Bagaimana seseorang yang dianggap biasa, seperti Ismail, bisa melahirkan 12 raja?
Pembawa Acara (Edi Prayitno):
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Berjumpa lagi di channel Graha Mualaf bersama Edi Prayitno dan Menahem Ali Official. Seperti biasa, setiap malam Jumat kita mengadakan kajian dengan topik-topik menarik. Malam ini, kita ditemani oleh Ustadz Menahem Ali. Assalamualaikum, Ustadz.
Ustadz Menahem Ali:
Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Alhamdulillah, kabar baik.
Pembawa Acara:
Alhamdulillah. Malam ini, kita melanjutkan pembahasan tentang keturunan Nabi Ibrahim, khususnya istri Nabi Ismail, cikal bakal Bani Arab, yang jarang dibahas. Biasanya, kita hanya membahas istri Nabi Ibrahim, Ishak, dan keturunannya, tetapi istri Nabi Ismail kurang dieksplor. Siapa sebenarnya istri Nabi Ismail? Ustadz, silakan.
Ustadz Menahem Ali:
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Tema malam ini sangat penting untuk dipahami oleh penganut tiga agama besar: Yahudi, Kristen, dan Islam. Kita mencari meeting point, yaitu kesamaan narasi dalam kitab suci masing-masing, seperti Al-Qur’an, Tanakh, dan Alkitab. Fokus kita adalah istri Nabi Ismail, pendamping putra Nabi Ibrahim, yang melahirkan 12 raja.
Pertanyaan utama: Bagaimana seseorang yang dianggap biasa, seperti Ismail, bisa melahirkan 12 raja? Ini menunjukkan bahwa Ismail bukan orang sembarangan, dan ada sesuatu yang istimewa dari keturunannya. Mari kita mulai dari Al-Qur’an, Surah Al-Baqarah ayat 129:
“Ya Tuhan kami, utuslah untuk mereka seorang rasul dari kalangan mereka, yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayat-Mu, mengajarkan Al-Kitab dan al-hikmah, serta menyucikan mereka. Sesungguhnya Engkau Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”
Ayat ini mencerminkan doa Nabi Ibrahim untuk masa depan keturunannya. Dalam terjemahan, “Al-Kitab” diartikan sebagai Al-Qur’an, dan “al-hikmah” sebagai Sunnah, merujuk pada Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam. Namun, teks aslinya tidak menyebut “Al-Qur’an” atau “Sunnah,” melainkan “Al-Kitab” dan “al-hikmah.” Mengapa ulama sepakat ini merujuk pada Nabi Muhammad? Karena ayat sebelumnya, Al-Baqarah 127-128, menyebutkan Nabi Ibrahim dan Ismail yang membangun Baitullah (Ka’bah) dan berdoa:
“Ya Tuhan kami, jadikanlah kami berdua orang yang tunduk patuh kepada-Mu, dan jadikanlah dari keturunan kami umat yang tunduk patuh kepada-Mu…”
Kata kunci di sini adalah dzurriyah (keturunan) dan ummah (umat). Ayat 129 menegaskan bahwa dari keturunan Ismail akan muncul seorang rasul, yaitu Nabi Muhammad, yang membawa Al-Kitab (Al-Qur’an) dan al-hikmah (Sunnah).
Pembawa Acara:
Jadi, ini terkait dengan Baitullah di Makkah?
Ustadz Menahem Ali:
Tepat. Baitullah merujuk pada Ka’bah di Makkah, tempat pelaksanaan ibadah haji. Doa Ibrahim dan Ismail ini menunjukkan bahwa keturunan Ismail akan menjadi umat besar yang tunduk kepada Allah.
Sekarang, mari kita lihat validasi dari kitab lain, yaitu Alkitab, Kitab Kejadian 17:20:
“Tentang Ismail, Aku telah mendengarkan permintaanmu. Aku akan memberkatinya, membuatnya beranak cucu dan sangat banyak. Ia akan memperanakkan 12 raja, dan Aku akan menjadikannya bangsa yang besar.”
Dalam bahasa Ibrani, “mendengar” (shama) terkait dengan nama Ismail (Yishmael), yang berarti “Allah mendengar.” Istilah goy gadol (bangsa besar) dalam Alkitab sejajar dengan ummah kabirah atau ummah ‘azimah (umat besar) dalam tradisi Arab. Menariknya, jika dihitung dengan metode Ba’al Haturim (numerologi Ibrani), nilai huruf goy gadol adalah 92, sama dengan nilai huruf nama “Muhammad” dalam aksara Ibrani. Ini menunjukkan kesejajaran pesan antara Al-Qur’an dan Alkitab, meskipun redaksinya berbeda.
Pembawa Acara:
Jadi, ada kaitan numerologi juga?
