Penyesalan
Idham Okalajsana Putra
رُّبَمَا يَوَدُّ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ لَوۡ كَانُواْ مُسۡلِمِينَ
rubamā yawaddullażīna kafarū lau kānū muslimīn
Orang-orang yang kafir itu sering kali (nanti di akhirat) menginginkan, sekiranya mereka dahulu (di dunia) menjadi orang-orang muslim.
Q.S Al-Hijr [15] : 2
Penyesalan bagi setiap orang memang selalu ada di belakang, jika penyesalan itu ada di depan maka itu disebut dengan perencanaan. Namun tidak ada penyesalan dalam sebuah perencanaan karena sesuatu yang direncanakan pasti mengetahui tujuan akhir yang ingin dicapai. Dalam surat Al Hijr ayat kedua ini kita bisa bersama untuk memahami bahwasanya ada sebuah penyesalan yang sangat pedih yaitu penyesalan ahli neraka yang kiranya ingin dahulu mereka hidup di dunia menjadi seorang muslim.
Dalam beberapa hadis disebutkan bahwasanya surat al-hijr ayat kedua ini mengkisahkan ahli neraka yang di mana ketika itu mereka dari orang-orang yang beriman yang juga masuk ke dalam neraka karena dosa-dosanya diolok oleh mereka yang tidak menyembah Allah. Para orang-orang kafir ini yang berada di neraka mengatakan bahwasanya sama saja kamu menyembah Allah, dan akhirnya kamu pun bersama kami di neraka ini. Itulah pernyataan daripada orang-orang kafir yang tidak menyembah Allah. Dikarenakan perkataan mereka tersebut maka Allah murka, dan mengeluarkan semua orang-orang yang beriman yang di dalam hatinya ada sebiji sawi keimanan kepada Allah, maka dengan rahmat Allah dikeluarkanlah semua orang-orang yang beriman yang ada dalam hatinya walau sebesar biji sawi tersebut. Maka tatkala semua orang-orang yang beriman telah keluar dari api neraka dan hanya tersisa mereka orang-orang yang kafir yang tidak menyembah Allah, di situlah penyesalan mereka, mengapa dahulu mereka tidak beriman kepada Allah? atau mengapa dahulu mereka tidak menjadi muslim?. Mereka bertanya pada diri mereka masing-masing, mengapa mereka tidak beriman dan menyembah Allah Tuhan semesta alam.
Mereka orang-orang yang terakhir Allah keluarkan dari neraka mengalami masa siksaan dari sehari di dalam neraka bahkan sampai seusia Allah menciptakan alam semesta ini Wallahu a’lam. Namun daripada itu semua ketika orang terakhir yang dikeluarkan dari api neraka tersebut sudah dibasuh ataupun dimandikan oleh air surga maka mereka semua menjadi orang-orang yang baru dengan tubuh kita yang tidak ada bekas dalam dirinya siksaan dari Api neraka. Mereka orang-orang yang terakhir keluar dari api neraka memohon kepada Allah Subhanahu Wa ta’ala agar penyebutan bagi mereka tidak disematkan kepada dirinya ketika sudah menjadi ahli surga. Sebuah kesyukuran yang luar biasa bagi kita yang telah menjadi seorang yang beriman kepada Allah Subhanahu wa ta’ala dan juga tidak mempersatukan Allah dengan sembahan yang lain. Kalaupun sudah diberi peringatan dari banyak jalan yang bisa kita tempuh di era modern ini untuk bisa memahami dan berpikir secara logis bahwasanya Tuhan semesta alam itu adalah satu Dia Maha kuasa atas segala sesuatu dan yang satu itu adalah Allah Subhanahu Wa ta’ala.
Sejatinya tidak ada hujjah untuk menyela atau tidak beriman kepada Allah Subhanahu Wa ta’ala di saat era modern ini. Semua informasi tentang ketuhanan, Islam, iman, dan ihsan sudah sangat mudah untuk didapatkan dengan hanya mengakses informasi tersebut dari tangan kita masing-masing. Maka sebuah kerugian yang luar biasa bagi mereka yang tidak beriman kepada Allah Subhanahu Wa ta’ala. Penyesalan dua kali karena mereka tidak beriman kepada Allah dengan tidak pernah melakukan sujud penyembahan kepada Allah Subhanahu Wa ta’ala, dan yang kedua adalah penyesalan selama-lamanya yang abadi di akhirat ketika mereka semua dimasukkan ke dalam neraka yang tidak pernah bisa menikmati seluruh keindahan dan kemuliaan surga.
