Kanonisasi atau Patokan panduan mengenai kitab suci | YPMA
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh
“Berjumpa lagi dengan saya Edi Prayitno, Semoga kawan-kawan semua masih dalam lindungan Allah Subhanahu Wa Ta’ala, kita semua diberi kemudahan, diberi kesehatan dan panjang umur. Baiklah terima kasih pada kesempatan kali ini saya akan berbincang dengan ustadz Menachem Ali.”
Assalamualaikum Pak Ali….
Waalaikumussalam warahmatullah wabarakatuh
“Gimana kabarnya Pak Ali?”
“Alhamdulillah sehat pak Edi, Alhamdulillah mudah-mudahan kita semua sehat. Amin dalam perbincangan malam ini Insya Allah kita semua sehat ya pada malam hari ini.”
“Bertepatan kita ada di studio Graha mualaf , jadi Yayasan Pembina mualaf YPM Jawa Timur dan pada kesempatan yang berbahagia ini kita akan memperbincangkan beberapa topik dan insya Allah acara ini akan rutin kita selenggarakan tiap minggu ya.”
“Jadi untuk topik kali ini kita akan membahas soal Apa itu kanon?, Apa itu kitab suci? dan terutama kitab suci ini milik saudara kita ya, saudara tua kita yaitu dari Yahudi dan Kristen. karena kajian kita malam ini adalah kajian kristologi, Jadi tidak jauh-jauh kita akan membahas masalah Kristologi dan kebetulan Ustadz Menachem Ali ini beliau adalah pakar di bidangnya. Beliau menguasai beberapa bahasa asli dari bahasa Israel, yahudi dan juga bahasa-bahasa yang lain ya untuk masalah kanon kitab suci ini.”
“Kenapa kita mau bahas pada malam hari ini? karena begini, seseorang beragama atau seseorang, kalau membeli sesuatu barang pun itu pasti ada yang namanya buku panduan, termasuk juga dalam beragama kita umat Islam sudah finish Pak Ali ya, kita sudah punya yang namanya kitab suci Alquran dan Insya Allah dan semua orang Islam mempercayai bahwa kitab Alquran di seluruh dunia tidak ada perbedaan dan tidak ada pertentangan meskipun ada beberapa mazhab-mazhab dalam Islam tetapi Insya Allah Alqurannya tetap satu. Tapi hal ini berbeda dengan saudara kita sebelah mereka terpecah dalam beberapa kelompok besar, kalau di dalam dunia ini kita mengenal Kristen ada kelompok Katolik, ada kelompok Protestan dan ada kelompok dari Ortodoks dan bagaimana kitab suci mereka.”
“Tadi sudah saya bilang dalam beragama ini yang paling penting adalah panduannya panduan itu bisa kita lihat dari kitab sucinya.”
“Nah kita dalam hal ini kita sekali lagi kita Ingatkan bahwa kita diskusi ilmiah.
“Tidak ada rasa memojokkan ya, tidak ada rasa sentimen atau menjatuhkan kelompok-kelompok tertentu, tidak!!!…., tetapi kita dalam hal ini dalam hal kajian, ini kita akan mengupas soal kitab suci ini untuk pembelajaran kaum muslim, supaya apa?, pesan saya kepada umat muslim, “Supaya kuat imannya, kuat akidahnya, pertahankan Iman anda, dan untuk saudaraku yang masih di luar sana terutama yang imannya saat ini masih agak goncang-goncang sedikit, Insyaallah Saya doakan Anda mau masuk Islam” dan pada malam hari ini kita akan membahas soal Kitab suci Kristen yaitu masalah denom ini.”
“Pak Ali, bagaimana ini menurut anda mengenai hal ini?”
“Terima kasih Pak Edi Prayitno yang sudah menanti berapa lama yang tadi untuk kajian kita Perdana di pekan ini, mudah-mudahan Pak Edi tadi menunggu saya tidak terlalu lama tapi mungkin ada berkah pada malam ini.”
Baik diskusi kita pada pekan ini berbicara mengenai masalah Kanonisasi atau Patokan panduan mengenai kitab suci.
Kalau kita bicara agama, apapun agama yang ada di dunia ini, itu sangat banyak sebenarnya, bukan hanya rumpun agama ibrahimiyah yang kita kenal ya ini, Yahudi, Kristen dan Islam tapi juga ada rumpun agama Arya misalnya Hindu, Budha, Zoroaster, Jain dan lain sebagainya hampir dikatakan semua agama itu pasti mengenal KITAB SUCI ATAU BUKU PANDUAN yang disebut kitab suci.
Nah…, persoalannya kitab suci itu sesuatu yang sangat disakralkan sesuatu yang dipandang sebagai pewahyuan konkrit yang sifatnya Ilahi, Jadi apa yang ada di semua agama kitab suci itu pasti sacral, Itulah sebabnya sangat dihormati oleh masing-masing agama. Nah…, diskusi kita malam ini bicara mengenai Kitab suci Kristen.
