Rungkad !!! Kritik Quran tentang Manipulasi & Bisnis Nasab Demi Nasib
Kajian petang ini di Masjid Ar-Rahman. Saya menyusunnya menjadi bentuk yang terstruktur, rapi, dan mudah dibaca, dengan menyertakan teks Arab Al-Qur’an beserta terjemahan (berdasarkan sumber terpercaya seperti Sahih International dan lainnya), serta referensi teks Ibrani dari Kitab Kejadian (Genesis). Fokus utama pada hikmah ayat-ayat Surah Al-Baqarah 127-129, kaitan linguistik Semitik, dan koreksi Al-Qur’an terhadap distorsi teks sebelumnya.
Hikmah Doa Nabi Ibrahim dan Ismail: Janji Allah untuk Rasul dari Keturunan Ismail
Alhamdulillahilladzi arsala rasulahu bil huda wa dinil haqqi li yuzhirahu ‘alad dini kullihi wa kafa billahi syahida. Kajian ini membahas ayat-ayat penting dalam Surah Al-Baqarah (2:127-129), yang menyoroti doa Nabi Ibrahim dan Ismail saat membangun Ka’bah, serta janji Allah mengutus seorang Rasul dari keturunan mereka. Ayat-ayat ini bukan hanya cerita historis, melainkan bukti kebenaran Al-Qur’an sebagai pembenar dan pelurus ajaran sebelumnya.
1. Doa Saat Membangun Ka’bah (Al-Baqarah 2:127)
Ayat ini menggambarkan Nabi Ibrahim dan Ismail menegakkan pondasi Ka’bah sambil berdoa.
Teks Arab:
وَإِذْ يَرْفَعُ إِبْرَاهِيمُ الْقَوَاعِدَ مِنَ الْبَيْتِ وَإِسْمَاعِيلُ رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا ۖ إِنَّكَ أَنتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ
Terjemahan (Sahih International):
“And [mention] when Abraham was raising the foundations of the House and [with him] Ishmael, [saying], ‘Our Lord, accept [this] from us. Indeed You are the Hearing, the Knowing.'”
Kata kunci: Ismail (dari akar sama’a = mendengar + il = Tuhan) dan As-Sami’ (Asmaul Husna: Maha Mendengar). Ini adalah pola bahasa Semitik (rumpun bahasa Arab dan Ibrani) di mana nama makhluk mencerminkan sifat Khalik. Redaksi Al-Qur’an sengaja menyandingkan Ismail dan As-Sami’ untuk menekankan bahwa Allah “mendengar” doa Ibrahim tentang Ismail.
2. Doa untuk Keturunan yang Muslim (Al-Baqarah 2:128)
Teks Arab:
رَبَّنَا وَاجْعَلْنَا مُسْلِمَيْنِ لَكَ وَمِنْ ذُرِّيَّتِنَا أُمَّةً مُسْلِمَةً لَكَ وَأَرِنَا مَنَاسِكَنَا وَتُبْ عَلَيْنَا ۖ إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ
Terjemahan:
“Our Lord, make us Muslims [in submission] to You and from our descendants an Ummah [community] submitting to You, and show us our rites [of worship] and accept our repentance. Indeed, You are the Accepting of repentance, the Merciful.”
Di sini, Ummah muslimah merujuk pada keturunan Ibrahim melalui Ismail—bukan satu orang, melainkan generasi yang bertaslim (berserah diri) kepada Allah. Ini adalah doa untuk umat yang taat, yang terwujud dalam keturunan Ismail.
3. Janji Pengutusan Rasul dari Keturunan Mereka (Al-Baqarah 2:129)
Teks Arab:
رَبَّنَا وَابْعَثْ فِيهِمْ رَسُولًا مِنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِكَ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَيُزَكِّيهِمْ ۚ إِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ
Terjemahan:
“Our Lord, and send among them a messenger from themselves who will recite to them Your verses and teach them the Book and wisdom and purify them. Indeed, You are the Exalted in Might, the Wise.”
Kata “fihim” (di kalangan mereka) dan “minhum” (dari mereka) diulang, merujuk pada Ummah keturunan Ismail. Semua mufassir klasik (Muqatil bin Sulaiman w. 150 H, At-Thabari w. 310 H, Jalalain, Ibnu Katsir, dll.) sepakat: Rasul ini adalah Muhammad SAW, Khatam an-Nabiyyin dari garis Ismail. Tidak ada ikhtilaf karena ini menyangkut akidah (Syahadat: Muhammad Rasulullah).
4. Paralel dalam Kitab Taurat (Genesis 17:20) dan Koreksi Al-Qur’an
Dalam bahasa Ibrani (Genesis 17:20):
Teks Ibrani:
וּלְיִשְׁמָעֵאל שְׁמַעְתִּיךָ הִנֵּה בֵּרַכְתִּי אֹתוֹ וְהִפְרֵיתִי אֹתוֹ וְהִרְבֵּיתִי אֹתוֹ בִּמְאֹד מְאֹד שְׁנֵים עָשָׂר נְשִׂיאִם יוֹלִיד וּנְתַתִּיו לְגוֹי גָּדוֹל
Terjemahan (English):
“As for Ishmael, I have heard you; behold, I will bless him and make him fruitful and multiply him exceedingly. He shall father twelve princes, and I will make him into a great nation.”
Kata “shema’tikha” (Aku telah mendengar) paralel dengan Ismail (Tuhan mendengar) dan As-Sami’. Janji: 12 pemimpin dan bangsa besar dari Ismail.
Namun, teks Ibrani kemudian (misalnya dalam daftar anak Ibrahim) sering membalik urutan: Ishak diletakkan di depan Ismail, menunjukkan bias asabiyah (kesukuan) untuk mengklaim kemuliaan Ishak. Al-Qur’an meluruskan: Ismail wa Ishaq (Al-Baqarah 2:133, Ibrahim 14:39) sebagai urutan kelahiran (Ismail lebih tua), bukan urutan kemuliaan. Ini koreksi terhadap distorsi teks sebelumnya demi kepentingan kelompok tertentu.
Terjemahan Arab oleh Saadia Gaon (Rabi Saadiah, w. 942 M / 331 H) pada Genesis 17:20 menggunakan istilah “isna ‘asyara syarifan” (12 syarif) dan “umah kabirah” (bangsa besar), menunjukkan bahwa konsep “syarif” (keturunan mulia Ismail) sudah dikenal di kalangan Yahudi Arab (mustaribah) pada masa gemilang Islam.
5. Hikmah dan Kesimpulan
- Al-Qur’an menggunakan gaya bahasa Semitik untuk menegaskan keterkaitan wahyu: Ismail dari akar “mendengar”, paralel As-Sami’.
- Doa Ibrahim dikabulkan: Rasul dari keturunan Ismail (Muhammad SAW) untuk umat yang bertaslim.
- Al-Qur’an meluruskan manipulasi teks sebelumnya akibat asabiyah: Tidak ada kasta, kemuliaan berdasarkan iman, bukan nasab (contoh: putra Nabi Nuh tenggelam karena tidak beriman).
- Ini bukti Al-Qur’an sebagai muhaimin (pembenar dan pelindung) kitab sebelumnya, menolak distorsi demi kepentingan kelompok.
Semoga kajian ini menambah keyakinan kita pada tauhid dan risalah Nabi Muhammad SAW. Wallahu a’lam bish-shawab. Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

