Nasab Nabi Muhammad SAW didukung dokumen internal
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Selamat malam, pemirsa setia channel Graha Mualaf, bersama Edi Prayitno dan Menachem Ali Official. Seperti biasa, setiap malam Jumat kita mengadakan kajian, dan kali ini bersama Ustadz Menachem Ali. Assalamualaikum, Ustadz.
Ustadz Menachem Ali: Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh.
Edi: Kebetulan malam ini bertepatan dengan Maulid Nabi, 28 September 2023. Kita bersyukur atas kehadiran Nabi Muhammad SAW yang membawa risalah luar biasa. Pekan lalu kita membahas tuduhan bahwa nasab Nabi Muhammad SAW tidak tersambung ke Nabi Ismail AS, dan kita telah menyajikan dokumen eksternal, bahkan sezaman, termasuk dari sumber Kristen, yang membuktikan Nabi Muhammad bukan tokoh fiktif, melainkan historis. Namun, banyak netizen salah paham, mengira kita membandingkan nasab Nabi dengan nasab Alawi (Ubaidillah). Ada yang menuntut dokumen sezaman untuk nasab Nabi seperti yang dituntut untuk Alawi. Bagaimana pandangan Ustadz?
Ustadz Menachem Ali: Terima kasih, Pak Edi. Diskusi di media sosial menunjukkan beragam tanggapan, dari yang mendukung hingga yang kontra, termasuk soal nasab Alawi. Namun, fokus kita bukan hanya pada nasab Alawi, melainkan nasab secara umum, terutama nasab Nabi Muhammad SAW, yang merupakan pilar keimanan umat Islam. Memahami nasab Nabi adalah bagian dari syahadat kedua, wa asyhadu anna Muhammadan abduhu wa rasuluh. Di era modern, keimanan harus didukung data ilmiah, bukan hanya keyakinan buta. Untuk menjawab tuduhan non-Muslim bahwa Nabi Muhammad SAW tidak tersambung ke Ismail atau bahkan fiktif, kita perlu dokumen sezaman dan eksternal, bukan hanya dokumen internal Islam.
Edi: Dokumen apa saja yang mendukung nasab Nabi Muhammad SAW?
Ustadz Menachem Ali: Ada dua jenis dokumen:
- Dokumen Internal Islam:
- Shahih Muslim (penulis wafat 261 H/875 M) mencatat hadis: “Allah memilih Kinanah dari keturunan Ismail, Quraisy dari Kinanah, Bani Hasyim dari Quraisy, dan aku dari Bani Hasyim.” Ini mengukuhkan nasab Nabi ke Ismail, tapi hanya kuat untuk internal Islam.
- Sirah Nabawiyah Ibnu Ishaq (wafat 151 H) mencatat nasab Nabi secara rinci.
- Jamharah Nasab Quraisy (wafat 256 H) menyebut Nabi sebagai nabi yang diramalkan Musa dan Isa, mengukuhkan keberadaannya sebagai tokoh historis.
- Dokumen Eksternal Non-Islam:
- Peta Claudius Ptolemaeus (100-170 M) menyebut Yatsrib (Madinah) dan suku Qais (Bani Qais), terkait nasab Nabi melalui Quraisy, 400 tahun sebelum kelahiran Nabi (571 M).
- Dokumen Armenia (abad ke-7 M), diterjemahkan ke bahasa Inggris, menyebut: “Di antara keturunan Ismail, ada laki-laki bernama Muhammad yang mengajarkan iman Abraham.” Ditulis sekitar 634 M, hanya dua tahun setelah wafatnya Nabi (632 M), ini mengukuhkan Nabi sebagai tokoh historis, meski tidak diakui sebagai nabi oleh sumber Kristen.
- Doktrin Yakobi (634 M), divalidasi karbon C14 (antara 632-636 M), menyebut “sang nabi dari kaum Saracen”, merujuk pada Nabi Muhammad SAW sebagai tokoh historis.
- Etimologi Isidore of Seville (560-636 M), uskup sezaman dengan Nabi, menyebut Ismail sebagai anak Abraham, yang keturunannya disebut Sarakeni (dari Sara, secara yuridis) atau Agareni (dari Hagar, secara biologis). Ini menegaskan Quraisy sebagai keturunan Ismail.
- Kitab Kejadian (pasal 16:1-2) dalam tradisi Yahudi-Kristen menyebut Hagar sebagai mitra keluarga Abraham, yang melahirkan Ismail. Ismail memiliki status ganda: anak biologis Hagar dan anak yuridis Sara, sehingga disebut Sarakeni.
