Sekejap Allah dapat Membolak-balikan HambanNya
Tahun 2024 akhir merupakan hal yang sangat luar biasa. Menjadi sebuah ajang di mana seseorang bisa menjadi seorang yang terhina dan dimuliakan. Berkat adanya berbagai macam media sosial yang bertebaran di tahun ini semua orang dapat mengakses dengan mudah kejadian-kejadian apa saja yang di luar daripada lingkungannya. Semua informasi tersebut bisa diakses dengan mudah dengan adanya perangkat yang bernama handphone atau smartphone idan juga jaringan internet. Telah banyak orang yang dapat mengakses hal-hal kebaikan dan keburukan dalam genggaman tangan mereka masing-masing. Kebanyakan daripada orang-orang di zaman ini semuanya lebih suka dengan menonton sebuah video. Awalnya banyak video yang mereka tonton dengan durasi yang panjang namun akhirnya seiring dengan zaman yang semakin cepat maka informasi tersebut ingin segera mereka lihat dengan menonton potongan-potongan pendek dari video-video tersebut. Sehingga menimbulkan banyak spekulasi dan juga pro dan kontra terhadap sesuatu yang ada dan timbul daripada video yang mereka lihat.
Pada tahun ini agama Islam menjadi perbincangan di berbagai banyak media yang bertebaran di jagat Maya. Ada sosok pembuka agama yang dengan bercanda namun hal ini adalah sesuatu yang dapat menurunkan martabat dan derajat orang lain. Pemuka agama tersebut merendahkan orang lain dihadapan banyak orang karena suatu hal. Namun dari apa yang didapatkan oleh penulis sekiranya kita harus melihat, menelusuri, dan meruntun tentang asal muasal mengapa hal itu dapat terjadi. Pemuka agama tersebut seringkali membeli barang dagangan orang-orang yang hadir dalam majelisnya. Sehingga hanya orang-orang yang akhirnya mungkin dalam hatinya ingin juga diborong barang-barang dagangannya. Namun ada juga orang-orang yang memang tidak tahu akan hal itu dan hanya berniat untuk berjualan saja tanpa perlu dagangannya diborong oleh pemuka agama tersebut.
Dua sudut pandang pemikiran yang berbeda ini menjadikan kejadian yang ada pada saat itu menjadi hal yang sangat fenomena sehingga tersebar luas hingga di dunia nyata. Ada yang mengejek dan mengolok apa yang diperbuat oleh pemuka agama tersebut, ada pula yang mendukung pemuka agama tersebut karena sudah mengangkatkan derajat orang yang direndahkan.
Ada pula orang-orang yang membantu dengan uang, hadiah pendidikan untuk putra-putri orang yang direndahkan, hingga diberangkatkan umroh pada bulan Ramadan oleh salah satu ustad. Maka dari itu perlunya keterangan yang jelas mengenai apa yang sebenarnya terjadi perlu dibuka dengan sejelas-jelasnya. Yang beranggapan bahwa pemuka agama tersebut adalah orang yang menghina orang yang sedang berjualan di tengah-tengah majelisnya mengatakan bahwasanya yang dilakukan adalah sesuatu yang tidak etis dan juga kesombongan pada diri pemuka agama tersebut.
Dari sisi orang yang direndahkan yakni seorang penjual minuman keliling tersebut mengatakan bahwasanya dia hanya niat untuk memberikan nafkah kepada anak dan istrinya dengan berjualan ketika menghadiri acara majelis pemuka agama tersebut.
Dikarenakan sebelumnya pemuka agama tersebut telah memberikan berbagai macam kemudahan bagi mereka yang berjualan maka ada satu momen di mana seorang yang berjualan minuman ini mendapatkan guyonan yang kirain tidak pantas menurut beberapa kalangan untuk diucapkan. Namun ada juga kalangan yang melihatnya dari sudut pandang lainnya karena ucapannya tersebut maka dinaikkanlah derajat orang yang digunakan.
Sejatinya bahwasanya ketika seorang itu ingin membantu manusia yang lainnya perlu adanya pertimbangan yang sangat harus dipikirkan bagaimana keberlangsungan daripada bantuan itu bisa juga bermanfaat bagi orang yang dibantu dan tidak merendahkan orang yang kita. Begitu juga mereka yang sudah dibantu tidak menjadikan kebutuhan yang terus-menerus untuk berharap bahwasanya Dia adalah seorang yang layak dibantu, dan selamanya perlu dengan adanya pemahaman dari kedua belah pihak bahwasanya yang dibantu itu merasa bersyukur dan tidak mengharapkan dan diberi lagi oleh orang yang membantu, dan juga orang yang membantu juga memikirkan niat yang ada dalam dirinya untuk ikhlas membantu karena Allah subhanahu wa ta’ala.