Kalau kita mendengar istilah Kitab suci Kristen dalam bahasa yang kita kenal di Indonesia itu disebut dengan istilah Alkitab. betul ya?. Kalau di negara-negara Eropa misalnya yang menuturkan dalam bahasa Inggris mereka menyebutnya The holy Bible kemudian kalau di Timur Tengah saudara-saudara kita kaum Kristiani menyebut kitab sucinya dengan istilah Alkitabul Muqaddas kalau kita mendengar dua atau tiga istilah yang tadi saya sebut Alkitab, kemudian Alkitabul Muqaddas, Kemudian The Holy Bibel, kira-kira…,Apakah ini memang kitab suci yang disepakati oleh semua denominasi gereja?
Hal itu yang patut kita pertanyakan pada pertemuan ini. Jadi dari sisi nama-nama kitab suci sama di Indonesia disebut Alkitab. Apakah itu Kristen Protestan, Apakah itu Kristen Katolik, Apakah itu Kristen Ortodoks , semua menyebut dengan nama yang seragam yakni Alkitab. Di Timur Tengah ada Kristen Koptik, ada Kristen Armenia, ada Kristen Asiriya, kalau mereka menuturkan dalam bahasa Arab di Timur Tengah selalu menggunakan istilah Alkitabul Muqaddas.
Dari sisi nama sama, tapi lagi-lagi pertanyaannya: “Apakah itu isinya disepakati oleh semua denominasi?, Apakah semua sekte Kristen itu mengakui isinya sama atau berbeda? Nah.., itu problem.
Malam ini saya berikan data atau dokumen dan itu kebiasaan saya ya, untuk supaya kita ini bukan sekedar bicara, berbincang tanpa data, tapi kita harus merujuk pada data.
Nah.., Malam ini saya bawakan misalnya ada yang disebut ya.. The Orthodox Study Bible. Ini jelas Pak Edi bisa baca, Bible ini, berarti alkitab atau kitab suci yang dikenal dalam versi bahasa Inggris dengan istilah Bibel, tetapi ini hanya khusus diimani, diakui secara resmi hanya kelompok Ortodoks. Itupun ini adalah Ortodoks Yunani, The Great Ortodoks, jadi saudara kita kaum Kristen Ortodoks Yunani menggunakan ini sebagai panduan. Ini yang basicnya bahasa Inggris didalamnya ada berbagai daftar kitab suci.
Daftar kitab suci baik itu perjanjian lama ataupun perjanjian baru, tetapi daftar kitab suci ini tidak ada satupun istilah yang disebut Apokrifah… tidak ada…!!!. Jadi semua itu disebut Kanonik. Kenapa disebut kanonik? karena memang itu pewahyuan di inspirasikan oleh Roh Kudus, diwahyukan oleh Tuhan sendiri, jadi tidak ada istilahnya ini merupakan bacaan biasa, seperti kita baca novel. Bukan…!!!, tapi ini Wahyu ,kitab suci dan itu dimulai dari misalnya kitab kejadian, sampai kitab Wahyu.
Tetapi di dalamnya ada misalnya, kitab Makabe Pertama ada kitab Makabe kedua, ada kitab Makabe ketiga. Ada kitab Yudit, ada Kitab Tobit dan lain sebagainya. Jadi ini adalah kitab yang diimani oleh saudara kita kaum Kristen Ortodoks. Misalnya ada kitab Makabe 1, Makabe 2, Makabe 3, ini yang yang Ortodoks .
Kalau yang di Katolik, Kristen-Katolik betul ada kitab Yudit di sini, ada kitab Makabe, tapi hanya Makabe 1 dan Makabe 2, sedangkan Makabe 3 tidak ada di sini. Berarti saudara kita yang menganut agama Kristen-Katolik mengeluarkan atau tidak mengakui kitab Makabe 3 bagian dari kitab suci.
Jadi salah satunya itu: “Mengapa Ortodoks dan Katolik tidak bisa Bersatu?”, karena memang basic kitab sucinya itu berbeda. Ortodoks mengakui pewahyuan kitab Makabe 3, sementara Katolik tidak mengakui kitab Makabe yang ketiga,
“Yang tidak masuk itu hanya Makabe atau ada yang lain?”
Kalau Ortodoks Yunani dan Katolik itu perselisihannya dalam konteks kitab Makabe ini, tapi kalau Ortodoks Ethiopia, Ortodoks Ethiopia itu mengakui kitab Yobel kemudian satu lagi ada kitab Henoh, bagian dari kitab Perjanjian Lama, itu Ortodoks Ethiopia, tetapi Katolik dan Ortodoks Yunani tidak mengakui pewahyuan kitab yang disebut kitab Henoh maupun kitab Yobel, berarti secara kanon memang ada beda, meskipun dari sisi nama kitab suci sama yakni Bible atau Alkitabul Muqaddas atau istilah lain, tapi yang jelas isi berbeda,
Jadi ini kalau dibicarakan dalam konteks kita Perjanjian Lama. Itulah sebabnya penerbitannya otomatis hanya diakui oleh kelompok masing-masing.
Nah…, yang Protestan tentu kita juga tahu ya…
Nah…, kalau di Protestan semua kitab yang tadi saya Sebutkan yaitu kitab Yudit, Kitab Tobit, kemudian kitab Makabe 1, Makabe 2, Makabe 3 dan semuanya itu dalam kitab Kristen Protestan Itu tidak ada semua.
