Kristologi

Bahasa Suryani dan Nasab Nabi Isa (Yesus) Keturunan Harun

 

Pengantar

Diskusi tentang identitas Yesus Kristus dalam Kristen dan Nabi Isa AS dalam Islam sering menjadi topik hangat, terutama di kalangan umat beragama di Indonesia. Transkrip dari acara diskusi di Graha Muallaf Surabaya, yang dipandu oleh Edi Prayitno dan melibatkan Ustadz Menachem Ali serta seorang mantan pendeta dari Manado bernama Pak Dance, membahas hal ini secara mendalam. Acara ini tayang pada malam Sabtu, mundur dari jadwal biasa malam Jumat karena suatu hal, dan menyoroti kesamaan antara kedua figur ini berdasarkan bukti dari Alkitab, Al-Qur’an, serta analisis linguistik dan historis.

Dalam diskusi ini, Pak Dance, yang kini sedang menimba ilmu Islam di Graha Muallaf, berbagi pengalaman pribadinya sebagai mantan pendeta. Ia menekankan bahwa Yesus dan Isa adalah sosok yang sama, didukung oleh kesamaan narasi seperti kelahiran dari Maria (Maryam), mukjizat, dan ajaran kasih. Ustadz Menachem Ali memperkuat argumen dengan dokumen-dokumen seperti terjemahan Alkitab dalam bahasa Indonesia yang menggunakan “Isa Almasih” serta analisis nama dalam bahasa Suryani, Yunani, Ibrani, dan Arab.

Artikel ini akan menguraikan isi diskusi tersebut secara komprehensif, dengan ekspansi konteks historis, linguistik, dan teologis untuk mencapai kedalaman analisis. Kami akan menyertakan teks Arab (seperti ayat Al-Qur’an) dan Ibrani (seperti nama dalam Talmud) di mana relevan, beserta transliterasi dan terjemahannya. Pembahasan dibagi menjadi bagian-bagian utama, termasuk bukti kesamaan nama, narasi kelahiran, mukjizat, perspektif penyaliban, serta penjelasan istilah “ukhta Harun” (أخت هارون). Tujuan adalah membangun pemahaman bahwa Yesus dan Isa adalah satu sosok, meskipun dipandang dari perspektif agama yang berbeda, sambil menyoroti harmoni antaragama di tengah keragaman Indonesia.

Latar Belakang Diskusi dan Partisipan

Acara dimulai dengan salam “Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh” (السلام عليكم ورحمة الله وبركاته), yang dijawab “Waalaikumsalam” (وعليكم السلام). Edi Prayitno memperkenalkan Pak Dance sebagai mantan pendeta yang kini memeluk Islam dan sedang belajar membaca Al-Qur’an di Graha Muallaf Surabaya. Pak Dance berasal dari Manado dan mengaku masuk Islam setelah menggali ajaran Yesus dalam Alkitab, yang ia temukan mirip dengan praktik Muslim seperti sunat, puasa, dan wudu (basuh kaki).

Ustadz Menachem Ali, seorang mualaf dan ahli kajian komparatif agama, dikenal dengan pengetahuan mendalam tentang bahasa Semitik seperti Ibrani, Suryani, dan Arab. Ia sering menggunakan slide dan dokumen asli untuk membuktikan argumennya. Diskusi ini relevan di Indonesia, di mana umat Kristen dan Muslim hidup berdampingan, tetapi sering ada kebingungan tentang identitas Yesus/Isa, terutama di media sosial seperti TikTok.

Secara historis, perdebatan ini muncul karena perbedaan perspektif teologis: Kristen melihat Yesus sebagai Tuhan, sementara Islam melihat Isa sebagai nabi. Namun, kedua agama sepakat pada aspek-aspek seperti kelahiran mukjizat dari Maryam (Maria). Di Indonesia, isu ini semakin penting pasca keputusan pemerintah pada 2024 untuk mengganti “Isa Almasih” menjadi “Yesus Kristus” dalam penamaan hari libur Kristen, mengakui preferensi umat Kristen Indonesia yang menggunakan “Yesus Kristus” dalam Alkitab terjemahan mereka.

Argumen Kesamaan dari Mantan Pendeta Pak Dance

Pak Dance memulai dengan bukti kesamaan antara Yesus dan Isa. Pertama, keduanya lahir dari Maria (Maryam) secara mukjizat, bukan melalui rencana manusia, melainkan kuasa Roh Kudus (dalam Kristen) atau kalimat Allah (dalam Islam). Kedua, keduanya adalah utusan Tuhan yang melakukan mukjizat dan mengajarkan kasih.

