Apakah Tuhan Itu Makhluk? – Part 2
Idham Okalaksana Putra
Lagi-lagi menggelitik ketika Tuhan itu adalah makhluk dan terkerucut pada manusia. Nabi Isa yang dianggap Tuhan adalah utusan Allah, karena dia sendiri tidak mengetahui secara utuh mengapa harus dikirim ke dunia pada zaman, itu, waktu itu, tempat itu, kaum itu, makanan kala itu, minuman kala itu, dan itu-itu lainya saat beliau hidup untuk menyebarkan risalah Allah untuk mengesakan Allah dan menyembah hanya kepadaNya.
Ada perumpamaan yang terlintas dipikiran dalam sebuah gambar:
Ada 3 lingkaran dimana dari ketiga lingkaran tersebut menjelaskan proses kehidupan umat dari zaman Nabi Adam hingga sebelum Nabi Isa lahir kedunia, lalu zaman Nabi Isa, hingga beliau diangkat dan digantikan Nabi akhir zaman Nabi Muhammad, hingga zaman kita sekarang.
Dapat kita lihat bersama bagaimana alur ini terus berkelanjutan hingga akhir zaman atau kiamat terjadi. Gambar tersebut merupakan siklus kehidupan dan penulis ingin menjabarkan dalam sebuah ilustrasi dalam diri manusia yang diberikan akal pikiran. Semoga para pembaca dapat mengetahui dan memahami apa yang menjadi pola piker penulis ini.
Dalam siklus pertama kehidupan ada Nabi Adam yang Allah turunkan dari surga ke dunia. Dia merupakan manusia pertama yang Allah ciptakan dan selanjutnya menjadi penghuni bumi pertama yang lahirlah anak keturunanya dizaman Nabi Adam yang nantinya akan terus berkembang biak sampai nanti lahir manusia terakhir disaat hari kiamat terjadi.
Saat dalam siklus dizaman Nabi Adam, pastinya Allah sebagai Tuhan sudah ada karena Allah yang menciptakan (Al Awwal) dan Allah itu Qodim (tidak berawal dan tidak berkesudahan). Allah sudah ada sebagai Tuhan dalam siklus Nabi Adam pertama kali diciptakan dan seluruh manusia setelahnya dizaman itu. Ini menandakan bahwa apabila Isa itu Tuhan, sungguh aneh, mengapa dia yang dianggap Tuhan tidak hadir mengurusi permasalahan dan ketimpangan yang ada di siklus pertama manusia ada di muka bumi ini. Dan hal ini mendandakan bahwa bukti bahwa Isa bukan Tuhan adalah benar. Kalau benar Isa adalah Tuhan mengapa belum lahir di Siklus pertama ini?. Lalu mengapa dia dianggap Tuhan, toh pada zaman itu manusia dan seluruh makhluk yang ada butuh kehadiran Tuhan untuk mengatur segala macam yang digulirkan di muka bumi itu, baik makanan, minuman, dan seluruh kebutuhan yang diperlukan makhluk hidup untuk dapat hidup. Tidak hanya makhluk dari jenis hewan dan tumbahan yang ada di daratan saja, namun disluruh pelosok bumi, seluruh daratan yang namak mata ataupun yang bersembunyi didalam gelapnya hutanm goad an lain sebagainya dan seluruh makhluk air yang ada di sungai dan sebagainya juga di kedalaman lautan dipermukaan dan di dalam lautan yang tak Nampak oleh secervah cahaya. Nah bagaimana mungkin Tuhan itu berbentuk manusia? Bisakah dia menjangkau semua kebutuhan makhluk yang ada di daratan dan lautan? Dan mengapa manusia yang dianggap Tuhan itu tidak hadir di siklus pertama ini? Lalu siapa yang mengatur semua itu? Yang menyelaraskan semua kejadian itu? Jika dia manusia, mengapa dia masih makan dan minum dari makhluk yang dia sendiri ciptakan? Dan pertanyaan lainya disiklus yang pertama ini.
