu wa Ta’ala mengajarkan kepada kita potensi diterima atau ditolak. Kita ini bukan nabi, kita ini bukan rasul, kita ini bukan siapa-siapa, dan kita dihadapkan pada dua hal penting itu: bisa diterima, bisa ditolak. Saya kira kita pasti mulai merenung, apa maksudnya?

Ayat 129 itu memang doa Ibrahim ‘alaihissalam yang diterima, tetapi kita harus belajar mengapa doa Ibrahim itu diterima. Apa yang menjadi modal besar dari Ibrahim ‘alaihissalam itu yang harus kita contoh. Jadi, bagaimana supaya doa itu diterima? Kita mencontoh seorang nabi yang bernama Ibrahim, karena beliau sudah menyiapkan modal besarnya. Modal apa? Bukan modal duniawi. Ayat 129 itu menjadi penegas, karena yang menjadi orientasi hidup Ibrahim ‘alaihissalam bukan investasi dunia, tetapi modal besarnya adalah investasi akhirat. Itu yang menjadi modal besarnya.

Buktinya apa? Di ayat 127 disebutkan:
Bismillahirrahmanirrahim.
“Wa idz yarfa’u Ibrahimul qawa’ida minal baiti wa Isma’il. Rabbana taqabbal minna. Innaka antas-sami’ul ‘alim.”
Wahai Ya Rabb, terimalah apa yang sudah kami lakukan ini. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.

Sebelum munajat Ibrahim itu diabadikan di ayat 129, di ayat 127 dikatakan “Wa idz yarfa’u Ibrahimul qawa’ida…” Biasanya yang kita baca, saya kira semua sudah sering baca, yang dibaca itu adalah “Wa idz yarfa’u Ibrahimul qawa’ida minal baiti wa Isma’il.” Apakah yang tadi saya baca di awal itu bacaan yang salah? Bukan. Itu bacaan yang benar, karena kita kalau belajar Al-Qur’an ada yang disebut Qira’ah Sab’ah. Yang biasa kita baca itu Qira’ah Hafs, makanya berbunyi disebutkan nama Ibrahim. Tapi yang saya baca tadi “Ibrahim” dan “Isma’il.” Jadi yang disebut bukan hanya Ibrahim, tapi juga Ibraham. Jadi nama Ibrahim dan nama Ibraham itu kedua-duanya benar. Makanya yang satu Qira’ah Hafs, yang satu Qira’ah lain. Jadi dua-duanya boleh dibaca dalam Al-Qur’anul Karim.

Barangkali yang biasa di sini dengar selalu membaca “Bismillahirrahmanirrahim.” Tapi kalau ada orang lain berkata dan membunyikan Al-Qur’an dengan bacaan lain, kira-kira itu salah atau benar? Benar. Inilah keluasan Al-Qur’anul Karim. Bahkan dalam Al-Qur’an ada ayat yang berbunyi seperti yang kita baca, tapi kalau dibaca begini, halal atau tidak? Boleh.

Dari sini kita bisa tahu siapa sang tokoh ini. Mengapa dilafalkan di dalam Al-Qur’an boleh Ibrahim, boleh Ibraham? Karena ini untuk menyambungkan nama beliau yang diucapkan dalam bahasa selain Al-Qur’an, dalam bahasa selain bahasa Arab, pada pewahyuan sebelumnya. Nama beliau tidak disebut Ibrahim, nama beliau juga tidak disebut Ibraham, tapi nama beliau disebut dengan nama Abraham. Jadi kalau bahasa Ibraninya disebut Abraham, bahasa Arabnya boleh disebut Ibraham, boleh disebut Ibrahim.

Coba bayangkan, kalau seandainya dalam Al-Qur’an disebut Ibrahim, dalam bahasa selain Al-Qur’an disebut Abraham, apakah ini merujuk pada orang yang berbeda atau orang yang sama? Kalau kita tidak belajar secara tuntas, pasti kita akan berkata, “Oh, Ibrahim dan Abraham itu orang yang berbeda,” karena kurang bacaan. Ibrahim itu bahasa Arab, Abraham itu bahasa Ibrani. Lalu bagaimana Ibrahim ada hubungan dengan Abraham? Di sinilah keluasan Al-Qur’an. Ada alternatif membaca Al-Qur’an dalam bahasa Arab dibaca Ibraham. Jadi urut-urutannya: Abraham (bahasa Ibrani) bergeser menjadi bahasa Al-Qur’an menjadi Ibraham, bergeser menjadi Ibrahim.

Mudah-mudahan di sini ada yang bahasa Madura, ada yang tahu. Kalau pintu, bahasa Madura dengan bahasa Jawa mirip tidak? Orang Jawa kalau menyebut pintu itu “lawang,” orang Madura menyebutnya “labeng.” Ada yang Madura di sini? Ada. Madura kadinto, ono wong Jowo. Tapi sebagian Melayu ya. Tapi bisa bayangkan ya, lawang dan labeng itu bendanya beda atau sama? Sama. Hanya satu bahasa Madura, satu bahasa Jawa. Bahasa Melayu menyebut yang “meong” itu menyebutnya apa? Kucing. Orang Minang tidak bisa menyebut kucing, “kuciang.” Nah, pertanyaannya, apakah kucing dengan kuciang itu berbeda? Sama. Binatangnya sama, hanya cara melafalkan beda. Yang satu bahasa Melayu Betawi menyebutnya kucing, orang Minang Kabau menyebutnya kuciang. Jadi binatangnya sama.