Ustadz Menahem Ali:
Ya, meskipun tidak disebutkan nama Nabi Muhammad secara eksplisit, kesejajaran ini memperkuat bahwa rasul yang dimaksud adalah beliau. Sekarang, kita ke pertanyaan utama: Siapa istri Nabi Ismail? Menurut hadis riwayat Bukhari, Nabi Ibrahim pernah mengunjungi Ismail dan memerintahkan istrinya untuk “mengganti pintu.” Dalam tradisi Yahudi, dokumen Pirkei de-Rabbi Eliezer (abad ke-1 Masehi) dan Targum Yonathan bin Uziel menyebutkan bahwa istri pertama Ismail bernama Adisyah, tetapi kemudian diganti dengan Fatimah atas saran Nabi Ibrahim.
Dalam Targum Yonathan, disebutkan bahwa Ismail tinggal di padang gurun Paran, yang dalam tradisi Yahudi diidentifikasi sebagai Hijaz (Makkah). Ibunya, Hajar, mengambil istri baginya dari Mesir, yaitu Fatimah. Dokumen ini ditulis sebelum era Islam, sehingga nama Fatimah bukan pengaruh Islam, melainkan nama populer di kalangan Arab, seperti Fatimah binti Abu Thalib, tante Nabi Muhammad.
Pembawa Acara:
Jadi, Fatimah sudah populer sebelum era Islam?
Ustadz Menahem Ali:
Tepat. Fatimah adalah nama tradisional di kalangan keturunan Ismail, bukan nama baru di era Nabi Muhammad. Hajar, ibu Ismail, berasal dari keluarga Firaun, sehingga Ismail bukan dari keturunan biasa. Ini menjelaskan mengapa ia bisa melahirkan 12 raja, keturunan bangsawan Mesir.
Dokumen Yahudi, seperti Samaritan Version of Saadia Gaon’s Translation of the Pentateuch, juga menyebutkan bahwa Paran adalah Hijaz, dan istri Ismail diambil dari Mesir. Ini menunjukkan bahwa Islam, Yahudi, dan Kristen memiliki titik temu dalam narasi sejarah. Bahkan, kitab Hindu seperti Manawa Dharmasastra memiliki kesejajaran dengan Al-Qur’an, misalnya tentang malam sebagai waktu istirahat dan siang untuk mencari rezeki, yang merujuk pada Nabi Nuh (Manu).
Pembawa Acara:
Jadi, ada jejak kebenaran lintas agama?
Ustadz Menahem Ali:
Ya, jejak kebenaran ini tidak dihilangkan oleh Allah. Al-Qur’an menyebutkan kitab-kitab sebelumnya seperti Taurat, Injil, dan Zabur, bahkan ada kesejajaran dengan Weda dan Manawa Dharmasastra. Istilah “salam” dalam Islam, “shalom” dalam Yahudi, “santi” dalam Hindu, dan “sancai” dalam Konghucu semuanya merujuk pada damai sejahtera, menunjukkan bahwa inti agama adalah tunduk kepada Allah.
Pembawa Acara:
Ini membuka wawasan bahwa Islam tidak menafikan kitab sebelumnya.
Ustadz Menahem Ali:
Tepat. Muslim tidak boleh alergi terhadap pembahasan lintas agama. Al-Qur’an sendiri mengakui risalah para nabi sebelumnya. Masalahnya, sebagian Yahudi tidak menerima Nabi Muhammad, Isa, atau Yohanes sebagai nabi, tetapi itu bukan alasan untuk menutup dialog. Kita hidup di antara umat beragama lain, dan memahami kitab mereka membantu menemukan kebenaran.
Pembawa Acara:
Menarik sekali. Jadi, istri kedua Ismail adalah Fatimah, dari Mesir, keturunan bangsawan, yang melahirkan 12 raja. Ini jarang dibahas oleh ulama atau pendeta.
Ustadz Menahem Ali (Penutup):
Dua poin utama:
- Ayat Al-Qur’an, seperti Al-Baqarah 129, dapat divalidasi dengan dokumen eksternal seperti Alkitab (Kejadian 17:20). Ismail akan menjadi bangsa besar (ummah ‘azimah atau goy gadol), yang merujuk pada munculnya Nabi Muhammad.
- Muslim tidak boleh alergi terhadap kajian lintas agama. Al-Qur’an mengakui kitab sebelumnya, dan jejak kebenaran ada di semua agama, seperti istilah “salam,” “shalom,” dan “santi.”
Pembawa Acara:
Terima kasih, Ustadz. Kami mengingatkan bahwa Yayasan Pembina Mualaf sedang membangun masjid dan pesantren di Wonosalam, Jombang. Donasi dapat disalurkan ke rekening Bank Syariah Indonesia: 1118889971 atas nama YPM At-Tauhid Jawa Timur. Semoga amal donatur dibalas sebagai amal jariyah. Kami juga mengundang siapa saja, termasuk pendeta, mualaf, atau ulama, untuk berdialog di studio Graha Mualaf. Hubungi admin kami melalui email atau kolom komentar. Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Ustadz Menahem Ali:
Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh.

