Awal mula dosa adalah Sombong
Alhamdulillahirobbilalamin segala putra dan puji syukur kita selalu haturkan kepada Allah subhanahu wa ta’ala karena dengan limpahan segalalahmat dan juga segala karunianya kita dapat merasakan nikmatnya hidup di dunia ini. Nikmat-nikmat tersebut tidak dapat kita nikmati apabila Allah sudah mencabut nikmat tersebut dari kita walau hanya nikmat untuk berjalan. Kaki yang sekarang kita dapat melangkah dan berlari merupakan sebuah tanda bukti bahwasanya Allah masih memberikan nikmat kepada kita semua. Namun ketika kaki itu keseleo, patah, ataupun terkilir maka sangat sulit bagi kita untuk bisa melangkah dengan mudah menuju satu tempat yang kita ingin lalui.
Perjalanan kali ini sangat luar biasa karena dapat satu mobil dengan orang yang luar biasa ilmunya dan juga pemahamannya mengenai Islam. Beliau adalah salah seorang dosen filologi yang mengajarkan ilmunya di universitas Airlangga Surabaya. Sosok ini sebagaimana yang kita ketahui dulunya merupakan orang Katolik yang pada tahun 2005 beliau masuk dalam agama Islam. Kemudian daripada masuknya beliau ke dalam agama Islam menjadikan sebuah pendalaman yang luar biasa terhadap ilmu yang beliau serap dan juga beliau dakwahkan. Sosok yang luar biasa ini adalah Al ustaz Menachem Ali.
Dalam ceramah yang beliau sampaikan tanggal 29 november 2024, hari jumat setelah salat isya, Beliau memulai aktivitas dakwahnya kembali setelah tiga bulan lamanya berada dalam rumah karena mengalami sakit pada kaki. Dari kejadian sakit yang beliau alami membuat banyak hikmah yang dapat diperoleh daripada bentuk kesyukuran yang luar biasa. Ketika kita memiliki kelengkapan nikmat untuk bisa berjalan, namun pada beliau pribadi memiliki kekurangan untuk sulit berjalan sehingga menggunakan alat bantu berupa tongkat. Kesyukuran yang luar biasa itu baru terasa jika mengalami kejadian berupa cobaan dari Allah, maka nikmat syukur itu sangat dibutuhkan dalam menjalani kehidupan karena semua fasilitas yang Allah berikan baik pada diri, keluarga, dan pekerjaan adalah semata dari izinNya. Maka ketika nikmat berjalan itu dicabut oleh Allah baru terasa bahwasanya nikmat bisa berjalan dengan kedua telapak kaki merupakan hal yang sangat diinginkan bagi saudara-saudara kita yang tidak memiliki kaki, patah kaki, sakit pada salah satu bagian di kaki,dan bahkan harus diamputasi kakinya karena suatu hal. Maka nikmat Tuhanmu yang mana lagi yang kamu dustakan?
Dari contoh yang diberikan oleh pengalaman beliau menjadikan saya pribadi sebagai penulis harus terus berupaya dalam setiap amal perbuatan baik, yang kecil maupun yang besar harus dilandasi atas dasar niat baik atas dasar ikhlas menerima apa yang Allah berikan, atas dasar taat kepada perintah Allah, dan juga atas dasar keimanan. Bilamana hal itu semua dilaksanakan maka akan menjadikan kita dalam setiap aktivitas yang dikerjakan semuanya bernilai ibadah.
Pada hari Jumat hingga hari Ahad dari tanggal 29 November hingga tanggal 1 Desember kami membersamai beliau untuk melakukan safari dakwah ke tempat-tempat yang sudah ditetapkan. Dimulai dari Masjid Al Maghfirah, kemudian masjid Raudhatul Jannah di waru, dan yang terakhir masjid Al Madani di daerah Pakuwon. Dari apa yang beliau sampaikan dari satu ayat yang beliau bacakan bisa mengandung berbagai macam hal, mulai mencari bagaimana cara meneladani para rasul dalam berdakwah, bagaimana untuk bisa meniatkan dalam semua aktivitas adalah ibadah, dicontohkan seperti halnya ketika memberikan tukang parkir apabila kita hanya memberikan saja karena kita membayar ongkos parkir maka tidak berarti apa-apa, namun ketika kita meniatkan /motifnya membayar pajak itu dengan ikhlas untuk shodaqoh maka akan bernilai pahala dan juga ibadah kepada Allah, dan itu adalah sesuatu yang berbeda jika kita hanya membayar parkir karena memang itu ongkos yang harus kita bayarkan untuk membayar parkir.