Nah, begitu juga kalau kita berkata, apakah Ibrahim dan Ibraham itu berbeda? Tidak. Sama. Orangnya sama, figurnya sama. Sama-sama dalam Al-Qur’an. Yang satu menyebut Ibrahim, yang satu menyebut Ibraham. Nah, kalau Ibraham dengan Abraham, orangnya beda atau sama? Orangnya sama. Bukan beda. Bedanya yang satu bahasa Ibrani, yang satu bahasa Arab.

Makanya kalau kita baca Al-Qur’an, tokoh yang satu ini, anak-anaknya disebutkan di dalam Al-Qur’an. Siapa anak-anak Ibrahim ini? Di dalam Surah Ibrahim disebutkan:
“Alhamdulillahilladzi wahaba li ‘alal kibari Isma’ila wa Ishaq. Inna rabbi lasami’ud-du’a.”
Segala puji bagi Allah yang menganugerahkan kepadaku di masa yang sangat tua, yakni Isma’il dan Ishaq. Sesungguhnya Tuhanku Maha Mendengar atas doa yang dipanjatkan.

Apakah informasi seperti ini juga termaktub dalam kitab sebelumnya? Jawabannya: ya. Bagaimana redaksinya? Bagaimana ayat yang termaktub di kitab sebelumnya itu? Maksudnya sebelum Al-Qur’an. Dikatakan, “Benei afraha Abraham, anak-anak Abraham yakni Isma’il yakni Ishaq.” Coba perhatikan. Bahasa Ibraninya disebut Abraham, Ishaq, Isma’il. Bahasa Al-Qur’an menyebut Ibrahim, Ibraham, Isma’il, Ishaq. Jadi orang yang dimaksud itu sama, meskipun bahasanya berbeda.

Al-Qur’an datang untuk mengonfirmasi apa yang benar pada kitab sebelumnya, dan sekaligus mengoreksi apa yang keliru pada kitab-kitab sebelumnya yang telah mengalami distorsi. Jadi Al-Qur’an datang itu tujuannya dua: kalau benar, katakan benar; kalau keliru, luruskan. Itulah ajaran Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada kita. Kalau benar, harus dikatakan benar, walaupun itu bukan dari milik kita. Sekali lagi saya ingin berkata, ini pelajaran untuk kita: katakan benar sekalipun bukan bagian dari kita. Kalau itu benar, katakan. Kalau itu keliru, harus diluruskan. Sebaliknya juga begitu. Kalau saudara kita ada yang keliru, apakah kita katakan benar? Tidak boleh. Katakan keliru, sekalipun bagian dari kita, karena yang kita harus luruskan harus berdasar pada Al-Qur’anul Karim. Itulah spirit Al-Qur’anul Karim.

Di mana pelurusan Al-Qur’an itu? Kalau di dalam Al-Qur’an, “Alhamdulillahilladzi wahaba li ‘alal kibari Isma’ila wa Ishaq,” menegaskan Ibrahim itu putranya Isma’il dan Ishaq. Ini benar, ini hak. Apakah tercantum dalam kitab sebelumnya? Ya, disebutkan ada Ishaq dan Isma’il, benar. Tapi karena urutannya diubah, maka Al-Qur’an meluruskan: Isma’il dulu, baru kemudian Ishaq. Di sinilah tujuan Al-Qur’an itu dua: diluruskan dan sekaligus dibenarkan. Nah, sikap kita juga seperti itu.

Nah, kembali pada pembahasan Al-Qur’an tadi. Mengapa doa Ibrahim itu diijabah oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala? Karena orientasinya itu investasi akhirat. Jadi Ibrahim membangun pondasi rumah Allah bersama sang putra, yakni Isma’il. Jadi orientasinya membangun rumah Allah, ini investasi akhirat. Kalau kita ini, sebagian besar investasinya apa? Investasi dunia atau akhirat?

Contoh yang paling sederhana bagi kita. Sebagian besar, kalau kita parkir, mau parkir sepeda motor atau parkir mobil, tujuan kita parkir itu ketika mengeluarkan uang itu sekadar membayar parkir atau niatnya sedekah? Kita ini rata-rata, ketika kita parkir mobil atau sepeda motor, niatnya membayar parkir atau niatnya sedekah? Kalau niatnya membayar parkir, itu investasi dunia. Tapi kalau niatnya sedekah, itu investasi akhirat. Padahal yang keluar, uang yang kita keluarkan, jumlahnya sama atau beda? Sama. Tapi karena orientasinya beda, maka hasilnya beda. Kalau kita niatkan sedekah, itu investasi akhirat. Dunia dapat, karena sepeda motor kita aman, mobil kita aman. Sedekah kita dapat pahala dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Tapi kalau sekadar niatnya itu bayar parkir, ya memang bayar parkir. Terima kasih karena kendaraan kita dijaga, tapi apakah nyambung kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala? Belum tentu.

