Kristologi

Abraham versi Bible berbeda dengan Versi Al Quran.

Assalamualaikum, saya Edi Prayitno di studio Graha Mualaf. Malam ini, seperti biasa, kita bertemu dengan Bapak Menachem Ali. Kita akan membahas topik menarik tentang keturunan Ismail dan Ishak. Tiga agama besar, Yahudi, Nasrani, dan Islam, mengklaim sebagai penerus Nabi Ibrahim dari keturunan berbeda. Ini sering jadi bahan ejekan bagi kita umat Islam. Kita akan mempertanyakan hal ini kepada Bapak Menachem Ali.

Pak Ali, mungkin pak Ali bisa ceritakan soal hubungan antara Yahudi, Kristen, dan Islam. Kristen sering mengklaim bahwa mereka adalah penerus risalah Nabi Ibrahim dan menganggap Yahudi sebagai saudara mereka, sementara Islam sering diremehkan.

Wacana yang disampaikan Pak Edi merupakan isu yang akut, tetapi tidak adil karena berusaha mengeluarkan Islam dari konteks agama Ibrahimiyah. Tiga agama besar yang berasal dari Ibrahimiyah adalah Yahudi, Kristen, dan Islam. Dalam kajian akademik, tokoh utama dari ketiga agama ini adalah Ibrahim.

Antara Yahudi dan Islam tidak ada perbedaan tajam dalam konteks kebangsaan atau keagamaan, sehingga penting untuk memahami ini tidak hanya untuk umat Islam, tetapi untuk semua orang. Data awal yang dianggap penting adalah dari Alquran. Dalam Alquran, ada Qiroaah Sab’ah dan mushaf Utsmani.

Pak Ali, membaca dari Surah Al-Baqarah, ayat 123, yang menunjukkan perbedaan pelafalan nama Ibrahim, yang bisa dibaca sebagai Ibroham dalam riwayah Hisyam. Kedua nama ini merujuk pada tokoh yang sama dan tidak bertentangan.

Apakah itu sama-sama bahasa Arab? Iya, sama-sama bahasa Arab. Itulah sebabnya Alquran ditulis dalam bahasa Arab, tetapi dengan ragam dialek yang berbeda. Nama Ibrahim bisa dibaca sebagai Ibroham, sehingga muncul nama Ibroham sebagai alternatif untuk Ibrahim. Hubungan antara nama ini dan bahasa Ibrani sangat kuat. Dalam bahasa Ibrani, terdapat lompatan linguistik dari Ibrahim ke Abraham. Namun, ada koneksi jelas antara nama Ibrahim, Ibroham, dan Abraham dalam bahasa Ibrani. Ini merujuk pada tokoh yang sama.

Ada juga studi linguistik dari Dr. Kholil Rasyid Ahmad yang membahas ini. Di dalam Alquran, nama yang disebutkan adalah Ibroham, dan Imam Ibn Amir menjelaskan cara pembacaan nama ini. Di dalam kitab tersebut, Imam Az Zuhri mencatat bahwa Ibroham adalah istilah asing yang diadopsi ke dalam bahasa Arab. Penyebutan nama Ibrahim dan Ibroham dalam Alquran sebenarnya sama.

Ada pertanyaan tentang kaitan dengan Abraham menurut versi Yahudi atau Nasrani. Data awal harus merujuk pada dokumen Yahudi karena Islam, Kristen, dan Yahudi memiliki hubungan historis. Anggapan bahwa Islam tidak ada kaitan dengan Yahudi dianggap sembrono, karena bangsa Yahudi melihat bangsa Arab sebagai bagian dari keturunan Ibrahim. Bani Israel dari Sayyidah Sarah dan Bani Ismail dari Sayyidah Hajar, sehingga orang-orang Yahudi memandang bangsa Arab sebagai pihak yang memiliki nasab yang sama.

Bahkan, pengakuan Yahudi menunjukkan bahwa bangsa Arab adalah keturunan Ismail. Namun, sebagian kaum Nasrani meragukan hal ini, yang dianggap menyakiti umat Islam dan juga Yahudi. Tidak ada Yahudi yang mengatakan bahwa bangsa Arab bukan keturunan Ismail.

