Kajian Kristologi “Islam Agama yang Benar” di Sekretariat YPMA: Wujud Dialog Lintas Agama yang Harmonis
Idham Okalaksana Putra
Sabtu, 9 November 2024, menjadi hari yang istimewa bagi Yayasan Pembina Muallaf At-Tauhid (YPMA). Sebuah kajian Kristologi bertajuk “Islam Agama yang Benar” digelar di Kantor Sekretariat YPMA, Jl. Mayangkara No. 21, Surabaya. Acara dimulai pukul 12.30 WIB dan berhasil menarik perhatian audiens dari berbagai kalangan.
Hadir sebagai narasumber utama adalah Bapak Dondy Tan dan Bapak Edy Prayitno, dua tokoh yang dikenal mendalam dalam bidang Kristologi. Mereka mengupas berbagai aspek teologi dan sejarah agama, membandingkan dengan nilai-nilai dalam Islam sebagai agama yang sempurna dan menyeluruh. Penyampaian mereka yang lugas dan penuh wawasan menjadi daya tarik tersendiri bagi para peserta.
Acara ini juga dihadiri oleh Ketua YPMA, Ustad Aang Ardianto, yang membuka acara dengan sambutan penuh semangat. Dalam pidatonya, beliau menekankan pentingnya memahami perbedaan sebagai langkah menuju persatuan. Selain itu, Pembina YPMA, Kyai Rofii Muhari (Toya Bening), turut memberikan arahan mengenai pentingnya menjaga akidah di tengah beragam tantangan zaman.
Yang menarik, acara ini tidak hanya dihadiri oleh umat Islam, tetapi juga oleh umat Kristen dan beberapa tokoh agama lain. Hal ini mencerminkan semangat dialog lintas agama yang menjadi salah satu misi utama YPMA dalam menjalin Ukhuwah Islamiyah. Diskusi berlangsung hangat, dengan audiens yang aktif bertanya dan berdialog, menciptakan suasana yang sarat ilmu namun tetap harmonis.
Kajian ini bukan sekadar membahas tema keagamaan, tetapi juga menjadi sarana untuk memperkuat hubungan antarumat beragama. YPMA membuktikan bahwa perbedaan bukanlah penghalang, melainkan peluang untuk memperkaya pemahaman bersama. Melalui kegiatan ini, YPMA terus berupaya menanamkan nilai-nilai Islam yang damai dan penuh rahmat, sesuai dengan visi mereka dalam berdakwah.
Dengan kehadiran peserta dari berbagai elemen masyarakat, acara ini menjadi bukti bahwa dialog yang konstruktif dapat menjadi jembatan menuju keharmonisan. Kegiatan ini diharapkan menjadi langkah awal dari rangkaian diskusi yang lebih luas untuk mempererat persaudaraan di tengah keberagaman.