Sebuah nikmat yang dikatakan oleh Gus baha dan Ustad Menachem Ali dalam ceramahnya bahwasanya nikmat sebagai seorang hamba atau manusia adalah ketika sujud. Ketika seseorang tidak bisa lagi sujud kepada Tuhannya sebagai penghambaan bahwasanya dia adalah hamba yang memiliki tuan yang menciptakannya yakni Allah Subhanahu Wa ta’ala maka itu adalah sebuah kehinaan bagi hamba tersebut. Maka kita harus merasa beruntung bahwasanya diri kita sampai hari ini sampai detik ini masih Allah izinkan untuk kepala ini bersujud kepada Allah Subhanahu Wa ta’ala di tanah kita masing-masing, di bumi Allah yang terhampar luas ini, dan di masjid-masjid yang bertebaran di muka bumi.
Sehingga dari kisah yang disebutkan dan dijelaskan oleh Allah subhanahu wa ta’ala dalam surat al-hijr ayat kedua tersebut haruslah menjadi cambuk bagi diri kita bahwasanya Allah juga memasukkan orang-orang yang beriman ke dalam api neraka dikarenakan dosa-dosanya yang telah lalu. Dapat diibaratkan dosa-dosa itu adalah seperti kotoran-kotoran yang menempel pada baju kita maka kiranya untuk membersihkan baju dari kotoran tersebut kita perlu mencuci bersih. Perlu diberikan sabun yang dalam kadar tangan kita menjadi panas karena mencucinya, setelah dicuci dengan sabun yang terkadang membuat panas tangan kita maka perlu dikucek, dibilas, dikeringkan, disetrika, dan terakhir dilipat agar nantinya bisa dipakai kembali. Maka perumpamaan neraka adalah seperti kita mencuci pakaian kita. Diri kita ini ibaratkan pakaian yang kotor tadi perlu dilakukan tahapan-tahapan pencucian hingga sampai berbau wangi kembali karena sudah dilakukan pembersihan dan bisa dipakai untuk berkegiatan. Maka dari itu kita yang beriman ini di mana juga melakukan dosa dan juga kemaksiatan kiranya dengan rahmat Allah pula kita memohon kepada Allah Subhanahu Wa ta’ala agar dihindarkan dari siksa api neraka, yang termasuk dalam golongan 70.000 orang yang bebas dari siksa api neraka, dan semua hal-hal yang dikatakan Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam bagi mereka yang bisa masuk surga dengan mudahnya.
Maka dari itu bagaimanakah nasib mereka yang kekal selama-lamanya di dalam neraka? Maka mereka itulah orang-orang yang benar benar telah merugi sebesar-besarnya di dalam kehidupan di dunia dan juga di akhirat. Allah pun memalingkan wajahnya dari mereka para penghuni neraka yang tidak pernah menyembah Allah subhanahu wa ta’ala dan kufur kepada seluruh nikmat-nikmat yang Allah telah berikan di dunia. Bagaimana mungkin kita bisa hidup tanpa rahmat Allah? Saya tidak mau melihat wajah para penghuni neraka, ibaratnya jika kita di dunia ini ketika kita ingin berjumpa dengan seorang dan seseorang tersebut memalingkan wajahnya dengan enggan untuk tidak ingin melihat kita ataupun berjumpa dengan kita bagaimanakah perasaan kita masing-masing?
Semua itu tergantung pada amal perbuatan kita dan juga bagaimana kita meneladani apa saja yang sudah Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam perintahkan kepada kita semuanya untuk bisa menyembah Allah subhanahu wa ta’ala dengan penuh keikhlasan. Semua amal perbuatan kita baik itu yang sesuai dengan syariat maupun yang melanggar syariat akan mendapatkan balasan yang setimpal dengan apa yang sudah kita perbuat. Kecil maupun besar semuanya ada timbangannya, ada pertanggungjawabannya, dan harus ada konsekuensi yang kita dapatkan dari apa saja yang sudah kita perbuat. Maka daripada itu dari pesan Umar bin Khattab kita wajib untuk menghisab atau dalam kata lain menilai diri kita masing-masing, sudah banyak Kak amal perbuatan yang kita lakukan yang kiranya sudah Allah terima dan sudah berapa banyak perbuatan dosa dan kemaksiatan yang belum Allah ampuni pada diri kita masing-masing.