“Itu malah ditolak di sana?” Ditolak…,
“Ditolak Bagaimana?”, kalau ditolak berarti tidak diakui sebagai bagian dari pewahyuan, tidak dimasukkan di dalam kitab ini, dan memang tidak dimasukkan dalam kitab ini, makanya kalau kita lihat yang versi terbitan Lembaga Alkitab Indonesia ya, karena ini dikhususkan untuk Katolik, maka di sini disebut Alkitab, kemudian plus deuterokanonika, ya. Lebih tebal, makanya di sini ada Kitab Tobit kemudian ada kita apalagi ini, kitab Yudit, kemudian ada lagi kitab Tambahan Pada Buku Ester, terus adalagi kitab Kebijaksanaan Salomo.
Biasanya yang kita tahu Kidung Agung ya. Kidung Agung dari Sulaiman/Salomo juga. Tapi di sini ada Kebijaksanaan Salomo, ini bagian dari kitab yang disebut deuterokanonika. Kemudian ada lagi Kitab Sirah, Yesus bin sirah. jadi Yesus itu bukan hanya Yesus dari Nazaret ada juga Yesus yang lain sebelum zaman kelahiran Yesus Putra Mariam, ada Yesus bin Sirah. Disini juga bagian dari kitab suci Katolik. Kemudian ada kitab Barukh. Kitab Barukh, kemudian ada lagi kitab Surat Nabi Yeremia, bukan kitab Yeremia, tapi beda lagi Ini Surat Nabi Yeremia, kemudian Tambahan Pada Buku Daniel. Ini bicara mengenai doa Azaria dan lagu pujian kepada tiga pemuda dan ada kitab Makabe 1, Makabe 2 ini ada Makabe 1 dan ini ada Makabe 2. Makabe 3 tidak ada karena ini kitab Katolik kalau Protestan Makabe 1, Makabe 2 tidak ada semua, kemudian Ortodoks ada Makabe 1, ada Makabe 2, Makabe 3, tapi ini Ortodoks Yunani. Kalau Ortodoks Ethiopia, Makabe 1, Makabe 2, Makabe 3, Makabe 4 plus kitab Yobel dan kitab satunya lagi adalah kitab Henoh, jadi lebih tebal.
Nah…, bayangkan ya Pak Edi ini…. ya lihat ini….. ini setebal ini…. ini tidak ada di dalam Kitab Kristen-Protestan, tapi Katolik ini bagian dari Wahyu. Ini bukan sekedar catatan biasa, ini adalah bagian dari pewahyuan dan itu sifatnya Ilahi. Jadi kalau dikatakan ini adalah sekedar bacaan biasa, boleh dibaca sejarah, buku Sejarah bukan sekedar buku sejarah, tapi ini memang Wahyu dari Tuhan dan Itulah sebabnya masuk dalam kanon, sedangkan Protestan menolaknya ya itu kalau sekilas bicara mengenai kanon khususnya Perjanjian Lama.
“Sebentar Pak Ali, untuk Yesus dari mana tadi…..? Yesus bin Sirah, itu cerita, maksudnya Yesus berbeda atau yang sama ini?.”
Ini bukan bicara mengenai Yesus Kristus… bukan….
Ini nama orang yang kebetulan namanya sama dengan Yesus, tapi ini hidup di zaman yang berbeda pada masa Inter Testamental. Beda orang, beda zaman, beda nasab. ya kalau Yesus bin Sirah jelas itu merujuk pada tokoh yang bernama sirah, sementara kalau Yesus dari Nazaret itu putra dari Yosef, Putra adopsi menurut saudara kita yang Kristen.
“Jadi ini menarik ya saudara-saudaraku…., jadi Bible atau kitab suci yang dipegang oleh umat Kristen saat ini ternyata tidak sama Ya…., tidak sama, antara tadi udah diceritakan antara Ortodoks, antara Katolik bahkan antara Protestan. sebetulnya ada pecahan-pecahan lagi yang kecil Ya…. seperti kelompok hormone, kelompok nesyane, kelompok sesiova ya.., udah beda-beda lagi meskipun itu, dia merubah-rubah terjemahan atau apa ya…, tapi yang jelas Pak Ali tadi udah ceritakan ada perbedaan dari 3 kelompok besar. 3 kelompok besar yaitu antara Ortodoks, Katolik dan Protestan.”
“Nah…, ini yang jadi pertanyaan orang awam ini Pak Ali tentunya….”
“Kitab suci itu sebetulnya Siapa yang bisa menentukan? ini kamu.. kitab ini, ini tidak masuk, ini masuk, atau tidak?, waktu itu bagaimana ya? cara pemisahannya itu ya?…”
Kalau dibahas secara sederhana itu melalui Konsili. Jadi Konsili itu yang menentukan kanon kitab suci, jadi Apakah Teks itu dianggap Wahyu atau bukan di inspirasikan oleh Roh Kudus atau bukan, dianggap sebagai bagian yang suci atau bukan, yang menentukan adalah Konsili dan Konsil itu adalah kumpulan para Bishok (Uskup, Kardinal, Abas, dan Para Doktor Teologi) yang tentu saja itu diketahui oleh semua yang pernah belajar sejarah gereja, jadi bapak-bapak gereja, baik itu generasi apostolik, maupun generasi paktristik, itu sebenarnya tidak ada hubungannya dengan versi kita (umat islam) memahami dalam konteks misalnya generasi sahaba,t generasi tabiin dan generasi tabiu-tabiin.