Jadi, dalam diskusi ini, ada kebingungan antara nama Ibrahim dan Abraham. Ada yang mengatakan bahwa keduanya adalah orang yang berbeda, bahkan ada tokoh Kristen yang menyatakan hal ini. Masalah ini muncul karena kurangnya literasi di masyarakat. Banyak yang berbicara tanpa data dan hanya berdasarkan emosi. Padahal, dalam Alquran, nama Ibrahim dan Ibroham merujuk pada sosok yang sama. Ini bisa dibaca di dalam salat.

Contohnya, dari Surat Al Baqarah, kita bisa melihat bahwa Ibroham dan Ibrahim adalah sama. Meskipun ada beberapa perbedaan dalam cara pengucapan atau dialek, bahasanya tetap sama, yaitu Arab. Alquran memiliki Qiroah Sab’ah yang memungkinkan variasi dalam pelafalan tanpa mengubah makna.

Selain itu, ada juga Alquran dalam bahasa Ibrani. Ini menunjukkan bahwa dokumen ini bukan hanya milik Yahudi, tetapi terkait dengan Islam. Meskipun diterjemahkan oleh Muslim, ada variasi penerbit. Nama Abraham muncul dalam kebudayaan lain, seperti dalam terjemahan dari Alquran yang menjelaskan kisah Yakub dan anak-anaknya yang menyembah Tuhan satu-satunya, dan Tuhan nenek moyangmu yaitu Ibrahim Ismail dan Ishak yaitu Tuhan Yang Maha Esa yang kami hanya berserah diri kepadanya. Itu terjemahan bahasa Indonesia, kalau bahasa Arabnya di sini lagi-lagi saya (Ustadz Ali) menggunakan biriwayah Hisyam.

Nah…, sekarang kita lihat yang versi terjemahan Ibrani bagaimana itu pada ayat 33 disebutkan Apa itu? Disini tertulis muncul nama Abraham berarti dalam mindset Islam ulama-ulama kita memberikan pemahaman mau dibaca atau disebut Ibrahim atau Ibroham atau Abraham itu figurnya sama. Satu. Oke Ini dari sisi nama, jadi masalah Islam itu sudah clear, benar-benar terkonfirmasi.

Nah…, Apakah benar di dalam Kitab Taurat itu juga demikian? Misalnya bisa baca dalam kitab Tawarih, pasal pertama ayat 28. Tolong dicek yang bahasa Indonesia pasal 1 ayat 28 Insya Allah. “Anak-anak Abraham ialah Ishak dan Ismail, anak-anak Abraham ialah Ishak dan Ismail, muncul nama Abraham. Abraham, Ishak dan Ismail, Kalau demikian, Apakah benar dalam Al Quran Karim itu Muncul nama yang sama tiga itu. . Abraham, Ishak dan Ismail dalam Alquran? itu ada.

Dimana Itu? di dalam Surah Ibrahim, ayat 39. Jadi kalau di dalam Alquran, ini adalah doa Ibrahim, Ia berkata dalam ayat ini: الْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ وَهَبَ لِيْ عَلَى الْكِبَرِ اِسْمٰعِيْلَ وَاِسْحٰقَۗ اِنَّ رَبِّيْ لَسَمِيْعُ الدُّعَاۤءِ jadi muncul nama Ismail dan Ishak. kalau kita baca Alquran yang bahasa Ibrani ini juga muncul nama Ismail dan Ishak. Jadi tokoh Ibrahim, tokoh Ismail, tokoh Ishak, itu merujuk pada tokoh yang sama. Tiga orang yang dipahami dalam tradisi Yahudi maupun Islam itu sama.

Hanya masalahnya orang yang kurang literasi menganggap itu berbeda…!

