Uncategorized

Membingungkan!! Al-Qur’an Sudah Ditulis Sebelum Nabi Muhammad SAW Lahir? – Penjelasan Ahli Filologi

Dalam era informasi digital saat ini, sering kali muncul klaim-klaim yang membingungkan tentang sejarah agama, termasuk Islam. Salah satu yang kerap beredar adalah pernyataan bahwa Al-Qur’an telah ditulis jauh sebelum kelahiran Nabi Muhammad SAW (sekitar tahun 570 M). Klaim ini biasanya merujuk pada temuan manuskrip kuno seperti Manuskrip Birmingham atau Sana’a, yang tanggal karbonnya tampaknya mendahului masa kenabian. Namun, apakah ini benar-benar membuktikan bahwa Al-Qur’an “diciptakan” sebelum Nabi? Dalam video berjudul “Confusing!! The Quran was Written Before Prophet Muhammad…” yang diunggah oleh channel Menachem Ali Official (The Yeshiva Institute) pada 22 Maret 2024, Prof. Dr. Menachem Ali, mantan pendeta dan ahli filologi Semitik dari Universitas Airlangga Surabaya, membongkar mitos ini dengan bukti ilmiah yang kuat. Video berdurasi sekitar 20 menit ini bukan hanya menjawab kebingungan, tapi juga menegaskan keunikan Al-Qur’an dibandingkan kitab suci lainnya.

Latar Belakang Kebingungan: Manuskrip Kuno yang Menyesatkan

Prof. Menachem Ali memulai penjelasannya dengan mengakui bahwa temuan arkeologi memang sering disalahartikan oleh pihak-pihak yang ingin melemahkan otentisitas Islam. Contoh utama adalah Manuskrip Birmingham, yang ditemukan di Perpustakaan Universitas Birmingham, Inggris, pada 2015. Manuskrip ini berisi ayat-ayat dari Surah Al-Kahfi (18:17-31) dan Surah Maryam (19:91-98), ditulis pada lembaran kulit kambing atau domba.

  • Tanggal Karbon: Tes radiokarbon menunjukkan usia manuskrip antara 568–645 M. Karena Nabi Muhammad SAW lahir sekitar 570 M, rentang ini tampak “sebelum” beliau. Inilah yang membuat banyak orang bertanya-tanya: “Bagaimana mungkin Al-Qur’an ada sebelum wahyu turun?”

Prof. Ali menekankan bahwa ini bukan kontradiksi, melainkan bukti keajaiban pelestarian. Tanggal karbon hanya mengukur usia bahan (kulit hewan), bukan tinta atau isi teks. Lebih lanjut, rentang 568–645 M justru mencakup masa awal kenabian (wahyu pertama 610 M) hingga masa Khalifah Utsman (wafat 656 M). Jadi, manuskrip ini kemungkinan besar ditulis selama hidup Nabi atau segera setelahnya, bukan sebelum.

Demikian pula dengan Manuskrip Sana’a dari Yaman, yang ditemukan pada 1972. Manuskrip ini menunjukkan lapisan teks bawah (palimpsest) yang dihapus untuk ditimpa teks Qur’an standar. Analisis filologi menunjukkan bahwa variasi di lapisan bawah hanyalah kesalahan penyalinan sementara, bukan perubahan doktrin. Prof. Ali mengutip studi dari Oxford University Press (2017) yang menyimpulkan: teks Qur’an tetap konsisten sejak abad ke-7 M.

Keunikan Al-Qur’an: Ditulis Sezaman dengan Nabinya

Salah satu poin krusial dalam video adalah perbandingan dengan kitab suci lain. Prof. Menachem Ali, yang ahli dalam bahasa Semitik (termasuk Arab dan Ibrani), menyoroti bahwa Al-Qur’an adalah satu-satunya kitab suci yang ditulis dan dikompilasi sezaman dengan nabinya. Ini bertolak belakang dengan:

  • Kitab Injil (Perjanjian Baru): Ditulis 40–100 tahun setelah Yesus AS (sekitar 30–100 M). Manuskrip tertua, seperti Papirus P52, baru dari abad ke-2 M.
  • Taurat dan Zabur: Manuskrip lengkap seperti Codex Leningrad baru dari abad ke-11 M, ratusan tahun setelah Musa AS dan Daud AS.
  • Wedha Hindu: Ditulis secara lisan ribuan tahun sebelum dicatat secara tertulis.