Ia mengutip Yohanes 17:3 dari Alkitab: “Inilah hidup yang kekal itu, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus.” Dalam bahasa Yunani asli: “αὕτη δέ ἐστιν ἡ αἰώνιος ζωή, ἵνα γινώσκωσιν σὲ τὸν μόνον ἀληθινὸν θεὸν καὶ ὃν ἀπέστειλας Ἰησοῦν Χριστόν” (Hautē dé estin hē aiōnios zōē, hina ginōskōsin se ton monon alēthinon theon kai hon apesteilas Iēsoun Christon). Ini menunjukkan Yesus sebagai utusan (apostello, dikirim), bukan Tuhan itu sendiri.

Selanjutnya, Matius 23:9: “Dan janganlah kamu menyebut siapapun Bapa di bumi ini, karena hanya satu Bapamu, yaitu Dia yang di surga.” Ini mempertegas monoteisme, mirip ajaran Islam tentang tauhid.

Pak Dance menjelaskan konversinya: Ia mengikuti ajaran Yesus seperti sunat (dalam Alkitab, Yesus disunat pada hari kedelapan, Lukas 2:21), puasa 40 hari (mirip puasa Ramadhan 30 hari), dan basuh kaki (seperti wudu, mirip perintah Musa dan Harun dalam Keluaran 30:19-21). Ia melihat praktik ini dilakukan umat Muslim, bukan Kristen modern.

Dalam konteks historis, sunat adalah tradisi Abrahamik (Kejadian 17:10-14, dalam Ibrani: “וְהָיָה לְאוֹת בְּרִית בֵּינִי וּבֵינֵיכֶם” – Wehayah le’ot berit beini uveineichem). Puasa Yesus (Matius 4:1-11) paralel dengan puasa Nabi dalam Islam. Ini menunjukkan kontinuitas tradisi Semitik.

Bukti Linguistik dari Ustadz Menachem Ali: Nama dalam Berbagai Bahasa

Ustadz Menachem Ali menyoroti bahwa perdebatan ini ada di kalangan Kristen dan Muslim. Beberapa Kristen mengklaim Yesus dan Isa berbeda, tapi dibantah oleh Alkitab Indonesia terbitan Lembaga Alkitab Indonesia (LAI) tahun 2000, berjudul “Kitab Suci Injil Isa Almasih”. Di sini, Matius 1:1: “Inilah silsilah Isa Almasih, anak Daud, anak Ibrahim.” Ini menunjukkan “Isa Almasih” digunakan resmi oleh Kristen Indonesia.

Ia juga menunjukkan Al-Qur’an terjemahan Yunani terbitan Saudi Arabia. Surah Ali Imran ayat 45: “إِذْ قَالَتِ الْمَلَائِكَةُ يَا مَرْيَمُ إِنَّ اللَّهَ يُبَشِّرُكِ بِكَلِمَةٍ مِنْهُ اسْمُهُ الْمَسِيحُ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ وَجِيهًا فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ وَمِنَ الْمُقَرَّبِينَ” (Idh qalatil mala’ikatu ya Maryamu innallaha yubashshiruki bikalimatin minhu ismuhul Masihu ‘Isa ibnu Maryama wajihan fid dunya wal akhirati wa minal muqarrabin). Dalam Yunani: “το ὄνομα αὐτοῦ Μεσσίας Ἰησοῦς” (To onoma autou Messias Iēsous), menunjukkan “Isa” sama dengan “Iēsous” (Yesus).

Dalam bahasa Suryani (dialek Aram), nama adalah “Isho” (ܝܫܘܥ), mirip “Iso” atau “Yesu”. Ustadz menunjukkan teks Suryani: “Ketaba Qadisha” (Kitab Suci), di mana nama adalah “Isho Mshiho” (Isa Almasih). Suryani berhubungan dekat dengan Aram, bahasa yang digunakan Yesus, dan mirip Arab dalam tulisan (huruf digabung, tidak seperti Ibrani yang berdiri sendiri).

Dalam Talmud (literatur Yahudi), nama adalah “Yeshu” (ישו), seperti dalam Sanhedrin 43a: “On the eve of Passover they hanged Yeshu the Notzri” (Yeshu ha-Notzri, Yesus dari Nazaret). Ini menunjukkan Yahudi mengakui sosok yang sama.

Secara historis, Aram menjadi lingua franca setelah Kekaisaran Asyur (722 SM), digantikan Yunani pasca Aleksander Agung, tapi tetap digunakan di Palestina abad pertama. Yesus berbicara Aram Galilea, mirip Suryani timur.

Perbedaan Narasi Kelahiran: Kandang vs Pohon Kurma

Salah satu klaim perbedaan adalah tempat lahir: Alkitab (Lukas 2:7) menyebut kandang (Yunani: “phatnē”, palungan), sementara Al-Qur’an (Maryam 23-25) di bawah pohon kurma. Pak Dance dan Ustadz menjelaskan ini sebagai perspektif berbeda, bukan kontradiksi.