Bersodaqoh dan berinfak itu memang dapat dilakukan secara sembunyi-sembunyi maupun secara terang-terangan. Namun apabila itu di salah gunakan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab dikarenakan berharap bahwasanya orang yang memberi itu akan memberi untuk kesekian kalinya maka itu adalah sebuah pengharapan yang semu karena pengalaman itu sejatinya haruslah untuk Allah subhanahu wa ta’ala.
Terlepas daripada konflik yang terjadi di tahun lahir 2024 ini, kesadaran yang mendalam bahwasanya apa yang Allah berikan dalam bentuk keahlian sebagai pemuka agama yang memberikan contoh bagi orang-orang yang didakwari atau orang-orang yang diberikan nasihat juga seharusnya dilakukan pada dirinya sendiri.
Jika merasa bahwasanya Dia adalah orang yang telah mampu mengerjakan agama lalu merendahkan orang lain yang tidak mengerti ataupun belum paham atas sesungguhnya itu adalah kesombongan dan sesuatu kesombongan itu tidak disukai oleh Allah. Karena kesembuhan itu pula yang menjadikan iblis makhluk Allah dikeluarkan daripada surganya Allah dan dilaknat oleh Allah subhanahu wa ta’ala hingga akhir dunia itu.
Dan juga bagi orang-orang yang mendapatkan bantuan dari orang lain kiranya harus mawas diri dan tidak menggantungkan kebutuhan hidupnya kepada orang tersebut. Karena sejatinya bentuk ketaqan yang paling tinggi adalah menyerahkan semua urusan dunia yang sedang dialami dan dirasakan seluruhnya hanya kepada Allah. Meminta kepada manusia secara terus-menerus akan membuat manusia itu merasa bosan dan marah.
Namun jika permintaan itu terus menerus kepada Allah subhanahu wa ta’ala maka Allah sangat cinta terhadap perbuatan tersebut karena Allah juga akan cemburu apabila makhlukNya atau hambanya yang bernama manusia itu lebih condong kepada makhluk yang dia ciptakan untuk meminta bantuan dan lain sebagainya. Semakin banyak permintaan kita sebagai hamba kepada Allah subhanahu wa ta’ala perihal dunia dan akhirat kita maka akan banyak pula Allah memberikan pertolongan-pertolongan yang datang dari arah yang tidak disangka-sangka.
Maka apapun yang sekarang ini kita kerjakan baik berdagang, berbisnis, bekerja sebagai karyawan, bekerja dalam sebuah instansi negara, dan juga pekerjaan-pekerjaan lainnya harus diniatkan bahwasanya yang dia kerjakan adalah sebuah bentuk pengamanan kepada Allah sebagai cara untuk melakukan dzikir kepada Allah dan tidak mengharapkan apa-apa daripada manusia yang juga mereka membutuhkan Allah untuk memberikan rezeki kepadanya.
Setiap orang pasti membutuhkan bantuan orang lain karena kita dalam makhluk sosial namun perlu ada batasan yang harus kita lihat, mana yang layaknya kita memberikan bantuan dan juga mana yang harus kita tolak ketika kita diberikan bantuan.
Yang menjadi permasalahan Apakah kita termasuk orang-orang yang tamak kepada bantuan? Apakah kita merupakan orang-orang yang tamak untuk tidak memberi bantuan kepada orang lain?, maka kami persilahkan para pembaca untuk merenungi hal tersebut dari manakah asal muasal kita?.
Ya dari mana kak asal kita mengapa kita harus bergantung kepada sesama makhluk perihal rezeki ataupun kebutuhan dunia kita. Padahal yang kita mintai bantuan dan kita mohon pertolongan juga adalah makhluk. Yang dia pasti punya rasa bosan, rasa marah, rasa jengkel, dan lain sebagainya jika seseorang yang sudah dibantu selalu berharap untuk dibantu kembali.
Maka hanya pantaslah permintaan dan juga permohonan yang terus-menerus kita lakukan untuk urusan dunia kita semuanya harus bersandarkan kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Hanya meminta dan memohon kepadanya untuk segala apa saja yang kita butuhkan.
