AqidahSejarah

Keturunan Ismail dan Penguasaan Kaum Qahtan di Hijaz Pra-Islam

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Selamat malam, pemirsa setia channel Graha Mualaf, bersama Edi Prayitno dan Menachem Ali Official. Seperti biasa, setiap malam Jumat kita mengadakan kajian istimewa yang selalu ditunggu-tunggu. Malam ini, kita masih bersama Ustadz Menachem Ali. Assalamualaikum, Ustadz.

Ustadz Menachem Ali: Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh.

Edi: Malam ini kita lanjutkan topik sebelumnya yang sangat menarik dan belum banyak dibahas. Ustadz, topik ini sepertinya belum pernah disentuh peneliti lain, ya?

Ustadz Menachem Ali: Iya, kebanyakan topik yang kita bahas belum disentuh peneliti lain. Kalau ini dijadikan tesis, skripsi, atau disertasi, akan lebih menarik karena melibatkan data-data terdokumentasi dari dokumen-dokumen lama yang bisa dieksplorasi lebih dalam.

Edi: Apakah ada rencana untuk membukukan pembahasan ini?

Ustadz Menachem Ali: Sebetulnya, saya sudah menulis buku berjudul Filologi Biblikal dengan subjudul Ismail dan Identitas Kearaban. Buku ini sudah terbit dan bisa dicari di Tokopedia. Sekarang, saya sedang menyiapkan jilid kedua, lanjutan dari buku ini, yang akan membahas istilah seperti Sarakeni, Sarakenon, Hagarenon, dan Ismaeliton dalam dokumen berbahasa Yunani, Ibrani, Suryani, dan Arab. Drafnya sudah 90% selesai, tinggal dipoles untuk segera diterbitkan.

Edi: Menarik! Para pemirsa, nantikan buku terbaru Ustadz Menachem Ali. Malam ini, kita akan membahas kelanjutan topik sebelumnya, khususnya perkembangan keturunan Nabi Ismail di Mekah dan Madinah pada era pra-Islam. Ustadz, boleh dibocorkan sedikit?

Ustadz Menachem Ali: Tentu, ini topik yang belum disentuh peneliti lain. Saya mencoba mengeksplorasi kajian ini untuk melengkapi literasi yang lebih kompleks, terutama tentang kaum keturunan Ismail dalam konteks pra-Islam. Islam yang dibawa Rasulullah SAW tidak bisa dipisahkan dari masa lalu, termasuk era pra-Islam dan pengaruh Imperium Bizantium serta Persia. Artefak budaya, seperti peta dari era Bizantium karya Claudius Ptolomius (100–170 M), masih bisa diteliti hingga kini.

Edi: Jadi, ada jarak 500 tahun lebih antara era Ptolomius dan risalah Nabi Muhammad SAW?

Ustadz Menachem Ali: Betul, itu masa yang panjang. Dalam konteks ini, kawasan Hijaz dan Najd, tempat tinggal keturunan Ismail, ternyata dikuasai oleh keturunan Yoktan atau Qahtan, yaitu kaum Arab Yaman. Mereka tidak memiliki hubungan genetik dengan Nabi Ismail atau Ibrahim, tetapi masih satu moyang dengan Nabi Nuh.

Edi: Jadi, wilayah Hijaz sudah dikuasai secara geografis oleh kaum Arab Yaman?

Ustadz Menachem Ali: Iya, dan ini akan dikonfirmasi berdasarkan dokumen sezaman. Kita mulai dari dokumen Taurat Moshe Sever Beresit, terbit tahun 1840 M di Glasgow, meskipun manuskrip lebih tua seperti Dead Sea Scrolls (abad ke-3 SM) memiliki kesamaan. Dalam Kitab Kejadian, Pasal 10 ayat 26, disebutkan keturunan Yoktan: Almodat, Selef, Hazar Mawet, Yera, Hadoram, Uzal, Dikla, Obal, Abim Mael, Sheba, Ofir, Hawila, dan Yobab.