Dari beliau pula menerangkan bahwa dari satu ayat yang beliau baca pada surat al-baqarah ayat ke 34
وَإِذۡ قُلۡنَا لِلۡمَلَٰٓئِكَةِ ٱسۡجُدُواْ لِأٓدَمَ فَسَجَدُوٓاْ إِلَّآ إِبۡلِيسَ أَبَىٰ وَٱسۡتَكۡبَرَ وَكَانَ مِنَ ٱلۡكَٰفِرِينَ
wa iż qulnā lil-malā’ikatisjudū li ādama fa sajadū illā iblīs, abā wastakbara wa kāna minal-kāfirīn
Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat, “Sujudlah kamu kepada Adam,” maka sujudlah mereka kecuali Iblis; ia enggan dan takabur dan adalah ia termasuk golongan orang-orang yang kafir.
Q.S Al-Baqarah [2] : 34
Dari ayat ini berbagai macam hal didapatkan dari apa yang sudah diterangkan beliau di atas, bahwasanya apa yang menjadi ketentuan Allah pada setiap hamba bisa dirusak karena motifnya atau niatnya salah. Dari berbagai macam hal yang dapat diambil hikmahnya dari ayat tersebut penulis lebih menekankan pada hal perbuatan salah satu makhluk Allah di awal zaman yang menentang apa yang Allah perintahkan untuk sujud karena dia tidak mematuhi apa yang Allah perintahkan dan juga merendahkan makhluk lainnya. Yang kesemuanya itu berawal daripada 1 dosa pada awal zaman penciptaan makhluk bermakna manusia yaitu dosa kala zaman itu ada hingga sekarang menjadi dosa-dosa lainnya akar pangkalnya adalah sombong.
Ya asal pangkal daripada dosa dari awal zaman adalah sombong. Mengapa itu bisa menjadi sebuah akar masalah daripada dosa-dosa lainnya yang timbul di muka bumi ini?, lalu siapakah orang atau makhluk yang pertama kali melakukan kesombongan?.
Dalam ayat di atas ketika kita melihat terjemahan per ayat yang dapat kita lihat dalam berbagai macam literatur baik Alquran terjemahan maupun kosakata bahasa Arab, kita dapat mengambil sebuah intisari daripadanya yaitu Kita disuruh mengingat kejadian pada awal masa di mana Allah mengumpulkan para orang-orang penting atau makhluk-makhluk yang di dekatnya sebagai para pembesar di sisi Allah kalau itu.
Dalam Alquran telah dijelaskan bahwasanya mereka para makhluk-makhluk Allah yang memiliki kekuasaan tersebut adalah para malaikat di mana yang kita ketahui bernama Jibril, Mikail, Israfil, dan izroil. Mereka semua memiliki akhiran “il”, para malaikat ini adalah mereka yang memiliki derajat yang tinggi di sisi Allah subhanahu wa ta’ala dan pada makhluk yang Allah sebutkan di dalam surat di atas yakni adalah iblis yakni sebuah penyebutan kepada satu makhluk yang melakukan bentuk pelanggaran dan kemungkaran dengan cara dia sombong dalam artian kata Iblis adalah dia yang membangkang kepada Allah SWT. Karena kesombongannya itu dengan tidak mau menuruti apa perintah Allah yang diberikan kepadanya untuk sujud kepada Adam dan juga dia menyebutkan bahwasanya penciptaannya lebih baik daripada Adam yang termasuk dalam hal ini dalam merendahkan makhluk yang Allah ciptakan maka dari itu makhluk yang menentang itu dinamakan dengan satu kata yakni julukannya “Iblis” (Dia yang membangkang)
Lalu bagaimana dengan syaitan?. Maka dijelaskan oleh Beliau ustad Ali bahwasanya, setan adalah perkumpulan mereka-mereka yang mengajak selain daripada diri mereka sendiri untuk berbuat kemungkaran kepada Allah berbuat kebatilan, dan berbagai macam perbuatan zalim lainnya, maka mereka disebut dengan syaitan. Dan setan itu juga berasal daripada jin dan juga manusia. Maka mereka-mereka yang mengajak orang untuk melakukan perbuatan dosa, melanggar perintah Allah, melakukan banyak daripada kezaliman dan juga kemungkaran maka mereka termasuk syaitan yakni menghasut orang lain untuk berbuat yang tidak sesuai dengan apa yang Allah perintahkan. Maka dari itu bentuk setan seperti disebutkan di atas bahwasanya yang termasuk orang-orang yang memberikan hasutan adalah mereka yang dari golongan jin yang berasal dari pada api dan juga manusia yang berasal dari tanah. Maka dari itu dalam surat an-nas kita mohon perlindungan daripada Allah daripada godaan mereka semuanya itu yang membisiki perbuatan manusia untuk melanggar kepada Allah subhanahu wa ta’ala dengan cara membisikkan sebuah ungkapan yang akhirnya mereka dari kalangan jin dan juga manusia terjerumus dalam kemaksiatan dan juga kezaliman.
