Status Ismail dan Ishak dalam Kitab Suci
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Selamat malam, pemirsa setia channel Graha Mualaf, Edi Prayitno, dan MenachemAli Official. Seperti biasa, setiap malam Jumat kita mengadakan kajian rutin bersama Yayasan Pembina Mualaf (YPM) Jawa Timur. Malam ini, kita bersama Ustadz MenachemAli. Assalamualaikum, Ustadz.
Sebelum memulai, kami menyampaikan duka cita sedalam-dalamnya atas wafatnya Ustadz Agustan, yang telah dipanggil Allah SWT. Beliau adalah sosok yang berjuang bersama YPM, memberikan kontribusi besar dalam menjelaskan Islam kepada saudara-saudara non-Muslim. Semoga keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan, dan almarhum ditempatkan di surga-Nya yang terbaik bersama orang-orang saleh. Amin. Kita semua akan menyusul, entah kapan, dan semoga dipersatukan di Jannah. Amin.
Perkembangan YPM dan Dukungan untuk Mualaf
YPM terus berjuang membina ratusan mualaf di berbagai wilayah Indonesia, seperti Papua, Manado, Kalimantan, Riau, Jakarta, Jawa Tengah (Gunung Kidul, Sragen), Jawa Timur, Makassar, dan lainnya. Di Manado, alhamdulillah, hampir setiap dua hari ada mualaf baru, dengan total 200-300 mualaf yang dibina. Untuk mendukung mereka, YPM menggalang dana melalui rekening cabang-cabang, termasuk Bank Syariah Indonesia nomor 111889971 atas nama Yayasan Pembina Mualaf Jawa Timur. Di Jombang, kami telah membeli lahan 3 hektar untuk pondok pesantren, meski masih diangsur, dan sedang membangun Masjid At-Tauhid di Wonosalam. Kami mengajak pemirsa untuk berdonasi guna menyelesaikan pembangunan ini. Semua dana dikelola transparan dan diaudit secara eksternal.
Pembahasan: Status Ismail dan Ishak dalam Kitab Suci
Pembawa Acara: Malam ini, kita membahas isu yang sering menjadi perdebatan, terutama dari kalangan Kristen, bahwa Ishak adalah “anak perjanjian” berdasarkan Kejadian 17:18-20, sementara Ismail dianggap tidak layak. Dalam ayat ini, Ibrahim memohon agar Ismail hidup di hadapan Allah, tetapi dikatakan bahwa Sarah akan melahirkan Ishak sebagai anak perjanjian. Narasi ini sering digunakan untuk merendahkan Ismail dan keturunannya. Bagaimana penjelasan Ustadz MenachemAli?
Ustadz MenachemAli: Tema ini penting karena sering disalahpahami akibat kurangnya literasi bahasa asli, khususnya Ibrani. Kita harus memahami bahwa informasi dalam kitab suci, baik Al-Qur’an maupun Alkitab, bukan sekadar sejarah, melainkan historiografi yang mencerminkan konteks iman masing-masing komunitas.
Dalam Surah Ibrahim (14): 39, disebutkan: “Segala puji bagi Allah yang telah menganugerahkan kepadaku di masa tua Ismail dan Ishak. Sesungguhnya Tuhanku Maha Mendengar doa.” Urutan di sini Ismail dulu, lalu Ishak. Bandingkan dengan 1 Tawarikh 1:28: “Anak-anak Ibrahim ialah Ishak dan Ismail.” Urutannya terbalik: Ishak dulu, lalu Ismail. Meski urutannya berbeda, keduanya disebut sebagai zera (benih) Abraham, istilah khusus dalam bahasa Ibrani yang hanya digunakan untuk Ismail dan Ishak, bukan anak-anak lain seperti dari Keturah (Midian, dll.). Ini menunjukkan bahwa keduanya memiliki status istimewa yang tidak dapat dipisahkan.
Narasi bahwa hanya Ishak yang layak sebagai anak perjanjian sering kali muncul dari terjemahan yang bias. Mari kita lihat Kejadian 17:18-20 dalam bahasa Ibrani asli:
- Ayat 18: “Dan Abraham berkata kepada Elohim, ‘Biarlah Ismail hidup di hadapan-Mu (levaneha).” Kata levaneha berarti “layak di hadapan-Mu,” bukan penolakan.
- Ayat 19: “Sungguh, Sarah istrimu akan melahirkan seorang putra, dan namanya Ishak.” Dalam bahasa Inggris, kata indeed (sungguh) digunakan, bukan not (tidak). Tidak ada penolakan terhadap Ismail.