Tapi memang, ada kemiripan. Kemiripannya di mana?
Nah…, kalau saya boleh cerita sedikit begini;
Kalau bicara mengenai Alquranul Karim, Ya tentu saja ini adalah kitab suci umat Islam. Kalau kitab suci umat Islam meyakini Quran itu, maka umat Islam memang ada beberapa macam denomisasi ada beberapa macam mazhab, tetapi mengenai kitab sucinya namanya sama yakni Alquranul Karim, kemudian isinya itu sama, mulai dari surah Al-Fatihah sampai surah An-Naas, terdiri atas 114 Surah, dan itu sudah dibicarakan bersama-sama pada masa generasi sahabat, dan diterima secara aklamasi, diterima secara universal, sejak abad ke-7 masehi sampai abad sekarang 21 masehi. Ini kalau bicara Alquran, tapi kalau bicara Alkitab, Apakah sejak awal hingga sekarang, yakni abad 21 kalau sejak awal itu maksudnya satu masehi, ini sekarang abad 21, Apakah sudah selesai kanonisasi itu?, tidak ada perdebatan faktanya ada perdebatan dan tidak diakui satu dengan yang lain , dan itu, dari Konsili.
Saya ambil contoh yang sederhana saja. Konsili Trente menetapkan daftar Kanon kitab suci, baik itu perjanjian lama maupun perjanjian baru, mana saja yang disebut kitab suci? dan mana saja yang bukan disebut sebagai kitab suci? itu tahun berapa Pak?… Itu tahun 1546 masehi Kalau tidak salah. Nah…, 1546 masehi itu ditetapkan. Kenapa ditetapkan? sebetulnya penetapan itu sejak awal, tapi ini hanya ditegaskan ulang, Kenapa? karena ada satu orang, yang saya sebut dengan istilah Mantan Romo, kalau mantan Romo itu berarti dari Katolik atau bukan?, ya. Mantan Romo ini menetapkan kanon sendiri, menetapkan kanon sendiri yang berbeda dengan kanon sebelumnya. Nah yang dimaksud Mantan Romo itu dkenal namanya sebagai Martin Luther.
Saya tidak sebut sebagai tokoh pembaharu Ya.., tapi saya sebut sebagai mantan Romo Katolik. Tetapi ini memang tidak diakui di kalangan Gereja Katolik karena sudah dianggap keluar dari gereja Katolik. Makanya disebut Mantan Romo atau X Romo Katolik yang bernama Martin Luther, dia menetapkan kanon sendiri.
“Apa buktinya penetapan kanon sendiri?”
Ini saya bawakan data, ini Alkitab dalam bahasa Jerman, ini Alkitab dalam bahasa Jerman dan ini buku kuno, saya dapat hadiah dari orang yang punya belas kasih kepada saya, kalau Bahasa lainya ini (pemberian) Tidak Ternilai. Ini hadiah dari seseorang yang tinggal di Stuttgart Jerman dan dia mengirimkan ini langsung dari sana ke Indonesia dan ini memang ada berkahnya kenapa karena ini diterbitkan tahun 1915.
1915 penerbitnya dari kota Berlin. Judulnya Die Bibel Heilige Schrift jadi ini Alkitab Ya kalau dalam bahasa Jerman disebut Bibel kalau dalam bahasa Inggris disebut Bible. Tapi maksudnya sama, nah…, menariknya Pak Edi, ini masih tercatat dengan nama apa Martin luthers, masih tercatat berarti ini adalah versi yang dulu ditetapkan oleh Martin Luther. Oke…. meskipun Martin Luther itu meninggal tahun 1546 masehi sebelum beliau meninggal, sudah ada penetapan kanon resmi dari gereja Katolik menegaskan lagi bahwa yang sah disebut sebagai pewahyuan daftar kitab sucinya apa saja, nah…, ternyata Martin Luther pembangkang, menolak.
Yang ditolak apa?. yang ditolak itu adalah kitab suci yang kemudian dinamakan apokrifah. Coba lihat ya di sini di sini ada namanya apokrifah sebentar.
Nah… itu di apocryphen, saya tanya sekarang kepada Pak Edi.
Kenapa disebut die apocryphen dan itu diletakkan di tengah? ..
ya di tengah ya bukan di tengah sebetulnya…… di belakang….. setelah yang ini yang dianggap Wahyu mulai dari kitab Kejadian sampai kitab Malaikhi, itu dianggap Wahyu. Ssementara kitab Yudit, kitab Barukh, kitab Makabe, kemudian Kitab Yesus bin sirah, itu masuk apokrifah pertanyaannya kalau disebut apokrifah itu Wahyu atau bukan? Bukan wahyu…
Makanya diletakkan di bagian belakang. Makanya disini daftarnya nama-nama kitab.
Kitab Yudit, Kitab Kebijaksanaan Salomo, Kitab Togyit, kemudian kitab Yesus bin Sirah, Kitab Barukh, dan seterusnya dan seterusnya. Ini diletakkan di bagian akhir setelah Perjanjian Lama, berarti nggak diakui
ini ada perjanjian baru? Belum.., saya belum bicara kesitu ya…
Jadi kalau menurut Katolik itu tidak diletakkan di bagian akhir tapi diletakkan di bagian perbagian dari antara kitab-kitab suci, tapi ini dipisahkan.