Dalam Injil apokrif seperti Gospel of Pseudo-Matthew (abad ke-7), selama pelarian ke Mesir, Maryam istirahat di bawah pohon kurma, dan bayi Yesus memerintahkannya membungkuk untuk beri buah: “Raise yourself, O palm tree, and be strong…” Ini paralel Al-Qur’an: “وَهُزِّي إِلَيْكِ بِجِذْعِ النَّخْلَةِ تُسَاقِطْ عَلَيْكِ رُطَبًا جَنِيًّا” (Wa huzzi ilayki bijid’in nakhlati tusaqit ‘alayki rutaban janiyya – Goyangkanlah ke arahmu batang kurma itu, niscaya ia akan menggugurkan buah kurma yang masak kepadamu).

Historis, pohon kurma ada di Palestina (seperti di Jericho), membantah klaim tidak ada kurma di zaman Yesus. Ini menunjukkan narasi bersama dalam tradisi apokrif.

Perspektif Penyaliban dan Mukjizat

Klaim lain: Yesus disalib, Isa tidak. Ustadz menjelaskan ini perspektif. Dalam Al-Qur’an (An-Nisa 157): “وَمَا قَتَلُوهُ وَمَا صَلَبُوهُ وَلَٰكِنْ شُبِّهَ لَهُمْ” (Wa ma qataluhu wa ma salabuhu wa lakin shubbiha lahum – Mereka tidak membunuhnya dan tidak menyalibnya, tapi diserupakan bagi mereka). Dalam apokrif seperti Gospel of Barnabas, Yesus tidak disalib, tapi diganti.

Dalam Alkitab, murid tidak mengenali Yesus pasca kebangkitan (Lukas 24:13-35, Yohanes 20:14), mirip “diserupakan”. Mukjizat seperti menghidupkan orang mati (Yohanes 11:43-44, Lazarus) paralel Al-Qur’an (Ali Imran 49).

Perbedaan seperti tongkat dalam misi murid (Markus 6:8 izinkan, Lukas 9:3 larang) menunjukkan variasi perspektif dalam Alkitab sendiri.

Penjelasan “Ukhta Harun” (أخت هارون)

Kritik: Maryam disebut saudari Harun (Maryam 28), padahal Harun saudara Musa. Ustadz jelaskan ini gelar nasab dalam Semitik. Lukas 1:5: Elisabeth (istri Zakaria) dari keturunan Harun (Ibrani: “בְּנוֹת אַהֲרֹן” – Bnot Aharon). Lukas 1:36: Maryam adalah “sanak saudara” Elisabeth, sehingga Maryam juga keturunan Harun.

Dalam tafsir seperti Hidayatul Quran, “ukhta Harun” merujuk Harun shaleh sezaman atau nasab ke Harun Musa. Ini gaya bahasa Timur Tengah, bukan kesalahan kronologi.

Implikasi Teologis dan Sosial di Indonesia

Diskusi ini promosikan dialog antaragama. Di Indonesia, dengan 29 juta Kristen dan mayoritas Muslim, pemahaman kesamaan ini kurangi prasangka. Graha Muallaf bantu mualaf seperti Pak Dance, dan donasi dukung dakwah.

Historis, Aram hubungkan Yahudi, Kristen, Islam. Nama “Isho” (Suryani) ke “Isa” (Arab) tunjukkan kontinuitas Semitik.

Usulan Pak Dance: Bahas tiga agama Abrahamik untuk tunjukkan keindahan Islam.

Ekspansi Historis: Evolusi Bahasa dan Tradisi

Aram muncul abad ke-10 SM, jadi lingua franca pasca Asyur. Yesus bicara Aram Galilea, mirip Suryani. Talmud sebut “Yeshu” (ישו), konfirmasi sosok sama.

Alkitab Indonesia gunakan “Isa Almasih” sejak 2000, tapi 2024 ganti “Yesus Kristus” resmi.

Analisis Linguistik Mendalam

Nama “Yeshua” (ישוע Ibrani) jadi “Isho” (ܝܫܘܥ Suryani), “Iēsous” (Ἰησοῦς Yunani), “Isa” (عيسى Arab). Talmud: “Yeshu ha-Notzri” (ישו הנוצרי).

Ini bukti kesatuan sosok.

Kritik terhadap Polemik Modern

Beberapa pendeta klaim berbeda karena lahir kandang vs kurma, tapi apokrif konfirmasi kurma. Polemik ini sering di media sosial, tapi bukti linguistik dan historis bantah.

Kesimpulan

Diskusi buktikan Yesus dan Isa sama, dengan perspektif berbeda. Ini dorong persatuan.

“Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh” (وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته).

Silahkan bagikan di :