Dari apa yang yang sudah dijelaskan di atas maka kita dapat memiliki kesimpulan bahwasanya iblis adalah salah satu sosok atau julukan sebagaimana julukan-julukan yang ada pada masa itu seperti halnya Firaun, yang adalah sebutan gelar bagi raja-raja Mesir kala itu. Raja-raja Mesir yang ditenggelamkan menurut sejarah adalah Ramses 3, dan banyak hal lain yang disebutkan dalam Alquran yang di mana ketika tokoh yang disebutkan adalah orang-orang yang berbuat kezaliman dan perbuatan dosa maka disebutkan dengan nama julukannya sesuai dengan masa zamannya. Maka dari itu julukan iblis yang memiliki latar belakang orang-orang yang membangkang atau disebut juga dengan pembangkang ini maka nantinya akan ada orang-orang yang mengikuti jejak-jejaknya karena termasuk dalam mereka yang disebutkan yakni وَكَانَ مِنَ ٱلۡكَٰفِرِين.
Ya mereka yang disebutkan adalah mereka dalam golongan orang-orang yang kafir, menutup diri dari rahmat Allah, menutup diri daripada ampunan Allah, menutup diri untuk tidak menyembah Allah, dan juga menutup diri daripada Hidayah dari Allah maka mereka adalah orang-orang yang kafir yang tertutup mata hatinya. Maka dari itu akan ada iblis-ibis lainnya setelah zaman awal tersebut, iblis yang kala itu tidak mau sujud kepada Adam, sesuai dengan apa yang Allah perintahkan, maka di zaman nanti setelah kejadian tersebut akan ada mereka yang juga akan menolak hal tersebut termasuk dalam golongan-golongan mereka yang kafir, golongan-golongan mereka yang membangkang terhadap perintah Allah. Namun daripada itu semua harapan kita adalah termasuk orang-orang yang patuh dan tunduk kepada Allah dalam golongan para malaikat yang di mana mereka semuanya adalah makhluk Allah yang taat dan patuh kepada perintah Allah dengan apa yang Allah perintahkan dan apa yang Allah mau maka mereka tunduk dan taat kepada Allah subhanahu wa taala. Harapannya penulis bisa memberikan sedikit apa yang menjadi pemikiran, bahwasanya semoga kita semuanya dibariskan dalam golongan orang-orang yang selalu taat dan patuh kepada Allah subhanahu wa ta’ala sebagaimana para malaikat yang selalu taat kepada apa yang Allah perintahkan kepadanya.
Dalam hal lain Ustadz Ali menyampaikan bahwasanya mereka orang-orang yang memang memiliki perbuatan-perbuatan baik, memiliki keagungan di sisi manusianya, memiliki keistimewaan terhadap kepatuhan yang luar biasa kepada Allah, dan juga memiliki ketaatan yang sangat agung di hadapan Allah maka nama-nama mereka tersebut dalam Alquran bukan sebagai julukannya tetapi disebutkan nama aslinya. Sebagaimana nama-nama nabi Allah yang tersebut dalam Alquran seperti Nabi Ibrahim, Nabi Sulaiman, Nabi Yahya, Nabi Isa, Nabi Muhammad, Lukman Al hakim, sayyidatul Maryam, Zulkarnain, dan lain sebagainya mereka adalah orang-orang yang memiliki bentuk ketaatan yang luar biasa kepada Allah maka dengan kebaikan yang mereka sandang di dalam dirinya, dan juga apa yang menjadi ketaatan kepada Allah subhanahu wa ta’ala, maka Allah abadikan nama-nama yang indah tersebut dalam Alquran, bagi pengingat kepada manusia selanjutnya setelah zaman tersebut hingga hari kiamat nantinya. Bahwasanya dari perilaku-perilaku mereka yang disebutkan dalam Alquran,yang namanya tertulis dan termaktub hingga kita bisa mengenal mereka dari Alquran itu sendiri dan juga dari penjelasan hadis-hadis, maka daripada itu kita dapat mengambil ibrah ataupun pelajaran dari hal tersebut.