Selanjutnya pada siklus ketika Tuhan lahir kedunia dalam bentuk manusia. Nabi Isa yang dianggap sebaai anak Tuhan, Maka ketika dia kecil dan tak berdaya, tanpa ada kain yang menyelimuti dirinya, lahir dari Ibunda suci Sayyidah Maryam, bagaimana anak kecilitu dapat mengatur alam semesta yang luas ini? Alamnya kala itu bagaimana kondisinya, mengetahui Tuhan baru lahir, lah yang ada kala itu baik manusianya yang ada kala tuhan lahirm semua hewan dan tumbuhan dan appaun yang ada kala tuhan lahir itu, siapa yang menciptakan dan mengatur semuanya, la wong Tuhane tak metu nang ndunyo. Kalau dikatakan Isa putra Maryam bisa berbicara dengan manusia dimasa kecilnya / bayinya, maka itu bukan menandakan bahwa dia adalah Tuhan, namun itu karena Allah mengizinkan dia berbicara atas izinNya, dan untuk menerangkan bahwa anggapan kaumnya terhadap ibunya seorang pezina adalah sebuah kedzaliman, karena ibunya adalah wanita suci yang bisa melahirkan Isa tanpa seorang ayah. Seharusnya yang dianggap Tuhan adalah Adam, karena Adam lahir tana ada ayah dan ibu, Bagaimana?, kenapa tidak menjadikan Adam itu Tuhan? Padahal Adam penciptaanya lebih hebat dari Isa yang dianggap Tuhan.
Nabi Isa Alaihissalam menenrangkan kejadian yang tidak diketahui kaumnya saat dia lahir, dan tak mungkin dia adalah Tuhan, kalau dia haru sberbicara pada manusia itu saja dengan bahasa saat itu saja, karena bagaimana dengan kondisi manusia lainya yang ada di berbagai belahan bumi lainya yang kala itu Isa lahir, dapat mengetahui bahwa Tuhan lahir dan berbicara?, lalu jika Tuhan itu manusia mengapa hanya memilih satu bentuk dari ciptaannya sendiri dengan bertubuh laki-laki? Mengapa tidak perempuan? Dan mengapa tidak langusung besar dan dewasa, mengapa harus menunggu masa bayi, anak-anak, remaja, dan dewasa.? Mengapa Tuhan harus mengikuti alur sebagai manusuia yang dia sendiri ciptakan?, Sungguh kedzaliman yang besar yang menjadikan Isa putra Marya sebagai anak Tuhan dan menganggapnya Tuhan.
Proses sebagai manusia hingga dia di Tuhankan adalah sebuah keanehan, bagaimana Dia tetap makan dan minum dari apa yang dia ciptakan baik apapun yang dikonsumsi hingga dia tumbuh besar, lalu mengalami semua kegiatan dan rutinitas sebagai manusia?, jika dia manusia pastilah dia akan lelah, cepek, pegal ,linu, keringatan, bertambah tua dan sebagainya, lalu bagaimana dia harus memberikan rezeqi pada semua makhluk yang disebutkan diatas? Bagaimana manusia yang ada didaratan itu memberikan makanan dan minuman kepada makhluk yang ada di lautan dan sungai?. Bagaimana dengan makhluk yang ada di dalam hutan belantara? Apakah semua makhluk itu diam membisu dan tak bergerak ketika Tuhan lahir? Dan baru hidup lagi atau bergerak kala Tuhan diangkat sebagai Tuhan pada masa dia Dewasa? Silahkan para pembaca mulai berfikir dengan statement ini, dan boleh disanggah bila ada yang keliru dan tidak sesuai dengan akal sehat pembaca.
Dan hal-hal lainya yang dilakukan manusia seperti membuang kotoran, sakit demam,dan segala macam kekurangan yang dimiliki sebagai makhluk. Pantaskah Tuhan seperti itu? Pantaskan Tuhan tidak bisa menghalau dirinya dari rasa lapar, kenyang, sakit, membuang kotoran, dan lain sebagainya? Pantaskan Tuhan mengalami hal semacam itu?
