Kristologi

Isa Al-Masih dan Yesus Kristus: Satu Tokoh dalam Perspektif Islam dan Kristen – Analisis Kebijakan, Bahasa, dan Teologi

Pendahuluan

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Dalam kajian malam Jumat di channel Edi Prayitno, Menachem Ali dan Graha Mualaf, pembahasan kali ini melanjutkan tema sebelumnya pasca-Natal dan Tahun Baru, fokus pada sosok Isa Al-Masih dalam Al-Qur’an dan Yesus Kristus dalam Alkitab. Kajian ini merespons kebijakan Menteri Agama Indonesia yang mengganti istilah “Isa Al-Masih” menjadi “Yesus Kristus” dalam penamaan hari libur nasional, seperti Wafat Yesus Kristus dan Kenaikan Yesus Kristus. Berdasarkan pencarian terkini, kebijakan ini diusulkan pada September 2023 oleh Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas dan diresmikan melalui Keppres Nomor 8 Tahun 2024 oleh Presiden Jokowi pada Januari 2024, atas usulan umat Kristen untuk menyesuaikan dengan keyakinan mereka .

Kajian ini menekankan bahwa perbedaan nama bukan berarti tokoh berbeda, melainkan varian bahasa. Dengan pendekatan akademik, kita akan bahas perspektif Kristen (dari Alkitab berbagai bahasa), Islam (dari Al-Qur’an), serta kesamaan akar teologi, tanpa mengabaikan perbedaan iman.

Perspektif Kristen: Isa Al-Masih sebagai Nama Alternatif Yesus Kristus

Dalam tradisi Kristen Indonesia, nama “Isa Al-Masih” tidak asing dan sering digunakan sebagai padanan “Yesus Kristus”. Lembaga Alkitab Indonesia (LAI) menerbitkan “Kitab Suci Injil Isa Al-Masih yang Diilhamkan kepada Sahabat-sahabatnya” pada tahun 2000, yang merupakan Perjanjian Baru. Buku ini menunjukkan bahwa “Isa Al-Masih” merujuk pada sosok yang sama dengan Yesus Kristus.

Contoh dari Injil Matius 1:1 (versi Yunani: “Biblos geneseōs Iēsou Christou huiou Dauid huiou Abraam”) diterjemahkan dalam edisi LAI sebagai: “Inilah silsilah Isa Al-Masih, anak Daud, anak Abraham.” Ini membuktikan kesetaraan nama dalam konteks Kristen.

Bahkan dalam terjemahan Alkitab bahasa daerah Indonesia (seperti Bugis, Mandar, Banjar, Aceh, Minang, Madura), nama “Isa Al-Masih” digunakan. Sejak pra-kemerdekaan (sebelum 1945), misionaris seperti Leidecker dan Shellabear menggunakan “Isa Al-Masih” dalam terjemahan Melayu. Kebijakan penggantian nama di hari libur dianggap sebagai win-win solution untuk menghindari kebingungan, meski bagi akademisi Kristen, kedua nama merujuk pada tokoh yang sama.

Perspektif Islam: Isa Al-Masih sebagai Yeshua dalam Terjemahan Ibrani

Al-Qur’an menggunakan “Isa Al-Masih” secara konsisten, tapi terjemahan ke bahasa lain menunjukkan kesetaraan dengan “Yeshua” atau “Yesus”. Dalam Al-Qur’an berbahasa Ibrani (terbitan Palestina, seperti dari Dar Assalam), Surah Maryam 19:33-34 menggunakan “Yeshua ben Miryam” untuk “Isa ibnu Maryam”.

Teks Arab (QS. Maryam: 19:33): وَالسَّلَامُ عَلَيَّ يَوْمَ وُلِدْتُ وَيَوْمَ أَمُوتُ وَيَوْمَ أُبْعَثُ حَيًّا

Artinya (Terjemahan Kemenag RI): “Dan kesejahteraan semoga dilimpahkan kepadaku, pada hari aku dilahirkan, pada hari aku meninggal dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali.”

Teks Arab (QS. Maryam: 19:34): ذَٰلِكَ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ ۚ قَوْلَ الْحَقِّ الَّذِي فِيهِ يَمْتَرُونَ

Artinya (Terjemahan Kemenag RI): “Itulah Isa putera Maryam, yang mengatakan perkataan yang benar, yang mereka ragu-ragukan kebenarannya.”

Dalam versi Ibrani: “Ha-shalom alay be-yom noladti ve-yom amut ve-yom akum chay” (ayat 33), dan “Zeh Yeshua ben Miryam” (ayat 34). Ini menunjukkan bahwa “Isa” diterjemahkan sebagai “Yeshua”, sama dengan nama dalam Perjanjian Baru berbahasa Ibrani: “Sefer toldot Yeshua ha-Mashiach ben David ben Avraham.”

Teks Ibrani (Matius 1:1): סֵפֶר תּוֹלְדוֹת יֵשׁוּעַ הַמָּשִׁיחַ בֶּן־דָּוִד בֶּן־אַבְרָהָם

Terjemahan (Berdasarkan LAI): “Inilah silsilah Yesus Kristus, anak Daud, anak Abraham.”

Ini membuktikan kesamaan tokoh, meski perbedaan teologi ada.

Perbandingan Bahasa: Dari Ibrani, Suryani, Yunani, hingga Arab

Nama “Isa Al-Masih” (Arab) mirip “Iso the Masiha” (Suryani/Aramaik), bahasa tutur Yesus. Suryani dekat dengan Arab (aksara mirip: Serṭo, Madnḥoyo, Esṭrangelo), sementara Ibrani lebih jauh. Dalam Yunani: “Iēsous Christos”; Ibrani: “Yeshua ha-Mashiach”.

Contoh varian nama:

  • Yakub (Ibrani/Arab) menjadi James (Inggris), Jacques (Prancis), Joko (Jawa).
  • Maryam (Arab) menjadi Miryam (Ibrani), Maria (Latin).

Perbedaan pelafalan wajar karena bahasa tetangga (Arab-Suryani seperti Jawa-Madurese: “lawang” vs. “labeng”). Ini menekankan bahwa perbedaan nama bukan perbedaan tokoh.

Perbedaan Teologi: Bukan Hal Baru, Tapi Mata Rantai Historis

Teologi Islam memandang Isa sebagai nabi 100% manusia, bukan ilahi. Ini bukan inovasi abad ke-7, melainkan mirip Arianisme (Arius, abad ke-4) yang menolak Trinitas, melihat Yesus sebagai ciptaan utama. Saksi Yehova hari ini melanjutkan pandangan ini.

Konsili Nicea (325 M) menetapkan Trinitas sebagai mayoritas, tapi varian tetap ada. Al-Qur’an selaras dengan teologi Kristen minoritas pra-Islam, seperti kisah burung tanah liat atau kelahiran di bawah pohon kurma (dari Injil apokrif, yang statusnya debatable antar denominasi Kristen).

Kesimpulan

Perubahan nama hari libur dari “Isa Al-Masih” ke “Yesus Kristus” adalah kebijakan bijak untuk harmoni, tapi kajian menunjukkan keduanya merujuk tokoh sama. Muslim dan Kristen harus pelajari dokumen multibahasa untuk hindari kesalahpahaman. Dukung YPMA untuk pembangunan pondok pesantren dan masjid di Wonosalam, Jombang: Rekening BSI 1118889971 atas nama Yayasan Pembina Mualaf Attauhid Jawa Timur.

Wabillahi taufiq wal hidayah, wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Silahkan bagikan di :