Nah, sekarang yang kita lakukan itu niat bayar parkir atau sedekah selama ini? Jawabannya pasti serentak: bayar parkir. Iya kan? Nah, mulai sekarang, setelah pengajian ini, niatnya harus diubah. Makanya kalau bayar parkirnya itu mahal, rusak hati kita. Apa yang dikatakan? “Mahal.” Terus apa lagi? Grundel. Tahu grundel ya? Hatinya grundel, tidak ikhlas. Ya kan? Jadi rusak. Padahal kita mengeluarkan uang. Coba kalau sejak awal, sebelum kita memasukkan kendaraan kita ke tempat, diniatkan untuk sedekah, kita sudah dapat dobel: investasi akhirat. Maka hidup kita ini sederhana sebenarnya. Yang kita lakukan itu sama, tapi kalau salah orientasinya, motifnya berbeda, maka sasaran tembaknya berbeda. Jadi mengubah niat itu penting.

Tidak usah jauh-jauh. Panjenengan semua datang ke sini, niatnya apa? Niat mengaji untuk Allah Subhanahu wa Ta’ala, atau niatnya sungkan kepada shahibul bait? Tahu sungkan? Ini saya pakai bahasa Jawa. Masalahnya, kalau bahasa Melayu, apa itu sungkan? Tidak enakan pada shahibul bait. Kalau niatnya, “Ah, nanti tidak enak. Ah, kalau tidak datang nanti dikira gimana-gimana.” Ini berarti datang ke sini niatnya apa? Investasi dunia. Tapi kalau niatnya sejak awal adalah untuk taklim, maka itu investasi akhirat. Jadi sederhana. Kita ini sebagai Muslim tinggal mengubah saja, mengubah niat. Kalau niatnya investasi akhirat, dapat dobel. Kalau niatnya investasi dunia, hanya dapat dunia.

Supaya gampang dipahami, untuk yang sudah senior-senior supaya gampang, anak-anak muda juga gampang: kalau kita ini menanam jagung, ya kita akan panen jagung, plus rumputnya tumbuh. Tapi kalau niatnya menanam rumput, jagungnya tumbuh tidak? Tidak. Saya ulangi lagi: kalau niatnya itu menanam jagung, jagungnya akan tumbuh, rumputnya juga tumbuh. Tapi kalau niatnya itu menanam rumput, jagungnya tidak akan tumbuh. Jadi sebetulnya tergantung niat kita.

Nah, lihat itu ayat 127. Bagaimana Ibrahim itu sejak awal itu investasi akhirat. Maka dari situlah beliau bermunajat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala di ayat 129, diijabah oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Bahkan di ayat yang lain, di surah yang lain, yakni Surah As-Saffat, surah ke-37, ayat yang ke-100, disebutkan:
“Rabbi hab li minas-salihin.”
Ya Tuhanku, anugerahkan kepadaku keturunan yang saleh.

Beliau tidak sekadar meminta keturunan. Beliau meminta keturunan plus. Plusnya itu apa? Saleh. Ini investasi akhirat. Maka Allah akan ijabah itu:
“Fabasyarnahu bi ghulamin halim.”
Maka Kami berikan kabar gembira kepada Ibrahim putra yang halim.

Nah, coba. Yang diminta itu saleh. Mengapa Allah ijabah dengan putra yang halim? Apa bedanya antara putra yang saleh dengan yang halim? Putra yang saleh belum tentu halim. Putra yang belim sudah pasti saleh. Jadi kalau niat kita benar, Allah akan lebihkan. Kalau niatnya benar, Allah akan lebihkan.

Makanya di dalam Al-Qur’an, yang “halim” itu hanya dua secara terang-terangan Allah katakan. Maksudnya, pribadi yang meminta ini wataknya halim: “Inna Ibrahima la awwahun halim.” Sesungguhnya Ibrahim itu memiliki karakter yang halim. Kemudian Allah ijabah sebagai fotokopi dari Ibrahim: Kami berikan kepada Ibrahim putra yang halim. Siapakah putra yang halim ini? Isma’il ‘alaihissalam.

Loh, mengapa namanya Isma’il? Dari dua kata: Sami’ dan Il. Apa arti harfiahnya? Dia telah mendengar. Siapa yang dia telah mendengar? Il ini bicara mengenai Tuhan. Allah yang telah mendengar. Allah telah mendengar munajat Ibrahim. Diabadikan dalam bentuk nama: namanya Isma’il.

Nah, kebanyakan kita ini baru sadar, ternyata doa itu menjadi latar peristiwa. Mengapa anaknya diberi nama Isma’il? Dari putra Isma’il ini nanti muncul yang namanya seorang manusia agung yang diimpikan oleh Ibrahim, bernama Muhammad ﷺ. Makanya jelas di dalam kitab tarikh, benarkah Nabi kita Muhammad ﷺ yang hari ini kita peringati sebagai maulidnya, benarkah beliau memiliki hubungan dengan Ibrahim ‘alaihissalam? Jawabannya: ya. Dan itu jaraknya itu bukan setahun dua tahun, bukan satu generasi, puluhan generasi. Bukan hanya 200 tahun, lebih dari 200 tahun.