Saya (Ustadz Ali) teringat dengan ini teman lama saya (Ustadz Ali) ini Bapak Rudi Yohanes karena dia ini udah lama dengan saya (Ustadz Ali) Ya mulai debat di zaman Facebook pernah suatu ketika waktu live YouTube dengan saya (Ustadz Ali) itu dia mengangkat ayat-ayat dia Sebutkan Ismail tidak pernah disebut dia hanya menyebut keturunan Yakub, Ishaq, kemudian Ibrahim dan lain-lain itu Ismail tidak pernah disebut berarti ini menjawab pertanyaan ini sekaligus pertanyaan dari kaum sebelah. Bahkan dia sering mengatakan bahwa anak-anak Tuhan itu Ismail tidak pernah disebut dia bilang gitu.

Oh…. gitu bahkan Ismail tidak dijanjikan surga karena yang dijanjikan Surga itu hanya keturunan Ishaq dan Yakub Ibrahim dan seterusnya dia bilang Ismail tidak pernah disebut kali ini kita sudah Tunjukkan bahkan ini, ada dokumen dari kitab-kitab Yahudi dan Alquran bahwa Ismail selalu disebut Pak Edi. ya Kenapa? Ya… ada orang-orang yang terlalu mengedepankan teologi kebencian. Teologi kebencian itu karena kurang literasi atau karena kurang piknik,bacaan lemah, bacaannya itu kurang sehingga justifikasinya itu tanpa data tanpa validasi hanya kebencian hanya karena kebencian. Mungkin orang yang tidak paham mengenai Yahudi mereka hanya berkata: oh… ya bisa jadi benar omongan orang ini tapi kalau orang itu pernah belajar tradisi Yahudi atau orang Yahudi sendiri yang mendengar itu, itu akan menjadi bahan tertawa. Kenapa?, justru Ismail itu dimuliakan dalam tradisi Yahudi saking Mulianya itu terdokumentasi dalam kitab-kitab Yahudi.

Nah…, masalahnya ini yang saya (Ustadz Ali) bicarakan itu apakah bisa dikonfirmasi dengan data.

Nah…, coba akan kita cermati kita coba lihat Pak Edi kitab kejadian ya kitab kejadian pasal yang ke-16, ayat yang ke-7 dulu eh sorry ke-14 atau boleh mulai dari 7 sampai 14 dibaca ya kejadian pasal 16 ayat 7 ya 8, 9 sampai 14 boleh:

“Lalu malaikat Tuhan menjumpainya dekat suatu mata air di padang gurun yakni dekat mata air di jalan kasur katanya agar hamba Sarai dari manakah datangmu dan Kemanakah pergimu jawabnya aku lari meninggalkan Sarah nyonyaku lalu malaikat lalu kata malaikat Tuhan itu kepadanya kembalilah kepada nyonyamu Biarkanlah engkau ditindas di bawah kekuasaannya lagi kata malaikat Tuhan itu kepadanya aku akan membuat sangat banyak keturunanmu sehingga tidak dapat dihitung karena banyaknya selanjutnya kata malaikat Tuhan itu kepadanya engkau mengandung dan akan Melahirkan seorang anak laki-laki yang akan dinamai Ismail, karena Tuhan telah mendengar penindasan yang dialami. Anak ini akan bersikap seperti keledai liar, tangannya akan melawan setiap orang, dan ia akan menentang semua saudaranya. Nama Tuhan yang berbicara kepadanya akan disebut Sekolah El Roy, karena Hagar melihat Tuhan. Sumur yang disebut adalah sumur Lahai Roi, terletak antara Kades dan Beret.

Kitab yang dibaca adalah dari kitab kejadian pasal 16 ayat 7 hingga 14, dan itu merupakan terjemahan versi Kristen. Terjemahan tersebut ada yang tidak jelas dan tidak elok. Nama Ismail diberikan langsung oleh malaikat dari surga, berbeda dengan nama Ishak. Istri Abraham ada dua, dan hanya satu yang bisa bertemu langsung dengan malaikat. Kitab yang dibawa adalah kitab Yahudi, bukan Kitab Islam, dan merupakan dokumen kuno yang penting.