Edi: Hazar Mawet dan Hadoram itu kunci, ya?

Ustadz Menachem Ali: Betul. Hazar Mawet dalam bahasa Ibrani sama dengan Hadramaut dalam bahasa Arab. Hadoram sama dengan suku Jurhum. Mereka mendiami kawasan dari Mesha hingga Sefar, pegunungan di sebelah timur, termasuk Mekah dan Madinah. Ini dikuatkan oleh dokumen Rebai Saadya Gaon (882–942 M, atau 269–331 H), seorang mujtahid Yahudi yang hidup sezaman dengan Imam Ubaidillah (295–383 H) di Yaman.

Edi: Jadi, ada bukti bahwa kaum Qahtan menguasai Hijaz?

Ustadz Menachem Ali: Iya, peta Claudius Ptolomius menyebut Makuraba (Mekah) dan Yatripa (Madinah). Rebai Saadya Gaon juga menyebut Mekah sebagai Mesya, tempat ibadah haji kaum Ismail. Dokumen ini menunjukkan bahwa kaum Qahtan menguasai wilayah dari Mekah hingga Madinah dan pegunungan timur, termasuk kawasan yang disebut Katanite (Qahtan). Ini suhrah wal istifadah (terkenal dan diterima luas) selama 900 tahun, dari abad ke-2 hingga ke-10 M.

Edi: Tapi, bukankah Mekah dan Madinah adalah wilayah keturunan Ismail?

Ustadz Menachem Ali: Benar, awalnya itu wilayah keturunan Ismail, tapi dikuasai secara geografis oleh kaum Qahtan. Dalam tradisi Islam, Ka’bah awalnya suci, pusat ibadah tauhid kaum Ismail. Namun, menurut Kitab Al-Asnam karya Hisyam bin Muhammad Al-Kalbi (wafat 304 H), penyembahan berhala diperkenalkan oleh Amru bin Harit dari Bani Jurhum, keturunan Qahtan. Jurhum sama dengan Hadoram, saudara Hazar Mawet (Hadramaut).

Edi: Kapan berhala mulai masuk ke Ka’bah?

Ustadz Menachem Ali: Tidak bisa dipastikan tahunnya, tapi jelas terjadi jauh sebelum era Islam, bahkan sebelum kelahiran Nabi Muhammad SAW. Berhala-berhala ini, sekitar 360 buah, ditempatkan di dalam dan sekitar Ka’bah, merusak ajaran tauhid. Ini berlangsung turun-temurun hingga Nabi Muhammad SAW membersihkannya.

Edi: Jadi, tuduhan bahwa Ka’bah adalah pusat berhala tidak benar?

Ustadz Menachem Ali: Tepat sekali. Ka’bah awalnya adalah pusat tauhid warisan Nabi Ibrahim dan Ismail. Penyembahan berhala adalah penyimpangan yang dibawa oleh kaum Jurhum dari Arab Yaman, bukan dari keturunan Ismail. Ini didukung dokumen sezaman, baik internal (Islam) maupun eksternal (Yahudi, Romawi).

Edi: Menarik, ini menunjukkan sejarah berulang, ya?

Ustadz Menachem Ali: Iya, sejarah berulang dalam bentuk lain. Kita harus belajar dari dokumen-dokumen otentik, bukan doktrin atau dongeng. Agama kita adalah sejarah nyata.

Edi: Baik, terima kasih, Ustadz. Untuk pemirsa, Yayasan Pembina Mualaf sedang membangun masjid dan membutuhkan donasi. Silakan berdonasi ke rekening Bank Syariah Indonesia nomor 1118889971 atas nama Yayasan Pembina Mualaf Surabaya. Terima kasih atas perhatiannya.

Ustadz Menachem Ali: Semoga bermanfaat. Mohon maaf jika ada salah kata. Wabillahi taufiq wal hidayah, wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Edi: Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh.

Link;https://youtu.be/zVDXIXezDaI?si=6z_hFlZjlGanLTFL

Silahkan bagikan di :