AqidahSejarah

Keturunan Ismail dan Ishak dalam Perspektif Al-Qur’an dan Alkitab

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Berjumpa lagi di channel Graha Mualaf bersama Edi Prayitno dan Ustadz Menahem Ali Official. Seperti biasa, setiap malam Jumat kita mengadakan dialog interaktif untuk membahas isu-isu viral. Malam ini, kita masih bersama Ustadz Menahem Ali. Assalamualaikum, Ustadz.

Ustadz Menahem Ali: Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh.

Edi: Malam ini kita bahas soal Timur Tengah, khususnya gejolak Palestina-Israel yang sering dikaitkan dengan agama. Palestina dianggap milik Islam, Israel milik Yahudi. Keduanya terkait dengan Nabi Ibrahim, melalui anak-anaknya, Ismail dan Ishak. Ismail menjadi leluhur Bani Arab, sedangkan Ishak leluhur Bani Israel. Bagaimana pandangan Ustadz soal ini?

Ustadz Menahem Ali: Isu ini memang hangat di media sosial, terutama soal dua bangsa yang berseteru dan berebut wilayah. Ada yang membahasnya secara emosional, ada pula secara akademik. Kita harus cermat agar tidak salah menyimpulkan. Menurut Maulana Syekh Imran, ada tiga periode hegemoni dunia: Pax Britannica, Pax Americana, dan kini Pax Judaica. Istilah ini akademik, tapi kita akan bahas dari perspektif Al-Qur’an dan Alkitab secara sederhana.

Edi: Al-Qur’an dan Alkitab?

Ustadz Menahem Ali: Ya, kita mulai dari Al-Qur’an, Surah Ibrahim ayat 39: “Alhamdulillahilladzi wahaba li ‘ala al-kibari Isma’ila wa Ishaqa, inna Rabbi lasami’ud-du’a” (Segala puji bagi Allah yang menganugerahkan kepadaku di masa tua, Ismail dan Ishak. Sesungguhnya Tuhanku Maha Mendengar doa). Ayat ini menegaskan Ismail dan Ishak sebagai anugerah kepada Nabi Ibrahim. Urutannya Ismail dulu, lalu Ishak, merujuk pada urutan kelahiran, bukan kemuliaan nasab.

Dalam Alkitab, Kitab 1 Tawarikh 1:28 menyebutkan: “Anak-anak Abraham ialah Ishak dan Ismail.” Urutannya dibalik, Ishak dulu, lalu Ismail, yang sering diartikan sebagai urutan kemuliaan nasab dalam tradisi Yahudi. Namun, ayat berikutnya (1 Tawarikh 1:29–34) merinci keturunan Ismail: Nebayot, Kedar, Adbeel, Mibsam, Mishma, Duma, Massa, Hadad, Tema, Yetur, Nafis, dan Kedma—total 12 raja. Sedangkan keturunan Ishak disebutkan sebagai Esau dan Israel.

Edi: Jadi, ada perbedaan urutan?

Ustadz Menahem Ali: Ya, Al-Qur’an menekankan urutan kelahiran, sedangkan Alkitab menonjolkan kemuliaan nasab. Namun, keduanya setuju bahwa Ismail dan Ishak adalah anak-anak Abraham. Alkitab juga menyebutkan anak-anak Abraham dari Keturah (Zimran, Yoksan, Medan, Midian, Isybak, Sua), tapi mereka disebut sebagai keturunan Keturah, bukan Abraham secara langsung. Hanya Ismail dan Ishak yang disebut Benai Abraham (anak-anak Abraham).

Edi: Apa lagi yang dikatakan Al-Qur’an?

Ustadz Menahem Ali: Dalam Surah Al-Baqarah ayat 128, Nabi Ibrahim dan Ismail berdoa: “Rabbana waj’alna muslimaini laka wa min dzurriyyatina ummatan muslimatan laka” (Ya Tuhan kami, jadikan kami berdua orang yang tunduk patuh kepada-Mu, dan jadikan dari keturunan kami umat yang tunduk patuh kepada-Mu). Ini menunjukkan bahwa keturunan Ibrahim melalui Ismail menjadi ummatan muslimatan—umat atau bangsa yang tunduk kepada Allah.

Alkitab mendukung ini dalam Kitab Kejadian 17:20: “Tentang Ismail, Aku telah mendengar permintaanmu. Aku akan memberkatinya, membuatnya beranak cucu sangat banyak, memperanakkan 12 raja, dan menjadikannya bangsa yang besar.” Dalam bahasa Ibrani, legoi gadol (bangsa besar) setara dengan ummatan adzimah dalam Alkitab berbahasa Arab, mirip dengan ummatan muslimatan dalam Al-Qur’an.

Edi: Jadi, ada bukti eksternal?

Ustadz Menahem Ali: Tepat. Al-Qur’an bukan klaim sepihak. Dokumen eksternal seperti Alkitab, tafsir Rashi, dan Pirke deRabbi Eliezer (abad 1 M) menyebutkan Hajar (istri Ibrahim) sebagai bat paroh (putri Firaun), bukan budak. Istri Ismail juga disebut sebagai putri Firaun, dinamakan Fatimo dalam dokumen kuno, mirip dengan nama Fatimah yang diarabkan. Ini menunjukkan status mulia Hajar dan keturunan Ismail.