Ayat dalam bahasa Ibrani berbunyi “BR Lahai,” yang berarti sumur itu dinamakan karena peristiwa Hagar dan anaknya Ismail. Ini berbicara tentang keturunan Hagar. Sumur tersebut, yaitu sumur Zamzam, sering dikunjungi oleh orang-orang yang melaksanakan ibadah haji dari keturunan Ismail. Haji dilakukan oleh yang mematuhi ajaran Ismail.

Pertanyaan muncul tentang lokasi sumur Zamzam, yang ada di Arab Saudi dan bukan di Israel atau Indonesia. Pertanyaan ini berhubungan dengan kontroversi yang ada, dan kitab ini menjawab bahwa sumur Zamzam merujuk kepada satu lokasi. Pengarang kitab ini bukan dari kalangan Islam, dan kitab ini adalah hadiah dari seorang Rabi yang diakui. Rabi modern dari komunitas Yahudi mengajarkan bahwa sumur Zamzam tidak mungkin merujuk pada lokasi lain, melainkan kepada sumur yang dimaksud.

Informasi yang berbeda dari kalangan Katolik atau Protestan seringkali muncul dari kebencian terhadap Islam, yang berusaha memisahkan hubungan antara kitab-kitab Yahudi dan ajaran Islam. Ini menjawab keraguan yang ada, menegaskan keterkaitan antara ajaran-ajaran tersebut.

Itu persoalannya…, kitab Yahudi yang disebut thora, pemilik aslinya, apakah kaum Nasrani atau kaum Yahudi. Pembaca harus paham bahwa kitab Taurat itu milik Yahudi, dan kaum Nasrani hanya mengadopsi. Namun, saat diambil alih, artinya berbeda dari pemahaman Yahudi. Ada pertanyaan mengapa ada kebencian dalam teologi mereka sehingga menutup mata dari kebenaran?. Bagaimana bisa dikatakan bahwa itu dokumen Yahudi yang dipengaruhi Islam?, padahal itu catatan orang Yahudi yang sudah ada sejak lama.

Ada juga yang menolak data jika berasal dari orang Muslim dan pemahaman mereka terbatas. Ismail dalam tradisi Kristen berbeda dari Ismail dalam Yahudi, dan bahkan ibunya dianggap sebagai budak. Ini menunjukkan adanya perbedaan, dan Ismail versi Yahudi lebih dekat dengan Ismail versi Islam. Nama Abraham sama dalam versi Islam dan Yahudi, yang berarti ada kesamaan di antara mereka.

Orang Yahudi menyatakan jika tidak ada tempat ibadah Yahudi, mereka boleh salat di masjid Islam karena syariat Islam dan syariat Yahudi memiliki kesamaan meski ada perbedaan. Mereka semua menyembah Tuhan yang sama. Dalam tradisi Yahudi, nama Allah kadang tidak dikenal yang dikenal adalah dewa-dewa Pagan. Namun, dokumen Ibrani juga menyebut kata Allah. Dalam penulisan, YHWH dibaca sebagai Adonai atau Hashem, dan dalam teks Ibrani tercatat sebagai nama Allah.

Ada catatan bahwa kitab Taurat dalam terjemahan bahasa Arab masih memakai aksara Ibrani. Misalnya, firman Allah mengenai penciptaan langit dan bumi muncul dengan nama Allah versi Ibrani. Ketika membacanya, nama Allah dibaca berbeda dalam tradisi Yahudi dan Kristen. Dalam teks Ibrani, nama Allah adalah YHWH dan dibaca dengan cara tertentu oleh orang Yahudi. Mereka tidak setuju jika dibaca Yahweh, karena itu dianggap salah. Jadi, sebutan Allah, Adonai, atau yang lainnya bukan masalah, asalkan tidak mengubah makna.

Perbedaan ucapan sebutan bagi Ibrahim dan Abraham apakah itu merujuk pada orang yang sama?. Kemudian yang kedua adalah soal Ismail yang sering disudutkan bahkan dikatakan Ismail itu sebagai liar tangannya memusuhi saudara-saudaranya. Padahal nanti sejarahnya, tidak pernah Ismail justru yang ada itu malah sesama saudara dari keturunan Israel itu yang sering perang, bahkan keturunan dari suku Benyamin dia dihancurkan anak cucunya dihapus. Ini bisa meluruskan tujuan tuduhan semacam itu yang didasari dengan rasa-rasa yang mungkin kebencian.

