Wacana Nasab Ba’alawi dan Refleksi Akademik
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Selamat malam, pemirsa setia channel Graha Mualaf, bersama Edi Prayitno dan Menachem Ali Official. Kali ini, live kita bukan malam Jumat, tetapi malam Sabtu karena ada kendala teknis. Bersama kita, seperti biasa, Ustadz Menachem Ali. Assalamualaikum, Ustadz.
Ustadz Menachem Ali: Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh.
Edi: Menyambung pembahasan minggu lalu soal guncangan wacana nasab, sepertinya belum ada titik temu final. Masing-masing kubu masih saling klaim, saling tuduh, bahkan ada yang menyebut tokoh tertentu sebagai fiktif. Bagaimana pandangan Ustadz?
Ustadz Menachem Ali: Diskursus nasab ini memang memanas, terutama di media sosial, dengan dua kubu yang saling berhadapan: Robithoh Alawiyah dan pendukung tesis Kyai Haji Imaduddin. Robithoh mengklaim Imam Ubaidillah sebagai tokoh historis, dengan nasab tersambung ke Rasulullah SAW melalui Sayyidina Husein. Sebaliknya, pihak kontra, termasuk Tengku Qari dari Aceh, menyebut Ubaidillah sebagai tokoh fiktif karena absennya catatan selama 500 tahun (abad ke-4 hingga awal abad ke-8 Hijriah) dalam kitab-kitab nasab awal.
Ada tiga wacana utama:
- Tokoh fiktif: Ubaidillah tidak pernah ada, seperti diklaim pihak kontra, karena tidak ada catatan dalam kitab nasab generasi awal (abad ke-4 hingga ke-8 Hijriah).
- Tokoh historis, tetapi tidak tercatat awal: Robithoh Alawiyah berpendapat Ubaidillah adalah tokoh historis, meski catatannya baru muncul belakangan, seperti pada masa Habib Ali Asyakran.
- Tokoh historis melalui jalur perempuan: Ada kemungkinan Ubaidillah adalah anak mantu dari Ahmad al-Muhajir, yang nasabnya tersambung melalui anak perempuan Ahmad, tetapi tidak tercatat karena tradisi Timur Tengah kerap mengesampingkan perempuan dalam silsilah.
Edi: Menarik, Ustadz. Bisa dijelaskan lebih lanjut soal opsi ketiga ini?
Ustadz Menachem Ali: Opsi ketiga ini merujuk pada tradisi penulisan nasab di Yaman, yang dipengaruhi budaya Kekristenan Arab (Ortodoks Koptik) dan tradisi Timur Tengah. Dalam tradisi ini, nasab perempuan sering digantikan oleh nama suami atau menantu. Contohnya, dalam Injil Lukas 3:23-24 (versi Arab), Nabi Isa AS dinisbahkan sebagai “putra Yusuf bin Heli,” padahal Heli adalah ayah Maryam, dan Yusuf adalah menantu. Maryam tidak disebut, digantikan oleh Yusuf sebagai anak mantu.
Ini mirip dengan kemungkinan di nasab Ba’alawi. Ahmad al-Muhajir mungkin punya anak perempuan yang menikah dengan Ubaidillah, dan nama Ubaidillah kemudian dicatat sebagai penerus nasab. Namun, karena tradisi Timur Tengah mengutamakan laki-laki, anak perempuan sering tidak dicatat. Contoh lain, dalam silsilah Nabi Yakub AS, anak perempuannya, Dina, tidak dicatat, hanya 12 anak laki-laki yang disebut, meski total anaknya 13. Begitu pula dengan anak Ismail AS; Betsemet (perempuan) tidak disebut dalam daftar 12 anak laki-laki (Kejadian 25:13-16).
Edi: Jadi, ini terkait tradisi penulisan nasab di Yaman?
