AqidahSejarah

Status Hagar dan Ismail dalam Tradisi Semit

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Selamat malam saudara-saudaraku sekalian. Kembali kita bertemu di channel resmi Graha Mualaf, Edi Prayitno, dan Ustadz Ali Official untuk kajian rutin malam Jumat bersama Yayasan Pembina Mualaf (YPM) Jawa Timur. Malam ini, kita kedatangan tamu istimewa, Bang Luga Tambunan. Selamat sore, Bang Luga, apa kabar? Sudah keliling ke mana saja?
Bang Luga: Alhamdulillah, baik. Sudah keliling, tapi tetap semangat ikut kajian ini!

Pembawa Acara: InsyaAllah, di momen tahun baru Islam ini, kita berdoa agar pembangunan YPM semakin lancar dan sukses dengan kerja sama kita semua. Sebelum memulai, kami laporkan perkembangan pembangunan Masjid At-Tauhid di Wonosalam, Jombang. Alhamdulillah, pembangunan hampir selesai, tinggal pemasangan pintu dan kusen. Pipa air wudhu dari sumber sejauh 2,5 km juga sudah mengalir. Ini semua berkat donasi para donatur. Kami ucapkan terima kasih, semoga rezeki para donatur dilimpahkan dan diberkahi Allah SWT.

Namun, lahan 3 hektar masih belum lunas; baru 1 hektar yang terbayar, 2 hektar masih dalam cicilan. Kami membutuhkan dana besar untuk melunasi lahan dan menyelesaikan pembangunan. Bagi yang ingin berdonasi, silakan salurkan ke rekening Bank Syariah Indonesia nomor 111889971 atas nama Yayasan Pembina Mualaf Jawa Timur. Dana yang masuk diaudit eksternal setiap tahun, sehingga penggunaannya transparan dan dapat dipertanggungjawabkan.

Pembahasan: Status Hagar dan Ismail dalam Tradisi Semit

Pembawa Acara: Malam ini, kita melanjutkan kajian sebelumnya tentang anak-anak Nabi Ibrahim AS, khususnya tuduhan bahwa Ismail sering disudutkan karena ibunya, Hagar, dianggap budak. Kita juga akan membahas istri-istri Nabi Yakub AS, yang anak-anaknya menjadi cikal bakal 12 suku Israel, dan mengapa status budak hanya dilekatkan pada Hagar, tetapi tidak pada budak-budak istri Yakub. Ustadz Ali, silakan.

Ustadz M. Ali: Topik ini menarik karena ada kesejajaran antara Al-Qur’an dan Taurat. Dalam Surah Ibrahim (14): 39, disebutkan: “Segala puji bagi Allah yang telah menganugerahkan kepadaku di masa tua Ismail dan Ishak. Sesungguhnya Tuhanku Maha Mendengar doa.” Urutan penyebutan di Al-Qur’an adalah Ismail dulu, lalu Ishak. Ini ungkapan syukur Ibrahim atas kelahiran kedua putranya.

Sekarang, bandingkan dengan 1 Tawarikh 1:28 dalam Taurat: “Putra-putra Abraham: Ishak dan Ismail.” Di sini, urutan terbalik, Ishak disebut lebih dulu, lalu Ismail. Menariknya, Abraham memiliki anak lain dari istri ketiganya, Keturah, seperti Midian dan lainnya, tetapi hanya Ismail dan Ishak yang disebut sebagai zera (benih) Abraham. Mengapa? Karena hanya keduanya yang dianggap istimewa dalam nasab, sedangkan anak-anak Keturah tidak disebut sebagai zera utama.

Kita kembali ke isu Hagar dan Ismail. Dalam Kejadian 18:7, Abraham menyembelih anak lembu terbaik untuk tamunya (malaikat) dan menyerahkan pengolahannya kepada seorang na’ar (pemuda). Dalam tradisi Yahudi (Midrash dan Torah Sheb’al Peh), na’ar ini adalah Ismail, putra Abraham, yang saat itu berusia 13 tahun—usia ketika seorang anak Yahudi mulai menjalankan perintah Taurat (mitzvot). Dalam teks Ibrani, na’ar ditandai dengan definite article ha- (the), menunjukkan bahwa ini merujuk pada seseorang yang spesifik, yaitu Ismail. Tradisi Yahudi sepakat bahwa na’ar adalah Ismail, bukan orang lain.

Namun, dalam terjemahan Alkitab Indonesia, ada perubahan istilah. Pada edisi 1974, na’ar diterjemahkan sebagai “bujang,” yang masih mendekati makna pemuda. Tetapi pada edisi revisi (TB2, 2023), istilahnya menjadi “hamba.” Dalam terjemahan Malaysia, bahkan disebut “orang suruhan.” Ini jauh dari teks asli Ibrani, di mana na’ar berarti putra, bukan eved (hamba sahaya). Perubahan ini menurunkan status Ismail dari putra menjadi hamba, yang bisa memicu ketidakharmonisan lintas agama.