Dia tidak mengakui bahwa Nabi Ibrahim yang ditulis di dalam Alquran itu sama dengan Abraham. Kemudian dia juga mengolok-olok bahwa ibu dari Ismail itu adalah seorang budak. Hal ini bisa dijelaskan lebih jauh bahwa beliau itu bukan orang budak tetapi orang yang mulia. Ismail sangat istimewa karena namanya diberikan langsung oleh malaikat kepada Ibu Hajar. Ibu dan anak ini adalah orang-orang mulia. Tidak mungkin dikatakan bahwa mereka adalah orang-orang yang hina, bahkan disebut sebagai tangan yang melawan saudaranya. Salahn tafsir itu perlu dijelaskan lagi.

Ada yang terlewat mengenai syariat ini. Sebenarnya, syariat Ibrahim itu seperti apa? Kita biasanya tahu syariat itu dari Torah, yaitu syariat yang berasal dari Nabi Musa. Syariat dari Nabi Ibrahim sering terlewat. Kalau seorang ayah mempunyai syariat, syariat itu pasti diturunkan kepada anak-anaknya, termasuk Ishak dan Ismail. Apakah syariat ini pernah disebut dalam kitab-kitab kuno atau Alquran?

Syariat haji sebenarnya bukan hanya untuk umat keturunan Ismail, tetapi juga untuk keturunan Bani Israil. Cara haji berbeda antara keduanya. Tradisi haji itu syariat untuk Bani Ismail dan Bani Israil. Ada nabi bernama nabi Hagai yang artinya nabi yang berhaji. Pertanyaannya, apakah Abraham menerima syariatnya? Dalam kitab kejadian pasal 26 ayat 5 disebutkan bahwa Abraham mendengar firman dan memelihara kewajibannya. Ada kunci penting di sini yang harus dicermati. Abraham menerima hukum-hukum berdasarkan ajaran yang diterima, yang nantinya diwariskan kepada anak keturunannya, baik melalui jalur Ishak maupun Ismail.

Mungkin salah baca ayat. Coba baca Al Imran ayat 124. Ayat itu mengingatkan Bani Israil tentang ujian yang diterima oleh Ibrahim, yang berhasil menjalankannya dengan baik. Allah kemudian menunjuk Ibrahim sebagai pemimpin bagi seluruh manusia, namun menjanjikan hal ini tidak berlaku bagi orang-orang yang zalim. Teks dalam bahasa Arab menekankan pentingnya janji dan syariat yang diterima oleh Ibrahim, yang juga terdapat dalam Kitab Taurat. Istilah “mizwad” dalam teks Ibrani berarti hukum yang diterima oleh Ibrahim dan diwariskan kepada cucunya, Ismail dan Ishak.

Syariat Ibrahim diakui dan diteruskan, meskipun sering kali hukum Musa lebih dikenal. Ibrahim menerima hukum dan itu menjadi dasar bagi semua umat yang mengikutinya. Ada kenyataan bahwa orang Yahudi secara eksklusif menyatakan bahwa hanya yang berdarah Yahudi yang berhak atas surga, meskipun ada keturunan lain yang juga berhak. Seorang ibu bernama Ester, yang bukan keturunan Yahudi, belajar agama Yahudi dan ingin bergabung tetapi merasa terhambat karena keturunan.

Jawaban yang diberikan adalah, jika ingin selamat, bisa masuk Islam meskipun tidak berdarah Yahudi. Banyak orang yang belajar dari rabi di Israel kemudian memilih untuk masuk Islam karena melihat kebenaran. Perbedaan antara Yahudi dan Muslim ada pada kenabian dan ibadah, namun mereka sama-sama menyembah Allah. Rabi memberi pengajaran yang jujur dan langsung, serta menekankan pentingnya mencari kebenaran.