Prof. Ali menambahkan, “Hanya Al-Qur’an yang ditulis sejaman dengan nabinya, sementara Bible ditulis jauh setelah.” Ini didukung oleh hadits riwayat Bukhari: Nabi SAW memerintahkan para sahabat seperti Zaid bin Tsabit untuk mencatat wahyu pada media seperti pelepah kurma, tulang, dan kulit hewan. Setelah wafatnya, Khalifah Abu Bakar menyusun mushaf pertama, dan Utsman menstandarisasinya pada 650 M – hanya 20 tahun setelah hijrah!

Untuk memperkuat argumen, Prof. Ali menyajikan kutipan dalam bahasa Arab asli dari Al-Qur’an yang menjanjikan pelestarian:

إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ
Innā naḥnu nazzalnā l-dhikra wa-innā lahu la-ḥāfiẓūna.
(QS. Al-Hijr [15]:9)
Terjemahan: “Sesungguhnya Kami yang menurunkan Al-Qur’an, dan pasti Kami (pula) yang memeliharanya.”

Ayat ini, menurut Prof. Ali, adalah “kontrak ilahi” yang terbukti secara empiris melalui manuskrip-manuskrip kuno.

Sentuhan Bahasa Semitik: Arab, Ibrani, dan Judeo-Arabic

Sebagai pakar filologi, Prof. Menachem Ali tidak melewatkan aspek linguistik. Ia menjelaskan bahwa bahasa Arab Qur’an adalah bahasa fusha (klasik) yang murni, tanpa pengaruh asing signifikan. Namun, ia juga membahas hubungan dengan bahasa Ibrani (dari akar Semitik yang sama). Misalnya, kata “Qur’an” berasal dari akar q-r-‘, mirip dengan “miqra” dalam Ibrani yang berarti “bacaan” atau “kitab suci”.

Ia juga menyebut surat Nabi Muhammad SAW kepada pemimpin Yahudi Khaibar, yang ditulis dalam Judeo-Arabic (bahasa Arab dengan aksara Ibrani). Manuskrip ini, ditemukan di Qumran, menunjukkan dialog antar-agama sejak awal Islam. Kutipan contoh dari video:

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ
Wa mā arsalnāka illā raḥmatan lil-‘ālamīn.
(QS. Al-Anbiya [21]:107)
Terjemahan: “Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad) melainkan sebagai rahmat bagi semesta alam.”

Prof. Ali menekankan bahwa wahyu ini “meneruskan pesan nabi-nabi sebelumnya”, seperti yang diramalkan dalam Kitab Yesaya (Ibrani: יְשַׁעְיָהוּ) tentang “nabi terakhir dari Ismail”.

Kesimpulan: Bukan Kebingungan, Tapi Mukjizat

Video Prof. Menachem Ali bukan sekadar klarifikasi, tapi undangan untuk mendalami sejarah dengan ilmu. Klaim “Al-Qur’an sebelum Nabi” justru membuktikan mukjizat pelestariannya – sesuatu yang tak tertandingi. Seperti kata beliau, “Ini amazing for the scholars!” Bagi umat Muslim, ini pengingat untuk afala ta’qilun? (Bukankah kalian berpikir?) – ayat yang sering ia kutip dari QS. Al-Baqarah (2):44.

Jika Anda belum menonton, kunjungi video asli di YouTube. Video ini telah ditonton lebih dari 250.000 kali dan mendapat pujian atas kejelasan penjelasannya. Semoga artikel ini meringankan kebingungan dan memperkuat keyakinan kita akan kebenaran Al-Qur’an yang abadi.

Referensi Utama:

  • Video Prof. Menachem Ali (2024).
  • “The Sanaa Palimpsest” (Oxford University Press, 2017).
  • Studi radiokarbon Manuskrip Birmingham (University of Birmingham, 2015).

Silahkan bagikan di :