Selanjutnya pada masa setelah Tuhan selesai pada siklunya dan mati. Bagaimana dengan kondisi seluruh makhluk kala itu ketika Tuhan di Salib, bagaimana kondisi alam semesta ini? Jika dilihat Tuhan diseret dan disalib dengan kelemahan dan tak berdaya, bagaimana dengna kondisi sekitarnya, baik berupa hewan, tumbuhan dan manusia yang hidup kala itu, bagaimana rezekinya? Bagaimana Tuhan yang sedang disikma sesame manusia itu mengedarkan malam dan siang? Sedangnkan dirinya sedang susah payah untuk menghadapi cobaan disaat itu. Bagaimana dalam waktu yang bersamaan Tuhan yang mengatur alam semesta, pagi dan siang, memberikan rezeki kepada semua makhluknya, bisa berbuat demikian sedangkan dalam wujud manusia dia sedang disiksa?, bagaimana akal sehat dapat mencapai hal yang mustahil ini. Apakah dia seperti film kartun Naruto, yang bisa membelah menjadi beberapa orang dengan jurus bayangan? Tuhan 1 disika dan 1 lagi berada di surga dan 1 lagi mengurus alam semesta? Khayalan tingkat tinggi bagi mereka yang masih percaya bahwa Tuhan adalah manusia.
Begitu juga perjalanan seluruh makhluk yagn terus menerus berkembang biak tumbuh dan menyebar ke berbagai penjuru dunia. Setelah Tuhan mati disalib seharusnya Alam semesta hancur dan berantakan karena sedetik setelah Tuhan mati tidak ada lagi yang mengatur. Benar ya…?, kalau salah maka tanyakan lagi pada diri dan otak kita masing-masing dengan penjabaran saya yang mungkin masih kurang dipahami. Ketika Tuhan mati di siklus dia hidup hingga disalib sudah dibeberkan seperti penjelasan di atas, nah selanjutnya seperti dibahas pada alenia terakhir ini bagaimana kondisi semua makhluk setelah Tuhan mati?, apakah ada yang bisa memberikan contoh pemikirannya? Silahkan tuliskan dalam kolom kosong yang kami sediakan:
________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________
Kami ucapkan terima kasih kepada para pembaca yang sudah menuliskan apa saja yang menjadi pikiran pembaca perihal apa yang terjadi pada alam semesta jika Tuhan sudah mati. Pada masa setelah Tuhan mati maka alam semesta seharusnya sudah ahncur luluh, kecuali jika ada anggapan seperti cerita khayalan kartun Naruto diatas, namun sejatinya hal itu sangat tidak mungkin terjadi dan sebuah kebodohan.
Singkatnya karena ketidak kuasaan Tuhan, maka dia harus membelah diri untuk bisa berada pada kondisi yang berbeda dalam permasalahan yang berbeda dan mengatur hal-hal yang berbeda pula. Sungguh sangat sulit jika Tuhan harus membelah dirinya, ibarat makhluknya yang lemah Amoeba yang dia juga bisa membelah dirinya sendiri. Maka Tuhan sama dengan makhlukNya yang dia ciptakan. Dan itu sesuatu yang ditolak menurut akal manusia normal.
Alam semesta yang luas ini dan bumi yang sangat kecil bahkan ibaratnya bumi adalah bagian atom dari tubuh alam semesta yang sangat luas ini. Tidak ada apa-apanya bumi dan segala isinya dibandingkan dengan luasnya alam semesta ini. Bagaimana aturan itu tetap berlangsung dengan teratur dan baik dari masa Nabi Isa diangkat kelangit yang dianggapnya Nabi Isa itu Tuhan, sampai diutusnya Nabi Muhammad yang membawa risalah dari Allah hingga masa kita sekarang ini dan sampai hari kiamat kelak dapat berjalan dengan teratur?, pastinya ada Tuhan yang tidak mati dan haru smengurusi perkara kecil manusia yang bisa mengatur seluruh alam semesta ini dengan semua yang ada didalamnya. Pasti ada Allah sebenar-benarnya Tuhan yang mengatur semua ini dengan pola dan system yang sudah sangat terstruktur dan sesuai dengan apa yang manusia pikirkan dengan akal pikiran yang sehat. Ya hanya Allah yang Tuhan yang dapat melakukan itu semua dan pastinya bukan makhluk, apalagi bernama manusia, karena manusia saja pasti akan lupa dari apa yang sudah dia keluarkan ketika selesai makan, dan tidak akan dia ingat-ingat lagi, lalu bagaimana mungkin Tuhan lupa dengan apa yang sudah dia ciptakan sendiri, maka sudah jelas bahwa Tuhan yang berwujud manusia adalah sebuah hal yang sangat bertolak belakang dengan akal dan tidak mungkin itu terjadi. Karena manusia yang dianggatp Tuhan yakni Nabi Isa Alaihissalam adalah benar-benar utusan Allah yang menyebarkan kepatuhan dan pengesaan Allah sebagai Tuhan untuk kaumnya kala itu saja, di tempat itu, dalam kondisi itu dan waktu yang ditetapkan saat itu saja, dan nabi Muhammad Sholallahu ‘Alaihi Wassalam adalah utusan Allah yang terakhir yang misinya juga sama untu seluruh umat manusia dan sebagai rahmatan lil ‘alamin.