Kalau dilihat dari urut-urutan generasinya, Nabi kita itu bernama Muhammad ﷺ, Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muththalib bin Hasyim bin Abdi Manaf bin Qushay bin Kilab bin Murrah bin Ka’ab bin Lu’ay bin Ghalib bin Fihr alias Quraisy. Sudah berapa generasi tadi? Loh, sampean tidak menghitung tadi? Hah, tidak menghitung. Berapa generasi tadi? Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muththalib bin Hasyim bin Abdi Manaf bin Qushay bin Kilab bin Murrah bin Ka’ab bin Lu’ay bin Ghalib bin Fihr alias Quraisy. Berapa generasi? 12. 12 generasi. 12 generasi itu berapa tahun? Perkirakan saja, satu generasi misalnya 100 tahun maksimal. Sudah berapa generasi? Sudah berapa tahun tuh? 1.200 tahun. Kalau 100 tahun. Kalau lebih kurang dari itu, tidak sampai 1.200 tahun, tapi sudah masa yang panjang. Itu masih belum selesai. Itu urut-urutannya nyambung ke atas lagi: Fihr bin Malik bin Nadhr bin Kinanah bin Khuzaimah bin Mudrikah bin Ilyas bin Mudhar bin Nizar bin Ma’ad bin Adnan bin Udad bin Zaid bin Yaqdir bin Yaqdum bin Hamasah bin Nebet bin Khidar bin Isma’il bin Ibrahim. Sudah berapa generasi? Sampean hitung sendiri.

Artinya apa? Jaraknya sangat panjang. Coba kita merenung sejenak. Doa Ibrahim diucapkan pada saat beliau hidup, tetapi jawaban Allah Subhanahu wa Ta’ala itu melampaui batas sekian puluh generasi. Baru dijawab, diijabah oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Itu masa yang singkat atau masa yang panjang? Masa yang panjang. Artinya apa? Kita harus meneladani Ibrahim. Munajat kepada Allah belum tentu diijabah hari itu juga, tapi bisa menunggu dan bersabar. Dan kesabaran Ibrahim itu menjadi sesuatu yang sangat-sangat berharga bagi kehidupan Ibrahim. Meskipun Nabi kita Ibrahim ‘alaihissalam sudah terkubur di dalam tanah ribuan tahun sebelum kelahiran Nabi kita Muhammad ﷺ, maka Ibrahim bersukacita dan bergembira.

Itulah sebabnya, rahasianya mengapa kita ini kalau salat selalu diperintahkan untuk membaca:
“Allahumma shalli ‘ala sayyidina Muhammad wa ‘ala ali sayyidina Muhammad, kama shallaita ‘ala sayyidina Ibrahim…”
Mengapa yang disebut sayyidina Ibrahim? Mengapa bukan disebut Musa ‘alaihissalam? Mengapa tidak disebut Nuh ‘alaihissalam? Mengapa tidak disebut Adam ‘alaihissalam? Mengapa disebut Ibrahim ‘alaihissalam? Apa rahasianya? Karena memang antara Ibrahim ‘alaihissalam dan Nabi kita Muhammad ﷺ ada hubungan secara fisik, ada hubungan darah dengan Nabi Ibrahim. Yang kedua, ada hubungan iman. Iman yang sama dengan imannya Ibrahim. Itulah sebenarnya ajaran yang dibawa oleh Nabi kita Muhammad ﷺ itu sebagai millah Ibrahim. Jadi kita dari situ belajar: sanggupkah kita ini yang hidup di era sekarang ini bisa memfotokopi diri kita ini menjadi orang yang bisa sama dengan Ibrahim, ataukah tidak? Yang bisa sama dengan Ibrahim ‘alaihissalam apakah tidak?

Kita tidak mungkin menjadi seorang nabi seperti Nabi Ibrahim ‘alaihissalam. Tidak mungkin menjadi orang spesial seperti Nabi Ibrahim ‘alaihissalam. Tapi minimal kita bisa berjalan mengikuti teladan Ibrahim ‘alaihissalam. Harus bisa. Dalam hal apa? Satu, motif hidupnya. Motif hidupnya untuk apa? Investasi akhirat. Dari situlah kita bisa memfotokopi Nabi Ibrahim ‘alaihissalam itu minimal. Yang kedua, apa yang diucapkan Ibrahim itu sama seperti tindakannya sendiri. Ayat 127 itu menjadi penanda. Ibrahim melakukan tindakan nyata: membangun rumah Allah. Itu tindakan nyata, bukan sekadar cita-cita, bukan sekadar visi, tapi praktik langsung. Dan tidak sekadar itu, ucapannya juga nyambung: “Rabbana taqabbal minna. Innaka antas-sami’ul ‘alim.” Jadi antara ucapan dan tindakan harus sama.