Edi: Ada yang menuduh Hajar sebagai budak dan Ismail tidak diberkati.

Ustadz Menahem Ali: Tuduhan itu keliru. Alkitab (Kejadian 17:20) jelas menyatakan Ismail diberkati, memiliki 12 raja, dan menjadi bangsa besar. Wilayah keturunan Ismail, dari Hawila (Saudi Arabia) hingga Asyur (Mesopotamia), sangat luas, meliputi Hijaz, Najd, hingga Sungai Tigris. Peta Claudius Ptolomius (abad 2 M) menyebutkan suku-suku seperti Bani Qais, Bani Asad, dan Bani Tamim—keturunan Ismail—di Semenanjung Arabia.

Sebaliknya, Bani Israel terpecah menjadi dua: Israel Utara (10 suku) dan Yehuda (2 suku: Yehuda dan Benyamin). Israel Utara hilang setelah dibuang ke Asyur, sedangkan Yehuda dibuang ke Babel. Hingga kini, Bani Israel menghadapi diaspora dan konflik, sedangkan keturunan Ismail tetap menguasai wilayah luas dari Mesir hingga Mesopotamia.

Edi: Jadi, Ismail lebih diberkati?

Ustadz Menahem Ali: Fakta sejarah menunjukkan keturunan Ismail hidup tenang dan menguasai wilayah luas, sesuai janji Tuhan kepada Ibrahim. Dalam Alkitab, gematria (nilai numerik huruf Ibrani) menunjukkan nilai nama Ismail (451) adalah jumlah nilai Abraham (243) dan Hajar (208), menegaskan hubungan istimewa. Nama Muhammad dalam gematria Ibrani juga bernilai 92, sama dengan legoi gadol (bangsa besar), yang sesuai dengan Al-Qur’an (Surah Al-Baqarah 129) tentang seorang rasul dari keturunan Ismail.

Edi: Bagaimana dengan penyembahan berhala?

Ustadz Menahem Ali: Ajaran Ibrahim adalah tauhid, baik untuk Ismail maupun Ishak. Penyembahan berhala masuk karena pengaruh asing. Dalam tradisi Yahudi, yishmaelim (keturunan Ismail) diakui sebagai penganut tauhid yang menyembah Tuhan Abraham (Elohim). Bani Israel juga awalnya bertauhid, tetapi terpengaruh berhala, seperti penyembahan Baal di Israel Utara atau patung sapi emas pada zaman Nabi Musa, yang dipengaruhi Samiri (bukan Bani Israel).

Edi: Jadi, Abraham bukan Yahudi atau Arab?

Ustadz Menahem Ali: Benar. Dalam Alkitab (Kejadian 14:13), Abraham disebut ha’ivri (musafir/pengembara), bukan etnis Ibrani atau Yahudi. Dalam tradisi Arab, ia disebut mustabah (non-Arab yang dianggap Arab). Klaim bahwa Abraham adalah Yahudi atau Arab keliru. Ia adalah pengembara yang membawa tauhid.

Edi: Kesimpulan?

Ustadz Menahem Ali: Dua poin utama: (1) Al-Qur’an dan Alkitab menegaskan Ismail sebagai anak Abraham yang diberkati, menjadi bangsa besar dengan 12 raja, menguasai wilayah luas dari Hawila hingga Asyur. (2) Wilayah keturunan Ismail tetap utuh hingga kini, sementara Bani Israel terpecah dan terdiaspora. Al-Qur’an bukan klaim sepihak, melainkan tervalidasi oleh dokumen eksternal seperti Alkitab, tafsir Yahudi, dan peta kuno. Ini memperkuat akidah kita melawan tuduhan bahwa Ismail tidak diberkati atau keturunannya penyembah berhala.

Edi: Untuk pemirsa, Yayasan Pembina Mualaf (YPM) At-Tauhid sedang membangun pondok pesantren dan masjid di Wonosalam, Jombang, serta membina mualaf di Kalimantan, Papua, Manado, dan Makassar. Silakan berdonasi ke rekening Bank Syariah Indonesia nomor 1118889971 atas nama YPM Jawa Timur. Terima kasih kepada donatur, semoga Allah membalas kebaikan Anda.

Ustadz Menahem Ali: Saya juga mengundang pemirsa untuk seminar bersama, mungkin dengan Pendeta Bambang Nursena, untuk membahas isu ini secara akademik. Data yang saya sampaikan berbasis dokumen eksternal, seperti Alkitab, tafsir Rashi, dan manuskrip Qumran.

Edi: Terima kasih, Ustadz. Semoga kajian ini bermanfaat. Jika ada salah kata, kami mohon maaf. Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Ustadz Menahem Ali: Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh.

LInk;https://youtu.be/m5IMlnsb5i4?si=quWnZXzxdvXmE3Zh

Silahkan bagikan di :