Perubahan Terjemahan Alkitab dan Masalah Teks Pengorbanan Ismail vs Ishak
Kontroversi pengorbanan putra Nabi Ibrahim AS. Setelah sebelumnya membahas dari sisi Al-Qur’an dan kitab-kitab terdahulu, kali ini fokusnya adalah teks Alkitab (Kejadian 22:2) serta perubahan-perubahan redaksi yang terjadi sepanjang sejarah.
1. Perubahan Terjemahan Resmi Alkitab Bahasa Indonesia
Lembaga Alkitab Indonesia (LAI) menerbitkan Terjemahan Baru Edisi 2 (TB2) tahun 2023. Perbandingan Kejadian 22:2:
Terjemahan Baru Edisi 1 (TB1 – lama):
Firman-Nya: “Ambillah anakmu yang tunggal itu, yang engkau kasihi, yakni Ishak, pergilah ke tanah Moria…”
Terjemahan Baru Edisi 2 (TB2 – 2023):
Firman-Nya: “Ambillah Ishak, anakmu yang satu-satunya, yang engkau kasihi, pergilah ke tanah Moria…”
Perubahan signifikan:
- Nama “Ishak” dipindah ke depan.
- Frasa “anakmu yang tunggal itu” diubah menjadi “Ishak, anakmu yang satu-satunya”.
- Penekanan bergeser dari “status anak tunggal” (dari perspektif Ibrahim sebagai ayah) menjadi “nama tokoh” (Ishak, anak dari Sarah, bukan anak dari Hajar).
Menurut analisis wacana Ustaz Ali, perubahan ini bukan sekadar gaya bahasa, melainkan mengandung pesan teologis yang berbeda.
2. Teks Ibrani Asli (Masoretik & Samaria)
Teks Ibrani Masoretik (Versi Yahudi):
וַיֹּאמֶר קַח־נָא אֶת־בִּנְךָ אֶת־יְחִידְךָ אֲשֶׁר־אָהַבְתָּ אֶת־יִצְחָק
(Wayyōmer: qaḥ-nā et-binkha et-yəḥīdəkha asher ahavta et-Yiṣḥāq)
Artinya: “Ambillah anakmu, yang tunggal itu, yang engkau cintai, yakni Ishak.”
Teks Samaria (Samaritan Pentateuch):
Redaksi hampir identik, hanya berbeda pada nama tempat kurban:
- Versi Yahudi: הַמֹּרִיָּה (ha-Mōriyyā) → Tanah Moria (Yerusalem)
- Versi Samaria: הַר גְּרִזִים (har Gərizzīm) atau varian הַמּוֹרֶה (ha-Mōreh) → Gunung Gerizim dekat Nablus
Perbedaan ini bukan dialek semata, melainkan mencerminkan dua tradisi yang masih ada hingga hari ini: orang Yahudi menghadap Yerusalem, orang Samaria menghadap Gunung Gerizim.
3. Teks yang Lebih Tua: Septuaginta & Naskah Laut Mati
Septuaginta (Terjemahan Yunani, abad 3–2 SM):
λαβὲ τὸν υἱόν σου τὸν ἀγαπητόν, ὃν ἠγάπησας, τὸν Ισαακ
(Labe ton huion sou ton agapēton, hon ēgapēsas, ton Isaak)
Artinya: “Ambillah putramu yang kau cintai, yang benar-benar kau cintai, yakni Ishak.”
→ Kata “tunggal” (יְחִידְךָ / yəḥīdəkha) tidak muncul.
→ Lokasi tempat kurban juga tidak disebutkan, hanya “tanah yang tinggi” (εἰς τὴν γῆν τὴν ὑψηλήν).
Naskah Laut Mati (Dead Sea Scrolls, abad 3–1 SM):
Dari 19 fragmen Kitab Kejadian yang ditemukan, bagian Kejadian 22:1–12 (perintah pengorbanan) sama sekali tidak ada atau rusak parah. Yang tersisa hanya mulai ayat 13–14 (pengganti domba). Artinya, versi tertua yang kita miliki saat ini justru tidak menyebut:
- Nama putra yang akan dikorbankan
- Lokasi tempat pengorbanan
4. Kesimpulan Filologis Ustaz Mena Kemal Ali
- Dokumen-dokumen tertua (Dead Sea Scrolls & Septuaginta) tidak menyebut nama putra dan tidak menyebut lokasi.
- Ketika nama mulai disebut dalam teks Ibrani (abad 9 M dan seterusnya), sudah terjadi perbedaan tempat antara tradisi Yahudi (Moria/Yerusalem) dan Samaria (Moreh/Gerizim).
- Perubahan terjemahan LAI 2023 justru semakin menegaskan nama “Ishak” di depan untuk menghilangkan keraguan “anak tunggal dari siapa?” (dari Sarah, bukan Hajar).
- Dalam tradisi Islam:
- Al-Qur’an memang sengaja tidak menyebut nama (QS. As-Saffat 37:100–112).
- Lokasi tetap satu dan tidak pernah berubah: Mina/Makkah (baik dalam riwayat Ismail maupun riwayat minoritas yang mengatakan Ishak).
- Hadis-hadis yang ada justru menempatkan peristiwa ini di Makkah, bukan Palestina.
Penutup Ustaz Ali
“Yang punya masalah besar bukan umat Islam. Di Islam, teksnya satu dan fix tidak menyebut nama, hanya tafsir yang berbeda-beda. Yang berbeda itu teksnya sendiri: ada yang menyebut Moria, ada yang Moreh, ada yang sama sekali tidak menyebut tempat, bahkan ada yang tidak menyebut nama putranya. Jadi silakan masyarakat mengambil kesimpulan masing-masing.”
Demikian analisis filologis yang disampaikan Ustaz Mena Kemal Ali dalam siaran tersebut. Diskusi ini menunjukkan bahwa perdebatan “Ismail atau Ishak” di kalangan Muslim sebenarnya adalah perdebatan tafsir, sedangkan di kalangan Yahudi-Kristen adalah perdebatan teks itu sendiri yang terus berubah dan berbeda versi sepanjang sejarah.