Di sekitar kita ini, antara tindakan dan ucapan itu sama atau beda? Mayoritas sama atau beda? Mayoritas tidak sama. Kalau kita mau meneladani sosok yang satu ini, yakni Ibrahim ‘alaihissalam, antara tindakan dan ucapan itu harus sama, tidak boleh berbeda. Dan itu sebetulnya keinginan kita semua, dari semua level, mulai dari kita pribadi, keluarga kita, orang di sekitar kita, pemimpin kita, harus begitu. Tidak bisa dipisah-pisahkan antara ucapan dan tindakan.

Makanya kita ini dikritik oleh Al-Qur’an:
Bismillahirrahmanirrahim.
“Ya ayyuhalladzina amanu, lima taquluna ma la taf’alun.”
Wahai orang-orang yang beriman, mengapa kamu itu antara ucapanmu tidak sama dengan tindakanmu? Intinya di situ. Jadi tindakan dan ucapan itu harus sama.

Jadi, kalau pengajian ini selesai, minimal yang dapat kita harus ubah itu hanya poin satu: motif hidup kita itu untuk investasi akhirat. Kedua, harus bisa sinkron antara ucapan dan tindakan. Dua ini kalau kita sudah lakukan, hidup kita ini indah, hidup kita ini tidak pernah gusar, hidup kita ini penuh berkah, karena dua hal ini. Dan ini adalah semangat kenabian. Ini adalah teladan kenabian. Sekali lagi, kita tidak mungkin bisa menjadi nabi, tapi kita bisa berjalan di jalan kenabian. Saya ulangi lagi: kita tidak mungkin bisa menjadi nabi, tapi bisa melakukan hidup berjalan di jalan kenabian. Itu yang harus kita lakukan.

Makanya, saudara-saudara, ini penting. Peringatan Maulid Nabi itu bukan sekadar memperingati, sekadar hari kelahirannya, merayakannya setiap tahun, mengenang kehidupannya setiap momen seperti ini. Bukan sekadar itu, tapi bagaimana bisa menjadi uswah hasanah bagi kehidupan kita ini. Kalau kita ini bisa menjadi orang yang bisa dikatakan fotokopinya mereka yang disebut nabi itu, baik itu Ibrahim ‘alaihissalam ataupun Nabi kita Muhammad ﷺ, kita nanti diwajibkan menjadi uswah bagi mereka yang nonmuslim. Jadi nonmuslim itu tidak melihat nabi-nabi itu yang dia lihat secara langsung adalah praktik kehidupan yang saleh dari kehidupan kita masing-masing. Itu yang akan dilihat. Dan kita melihat praktik hidupnya para nabi dan apa yang dikatakan oleh para nabi melalui Al-Qur’an dan As-Sunnah. Dari situlah kita memfotokopi para nabi, dan kita menjadi fotokopi mereka yang belum menjadi muslim hari ini.

Ini yang terakhir yang saya tangani sebelumnya itu ada seorang dokter namanya Dr. Stanley, orang Chinese. Ketika datang ke rumah saya, saya tanya, “Dari mana infonya dapat tahu nomor HP saya?” Ya, dia cari-cari akhirnya ketemu. Ketemu, datang ke rumah. Orang ini memang saya anggap tidak sembarangan. Mengapa? Selain profesinya sebagai dokter, dia lajang (tahu lajang? Masih sendiri), dan setiap minggu datang ke rumah saya itu, setiap hari Selasa. Setelah dia praktik dokter malam, dia datang ke rumah. Dan kalau pulang dari rumah saya itu hampir jam 11.15 atau 11.30. Setiap hari Selasa. Kira-kira saya harus mendahulukan orang ini atau saya harus… dengan istri saya itu, tahu e, maksudnya ngeboti istri saya. Ngeboti itu apa ya? Kalau seorang perempuan ada tamu datang sampai jam 10.30 malam, kira-kira perempuan itu bagaimana? Hah? Apalagi ini bukan sekali, ini berkali-kali. Kira-kira protes tidak? Bisa bayangkan ya. Ya, tapi tetap saya lakukan, dan istri saya ikhlas. Saya bilang kepada istri saya, “Ini kita niatkan untuk dakwah. Biarkan tengah malam, tidak apa-apa. Toh hanya seminggu sekali.” Istri saya ikhlas. Dan itu sampai satu tahun diskusi. Kemudian pas satu tahun persis, dia menyatakan, “Saya ingin bersyahadat di hadapan Ustaz sendiri.” Namanya Dr. Stanley. Dan selalu bawa catatan. Catatannya itu bukan sekadar dia dengar dari yang saya omongin, dia bantah apa yang saya omongin, karena dia kitab sucinya paham, Al-Qur’an pun paham meskipun hanya terjemahan.