Nah.., bagaimana dengan perjanjian baru?
Perjanjian Baru…, ternyata menurut Martin Luther ada bagian-bagian perjanjian baru yang tidak layak disebut sebagai kitab suci. Itulah sebabnya dia letakkan di bagian akhir.
Mau tahu?…,
ini menarik…, ini soalnya, Martin Luther itu adalah bapak yang sering digembar-gemborkan pencipta, pendiri dari kelompok Protestan. Jadi kalau Martin Luther sendiri sudah menentukan kitab sucinya, ini harusnya diikuti oleh kelompok Protestan harusnya sampai hari ini Pak Ali? tetapi ternyata kan, kemungkinan ya mungkin pak Ali nanti bisa ceritakan, Apakah kitab suci yang dipegang oleh teman-teman Protestan saat ini itu sama dengan kitab suci dari si bapak Martin Luther ini?. karena beliau adalah pendiri dari kelompok gereja-gereja Protestan.
Ini bagaimana Pak Ali?
Nah…, kalau tadi yang kitab-kitab Perjanjian Lama, yang sebetulnya itu diakui dalam tradisi Katolik sebagai Wahyu, tapi kemudian beberapa bagian itu disingkirkan, diletakkan di bagian akhir dan disebut sebagai apokrifah, sementara untuk yang perjanjian baru itu ada beberapa bagian yang disingkirkan, diletakkan bagian akhir salah satu contohnya pertama kitab yang disebut dengan istilah surat Ibrani. Surat Ibrani diletakkan di bagian akhir, kemudian setelah surat Ibrani, baru kemudian surat Yakobus, surat Yakobus juga nggak diakui. kemudian surat Yudas tidak diakui, kemudian yang terakhir adalah wahyu kepada Yohanes.
Jadi ada 4 bagian yang diletakkan dia bagian akhir.
Pertanyaannya sekarang, kalau susunan Alkitab yang Perjanjian Baru lihat, yang bagian akhir 4 bagian akhir itu kan bukan kitab Ibrani ya kan, kalau Ibrani itu kan sebetulnya terletak Setelah dari Surat Paulus kepada Timotius, baru kemudian surat Titus, baru kemudian surat Ibrani. Surat Ibrani letaknya bukan di situ tapi di bagian belakang, diletakkan di bagian belakang Karena Apa? tidak diakui 4 kitab ini.
Surat Ibrani, surat Yakobus, surat Yudas, dan Wahyu kepada Yohanes, diletakkan di bagian akhir, maksudnya tidak diakui itu apa ? ya tidak diakui Tidak Dianggap Wahyu, untuk bacaan saja, tetapi bukan diimani sebagai Wahyu berarti kitab Wahyu yang yang diakui oleh orang-orang Kristen saat ini apakah itu bukan Wahyu? bukan bagian dari sesuatu yang diilhamkan tapi memang itu hanya merupakan sebuah bacaan biasa, (Marthin Luther), bacaan biasa. jadi seharusnya surat Ibrani itu kalau yang kita jumpai secara umum sebagaimana ketetapan Konsili gereja.
Bagian yang terletak dari Surat Paulus kepada Titus, baru kemudian Ibrani, tapi ini nggak di situ letaknya tapi di belakang, di belakang setelah surat Yohanes. Jadi surat Yohanes 1, surat Yohanes 2, surat Yohanes 3, ini yang terakhir baru kemudian yang dianggap bacaan biasa itu surat Ibrani, kemudian surat Yakobus, surat Yudas, dan wahyu kepada Yohanes itu tapi hanya bacaan biasa.
Ini menarik, soalnya bapak Martin Luther itu adalah pendiri dari gereja Protestan. Jadi kalau tadi Ustadz Ali sudah menceritakan. ternyata Kitab Wahyu yang biasanya dipakai untuk nubuatan-nubuatan itu ternyata menurut Bapak Martin Luther itu bukan termasuk Kitab Wahyu kalau bukan yang diilhamkan bukan jadi ilhamkan dari Wahyu, Maka itu adalah catatan biasa. Catatan biasa, tapi ada sesuatu yang bisa dijawab
“Kenapa Martin Luther mengeluarkan surat Ibrani dari Kanon kitab suci perjanjian baru?”
Mengeluarkan ya makanya diletakkan di bagian belakang Kenapa? Karena surat Ibrani itu Ada kemiripan dengan Kitab Yesus bin sirah isinya.
Isinya ada kemiripan dengan Kitab Yesus bin sirah. Sementara Kitab Yesus bin sirah itu juga dikeluarkan dari perjanjian lama oleh Martin Luther, tetapi oleh saudara kita Ortodoks maupun yang Katolik, Kitab Yesus bin sirah itu bagian dari Wahyu, makanya surah Ibrani juga bagian dari Wahyu karena memang ada koneksitas diantara dua kitab itu.
Contoh yang lain
“Kenapa Martin Luther itu mengeluarkan surat Yudas bagian dari Wahyu dari kitab perjanjian baru?”