Mereka yang membangkang, mereka yang tidak taat kepada Allah, mereka yang menjadikan dirinya sebagai Tuhan atau menganggap dirinya Tuhan, tidak ada dalam satu kalimat pun dalam Alquran bahwasanya mereka dituliskan nama aslinya namun hanya sebagai dalam bentuk julukannya saja. Seperti iblis, Firaun, dan lain sebagainya. Namun jika mereka adalah orang yang taat dan patuh kepada Allah, maka Allah abadikan nama-namanya di dalam Alquran quranul Karim.
Pelajaran yang sangat berharga dari apa yang sudah Allah terangkan dalam surat al-baqarah tersebut, menuntun diri kita bahwasanya kita harus tahu semua diri kita ini adalah berasal dari tanah, unsur yang sangat rendah dibandingkan api dan juga cahaya. Namun daripada itu maka sudah tidak patutlah kita sombong karena kita sejatinya adalah dari bahan dasar yang sangat rendah. Namun kita juga tidak bisa berkecil hati karena ada secercik keistimewaan yang Allah berikan kepada kita yakni akal pikiran, di mana Kita disuruh oleh Allah dalam berbagai ayat didalam Alquran diterangkan bahwasanya kita untuk selalu bisa berpikir, bernalar, dan juga selalu membaca tanda-tanda apa yang menjadi kekuasaan Allah dihamparan alam semesta ini. Supaya kita nantinya lebih paham dan juga lebih mengimani akan adanya Allah subhanahu wa ta’ala dan hari akhirat nanti.
Perjalanan awal zaman yaitu pertentangan dan juga penolakan iblis terhadap Adam, adalah sebuah bentuk bahwasanya dalam dunia ini cikal bakal daripada semua kejahatan yang ada adalah bentuk kesombongan. Maka dari itu bentuk taat yang sebenarnya sebagaimana yang dijelaskan oleh Ustadz Ali adalah terdapat dalam dua ciri hal. Pertama taqwa itu adalah selalu taat kepada apa yang Allah perintahkan dan menjauhi segala larangannya dan juga yang kedua adalah poin untuk tidak merendahkan sesama manusia dan juga makhluk yang Allah ciptakan lainnya. Ketika dua hal ini ditolak dalam bentuk ketaatan dan juga merendahkan seseorang ataupun makhluk lainnya maka ada unsur yang sangat luar biasa yang menjadikan dosa-dosa kembali lagi terhimpun di dalam diri manusia yakni sombong. Karena yang sejatinya baju kesombongan itu hanya untuk Allah subhanahu wa ta’ala.
Teruslah berbuat kebaikan dan jangan bosan-bosan untuk menjadi orang baik, selalu berpikir kritis dan juga memikirkan apa saja yang Allah telah berikan kepada diri kita agar nantinya kita bisa meyakinkan bahwasanya Allah adalah Tuhan yang satu saja. Hanya dia yang memang berhak untuk disembah dan segala apa yang Allah perintahkan dan juga Allah larang pada diri kita sejatinya untuk diri kita sendiri.
Hadanallah wa iyyakum wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh
Di kediaman rumah Ustadz Ali,Rungkut, Wonorejo, Surabaya 6 Desember 2025.
Alhamdulillah ini merupakan minggu kedua saya bisa mengantarkan beliau untuk safari dakwah hari ini gerimis mulai membasahi area perumahan. Dan semoga apa yang kita kerjakan dan kita lakukan hari ini dan besok Allah catat sebagai amal ibadah Allah catat sebagai bentuk pengabdian kepada Allah sebagai seorang santri yang terus haus akan menuntut ilmu.