Sehingga ketika kita bisa menilai diri kita masing-masing semoga Allah memberikan hidayahnya untuk terus meningkatkan ketakwaan dan memudahkan jalan kita untuk berbuat kebaikan sesuai dengan yang Allah syariatkan. Harapannya nanti di hari yang di mana kita tidak bisa berbicara untuk berdusta kita bisa menjawab dengan hal yang baik-baik dari anggota tubuh kita masing-masing untuk mempertanggungjawabkan apa yang sudah kita lakukan di dunia. Sehingga walaupun apa yang sudah Allah takdirkan kepada diri kita di akhirat semuanya itu adalah kebaikan bagi diri kita Dan Allah mudahkan bagi kita yang beriman agar bisa masuk ke dalam surgamu dari berbagai pintu yang sudah Allah sediakan.
Kami juga memberikan informasi kepada diri manusia yang masih belum menyembah kepada Allah Subhanahu Wa ta’ala maka segeralah mencari informasi, membuka diri, pikiran dan hati nurani untuk bisa menerima Islam. Karena sejatinya agama Islam adalah sebuah kepatuhan dan ketundukan kepada sang Maha pencipta alam semesta. Islam adalah sebuah agama dan sebuah jalan hidup bagi setiap manusia yang ingin memiliki tuntunan untuk bisa selalu berbuat baik karena sejatinya manusia suka dengan hal-hal baik. Mengucapkan kembali pada diri yang sudah ada di dunia ini dengan mengucapkan aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah. Ucapan ini yang sudah terulang ketika kita di alam sebelum kelahiran kita maka saat kita hadir di dunia ini kita mengucapkan syahadat tersebut Dan harapannya sebelum Kita mati Allah mudahkan juga untuk mengucapkan syahadat itu kembali.
Penyesalan akhirnya berada di belakang, dia tidak akan bisa terulang untuk menjadi sebuah perencanaan. Semua yang sudah direncanakan dengan takdir yang Allah sudah tetapkan maka harus kita terima apapun resiko yang sudah kita jalankan. Namun bagi setiap orang yang beriman harus disandarkan semua hal-hal yang menjadi perencanaan tersebut kepada Allah Subhanahu Wa ta’ala. Termasuk merencanakan bagaimana kita nantinya bisa mati dengan Khusnul khotimah dan akhirnya Allah izinkan untuk masuk ke dalam surganya bersama orang-orang shalih dan para anbiya. Dan bagi mereka yang masih tidak menyembah kepada Allah dan masih berbuat maksiat dari hari ke hari dengan dosa-dosa yang bergelimpang semoga Allah mudahkan untukmu semua mendapatkan hidayah dari Allah berupa ampunan dan juga maghfirahnya. Apa saja yang kita lakukan di dunia ini pasti akan dipertanggungjawabkan nantinya di akhirat, bersegeralah untuk menuju ampunan Allah sebelum nafas Ini sampai di tenggorokan.
Hadanallah wa iyyakum
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh
Blitar 3 Januari 2025 pagi hari jam 06.41 di saat matahari bersinar namun terlihat mendung yang menyebar di seluruh langit dan hari ini adalah hari untuk menentukan diri ini untuk selalu bertobat untuk selalu bersholawat untuk selalu memohon ampunan kepada Allah dari semua dosa-dosa yang nantinya mengingatkan bahwasanya kelak di Hari kiamat hari kebangkitan aku bisa tersenyum melihat amal perbuatanku diletakkan di sisi kananku. Dan ini adalah permohonanku bagi semua keluarga saudaraku dan teman-temanku dan seluruh umat muslim di dunia semoga kita semua mendapatkan amal pertanggungjawaban kita di sisi kanan kita saat hari kebangkitan itu terjadi.