Alasannya sederhana karena surat-surat Yudas itu isinya itu ada koneksitas atau hubungan dengan kitab kebijaksanaan Salomo. Sedangkan kitab kebijaksanaan Salomo sudah dikeluarkan oleh Martin Luther bukan bagian dari wahyunya.
Jadi ringkasnya sederhana Pak Edi; kalau menurut Ortodokss ,Kristen Ortodoks dan Kristen Katolik, kitab deuterokanonica namanya saja deuterokanonika artinya Kanon kedua, tapi bukan dalam makna itu sesuatu yang levelnya rendah bukan, itu Kanon kedua karena naskah aslinya zaman itu hanya ditemukan teks yunaninya. Sementara kalau disebut Protokanonica, kitab kejadian, Kitab Keluaran, teks ibraninya masih ada, tapi setelah ditemukan The Dead Asea Scrolls / Naskah-naskah Laut Mati, ternyata kitab Yudit, kemudian kitab Tbit, kitab yang disebut deuteurkanonica itu, teks Ibraninya ternyata ditemukan.
Makanya peristilahan itu hanya untuk penyebutan saja, penyebutan ini Protokanonica ini deuterokanonika, ini Kanon pertama, ini Kanon kedua. Kanon pertama ada teks ibraninya, plus ada yunaninya, Kanon yang disebut Deutarokanonica hanya ditemukan yunaninya, yang Ibrani masih belum ditemukan zaman itu. Tapi sekarang sudah ditemukan, hanya pembedaan saja. Nah…, kitab Deutarokanonica ini Ternyata dianggap Aprokrif oleh saudara kita yang Protestan dan itu dipelopori oleh Martin Luther sebenarnya, makanya diletakkan di bagian belakang. Deutarokanonica Perjanjian Lama, Deutarokanonica Perjanjian Baru, yang empat teks tadi yakni surat Ibrani, surat Yakobus, surat Yudas, dan Wahyu Yohanes, itu dianggap sebagai Aprokrif juga oleh Martin Luther. Itulah sebabnya saudara kita kaum Kristen Katolik menyebutnya sebagai Deuterokanonica perjanjian baru.
Ada masalah begini, Saya pernah dialog dengan Katolik saudara kita dari Katolik :
Ada semacam apa ya… pernyataan begini….
Kalau seandainya Martin Luther itu konsisten, kalau konsisten maka seharusnya itu kalau disebut Deuterokanonika oleh Katolik, Marthin Luther menyebutnya sebagai Aprocrif, tapi Martin Luther ketika menyebut empat seks tadi, itu memang secara masif belum menyatakan dalam arti sebagai teks yang pseudo/ palsu nggak menyatakan dengan istilah pseudo, tapi menyatakan sebagai aprocrif saja, secara harfiah tersembunyi.
Ini ada beberapa istilah mungkin untuk yang kalangan awam, ini masih bingung ini, Apa itu aprocrif ?, Apa itu Deuterokanonika?, mungkin dijelaskan singkat ya….
Kalau Kanon itu sesuatu yang dianggap Wahyu, sesuai dengan ukurannya. Wahyu sesuai dengan penetapan gereja, sesuai konsili geraja, itu Wahyu.
Tapi tetap aja itu yang menentukan manusia?, yang menentukan itu Konsili.
Bahasa kita ini, bisa disebut Rapat Akbar. Rapat Akbar karena ini dianggap memang ini ada sesuatu yang sifatnya Ilahi. Jadi bukan dalam arti seperti dalam Islam itu ya, kalau ini cara-cara memahaminya memang beda.
Kemudian kalau yang disebut aprocrif secara harfiah itu artinya tersembunyi ,tidak layak dibaca. Tersembunyi, tidak layak dibaca, maksudnya itu memang dianggap sebagai bukan Wahyu, Mungkin bacaan biasa gitu ya? Ya…bacaan biasa, seperti kita membaca novel, “Tapi tetap dimasukkan dalam kitab suci ya?.”
Tapi pada akhirnya dikeluarkan, kita lihat yang versi versi Protestan. Apakah ada di situ dikeluarkan?. Jadi ada tahapan Pak Edi ya…
Tahapan pertama memang diakui sebagai Wahyu, makanya kalau kita lihat yang versi Katolik dan Ortodoks, itu kita misalnya kitab Makabe 1. Kitab Makabe 1 itu terletak setelah kitab Nehemia, baru setelah itu, kitab Makabe 1, kemudian kitab Makabe 2 , setelah kitab Makabe 2, baru kemudian Kitab Nabi Yesaya.
Nah…, kalau di versi Protestan:
Kitab Makabe diletakkan di bagian akhir, di akhir semua.
Di Akhir yang saya sebut tadi. Tapi kalau yang versi Katolik ataupun Ortodoks, di sela-sela dari kitab-kitab perjanjian lama, sesuai dengan urutan masing-masing. Karena dianggap Wahyu, tapi Kemudian pada masa x Romo Katolik yang bernama Martin Luther, itu dikeluarkan. Dikeluarkan, diletakkan di bagian belakang itu tahapan yang kedua, karena dianggap bukan sebagai Wahyu atau aprocrif. tahapan ketiga betul-betul dicabut dari dari kitab suci itu.
Berarti ini saksi sejarah, ini saksi sejarah tahapan kedua, diletakkan di bagian tengah.