Ada cerita mengenai hal ini daripada penulis ketika melakukan kegiatan makan siang di salah satu rombong bakso yang ada di pinggir jalan di daerah Jemursari Surabaya. Ada pedagang minuman dan juga pedagang bakso yang mereka saling berinteraksi, saling berbincang-bincang, dan juga saling menasehati akan satu hal dan lain sebagainya. Salah satu obrolan mereka mengatakan bahwasanya ketika orang sudah merendahkan orang lain maka itu sejatinya adalah kembali kepada dirinya sendiri. Mereka mengkaitkan dengan kejadian pemuka agama tersebut yang merendahkan penjual minuman. Sehingga mudah saja bagi Allah untuk membalikkan orang-orang yang memiliki pangkat dan jabatan karena perbuatan lisan dan tangannya Allah balik daripada mereka yang awalnya termasuk orang-orang yang terpuji menjadi orang-orang yang hina. Dan begitu pula sebaliknya mereka yang dianggap oleh manusia hina namun sekejap Allah balik mereka jadi orang-orang yang terpuji dan mulia.
Sekejap saja perubahan itu langsung terjadi pemuka agama resmi memiliki pangkat dan jabatan yang tinggi di negeri tercinta ini, kamu dalam sekejap karena perbuatannya beliau pun menjadi seorang yang terhina.
Adapun penjual minuman yang tidak tahu orang siapapun tentang dirinya namun kali ini dengan informasi yang sangat cepat menjual minuman tersebut menjadi orang yang terkenal dan juga mulia. Dia mendapatkan banyak bantuan, donasi, dan juga hadiah berupa beasiswa pendidikan dan umroh untuk anak dan juga dirinya.
Maka dari itu ketika seseorang ingin berucap hal-hal yang kiranya dapat menyakiti hati orang lain maka sebaiknya diam. Karena Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam telah bersabda: “berkata baik atau diam”.
Walaupun ada mereka yang tetap pendukung pemuka agama tersebut karena dengan ucapannya dia mengangkat derajat orang lain yang dihinakan, kamu sejatinya juga bisa dapat kita mengambil renungan intinya bahwasanya ketika cinta sudah ada satu titik biji sawi untuk merendahkan orang lain karena jabatan dan pangkat kita, atau ilmu yang kita miliki maka dari itu termasuk dalam golongan orang-orang yang sombong.
Baju kebesaran kesombongan hanya layak dipakai oleh Allah subhanahu wa ta’ala bukan makhluk.
Allah yang memberikan kehidupan, Allah yang memberikan jalan untuk kita bisa hidup menjalani hari-hari sampai kita nanti berjumpa dengannya kelak di Yaumil Mahsyar, maka sudah layak lah kita terus meminta pertolongan kepada Allah akan hal-hal yang dapat meluncurkan kita daripada kehidupan dunia ini baik dari lisan, mata, hati, pikiran, dan juga perbuatan. Perlu kiranya kita juga merenungkan dari apa yang diperbincangkan oleh orang-orang yang sedang berbincang para penjual bakso dan juga minuman di pinggir jalan di Surabaya tersebut. Bahwa ternyata Allah dengan mudah membolak-balikkan orang-orang yang tadinya mulai menjadi hina dan mengangkat derajat orang-orang yang tadinya hina menjadi mulia. Pelajaran yang sangat berharga yang dapat kita ambil sebagai manusia yang selalu akan terus berinteraksi dengan sesama manusia, bahwasanya kita sebagai manusia ini adalah sesama makhluk yang Allah ciptakan di muka bumi ini untuk saling membantu, saling mengingatkan, dalam hal ketaatan, kesabaran, dan juga kebenaran.
Manusia hanya memainkan peran menjadi peran-peran yang nantinya bisa berkata ganti setiap kali mereka berada di satu lingkungan yang berbeda, repot bisa berganti menjadi seorang pemimpin kalah berada di tempat pekerjaannya, namun kadang juga dia akan menjadi seorang bawahan ketika berada di tempat pekerjaan lainnya, bahkan dalam sebuah keluarga seorang ayah yang mungkin di dalam kampus sebagai seorang yang memiliki wewenang terhadap kampus yang dia kelola, namun ketika berada di rumah otoritas yang diabaikan di kampus sudah tidak bisa disamakan dengan kegiatan yang ada di rumahnya. Dia seorang ayah akan menjadi suami pagi istrinya dan juga sebagai ayah bagi anak-anaknya. Dia tidak akan menggunakan kekuasaan yang dia peroleh di kampusnya untuk dia terapkan di dalam kegiatan rumah tangga nya. Setiap tempat ada hal yang pantas untuk diucapkan, dan setiap ucapan ada tempat yang pantas untuk berucap.
Hadanallah wa iyyakum
Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh
Surabaya, hari sabtu tanggal 7 Desember 2024.
Di tempat banyak orang untuk terduduk santai menikmati secangkir kopi dan minuman untuk sekedar beristirahat dan juga melepas penat.