- Ayat 20: “Mengenai Ismail, Aku telah mendengar permohonanmu. Aku akan memberkatinya dan melipatgandakan keturunannya.” Kata shama (mendengar) dalam Ibrani sama akarnya dengan Ismail (Allah telah mendengar), paralel dengan Surah Al-Baqarah (2): 127, yang menyebut Allah sebagai As-Sami’ (Maha Mendengar) saat Ibrahim dan Ismail membangun Ka’bah.
Dalam terjemahan Indonesia, seperti Alkitab TB1 (1960), tidak ada kata “tidak” di ayat 19, hanya “sesungguhnya Sarah akan melahirkan.” Namun, TB2 (2023) dan terjemahan Malaysia (Berita Baik) menggunakan “bukan demikian” atau “tidak,” yang menimbulkan kesan penolakan terhadap Ismail. Ini berbeda dengan terjemahan Yahudi berbahasa Arab oleh Rabi Saadia Gaon (882-942 M), yang tidak menyebut penolakan, melainkan “biarlah Ismail hidup di antara kedua tangan-Mu” (layak di hadapan Allah).
Salah Terjemahan dan Bias Ideologis
Perbedaan terjemahan ini menunjukkan adanya politik redaksional atau ideologi penerjemahan. Misalnya, dalam Kejadian 16:12, Ismail digambarkan sebagai “keledai liar” (pere adam) dalam terjemahan Indonesia, padahal dalam Taurat Samaria, pere berarti “subur” atau “berlipat ganda,” sama dengan janji Allah kepada Abraham di Kejadian 17:20: “Aku akan melipatgandakan keturunannya.” Akar kata parah (subur) digunakan secara positif untuk Ismail, bukan negatif seperti dalam terjemahan. Hal ini kontras dengan janji serupa kepada Hagar melalui malaikat, yang juga positif.
Contoh lain, dalam Kejadian 15:5, Allah berjanji kepada Abraham bahwa keturunannya akan sebanyak bintang, berlaku untuk Ismail (Kejadian 17:20) dan Ishak (Kejadian 17:4-5). Dalam Kejadian 21:17-20, Allah menyertai Ismail, sebagaimana menyertai Abraham. Jadi, keduanya sama-sama diberkati, masing-masing menghasilkan 12 raja: Ismail (kedua belas raja di tanah Arab) dan Ishak (kedua belas suku Israel).
Status Hagar dan Sarah
Ismail lahir dari Hagar, yang dalam tradisi Yahudi (Dead Sea Scrolls) adalah putri Firaun, bukan budak biasa. Dalam Surah Hud (11): 71, Sarah tertawa karena ragu akan kelahiran Ishak di usia 90 tahun, sehingga anaknya dinamakan Ishak (tertawa). Sebaliknya, Ismail dinamakan atas doa Ibrahim yang dikabulkan Allah (Surah As-Saffat (37): 100-101), mencerminkan sami’a (mendengar). Hagar istimewa karena berbicara langsung dengan malaikat, tidak seperti Sarah yang hanya mendengar di balik tabir.
Kesimpulan
Narasi bahwa Ismail ditolak sebagai anak perjanjian adalah kesalahan terjemahan. Dalam bahasa Ibrani asli, tidak ada penolakan terhadap Ismail. Baik Al-Qur’an maupun Alkitab (teks asli) menegaskan bahwa Ismail dan Ishak sama-sama layak di hadapan Allah, masing-masing dengan peran istimewa. Al-Qur’an meluruskan bias dengan menegaskan egaliter: tidak ada perbedaan derajat antara nabi. Kajian ini mengajak kita memahami teks asli—Arab dan Ibrani—untuk menghindari manipulasi redaksional.
Pembawa Acara: Terima kasih, Ustadz MenachemAli, atas penjelasan yang membuka wawasan. Kami tidak memaksa pemirsa percaya, tetapi menyajikan bukti ilmiah dari Al-Qur’an dan Alkitab asli. Mari kita terus mendukung YPM untuk pembangunan Masjid At-Tauhid dan pondok pesantren di Wonosalam, Jombang. Donasi dapat disalurkan ke Bank Syariah Indonesia nomor 111889971 atas nama Yayasan Pembina Mualaf Jawa Timur. Dana akan digunakan secara transparan tanpa penyelewengan.
Ustadz MenachemAli: Janji Allah kepada Abraham digenapi untuk Ismail dan Ishak. Keduanya layak di hadapan Allah. Mari kita dukung YPM untuk terus menyebarkan pemahaman lintas agama yang benar.
Pembawa Acara: Terima kasih, Ustadz. Semoga kajian ini bermanfaat. Jangan lupa pantau channel kami setiap malam Jumat. Wabil tawfiq wal hidayah, wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Link ; https://youtu.be/FT3zday50dg?si=EWPVACy5eLJjkvPw