Nah…, kalau kita lihat ya, versi terbitan Lembaga Alkitab Indonesia, masih mengikuti cara Luther. Luther meletakkan kitab Deuterokanonika itu di bagian akhir, tapi masih dimasukkan di sini, tapi di bagian akhir, sama seperti Martin Luther. Tapi Lembaga Alkitab Indonesia juga akhirnya mencabut ini dari teks yang dipakai untuk Protestan, jadi diletakkan di akhir artinya apa ini bukan Wahyu bagi Protestan.
Segini Pak…… ini berapa,berapa halaman?….. berapa lembar?…. Wahyu semua loh……
Tapi bagi mereka Protestan, Nggak diakui…!!!!!
Jadi menarik ini ya, menentukan kitab suci yang harusnya itu adalah kitab agama, harusnya kitab itu bersih dari campur tangan manusia, karena apa? Karena kitab… namanya kitab suci itu harusnya murni, itu adalah keseluruhan dari Wahyu. Tetapi setelah kita berbincang tadi dan ini ada bukti-bukti sejarah ,ternyata ada perjalanan beberapa kitab suci yang dianggap ini Wahyu, ini tidak, bahkan dari Martin Luther, kelompok dari kelompok umat Tengah akhirnya memisahkan diri dari Katolik dan dalam perjalanan waktu, kitab yang dinamakan Aprokrif tadi betul-betul diambil, dikeluarin, bahkan di kitab umat Protestan sampai saat ini, tidak menemukan kitab itu, karena saya dulu pernah diprotestan Ya, saya waktu jadi Kristen pun saya tidak pernah baca kitab-kitab semacam itu. Tidak mengenal, tapi di Katolik masih dikenalkan dengan kitab itu.
Jadi ini menarik Pak Ali ya… Bagaimana sebuah kitab suci, apalagi kalau kita membahas kitab Injil, Injil itu kan awal-awalnya juga bukan empat? Ada banyak, ada sekitar 50-an lebih, dan itupun akhirnya dipisah-pisah hanya dalam sebuah Konsili pun ditentukan hanya 4 saja.
Itu nanti ada pembahasan tersendiri….! kalau bicara mengenai ada Injil Kanonik, ada injil Aprokif, Kenapa itu tidak ada sekarang? dan Apakah betul itu dulu pernah dipakai di dalam komunitas gereja tertentu atau tidak? itu pembahasan yang lebih rumit lagi.
Termasuk yang sering dikritik oleh Apologet Kristen, beberapa ayat Alquran, terutama mujizat, yang dilakukan oleh Yesus/Isa itu terdapat di dalam Injil Thomas. Karena mereka hanya mengenal 4 injil saja, akhirnya waktu Alquran mengatakan Nabi Isa atau Yesus bisa membuat lain, Mereka langsung dengan lantangnya ngomong, Wah… itu tidak ada dalam Injil..!!! ya mungkin jalannya kurang jauh kali ya?….
Karena tidak mengenal, Bagaimana kanonisasi, penentuan daftar kitab suci, itu melalui proses yang panjang dan faktanya betul, ini sudah merupakan proses ya, bagaimana awalnya itu termaktub keseluruhan dalam Alkitab, urut-urutannya sebagaimana yang kita lihat dalam versi Katolik, awalnya seperti itu, tapi Kemudian pada masa Luther kitab yang 7 daftar kitab Perjanjian Lama itu diambil. diletakkan di bagian belakang, tapi masih dicetak dan itu saksi sejarah ini sampai pada tahun 1915. Masih ada polanya seperti itu, diletakkan di bagian belakang dari perjanjian lama. Sementara yang tidak diaku yang juga dianggap Aprokif dari perjanjian baru, juga diletakkan di bagian belakang, sama tapi pada akhirnya versi yang terbaru sekarang, bukan hanya diletakkan di bagian belakang, tapi lebih, dicabut, diambil, dikeluarkan, DIKELUARKAN DARI DAFTAR KANON.
Mungkin Pak Ali bisa closing ini untuk percakapan kita pada malam hari ini
Artinya, kalau kita bicara mengenai ukuran pewahyuan, atau standar pewahyuan, bicara mengenai Alquranul Karim sudah final, sudah selesai. Dalam arti sudah disepakati sejak zaman abad ke-7 masehi sampai abad 21, ini semua umat Islam seragam. Dalam arti seragam menerima apa yang telah kita bisa lihat Quran yang kita punya sekarang, tidak ada penolakan satu dengan yang lain.
Tentu saja perjalanan kanonisasinya, Kitab suci Kristen berbeda dengan versi Islam. kalau versi kristen sampai abad 21 ini, mengenai ini Wahyu, atau bukan, ini di ilhamkan, atau tidak di ilhamkan, masih diperdebatkan sampai hari ini. Jelas sebabnya antara Ortodoks, Katolik, dan Protestan tidak bisa bersama-sama, karena memang kitab sucinya memang berbeda, jadi nggak bisa disatukan, bukan penafsirannya yang berbeda, isinya yang berbeda.
Kalau Islam itu hanya penafsirannya yang berbeda, isinya sama, isinya sama 114 surah. Sementara kalau Protestan dan Katolik serta Ortodoks berbeda dalam jumlah daftar kitab suci yang masuk dalam Alkitab itu, berbeda.