Hal ini menjadikan kita paham bahwa semua manusia yang membawa risalah untuk mengesakan Allah dan harus menjadi hamba yang patuh dengan segala perintah dan laranganya adalah manusia biasa dan bukan Tuhan, mereka adalah utusan untuk kalangan manusia, dan mereka tak kuasa berbuat apapun terhadap dirinya tanpa izin Allah Subahanahu Wata’ala.
Pada masa sekarang ini yang sangat carut marut dan amburadul, mengapa tidak ada lagi Tuhan manusia yang turun, apakah kerusakan dan kebobrokan hanya ada pada masa Nabi Isa atau Nabi-nabi yang membawa risalah saja? Jawabanya tidak, kerusakan dan kemungkaran juga terjadi disetiap zaman dan waktu, maka benar bahwa Allah menurunkan manusia pilihanNya untuk meluruskan dan membenarkan hal-hal tersebut.
Maka semua orang yang dianggap mempunyai kekuatan diluar dari nalar manusia biasa adalah sebuahpemberian dariAllah Tuhan semesta alam yang memberikan izin aar bisa melakukan hal tersebut. Bukan berarti menghidupkan orang mati lalu dianggap Tuhan, bukan berarti dapat menyembuhkan penyakit lepra lalu dianggap Tuhan dan lain sebagainya, tapi semua itu adalah karena izin Allah untuk menerangkan bahwa kekuasaanya di dunia ini ada yang dapat dinalar oleh akal manusia dan ada pula yang tidak dapat dinalar oleh manusia, namun semua itu karena Allah yang mengatur dan menjalankan setiap hambaNya untuk melakukan hal tersebut dan semua itu adalah atas izin dan karuniaNya.
Maka semua manusia yang diberikan segala macam kelebihan itu adalah pertanda dari ada yang memberikan karunia dari hal-hal yang manusia biasa tidak dapat melakukan hal tersebut, siapakah yang memberikannya? Allah. Siapa yang membangkitkan manusia yang telah mati untuk bercerita? Allah. Siapa yang menyembuhkan penyakit lepra? Allah. Siapa yang memberikan izin seorang bayi berbicara pada kaumnya, untuk menerangkan bahwa ibunya adalah wanita suci dan bukan seorang pelaku zina? Allah. Siapa yang dapat mengangkat Nabi Isa kelangit dan nantinya akan turun ke dunia ini kembali saat melawan Dajjal di penghujung hari sebelum kiamat datang? Allah. Dan semua yang Allah kehendaki maka Dia hanya berucap “Kun Fayakun” Jadi, maka jadilah apa yang Allah kehendaki.
Tuhan hanya 1,Tuhan tidak akan serupa dengan hambanNya dalam segala aspek yang dilakukan makhluk, walaupun ada sifat Tuhan sebagai Yang Maha Hidup adalah mutlak adanNya, Dia berbicara namun tidak menggunakan telinga seperti manusia, Dia melihat namun tidak menggunakan mata seperti manusia, Dia menggennggam segala apa yang ada di langit dan di bumu bukan dengan tangan seperti manusia, dan hal-hal lainya tidak ada yang serupa dan menyamai Tuhan, siapakah Tuhan itu? Allah.
