Injil Barnabas: Manuskrip Abad ke-16 yang Menggemparkan, Bukti Eksistensinya Sebelum Al-Qur’an?
Pengantar
Video YouTube berjudul “Injil Barnabas Abad ke-16 Manuskripnya Ada Sebelum Quran || Buktikan Bila Salah !!!” yang diunggah oleh channel Menachem Ali Official pada 1 Agustus 2024, menyajikan diskusi mendalam antara pembawa acara Pak Edi dan Ustadz Menachem Ali dalam acara “Graha Muallaf” yang tayang setiap Jumat malam. Video ini berdurasi sekitar 40 menit dan berfokus pada kontroversi seputar Injil Barnabas (Gospel of Barnabas dalam bahasa Inggris), sebuah teks apokrif yang sering dianggap palsu oleh kalangan Kristen karena isinya yang selaras dengan narasi Islam, seperti penyangkalan penyaliban Yesus (Isa AS) dan pengorbanan Ishmael (Ismail AS) bukan Ishak (Isaac, יִצְחָק Yitzhak dalam Ibrani).
Diskusi dimulai dengan salam “Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh” (السلام عليكم ورحمة الله وبركاته), diikuti pembahasan mengapa teks ini dilarang oleh Gereja Katolik sejak abad ke-5 M. Ustadz Menachem Ali menantang klaim bahwa manuskrip abad ke-16 adalah pemalsuan Muslim, dengan membuktikan eksistensi teks asli lebih awal melalui dekrit paus dan tafsir Islam awal seperti karya Muqatil ibn Sulaiman. Video ini bertujuan membuka mata umat Muslim tentang hubungan antara teks Kristen apokrif dan Al-Qur’an, sambil menekankan pentingnya studi filologi antaragama.
Pembahasan dibagi menjadi bagian-bagian utama: latar belakang Injil Barnabas, bukti historis dilarangnya, analisis isi manuskrip, koneksi dengan Al-Qur’an dan tafsir awal, paradoks dengan doktrin Kristen, implikasi kontemporer, serta kesimpulan. Tujuan adalah membangun pemahaman bahwa Injil Barnabas bukan “pemalsuan” belaka, tapi mungkin salinan teks kuno yang menantang narasi resmi Gereja, sambil memperkaya dialog antaragama.
Latar Belakang Injil Barnabas: Dari Apokrif hingga Kontroversi Modern
Injil Barnabas adalah salah satu dari sekian banyak teks apokrif (non-kanonik) dalam tradisi Kristen, yang tidak dimasukkan dalam Alkitab resmi. Nama “Barnabas” merujuk pada Barnabas, sahabat Paulus dalam Kisah Para Rasul. Teks ini pertama kali disebut dalam dokumen resmi Gereja pada abad ke-5 M, tepatnya dalam “Decretum Gelasianum” (Dekrit Gelasius), sebuah dekrit paus yang dikeluarkan oleh Paus Gelasius I (492-496 M). Dekrit ini, ditulis dalam bahasa Latin, mencantumkan Injil Barnabas sebagai salah satu teks yang dilarang: “Evangelium nomine Barnabae” (Injil atas nama Barnabas), dikategorikan sebagai apokrif dan tidak boleh dibaca oleh umat.
Secara historis, larangan ini bukan yang pertama. Pada 382 M, Konsili Roma di bawah Paus Damasus I mulai menyusun kanon Alkitab Barat, dan pada 465 M, Paus Innocent I mengonfirmasi larangan terhadap teks-teks non-kanonik. Gelasius memperkuatnya pada 496 M, menunjukkan bahwa Injil Barnabas sudah eksis dan dibaca di komunitas Kristen awal, bukan sekadar rumor. Ini bertentangan dengan klaim modern seperti yang disampaikan Dr. Bambang Nursena, yang menganggap manuskrip abad ke-16 sebagai pemalsuan Muslim karena Islam muncul pada abad ke-7 M.
Manuskrip yang bertahan hingga kini ditemukan pada abad ke-16 di perpustakaan paus oleh seorang biarawan bernama Fra Marino (atau Framerino). Versi Italia (bahasa Italia modern, bukan Latin kuno) dan Spanyol disimpan di Perpustakaan Nasional Wina. Bahasa Italia disebut “bahasa Latin baru” dalam video, mirip bagaimana bahasa Indonesia adalah evolusi dari Melayu. Ini menimbulkan pertanyaan: Apakah ini teks asli atau salinan/terjemahan dari bahasa asli seperti Yunani, Aram, atau Suryani?
Dalam konteks lebih luas, abad ke-4-5 M adalah masa pembentukan kanon Alkitab. Konsili Nicea (325 M) dan Konsili Konstantinopel (381 M) memutuskan teks mana yang “inspiratif”. Banyak injil lain, seperti Injil Yakobus (Evangelium Jacobi), Injil Tomas, dan Injil Maria, juga dilarang. Alasan: Isi yang bertentangan dengan doktrin Tritunggal dan penyaliban Yesus sebagai penebus dosa.
Bukti Historis: Larangan Gereja dan Eksistensi Awal
Ustadz Menachem Ali menekankan bahwa larangan resmi menunjukkan teks itu ada secara fisik sebelum abad ke-7 M. Dekrit Gelasius mencantumkan “Evangelium Barnabae” bersama teks lain seperti “Evangelium Jacobi” (Injil Yakobus), yang menceritakan masa kecil Maryam (Maria) dibesarkan oleh Zakaria di Baitulmaqdis – detail yang tidak ada dalam injil kanonik (Matius, Markus, Lukas, Yohanes), tapi selaras dengan Al-Qur’an (Surah Ali Imran 35-37).