Ada juga kasus Vallen, yang mendalami Nasrani dan Yahudi, tetapi akhirnya memilih Islam, menunjukkan perjalanan pencarian spiritual yang dalam. Hal ini mencerminkan pergeseran pemikiran dan pencarian kebenaran agama yang lebih dalam.

Mungkin salah baca ayat, coba ayat 12:2. Ya Bani Israil, ingatlah Al Imron ayat 124. Ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat lalu dia melaksanakan semuanya dengan sempurna. Allah berfirman, “Sesungguhnya aku menjadikan Engkau sebagai pemimpin bagi seluruh manusia. ” Ibrahim berkata, “Dan juga dari anak cucuku. ” Allah berfirman, “Benar, tetapi janjiku tidak berlaku bagi orang-orang dzalim. “

Bagian awal teks Arab menarik karena ada kata kunci penting yang termaktub dalam Kitab Taurat. Dalam terjemahan bahasa Arab, dikatakan bahwa “Mizwad” di sini berarti sama dengan “Mizoat” dalam Kitab Taurat. Artinya, Ibrahim juga menerima mizwad dan Taurat, yang diwariskan kepada cucunya dari dua cabang. Syariat sudah jelas di sini. Saya (Ustadz Pak Edi) harap jelas, jika masih belum jelas, silakan ulang.

Bahasa ini agak berat, tetapi syariat Nabi Ibrahim sudah diterima dan disebut sebagai במצוות / mitzvot / berarti “dalam perintah-perintah”. Hukum-hukum Nabi Musa yang jumlahnya 613, sementara Ibrahim juga menerima במצוות / mitzvot / berarti “dalam perintah-perintah” yang diturunkan kepada Ismail dan Ishak. Ini menarik karena keberlanjutan ajaran Nabi Ibrahim yang dianut orang-orang Muslim sampai saat ini, yang menghubungkan Ibrahim dengan Ishak dan Ismail. Ada klaim bahwa suatu kelompok lebih dekat dengan Ismail sambil mengingkari Ismail.

Orang Yahudi, yang dikatakan rabi lebih dekat dengan Islam daripada dengan klaim tersebut, sama-sama menyembah Allah meskipun dengan nama berbeda. Perbedaannya terletak pada kenabian, kiblat ibadah, dan bahwa orang Yahudi eksklusif hanya orang yang berdarah Yahudi. Namun, ada juga yang mewarisi surga dari kalangan lain. Ada cerita tentang seorang ibu bernama Ester yang ingin bergabung dengan agama Yahudi tetapi tidak berdarah Yahudi. Dia disarankan untuk masuk Islam untuk keselamatan. Kisah serupa juga terjadi pada beberapa orang yang belajar di Israel dan akhirnya memilih Islam setelah mendapatkan penjelasan dari rabi. Banyak yang berpindah agama setelah belajar tentang kitab yang sama.

Kami mengajak para donatur untuk menginfakkan hartanya

Silahkan anda bisa kirim ke rekening:

Bank SYARIAH INDONESIA 

► Kode bank: (451) No Rek: 111-888-9971 

► an. YPM At Tauhid Jawa Timur ,

► Bukti transfer dapat dikonfirmasikan ke :

HP/WA +6281235871100 (24 Jam)

Dukungan Anda sangat penting agar program-program kami dapat dilaksanakan dengan amanah. Oleh karena itu, kami mohon kepada bapak dan ibu untuk bersedekah atau berzakat untuk membantu program-program kegiatan YPM. Ramadhan sudah dimulai dan kami membutuhkan bantuan untuk sahur, buka puasa, bingkisan mualaf, dan kegiatan dakwah lainnya. Kami mengurusi lebih dari 600 mualaf dan santri di pondok pesantren Al Hadid. Kami mohon uluran tangan bapak ibu untuk zakat, infaq, sedekah demi kelangsungan ibadah dan dakwah. Terima kasih.

Hadanallah Waiyyakum

Wassalamualaikum

Blitar, Kamis, 24 April 2025

Silahkan bagikan di :