KristologiSejarah

Israel dan Yahudi: Memahami Klaim Nasab dari Perspektif Al-Qur’an dan Kitab Suci Lainnya

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Kajian malam Jumat ini menyambung pembahasan sebelumnya tentang Palestina-Israel, termasuk perebutan makam Syekh Abbad yang diklaim sebagai Rabbi Asi hingga dibelah dua. Kali ini, fokus pada keangkuhan Israel: Siapa Israel dan Yahudi sebenarnya? Apakah klaim tanah warisan Bani Israel valid? Mengapa nasab sering diagungkan hingga menimbulkan konflik? Artikel ini membedah dari Al-Qur’an, Taurat, dan Injil, dengan tamu istimewa Kiai Ahmad Zabidi dari Madura, menekankan netralitas, logika, dan hikmah sejarah yang berulang.

 Variasi Nama dalam Kitab Suci: Satu Tokoh, Berbagai Dialek

Al-Qur’an diturunkan dalam bahasa Arab dengan qira’ah sab’ah, salah satunya riwayah Syu’bah. Contoh: Nama malaikat Jibril. Dalam QS. Al-Baqarah [2]: 98:

 مَنْ كَانَ عَدُوًّا لِلَّهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَرُسُلِهِ وَجِبْرِيلَ وَمِيكَالَ فَإِنَّ اللَّهَ عَدُوٌّ لِلْكَافِرِينَ 

 “Barang siapa yang menjadi musuh Allah, malaikat-malaikat-Nya, rasul-rasul-Nya, Jibril dan Mikail, maka sesungguhnya Allah adalah musuh orang-orang kafir.”

Dalam riwayah Syu’bah: “Jabrail”. Sama seperti dalam bahasa Ibrani: Gabriel. Ini bukan tokoh berbeda, tapi variasi pelafalan antar bahasa. Begitu pula nama nabi: Ibrahim (Abraham), Ismail (Yishmael), Ishak (Yitshak). Dalam QS. Al-Baqarah [2]: 133:

 أَمْ كُنْتُمْ شُهَدَاءَ إِذْ حَضَرَ يَعْقُوبَ الْمَوْتُ إِذْ قَالَ لِبَنِيهِ مَا تَعْبُدُونَ مِنْ بَعْدِي ۖ قَالُوا نَعْبُدُ إِلَٰهَكَ وَإِلَٰهَ آبَائِكَ إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ إِلَٰهًا وَاحِدًا وَنَحْنُ لَهُ مُسْلِمُونَ 

 “Apakah kamu hadir ketika Yakub kedatangan (tanda-tanda) maut, ketika ia berkata kepada anak-anaknya: ‘Apa yang kamu sembah sepeninggalku?’ Mereka menjawab: ‘Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu: Ibrahim, Ismail dan Ishak, (yaitu) Tuhan Yang Maha Esa dan kami berserah diri kepada-Nya’.”

Dalam terjemahan Ibrani Al-Qur’an: Abraham, Yismail, Yishaq. Satu pribadi, beda dialek. Ini membuktikan mata rantai risalah para nabi konsisten antar agama Abrahamik.

 Israel: Gelar Yakub dari Pergelutan dengan Malaikat

Dalam QS. Ali Imran [3]: 93:

 كُلُّ الطَّعَامِ كَانَ حِلًّا لِبَنِي إِسْرَائِيلَ إِلَّا مَا حَرَّمَ إِسْرَائِيلُ عَلَىٰ نَفْسِهِ مِنْ قَبْلِ أَنْ تُنَزَلَ التَّوْرَاةُ ۖ قُلْ فَأْتُوا بِالتَّوْرَاةِ فَاتْلُوهَا إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ 

 “Semua makanan adalah halal bagi Bani Israil, kecuali makanan yang diharamkan oleh Israil atas dirinya sendiri sebelum Taurat diturunkan. Katakanlah: ‘Jika kamu benar, bawalah Taurat itu, lalu bacalah dia’.”

Di sini “Israil” diterjemahkan dengan kurung (Yakub). Ulama sepakat: Israil adalah gelar Yakub. Asal-usulnya dalam Taurat, Kejadian 32:28 (bahasa Ibrani):

 וַיֹּאמֶר לֹא יַעֲקֹב יֵאָמֵר עוֹד שִׁמְךָ כִּי אִם־יִשְׂרָאֵל כִּי־שָׂרִיתָ עִם־אֱלֹהִים וְעִם־אֲנָשִׁים וַתּוּכָל 

 “Namamu tidak akan disebut lagi Yakub, melainkan Israel: sebab engkau telah bergumul melawan Allah dan manusia, dan engkau menang.”

Yakub bergelut dengan malaikat Tuhan (mal’akh Elohim), bukan Tuhan langsung. “Israel” berarti “bergumul dengan Tuhan” (yisra-El). Dalam tradisi Yahudi, ini pergelutan fisik, mirip nama Gaza (perang). Al-Qur’an sebut “Israil” hanya 2 kali, “Yakub” 16 kali, “Bani Israil” puluhan kali. “Bani Israil”: nasab (keturunan). “Yahud”: millah/ideologi (penganut Yudaisme, dari suku Yehuda).