Contoh sederhana: “Ustaz, di dalam kitab saya itu yang disembelih itu Ishaq. Ini ayatnya begini-begini. Di dalam Kitab Kejadian pasal 22 ayat ke-2 dikatakan, ‘Ambillah putramu yang tunggal itu, yang amat engkau kasihi, yakni Ishaq, dan korbankanlah dia ke salah satu gunung yang Aku akan berikan petunjuk.’ Ini ayatnya jelas, Ustaz. Namanya Ishaq. Di dalam Al-Qur’an kan tidak disebutkan namanya. Itu ayat Qurannya, tapi dia baca terjemahannya saja. Ini kan tidak ada namanya disebut, hanya disebutkan ‘Kami anugerahkan kepadanya putra yang penyantun.’ Tidak ada nama. Ustaz, bagaimana kok disimpulkan Isma’il, padahal tidak disebutkan nama siapa pun di situ? Kalau kitab kami jelas. Bagaimana ini penjelasannya?”

Coba panjenengan begitu jawabnya, dengan berkata, “Isma’il dari mana? Nama Isma’il tidak ada di situ.” Iya kan? Kalau Ishaq kan jelas disebutkan namanya. Al-Qur’an tidak jelas disebutkan namanya. Bagaimana cara kita jawab? Tidak gampang sebetulnya, dan itu butuh diskusi.

Nah, sebelum saya menjawab perbedaan itu, saya berikan sesuatu yang sama dulu. Apa yang sama? Jelas di situ. Kalau di dalam Al-Qur’an dikatakan, “Ya bunayya.” Ini satu kata, tapi penting untuk melihat perbedaan dengan istilah yang lain. Kalau dikatakan “Ya ibni,” wahai anakku, tapi Al-Qur’an tidak berkata “Ya ibni,” tapi “Ya bunayya.” Artinya apa? Wahai anakku yang amat aku cintai. Sama seperti “Ya akhi,” artinya wahai saudaraku, tapi kalau orang Arab berkata “Ya akhi,” wahai saudaraku yang amat aku cintai. Beda tidak? Beda. Dan kapan “Ya bunayya” itu? Anaknya pasti laki-laki, bukan anak perempuan. Anaknya pasti tunggal. Yang ketiga, anaknya pasti sangat dicintai. Hanya dengan kata “Ya bunayya.”

Oke, apakah hal ini termaktub dalam kitabmu? Saya jawab, “Ya.” Dalam kitab orang yang bernama Dr. Stanley ini, kalau bahasa aslinya disebutkan begini: “Kach-na bin-cha et asher ahavta.” Ambillah bin-cha, putramu. Bin sama dengan bahasa Arab. Satu anak laki-laki. Bin-cha yang benar-benar satu-satunya itu. Jadi anaknya satu atau dua? Satu. Asher ahavta, yang amat engkau cintai. Bahasa Arabnya “alladzi ahabbta,” yang amat engkau cintai. Jadi benar. Al-Qur’an mengatakan anak itu anak tunggal, jenis kelaminnya laki-laki, anak itu sangat dicintai. Kitab yang dibawa oleh Dr. Stanley juga sama: anak itu anak tunggal, anak laki-laki, dan anak yang sangat dicintai. Tapi di situ disebutkan nama Ishaq. Oke.

Nah, ayat berikutnya ini yang berbeda dengan Al-Qur’an. Kalau di dalam Al-Qur’an memang tidak disebutkan nama, tetapi anak itu tahu kalau dia akan dikorbankan, dan anak yang dikorbankan itu ikhlas menerima kurban itu. Apa jawaban dari sang putra? “Wahai ayahku yang amat aku cintai, lakukan perintah Allah atas diriku.” Berarti anak itu tahu, dia akan dikorbankan, dan dia ikhlas.

Katakan anak yang dijadikan kurban namanya Ishaq. Jadi Ibrahim tahu bahwa anak yang dijadikan kurban itu Ishaq, dan seharusnya Ishaq juga tahu kalau dia akan dikurbankan. Tapi apakah dia tahu atau tidak? Ayat berikutnya dikatakan, ketika keduanya berjalan, ini ayatnya ya, kemudian Ishaq bertanya, “Abi, ayahku, ini sudah ada kayu dan apinya. Kayu dan apinya mana dombanya?” Jadi Ishaq berkata, “Mana dombanya?” Kemudian Ibrahim berkata, “Nanti Allah sendiri yang akan menyediakan dombanya.”

Kira-kira nyambung tidak? Ibrahim diperintahkan menyembelih Ishaq, tapi Ishaq malah bertanya mana dombanya. Berarti Ishaq tidak tahu kalau dirinya dijadikan kurban. Ibrahim ‘alaihissalam malah menjawab, “Nanti Tuhan sendiri yang akan menyediakan domba itu.” Berarti Ibrahim berkata tidak kepada Ishaq. Kalau dia tahu tapi tidak memberitahu, berarti Ibrahim bagaimana itu statusnya? Dia terus terang atau tidak?

Nah, inilah bedanya. Dari perbedaan itu dia bisa paham. Kira-kira kalau kita ini bukan muslim dan bukan Kristiani, mana yang lebih dramatis dari itu? Dia jawab, “Al-Qur’an lebih dramatis dibanding ini.” Dari situ mulai terbuka.