Ustadz Menachem Ali: Betul. Kitab As-Suluk fi Thabaqatil Ulama wal Muluk karya Bahauddin Abu Abdillah Muhammad bin Yusuf bin Ya’qub al-Janadi al-Yamani as-Syafi’i (w. 730-732 H/abad ke-8 Hijriah, sekitar abad ke-14 Masehi) adalah sumber awal yang menyebut Abdullah bin Ahmad al-Muhajir sebagai bagian nasab Ba’alawi. Kitab ini bukan khusus nasab, tetapi sejarah ulama dan raja di Yaman, termasuk fuqaha dari klan Ba’alawi seperti Ali bin Ba’alawi dan Abdullah bin Alawi. Namun, ada dua versi manuskrip As-Suluk (terbitan Sana’a dan Darul Minhaj), dengan sedikit perbedaan, yang perlu dikaji lebih lanjut untuk memastikan apakah nama-nama ini otentik atau tambahan muhakkik (editor).
Tradisi Yaman, dipengaruhi Kekristenan Arab dan budaya Ethiopia, memperbolehkan anak mantu masuk silsilah. Ini terlihat dari dialek Yaman, di mana huruf qaf bergeser jadi g (misalnya mustaqim jadi mustagim, qamis jadi gamis), dan penulisan nasab yang fleksibel. Misalnya, Surah Al-Fil menyebut gajah, yang berasal dari Ethiopia melalui Teluk Aden, menunjukkan koneksi Yaman dengan Afrika Timur.
Edi: Apakah ada dokumen penguat untuk opsi ketiga ini?
Ustadz Menachem Ali: Sayangnya, dokumen awal (abad ke-4 hingga ke-8 Hijriah) tidak menyebut anak perempuan Ahmad al-Muhajir, juga tidak menyebut Ubaidillah. Ini jadi tantangan. Kitab seperti Al-Majdi karya Al-Umari menyebut anak laki-laki Muhammad bin Muhammad al-Akbar (Ibrahim, Ali, dan Ishak), tetapi Ishak punya anak perempuan yang tidak dicatat di semua dokumen. Fahrurrazi dalam Asy-Syajarah al-Mubarakah juga tidak menyebut anak perempuan Ishak. Jadi, hipotesis anak perempuan Ahmad al-Muhajir perlu kajian intensif dengan dokumen-dokumen belakangan.
Edi: Ada yang menuduh Ustadz Wahabi karena netral. Bagaimana tanggapannya?
Ustadz Menachem Ali: Tuduhan seperti Wahabi atau lainnya tidak berdasar. Keilmuan harus berbasis data, bukan emosi atau sektarianisme. Kita tidak pro atau kontra kubu manapun. Tiga wacana ini—tokoh fiktif, tokoh historis tanpa catatan awal, atau tokoh historis via anak perempuan—adalah PR besar. Kita butuh data sahih, bukan tuduhan. Misalnya, argumen “hanya dua generasi ke atas” untuk nasab (suhrah wal istifadah) juga bermasalah karena tidak jelas ukuran “dua masa” itu.
Edi: Apa harapan ke depan?
Ustadz Menachem Ali: Saya harap dalam 6 bulan ke depan, saat pertemuan akbar berikutnya, diskusi dilakukan secara akademik, berbasis data, bukan saling tuduh atau framing. Kita harus terbuka pada semua dokumen, baik yang kita sukai maupun tidak, seperti tradisi dialog dengan non-Muslim yang mengungkap kebenaran meski disembunyikan. Kebenaran akan bersuara, bahkan di tempat tersunyi.
Edi: Terima kasih, Ustadz. Kami juga mengajak pemirsa mendukung pembangunan Masjid dan Pondok Pesantren At-Tauhid di Wonosalam, Jombang. Donasi dapat dikirim ke Bank Syariah Indonesia nomor 111889971 atas nama Yayasan Pembina Mualaf Jawa Timur (YPM Jatim). Pembangunan masih berjalan bertahap karena dana terbatas. Semoga kajian ini bermanfaat, dan kita nantikan pertemuan berikutnya. Wabillahi taufiq wal hidayah, wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