Larangan ini dimulai sejak abad ke-4 M, jauh sebelum Nabi Muhammad SAW (570-632 M). Ini membantah klaim pemalsuan Muslim. Jika teks palsu abad ke-16, mengapa dilarang abad ke-5? Jawaban: Karena isinya menantang doktrin resmi, seperti penggantian Yesus dengan Yudas di salib, pengorbanan Ismail, dan nubuat tentang Nabi Muhammad SAW.
Dalam bahasa Latin dekrit: “Evangelium nomine Barnabae apocryphum” (Injil atas nama Barnabas adalah apokrif). Ini menunjukkan teks beredar di komunitas Kristen awal, mungkin di Timur Tengah atau Eropa.
Ekspansi historis: Pada masa itu, Gereja menghadapi sekte seperti Arianisme (menyangkal keilahian Yesus) dan Ebionites (Yahudi-Kristen yang menolak Paulus). Injil Barnabas selaras dengan pandangan Ebionites, yang melihat Yesus sebagai nabi manusia, bukan Tuhan – mirip pandangan Islam.
Analisis Isi Manuskrip: Empat Pilar yang Menantang Doktrin Kristen
Injil Barnabas memiliki empat poin utama yang selaras dengan Islam:
- Penyaliban Yudas, bukan Yesus: Teks Italia: “The voice, the face, and the person of Judas were so like to Jesus that his disciples and believers truly believe that He was Jesus.” Dalam Italia: “Hi Yosefodiarimat diudir” (Joseph of Arimathea meminta mayat Yudas, yang disangka Yesus). Yudas berteriak “God, why have you forsaken me?” (mirip Markus 15:34), tapi bukan disebut Tuhan. Ini paralel Al-Qur’an Surah An-Nisa 157: “وَمَا قَتَلُوهُ وَمَا صَلَبُوهُ وَلَٰكِنْ شُبِّهَ لَهُمْ” (Wa ma qataluhu wa ma salabuhu wa lakin shubbiha lahum – Mereka tidak membunuhnya dan tidak menyalibnya, tapi diserupakan bagi mereka).
- Tempat Ibadah Tunggal: Yesus kepada perempuan Samaria: Ibadah akan di satu tempat (nubuat Ka’bah?).
- Pengorbanan Ishmael: Bukan Ishak, selaras Al-Qur’an Surah As-Saffat 102-107.
- Nubuat Muhammad SAW: Disebut sebagai rasul terakhir.
Ini membuat teks ini “berbahaya” bagi Gereja, karena menyangkal penebusan dosa melalui salib.
Koneksi dengan Al-Qur’an dan Tafsir Awal: Muqatil ibn Sulaiman
Bagian krusial: Tafsir Muqatil ibn Sulaiman (wafat 150 H/767 M), yang lebih awal dari manuskrip abad ke-16. Dalam tafsir Surah An-Nisa 157: “والله عز وجل جعله على صورة عيسى فقاتلوه” (Wallahu ‘azza wa jalla ja’alahu ‘ala surati ‘Isa faqataluhu – Allah membuat wajahnya seperti Isa, lalu mereka membunuhnya). Nama Yudas disebut “Yahuda” (يهوذا, dari Ibrani Yehudah, יהודה), dan “faqadzabu” (mereka bohong/menolak).
Ini bukti teks Barnabas ada sebelum abad ke-16, mungkin dalam bahasa Suryani atau Yunani. Turki disebut punya versi Suryani, tapi belum dirilis.
Ekspansi: Muqatil adalah ulama tafsir generasi tabi’in, murid Mujahid ibn Jabr. Tafsirnya yang paling awal bertahan, menunjukkan narasi penggantian sudah beredar di kalangan Muslim abad ke-8, bukan ciptaan abad ke-16.
Paradoks dengan Doktrin Kristen: Mengapa Dilarang?
Larangan menunjukkan ancaman teologis. Injil kanonik (empat injil) dipilih di Konsili Nicea untuk dukung Tritunggal. Apokrif seperti Barnabas menolaknya, melihat Yesus sebagai nabi (mirip Islam).
Contoh: Injil Yakobus sebut ayah Maryam sebagai Joachim (Imran dalam Islam, عمران ‘Imran dalam Arab). Ini selaras Al-Qur’an Surah Maryam.
Implikasi Kontemporer: Dialog Antaragama dan Penelitian
Video promosikan dialog: Studi filologi pisahkan dokumen dari doktrin. Di Indonesia, relevan dengan keragaman agama. Donasi untuk muallaf dan masjid ditegaskan.
Historis: Penemuan manuskrip seperti Dead Sea Scrolls konfirmasi variasi teks kuno.
Ekspansi Historis: Evolusi Kanon Alkitab
Kanon Alkitab dibentuk melalui konsili: Athanasius (367 M) daftar 27 buku Perjanjian Baru. Apokrif dilarang karena “heretis”.
Analisis Linguistik: Istilah Arab dan Ibrani
Yahuda (يهوذا) dari Yehudah (יהודה). Shubbiha (شبه) berarti diserupakan.
Studi Kasus: Manuskrip Italia dan Spanyol
Manuskrip Wina: Analisis karbon dating konfirmasi abad ke-16, tapi isi lebih tua.
Kritik terhadap Klaim Pemalsuan
Klaim Nursena dibantah: Muqatil tak bisa kutip teks masa depan.
Peran dalam Dialog Islam-Kristen
Bantu pahami kesamaan Abrahamik.
Kesimpulan
Injil Barnabas bukti teks kuno, bukan palsu. “Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh” (وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته).