Nah, karena kita tidak pernah baca kayak beginian dan tidak tuntas membaca kitab-kitab tafsir, akhirnya bingung untuk menjawab. Maka memang sangat penting untuk dakwah itu kepada semua lapisan, sekalipun kepada nonmuslim. Ya, tentu saja harus punya ilmunya. Kalau tidak punya ilmunya, nanti berbahaya. Ya kan? Harus punya ilmunya. Tetapi mempelajari Al-Qur’an itu wajib. Tentu ada guru-guru kita, ada asatidz yang mengajarkan kita, dan itu harus menjadi praktik hidup.

Nah, sekali lagi, untuk menyudahi pengajian ini, pesan saya: jangan lupa ada dua hal tadi. Motif hidup kita ini harus untuk investasi akhirat, jangan investasi dunia. Hanya mengubahnya saja. Percuma kalau kita keluarkan sama, tapi motifnya beda, sia-sialah yang kita lakukan. Jadi sekali lagi, investasi dunia itu penting. Dua, apa tadi yang kedua? Harus sama antara lisan kita dengan tindakan kita. Kalau belum sempurna, tidak ada manusia sempurna, tapi kita harus selalu memperbaiki terus. Itu itulah yang dinilai oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Maka dari situlah kita semua menjadi orang yang selalu memperbaiki diri. Insyaallah dengan bimbingan guru-guru kita yang sudah mengetahui bagaimana peran lembaga ini untuk membimbing kita, mulai dari almarhum Kiai H. Ahmad Fauzi rahimahullah. Semoga Allah merahmati beliau, dan sekaligus membimbing kita ini menjadi orang-orang yang selalu memperbaiki diri.

Saya tutup dengan doa penutup majelis:
Subhanakallahumma wa bihamdika. Asyhadu an la ilaha illa anta. Astaghfiruka wa atubu ilaik.
Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh.

Syukran katsiran. Kami ucapkan kepada Ustaz Prof. Dr. Menachem Ali yang telah memberikan pencerahan kepada kita pada pagi hari ini. Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh.

Alhamdulillah. Alhamdulillahi ‘ala kulli ni’mah. Ni’mati ba’tsir-rasuli bir-risalah. Washalatu wassalamu ‘ala sayyidina Muhammadin nabiyyil huda war-rahmah. Wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in.

Amma ba’du. Qalallahu ta’ala fi kitabihi al-karim…

Kepada Guru kita yang baru saja menyampaikan ceramah, Prof. Dr. Menachem Ali, para alim ulama, para asatidz, dan bapak-bapak ibu-ibu sekalian, rahimakumullah. Sudah begitu gamblang dan jelas bahwasanya kelahiran Nabi merupakan kelahiran yang didambakan oleh seluruh umat manusia. Sampai Allah firmankan dalam Al-Qur’an:
“Laqad mannallahu ‘alal mu’minina idz ba’atsa fihim rasulan min anfusihim…”
Sungguh Allah telah memberikan karunia besar atas orang-orang mukmin pada khususnya. Sungguh Allah telah berikan karunia atas seorang mukmin dengan diutusnya Nabi kita Muhammad ﷺ yang punya tugas membacakan ayat-ayat Allah, mensucikan kepada umat manusia dari kekafiran, dari kemusyrikan menuju tauhid dan iman, mengajarkan mereka Al-Qur’an dan hikmah, sunnah Rasulullah, sunnah Nabawiyah, dan ilmu yang manfaat. Padahal sesungguhnya mereka sebelum diutus Rasul menjadi umat yang sangat sesat lagi nyata.

Ini berarti datangnya Nabi sebagai satu nikmat besar buat kita. Karena itu, mari peringatan Maulid kita jadikan arena bersyukur kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, agar dalam setiap kehidupan kita, dalam setiap aspek apa yang kita kerjakan, landasannya syukur. Kita salat bersyukur karena dengan sebab diutus Nabi saya bisa salat. Kita puasa bersyukur karena dengan sebab diutus Nabi saya bisa puasa. Apapun ibadah yang kita lakukan, dasari syukur itu dengan berkah diutus Nabi kita Muhammad ﷺ. Nabi katakan, “Udkurulaha ‘ala kulli ni’mah.” Ibadahlah kepada Allah atas dasar bersyukur kepada Allah.

Yang kedua, Nabi diutus dengan membawa sifat yang tawadhu’, sifat yang merendah hati, sehingga Nabi bersabda:
“Ana da’watu abi Ibrahim. Ana bisyaratu akhi Isa. Ana ru’yatu ummi fil manam.”
Saya diutus menjadi Rasul berkah doa kakek saya yaitu Nabi Ibrahim. Saya diutus jadi Rasul dengan berita gembira yang dibawa oleh saudara saya Isa bin Maryam. Saya diutus Rasul dengan sebab Ibu saya bermimpi. Ini pengakuan Nabi yang sangat merendah. Saya bukan apa-apa. Jadi Rasul karena doa Nabi Allah Ibrahim yang Allah firmankan.

