AqidahSejarah

Perspektif Ismail dalam Al-Qur’an dan Alkitab

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Selamat malam, pemirsa setia channel Graha Mualaf, bersama Edi Prayitno dan MenachemAli Official. Seperti biasa, setiap malam Jumat kita mengadakan kajian kristologi. Malam ini, kita bersama Ustadz MenachemAli dan tamu spesial, Luga Tambunan, seorang sahabat dari Surabaya. Assalamualaikum, Ustadz. Salam, Mas Luga.
Luga: Puji Tuhan, luar biasa. Saya di Surabaya mengejar “janji Yakub” yang bekerja 7 tahun untuk mendapatkan cinta, seperti Rachel. Mungkin nanti jadi arek Suroboyo!

Edi: Haha, semoga lancar, Mas Luga. Besok pagi Ustadz Ali harus ke bandara jam 4 pagi, semoga perjalanan lancar. Sebelum masuk kajian, saya ingatkan bahwa pembangunan Pondok Pesantren At-Tauhid di Wonosalam, Jombang, sempat terhenti pasca-Idul Adha karena keterbatasan dana. Kami sedang menggalang dana Rp130 juta untuk kusen, kaca, tempat wudu, dan toilet. Donasi dapat disalurkan ke Bank Syariah Indonesia nomor 111889971 atas nama Yayasan Pembina Mualaf (YPM) Jawa Timur. Terima kasih atas dukungan pemirsa.

Pembahasan: Perspektif Ismail sebagai “Keledai Liar”?

Edi: Malam ini, kita lanjutkan pembahasan tentang Nabi Ismail. Kemarin, kita sudah membahas apakah Ismail anak perjanjian berdasarkan Kejadian 17:18-20, dan telah jelas bahwa tidak ada penolakan terhadap Ismail dalam teks asli. Sekarang, ada tuduhan bahwa Ismail disebut “keledai liar” di Kejadian 16:12. Bagaimana pandangan Ustadz Ali?

Ustadz MenachemAli: Istilah “tuduhan” mungkin kurang tepat; lebih baik kita gunakan “perspektif” untuk menjaga diskusi tetap objektif. Kita akan mengkaji Ismail dari sudut pandang Al-Qur’an dan Alkitab, dengan fokus pada bahasa asli, terutama Ibrani, untuk menghindari bias terjemahan.

Perspektif Al-Qur’an

Dalam Surah As-Saffat (37): 100-101, Ibrahim berdoa: “Robbi habli minash-shalihin” (Ya Tuhanku, anugerahkan kepadaku keturunan yang saleh). Allah mengabulkan dengan memberikan putra yang halim (penyantun), yaitu Ismail. Nama Ismail berasal dari akar sami’a (mendengar) dan Il (Tuhan), berarti “Tuhan telah mendengar” doa Ibrahim. Ini konteks positif. Ayat-ayat berikutnya (37: 102) mengisahkan peristiwa pengurbanan, di mana Ismail disebut sebagai putra yang sabar dan taat. Kemudian, di ayat 112, Allah memberi kabar gembira tentang kelahiran Ishak sebagai nabi yang saleh. Jadi, secara logika Al-Qur’an, Ismail adalah putra pertama yang halim, diikuti Ishak yang alim (berpengetahuan). Keduanya digambarkan positif, tanpa ada yang direndahkan, sesuai prinsip egaliter Islam bahwa semua nabi setara.

Nama Ishak juga punya konteks serupa. Dalam Surah Hud (11): 69-71, Sarah tertawa (fadhikat) saat mendengar kabar kelahiran Ishak, karena ragu akan kehamilan di usia 90 tahun. Nama Ishak (tertawa) mencerminkan peristiwa ini. Jadi, baik Ismail maupun Ishak lahir dari doa Ibrahim yang dikabulkan Allah, dengan nama yang mencerminkan konteks kelahirannya, dan keduanya positif.

Perspektif Alkitab: Kontroversi “Keledai Liar”

Dalam Alkitab, khususnya Kejadian 16:12, Ismail digambarkan dalam terjemahan Indonesia (TB1, 1960; TB2, 2001 & 2023) sebagai “keledai liar” (pere adam), dengan tiga poin:

  1. Karakternya seperti keledai liar.
  2. Tangannya melawan setiap orang, dan setiap orang melawan dia.
  3. Ia menentang semua saudaranya.

Ketiga poin ini terkesan negatif. Namun, jika kita kaji teks Ibrani asli, ada perbedaan signifikan antara Taurat Yahudi dan Taurat Samaria:

  • Taurat Yahudi: Menggunakan pere adam, diterjemahkan “manusia seperti keledai liar.” Pere (dengan huruf alef) merujuk pada keledai, yang dalam budaya modern sering dianggap negatif (konotasi keras kepala atau rendah).
  • Taurat Samaria: Menggunakan para adam (dengan huruf ayin), yang berarti “manusia yang subur” atau “produktif.” Kata para berasal dari akar yang sama dengan parah (subur, berlipat ganda), seperti dalam Kejadian 17:20: “Mengenai Ismail, Aku telah mendengar permohonanmu. Aku akan memberkatinya dan membuatnya beranak cucu sangat banyak, menghasilkan 12 raja, dan menjadi bangsa besar.”

Dalam Kejadian 17:20, baik Taurat Yahudi maupun Samaria menggunakan parah (subur) untuk Ismail, menegaskan nubuat positif bahwa keturunannya akan berlipat ganda. Ini konsisten dengan ucapan Allah kepada Abraham. Namun, di Kejadian 16:12, Taurat Yahudi menggunakan pere (keledai), sedangkan Taurat Samaria menggunakan para (subur). Perbedaan satu huruf (alef vs. ayin) ini menciptakan makna yang berlawanan.