Itu masih jumlahnya?… kita belum “ngonceki”
isi di dalamnya, isinya tafsirnya, soalnya nanti pasti akan banyak lagi ini tafsiran antara Ortodoks dengan protestan, ini kitab sucinya, belum nanti siapa yang disembah? bakal seru Nanti…
Tapi insya Allah akan kita bahas di beberapa segmen selanjutnya karena ini adalah kajian kristologi.
Dan sekali lagi kita tidak ada tujuan menghina, tidak ada tujuan untuk merendahkan agama tertentu.
Kita di sini murni untuk kajian ilmiah, kajian ini bukan hanya untuk orang muslim saja, mungkin juga bisa dipakai untuk teman teman dari Kristen. Biar mereka juga mempelajari kitab-kitabnya, karena kebetulan Bapak Ali ini beliau gudangnya ilmu kalau soal kitab-kitab yang asli. Asli semacam ini, kemungkinan ini Bapak Pendeta pun tidak punya ini yang versi Martin Luther, ini versi Martin Luther masih tertulis dengan nama Martin Luther, dan masih dalam bahasa Jerman dan kemungkinan kalau diterjemahkan dalam bahasa Indonesia mungkin bagus sih tapi itu tugasnya teman-teman Kristen.
Kalau dilihat dari aksaranya Pak Edi, coba ini aksaranya masih aksara Jerman yang lama, bukan aksara Latin yang sekarang ini, aksara yang lama ini. Kalau kita Nggak akrab dengan aksara ini sulit membacanya, ini apa ini…? Aksara Jerman yang awal, yang muncul pada abad ke-15 ke-16.
Ini buku yang tidak ada nilainya jadi Alhamdulillah Ini Bapak Ali menemukan buku itu pun juga dari hadiah. Hadiah dari seseorang yang dari Stuttgart Jerman
Terima kasih Pak Ali…
Semoga bisa ditarik manfaat baik itu untuk teman-teman Kristen, atau teman-teman muslim. Yang jelas kita tetap ingin supaya TEMAN-TEMAN BERTAHAN DALAM IMAN ISLAM DAN YANG BELUM MENGENAL ISLAM AYO BELAJAR ISLAM SAYA DOAKAN ANDA MENEMUKAN HIDAYAH dan alhamdulillah kalau anda mau menjadi mualaf
Terima kasih Pak Ali…..
Sama-sama Pak Edi, mudah-mudahan bermanfaat.
Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Baik saudara-saudaraku sekalian dalam tulisan ini kami dari Yayasan Pembina mualaf At Tauhid saat ini sedang membangun pondok pesantren di Jombang, dan insya Allah kita juga masih dalam pembebasan tanah, yang saat ini belum seluruhnya kita beli jadi untuk saudara-saudaraku sekalian yang ingin mewakafkan hartanya baik itu untuk pembebasan lahan ataupun pembangunan masjid
Silahkan anda bisa kirim ke rekening:
Bank SYARIAH INDONESIA
► Kode bank: (451) No Rek: 111-888-9971
► an. YPM At Tauhid Jawa Timur ,
► Bukti transfer dapat dikonfirmasikan ke :
HP/WA +6281235871100 (24 Jam)
Ini banyak sekali terutama mendekati bulan puasa, kita mempunyai banyak sekali program, termasuk kita akan menyewa sebuah ruangan, untuk dijadikan kantor jadi tolong untuk saudara-saudari yang ingin mendukung perjuangan kami, baik itu untuk pembiayaan para mualaf, saat ini YPM At Tauhid banyak sekali membantu para mualaf yang kekurangan, dan biasanya para mualaf ini membutuhkan dana.
Baik itu kebutuhan untuk sehari-hari, untuk makan dan sebagainya, termasuk untuk usaha. Kita punya beberapa tempat untuk usaha mualaf, dikaryakan termasuk pemberian modal, pemberian modal usaha, dan juga untuk program-program yang lain, terutama dari para mualaf pembinaan kita yang ada di luar luar daerah.
Untuk itu saudara-saudaraku sekalian, yang ingin mewakafkan, ingin menyumbangkan harta Anda.
Anda bisa menyalurkan harta Anda, kepada Yayasan kami, Insyaallah kami akan Istiqomah untuk memegang Amanah ini, dan insya Allah sumbangan tersebut akan tersalurkan dengan baik.
Hadanallah Waiyyakum
Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarokatuh.
Blitar 17 April 2025
Kamis Pagi, 10.58
Diruangan tengah, Alhamdulillah bisa lanjut menulis dari apa yang sudah dibincangkan Oleh Ustad Ali dan Ustadz Edi dalam siaran di Graha Muallaf. Penulis ingin lebih dalam mempelajari tentang Kristologi sebagai panduan dan pedoman untuk lebih cinta dan yakin dengan keimanan di Agama Islam ini, dengan mengetahui berbagai macam keilmuan yang luas. Semoga tulisan yang penulis buat ini sebagai bentuk dari apa yang sudah di bicarakan di Channel Youtube Graha Mualaf At Tauhid. Sehingga tidak hanya ditonton saja, namun bagi para pembaca yang ingin membancanya dapat melihat dari apa yang sudah penuis Buat.