Lebih lanjut, dalam terjemahan Taurat berbahasa Arab kuno oleh Rabi Saadia Gaon (882-942 M), na’ar diterjemahkan sebagai ghulam (putra), bukan hamba. Ini konsisten dengan Al-Qur’an, yang menyebut Ismail sebagai ghulam halim (putra yang sabar) dalam Surah As-Saffat (37): 101. Jadi, baik tradisi Yahudi maupun Islam mengakui Ismail sebagai putra kandung Abraham, bukan hamba.

Status Hagar: Budak atau Putri Firaun?

Ustadz M. Ali: Sekarang, kita bahas tuduhan bahwa Hagar adalah budak. Dalam Kejadian 16:1-4, Hagar disebut shifkha (pelayan), bukan amah (budak perempuan) seperti Bilha dan Zilpa, hamba istri-istri Yakub (Kejadian 30:3-9). Rachel dan Lea, istri Yakub, memberikan hamba mereka, Bilha dan Zilpa, untuk melahirkan anak bagi Yakub. Anak-anak mereka, seperti Naftali, menjadi bagian dari 12 suku Israel. Jika anak-anak Bilha dan Zilpa dianggap sah sebagai keturunan Yakub, mengapa Ismail dari Hagar disudutkan sebagai anak budak?

Menurut tradisi Yahudi, seperti dalam Dead Sea Scrolls (abad 3 SM), Hagar bukan sembarang pelayan, melainkan putri Firaun yang diberikan kepada Abraham setelah mukjizat di istana Firaun. Firaun berkata, lebih baik putrinya menjadi bagian dari rumah tangga Abraham, seorang nabi, daripada dinikahi raja lain. Ini menjelaskan mengapa keturunan Ismail menjadi 12 raja, sebagaimana disebutkan dalam Kejadian 17:20, karena Hagar memiliki status mulia.

Dalam Al-Qur’an, Hagar adalah satu-satunya wanita yang berbicara langsung dengan malaikat, dan nama Ismail (Tuhan telah mendengar) mencerminkan doa Ibrahim yang dikabulkan. Sementara itu, Sarah dalam Kejadian 18 tertawa karena ragu akan janji Tuhan, dan nama Ishak (tertawa) mencerminkan keraguannya. Namun, Tuhan tetap mengasihi keduanya. Dalam Kejadian 17:20-21, Tuhan berjanji memberkati Ismail menjadi bangsa besar dengan 12 raja, tetapi perjanjian khusus (berith) ditetapkan melalui Ishak. Ini bukan menurunkan status Ismail, melainkan menunjukkan peran khusus masing-masing.

Relevansi untuk Pemahaman Lintas Agama

Bang Luga: Pembahasan ini penting karena menjadi fondasi untuk memahami silsilah dan hubungan antar-agama. Dengan mempelajari bahasa asli—Arab dan Ibrani—kita bisa memahami kebenaran tanpa bias terjemahan. Ini seperti kerangka rumah; kalau fondasinya kuat, bangunannya kokoh. Kajian seperti ini membuat umat lebih cerdas dan tidak mudah terprovokasi oleh terjemahan yang keliru.

Ustadz M. Ali: Benar sekali. Status Hagar dan Ismail sering disalahpahami karena terjemahan yang tidak akurat. Dalam teks asli, Hagar bukan budak biasa, dan Ismail adalah putra kandung Abraham, bukan hamba. Bahkan, anak-anak Bilha dan Zilpa, yang juga dari hamba, dianggap sah sebagai suku Israel. Jadi, tuduhan bahwa Ismail tidak layak karena ibunya budak tidak berdasar. Kita perlu literasi teks asli untuk memahami kebenaran dan menjaga harmoni lintas agama.

Penutup dan Dukungan untuk YPM

Pembawa Acara: Kajian ini sangat mendalam dan membuka wawasan. Kami mengajak pemirsa untuk terus mendukung pembangunan Pondok Pesantren At-Tauhid dan Masjid YPM. Donasi dapat disalurkan ke rekening Bank Syariah Indonesia nomor 111889971 atas nama Yayasan Pembina Mualaf Jawa Timur. Terima kasih kepada para donatur; semoga amal Anda diterima Allah SWT.

Ustadz M. Ali: Kajian ini menunjukkan pentingnya memahami Alkitab dan Al-Qur’an dalam bahasa aslinya. Hagar dan Ismail memiliki status mulia, sebanding dengan Sarah dan Ishak. Mari kita dukung YPM untuk terus mengedukasi umat melalui kajian lintas agama seperti ini.

Bang Luga: Terima kasih atas diskusi yang luar biasa. Semoga saya bisa sering hadir sebagai sparing partner. Mari dukung YPM agar kajian seperti ini terus berlanjut.

Pembawa Acara: Terima kasih kepada Ustadz Ali dan Bang Luga. Mohon maaf atas segala kekhilafan. Semoga kajian ini bermanfaat. Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Link ; https://youtu.be/wQXKfnVoncw?si=0hzpYyJz9hwvp4f5

Silahkan bagikan di :