 Klaim Keangkuhan Yahudi: Anak Allah dan Kekasih-Nya

Dalam QS. Al-Maidah [5]: 18:

 وَقَالَتِ الْيَهُودُ وَالنَّصَارَىٰ نَحْنُ أَبْنَاءُ اللَّهِ وَأَحِبَّاؤُهُ ۚ قُلْ فَلِمَ يُعَذِّبُكُمْ بِذُنُوبِكُمْ ۖ بَلْ أَنْتُمْ بَشَرٌ مِمَّنْ خَلَقَ ۚ يَغْفِرُ لِمَنْ يَشَاءُ وَيُعَذِّبُ مَنْ يَشَاءُ ۚ وَلِلَّهِ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا ۖ وَإِلَيْهِ الْمَصِيرُ 

 “Orang-orang Yahudi dan Nasrani berkata: ‘Kami adalah anak-anak Allah dan kekasih-kekasih-Nya’. Katakanlah: ‘Maka mengapa Allah menyiksa kamu karena dosa-dosamu?’ Sebenarnya kamu adalah manusia (biasa) di antara orang-orang yang diciptakan-Nya.”

Mereka klaim “abnaullah wa ahibba’uh” (anak Allah dan kekasih-Nya). “Ahibba” jamak dari “habib”. Klaim modern: “Anahnu kullam mizra Abraham” (darah Abraham mengalir di kami). Padahal Yahudi dari suku Yehuda (1 dari 12 suku Yakub). QS. Al-Baqarah [2]: 80:

 وَقَالُوا لَنْ تَمَسَّنَا النَّارُ إِلَّا أَيَّامًا مَعْدُودَاتٍ ۚ قُلْ أَتَّخَذْتُمْ عِنْدَ اللَّهِ عَهْدًا فَلَنْ يُخْلِفَ اللَّهُ عَهْدَهُ ۖ أَمْ تَقُولُونَ عَلَى اللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ 

 “Mereka berkata: ‘Api neraka tidak akan menyentuh kami kecuali beberapa hari saja’. Katakanlah: ‘Apakah kamu telah menerima janji dari Allah, maka Allah tidak akan memungkiri janji-Nya, ataukah kamu mengatakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui?'”

Klaim api neraka hanya “beberapa hari” karena status “suci”.

 Kritik dari Para Nabi dan Ulama

Yesus (Nabi Isa) dalam Injil Matius 3:9 (Yohanes Pembaptis/Nabi Yahya):

 “Janganlah berkata dalam hatimu: Abraham adalah bapa kami! Karena aku berkata kepadamu: Allah dapat menjadikan anak-anak bagi Abraham dari batu-batu ini.”

Sindiran terhadap sombong nasab. Perumpamaan Orang Samaria Baik Hati (Lukas 10): Yahudi terhormat abaikan korban, Samaria (dihina) tolong. Al-Qur’an: QS. Al-Hujurat [49]: 13:

 إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ 

 “Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah yang paling bertakwa.”

Imam Al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin kritik sombong nasab, termasuk Alawiyin (keturunan Ali bin Abi Thalib). Bukan spesifik Ba’alawi (keturunan Ubaidillah), tapi umum. Nasab qat’i (pasti via DNA), ideologi abstrak. Jangan campur: luruskan nasab bukan hina, tapi apresiasi kebenaran.

 Israel Modern: Ashkenazi Bukan Keturunan Yakub

Israel sekarang dikuasai Yahudi Ashkenazi (pendatang Eropa, suku ke-13 di luar 12 suku Israil, dari Yafet bukan Sem). Mereka tolak Yahudi Falasha (kulit hitam, keturunan Sulaiman-Ratu Balqis) karena “mencemari darah”. Mirip Hitler: bangsa Arya uber alles. Klaim Yerusalem dari Sulaiman, tapi lupa pendiri awal: Shem bin Nuh (Melkisedek). Perebutan makam (Syekh Abbad jadi Rabbi Asi) mirip duplikasi makam wali di Indonesia. Sejarah berulang: klaim ideologis untuk kuasai tanah, ekonomi, dan narasi.

 Kesimpulan: Nasab Bukan Jaminan Surga, Takwa yang Utama

Israel/Yakub satu tokoh, Bani Israil nasab, Yahud ideologi. Klaim sombong nasab ditolak para nabi: Yahya, Isa, Muhammad SAW, hingga Al-Ghazali. Netralitas pikiran untuk logika objektif. Sejarah berulang: jangan lupa, ambil hikmah. Surga hak prerogatif Allah, bukan warisan darah. Bahkan pelacur masuk surga karena kasih sayang pada anjing; paman Nabi masuk neraka meski nasab dekat.

Islam rahmatan lil alamin: dialog terbuka dengan semua, jaga akidah dari radikalisme. Donasi untuk Graha Mualaf: Bangun masjid dan pesantren di Wonosalam, Jombang. Rekening BSI: 1118889971.

Semoga mencerahkan. Jangan sombong nasab, fokus takwa. Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Silahkan bagikan di :