Absurditas dalam Terjemahan Yahudi

Ucapan malaikat kepada Hagar di Kejadian 16:12 (versi Yahudi) terkesan negatif: Ismail akan menjadi “keledai liar” yang melawan semua orang. Namun, Hagar merespons dengan sukacita dan taat kepada Allah (Kejadian 16:13-15). Ini absurd, karena tidak logis menerima kabar buruk dengan sukacita. Sebaliknya, versi Samaria (para adam) menyatakan Ismail akan “subur,” “bekerja sama dengan orang lain,” dan “tinggal di antara saudara-saudaranya,” yang semuanya positif. Respon sukacita Hagar masuk akal dalam konteks ini.

Luga: Jika kita lihat secara keseluruhan, Allah berulang kali menegaskan janji-Nya. Misalnya, di Keluaran 4:22, Allah berkata, “Israel adalah anak sulung-Ku,” merujuk pada Yakub (Israel) sebagai keturunan Ishak. Ini menunjukkan fokus pada Ishak dalam tradisi Yahudi. Namun, Ismail juga dijanjikan 12 raja (Kejadian 17:20), seperti Yakub yang melahirkan 12 suku Israel. Jadi, keduanya diberkati, tapi perspektif Yahudi menonjolkan Ishak.

Ustadz Ali: Benar, Mas Luga. Dalam tradisi Yahudi, fokus pada Ishak dan Yakub karena mereka leluhur Bani Israel. Namun, dalam Kejadian 17:20, Allah menegaskan berkat untuk Ismail, menggunakan parah (subur), sama seperti dalam Taurat Samaria di Kejadian 16:12. Jadi, ucapan Allah kepada Abraham (positif) dan kepada Hagar (versi Samaria, positif) senafas. Hanya versi Yahudi di Kejadian 16:12 yang negatif, kemungkinan karena bias redaksional untuk menonjolkan Ishak.

Edi: Apakah ada bukti Ismail “melawan saudaranya” seperti disebut di Kejadian 16:12 versi Yahudi?

Ustadz Ali: Tidak ada ayat dalam Alkitab yang menyebut Ismail berperang atau melawan Ishak atau keturunannya. Nubuat “melawan saudaranya” tidak tergenapi secara harfiah, sehingga memperkuat argumen bahwa pere adam (keledai liar) adalah salah terjemahan. Versi Samaria (para adam, subur) lebih konsisten dengan Kejadian 17:20 dan respon sukacita Hagar.

Cinta Abraham kepada Hagar dan Sarah

Luga: Soal cinta, anak yang lahir dari cinta pasti “ganteng” atau istimewa. Ismail, sebagai anak pertama Abraham dari Hagar, pasti lahir dari cinta. Hagar menemani Abraham dan Sarah selama 10 tahun sebagai pelayan setia sebelum menjadi istri (Kejadian 16:3). Ini menunjukkan hubungan yang erat, bukan sembarangan.

Ustadz Ali: Betul, Mas Luga. Dalam tradisi Yahudi (Dead Sea Scrolls), Hagar adalah putri Firaun, bukan budak biasa, menunjukkan statusnya yang istimewa. Abraham mencintai Hagar dan Sarah, seperti Yakub mencintai keempat istrinya, termasuk Rachel, yang melahirkan Yusuf yang “ganteng” (Kejadian 39). Dalam Al-Qur’an, Hagar berbicara langsung dengan malaikat (Kejadian 16:7-13; paralel dengan Surah Al-Baqarah (2): 127), menunjukkan keistimewaannya. Jadi, Ismail dan Ishak lahir dari cinta, dan keduanya diberkati Allah.

Kesimpulan

Ustadz Ali: Al-Qur’an menggambarkan Ismail sebagai putra halim (penyantun) dan Ishak sebagai alim (berpengetahuan), keduanya positif dan setara. Dalam Alkitab, Kejadian 17:20 menegaskan Ismail diberkati dengan keturunan yang subur (parah), konsisten dengan Taurat Samaria di Kejadian 16:12 (para adam, manusia subur). Versi Yahudi (pere adam, keledai liar) tampaknya bias redaksional, tidak selaras dengan respon sukacita Hagar dan nubuat positif di ayat lain. Perbedaan satu huruf (alef vs. ayin) menciptakan makna yang bertolak belakang, tetapi konteks keseluruhan menunjukkan Ismail adalah figur positif, setara dengan Ishak.

Luga: Seperti kata Yesus, “Dari buahnya, kamu akan mengenal mereka” (Matius 7:20). Kebenaran berbuah manis dan sukacita. Diskusi ini menunjukkan bahwa Ismail dan Ishak sama-sama berbuah baik, sesuai janji Allah.

Edi: Terima kasih, Ustadz Ali dan Mas Luga, atas diskusi yang hidup dan penuh toleransi. Kami tidak memaksa pemirsa percaya, tetapi menyajikan fakta dari teks asli Al-Qur’an dan Alkitab. Mari dukung YPM untuk pembangunan Masjid At-Tauhid dan pondok pesantren di Wonosalam, Jombang. Donasi ke Bank Syariah Indonesia nomor 111889971 atas nama YPM Jawa Timur. Mari terus lanjutkan dialog lintas agama dengan penuh hormat. Setelah ini, kita makan bareng, ya!

Wabil tawfiq wal hidayah, wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Link ; https://youtu.be/5k5642BtDq0?si=VTvrcn7WBeHvuewe

Silahkan bagikan di :