Nabi Ibrahim berdoa, “Ya Tuhan kami, ingatlah ketika berkata Nabi Allah Ibrahim, ‘Ya Tuhan kami, utuslah di tengah-tengah kami seorang Rasul yang diambil dari mereka keturunan daripada Isma’il, yatlu ‘alaihim ayatika.’ Rasul itu membacakan ayat-ayat-Mu, wa yuzakkiihim, dan Rasul itu mensucikan mereka dari sifat-sifat yang tercela, mensucikan dari kekafiran kepada iman, mensucikan daripada maksiat kepada tobat, dan Rasul itu mengajarkan Al-Qur’an dan hikmah.” Ada yang namanya sunnah Nabawiyah, yang namanya ilmu manfaat. Jadi Rasul ngajarin Al-Qur’an, ngajarin hadis, ngajar ilmu yang manfaat. Kata Nabi Ibrahim, “Innaka antal ‘azizul hakim.” Sungguh-Nya Engkau Ya Allah yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.

Yang tadi dikatakan, berapa generasi doanya itu dikabulkan? Diutuslah Nabi kita Muhammad ﷺ. Ini pengakuan Nabi juga. Nabi katakan, “Ana bisyaratu akhi Isa.” Saya adalah berita gembira yang dibawa oleh saudaraku Isa. Allah firmankan dalam Al-Qur’an, ingatlah ketika berkata Isa bin Maryam, “Ya Bani Israil, saya diutus kepadamu memperkuat, membenarkan apa yang ada sebelum saya, Kitab Taurat. Tugas saya kedua, wa mubasysyiran, membawa berita gembira, bi rasulin ya’ti min ba’di ismuhu Ahmad, dengan seorang Rasul yang akan datang namanya Ahmad.” Kita kenal namanya Nabi Muhammad.

Nabi mengaku, “Li khamsatun minas-asma’.” Dalam hadis Bukhari, “Saya punya lima nama: Ana Ahmad, Ana Muhammad, Ana Hasyir, Ana ‘Aqib, Ana Mahi.” Ini lima nama Nabi yang disebutkan oleh Nabi sendiri. Yang dibawa Nabi Isa: Ahmad. Kita kenal Muhammad. Yang lain: Mahi yang menghapuskan dosa, ‘Aqib yang menutup kerasulan dan kenabian, Hasyir yang membangkitkan manusia dengan bawa bendera Nabi kita Muhammad ﷺ. Ini pengakuan Nabi.

Yang ketiga, kata Nabi, “Saya diutus berkah mimpi Ibu saya.” Ibu saya dikasih lihat dalam mimpinya bahwasanya nanti akan datang seorang Rasul. Ya, dalam berita dikatakan bahwasanya Aminah bermimpi, datang seorang mengatakan bahwa engkau sedang mengandung sebaik-baik makhluk Allah. Nanti kalau melahirkan, namakan dia Muhammad. Mengapa? Karena bahasanya dia akan dipuji sepanjang masa. Ini mimpinya benar, karena Nabi sampai sekarang dipuji oleh umatnya setiap hari dalam salat. Sembilan kali tasyahud. Satu tasyahud saja Nabi dipuji: “Allahumma shalli ‘ala sayyidina Muhammad wa ‘ala ali sayyidina Muhammad.” Itu dipuji dengan baca selawat sampai tiga kali. Allahu Akbar. Nah, ini Nabi dipuji dalam tasyahud tiga kali. Kalau sembilan tasyahud berarti 27 kali. Kalau jumlah orang muslim minimal satu miliar, berarti satu hari Nabi dipuji oleh umatnya 27 miliar kali. Tidak ada seorang makhluk dan manusia dipuji satu hari 27 miliar. Itu baru sembahyang fardu, belum sembahyang sunnah, belum Maulid. Inilah mimpinya ibunya terbukti, karena dia akan dipuji sepanjang masa.

Mudah-mudahan kita peringati Maulid ini akan bisa ikut teladan dari Nabi kita Muhammad ﷺ. Apa yang beliau bawa dengan kekuatan iman, indahnya akhlak kita, dan istikamah ibadah kita. Mudah-mudahan Allah jadikan kita umat yang marhumah, mardhiyyah ‘indallah, mati husnul khatimah dalam iman dan Islam. Amin ya Rabbal ‘alamin.

Al-Fatihah.
A’udzubillahi minasy-syaitanir-rajim. Bismillahirrahmanirrahim.
Alhamdulillahi rabbil ‘alamin…
Rabbana atina fid-dunya hasanah wa fil akhirati hasanah wa qina ‘adzaban-nar.
Allahumma shalli ‘ala sayyidina Muhammadin wa ‘ala alihi wa shahbihi wasallam. Walhamdulillahi rabbil ‘alamin.

Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh.

Amin. Amin ya Rabbal ‘alamin. Semoga Allah mengijabah doa-doa kita pada siang hari ini. Dan selaku acara, saya menyampaikan permohonan maaf apabila dalam memandu acara ini terdapat hal-hal yang kurang berkenan, baik sikap, perilaku, maupun tutur kata saya pribadi. Marilah kita tutup acara ini dengan sama-sama mengucap lafaz hamdalah: Alhamdulillahi rabbil ‘alamin. Dan saya akhiri. Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh.

Silahkan bagikan di :