Dia tidak 3 dan bukan bagian dari 3. Dia bukan lelaki yang turun kedunia untuk menebus dosa umat manusia, masing-masing akan mempertanggung jawabkan dari apa yang dilakukan pribadi-pribadi. Dia bukan juga Tuhan yang berada di surga,atau bapa disurga, bukan yang mengajari Bani Israil tentang Injil yang menyempurnakan ajaran Taurat yang di bawa Musa, Dia bukan Tuhan Roh Kudus, karena Roh itu sendiri adalah ciptaan Tuhan, sejatinya dia adalah Jibril, makhluk Allah yang diciptakan dari cahaya yang membawa pesan kepada hamba Allah yang bertaqwa dan diberikannya izin olehNya untuk menyampaikan kepada siapa yang diberikan izin. Dia yang tidak membutuhkan makan untuk hidup, membutuhkan tidur untuk memulihkan tenaga, membutuhkan manusia yang harus percaya atau tidak atas kekuasaaNya, karena Dia Maha Segalanya dan jika smeua makhlukNya ingkar tidak ada yang berkurang darinya, ataupun semua makhluk taat padaNya tidak akan bertambah apa yang dimilikiNya, dan Dia yang tidak membutuhkan semua kebutuhan yang diperlukan untuk hidup, maka Dialah Allah Subhanahu Wata’ala.
Dia yang Allah yang menjaga semua kebutuhan manusia saat pertama kali diciptakan pada siklus Nabi Adam sebagai manusia pertama dan semua manusia dizaman itu sampai tiba masa Nabi Isa, Dia Allah yang mengatur semua yang ada dilangit dan di bumi dari pada siklus di zaman Nabi Isa berdakwah dan dianggap dia Tuhan, dan Dia Allah yang Menguasi segala apa saja yang dibutuhkan mansusia untuk hidup dan mengatur semua pergerakan alam semesta ini dari zaman Nabi Isa, kemudian ditutup dengan manusia sempurna Nabi Muhammad Sholallhu ‘Alaihi Wassalam yang menerangkan kabar gembira bagi yang beriman dan mendustakan yakni Al Quran sebagai pelengkap semua kitab-kitab samawi, hingga nanti manusia terakhir lahir dan seluruh makhluk akan mati dengan adanya kiamat kubro, semua itu hanya Allah, dengan namaNya kita ada, dengan karuniaNya kita lahir, dengan kalamNya kita dapat mengetahui segala hal dan dengan Qudrot dan Irodahnya kita menjalani hidup dan mati, kemudian akan dihidupkan kembali dalam kehidupan abadi dan tidak akan mati.
Semoga Allah memberikan kita semua petunjuk dari segala hidayah yang harusnya kita cari dan gali untuk lebih melihat betapa luas dan besarnya pemberian Allah kepada kita. Otak dan pikiran ini yang seharusnya pertama kali menjadi sumber mengenal Allah, karena akal pikiran ini yang membedakan kita dengan binatang. Kalau kita tidak dapat mengenal Allah alangkah rendahnya kita dari pada binatang, yang tidak diberikan akal namun semuanya mengenal Allah dengan cara berdzikirnya masing-masing.
Maka kembali lagi penulis mengingatkan dalam jilid ke tiga ini dalam mengenal Tuhan, bahwasanya syrat menjadi Tuhan bisa kembali lagi dibaca pada surat Al Ikhlas. Jika yang mengaku Tuhan seperti apa yang ada di surat AL Ikhlas maka itulah Tuhan, jika tidak ada 1 dari syarat sebagai Tuhan, maka siapapun yang berikrar Tuhan, maka dia bukan Tuhan dan pasti bukan Tuhan. Karena Tuhan adalah Allah.
Subhanallah, Wal Hamdulillah, Walaa Ilaha Illallah Allahu Akbar.
سبحان الله والحمدلله ولا اله الّا الله, الله أكبر
Hadanallah Waiyyakum
Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarokatuh
Blitar, 12 Oktober 2024, 18.35 Wib
Diruangan Sholat, bersama istri, dan semua orang tuaku ada di sini, Adam lagi bermain pengeras suara, papa mengunjungi untuk membantu mengecat kamar, mama baru datang dari jawa barat dengan dr Iva untuk melihat tanah di Ciwasiat dan langsung hari Jumat ke Blitar. Semoga apa yang ada hari ini Allah berikan kepada kita semua untuk lebih mengenal Allah, dan semua yang ada pada tulisan ini, bila didapati ada kebenaran Haqul Yakin penulis mengemukakan bahwa itu dari Allah semata yang mengizinkan tangan dan otak ini menuliskanya dan jika ada kekeliruan murni dari kesalahan penulis yang banyak kekurangan dan sedikitnya ilmu.
Kepada Allah kita menyembah dan kepadaNya kita memohon pertolongan.