- Dokumen Hadramaut karya Muhammad bin Ahmad bin Umar Assatiri (sebelum 1924 M) menjelaskan bahwa Arab dibagi dua: Arab Aribah (keturunan Qahtan/Yoktan, seperti suku Kinda, Tayy, dan Hadramaut, bukan keturunan Ismail) dan Arab Musta’aribah (keturunan Ismail, seperti Quraisy, Bani Tamim, dan Bani Hasyim). Hadramaut bukan keturunan Ismail, melainkan Yoktan, saudara Peleg (nenek moyang Abraham).
Edi: Bagaimana dengan tuduhan bahwa nasab Nabi Muhammad SAW tidak otentik karena kurangnya dokumen sezaman, seperti yang dituduhkan pada nasab Ubaidillah?
Ustadz Menachem Ali: Tuduhan itu keliru. Nasab Nabi Muhammad SAW didukung dokumen internal (Alquran, hadis, sirah) dan eksternal (Armenia, Yakobi, Isidore, Ptolemaeus) yang sezaman atau mendekati era Nabi. Misalnya, Doktrin Yakobi (634 M) hanya berjarak dua tahun dari wafatnya Nabi (632 M), sangat signifikan secara historis. Istilah Sarakeni (dari Sara) dan Agareni (dari Hagar) dalam dokumen Kristen menegaskan bahwa Quraisy adalah keturunan Ismail. Sebaliknya, nasab Ubaidillah (tokoh kunci Alawi) tidak memiliki dokumen sezaman atau eksternal yang kuat, dengan jarak waktu hingga 500 tahun, sehingga hanya bisa diimani secara internal, bukan sebagai fakta sejarah untuk publik.
Edi: Ada tuduhan bahwa Sarakeni berarti “kaum perampok” dari kata Arab saraqun (pencuri), bukan keturunan Ismail. Bagaimana menjawabnya?
Ustadz Menachem Ali: Tuduhan itu salah kaprah. Dokumen Isidore of Seville (sezaman dengan Nabi) menjelaskan bahwa Sarakeni merujuk pada keturunan Ismail yang dianggap secara yuridis sebagai keturunan Sara, bukan saraqun (perampok). Kitab Kejadian (16:1-2) mendukung bahwa Ismail adalah anak Hagar, namun diakui sebagai anak yuridis Sara. Dokumen eksternal ini membantah asumsi Sarakeni sebagai “perampok” dan mengukuhkan bahwa Sarakeni adalah keturunan Ismail, termasuk Quraisy, Bani Hasyim, hingga Nabi Muhammad SAW.
Edi: Bagaimana dengan Hadramaut? Mengapa DNA mereka berbeda dari keturunan Nabi Muhammad SAW?
Ustadz Menachem Ali: Dokumen eksternal (Kitab Kejadian 10:26) dan internal (Assatiri) menjelaskan bahwa Hadramaut berasal dari Yoktan, saudara Peleg, keturunan Eber, bukan Ismail atau Abraham. Arab Aribah (Qahtaniyyun, seperti Hadramaut, Kinda, Tayy) adalah keturunan Yoktan, sedangkan Arab Musta’aribah (Quraisy, Bani Hasyim) adalah keturunan Ismail. Keduanya bersaudara jauh melalui Nabi Nuh, namun beda jalur. Ini menjelaskan perbedaan haplogroup DNA: Hadramaut (Yaman) biasanya haplogroup G, sedangkan keturunan Ismail (termasuk Nabi Muhammad SAW) haplogroup J.
Edi: Apa kesimpulan dari kajian ini?
Ustadz Menachem Ali: Nasab Nabi Muhammad SAW terverifikasi secara ilmiah melalui dokumen internal (hadis, sirah) dan eksternal (Armenia, Yakobi, Isidore, Ptolemaeus, Kitab Kejadian), bahkan sezaman, seperti Doktrin Yakobi (634 M). Tidak ada Bapak Gereja sezaman yang menolak keberadaan Nabi sebagai tokoh historis, dan nasabnya jelas tersambung ke Ismail melalui Quraisy. Tuduhan bahwa Nabi fiktif atau tidak tersambung ke Ismail dapat dibantah dengan data. Sebaliknya, nasab seperti Ubaidillah atau beberapa tokoh Walisongo, jika tidak didukung dokumen sezaman, cukup diimani secara internal, bukan dikapitalisasi sebagai fakta sejarah. Kajian ini bukan untuk menyerang, tapi mencerdaskan umat dengan pendekatan ilmiah.
Edi: Sebagai penutup, ada informasi tentang Yayasan Pembina Mualaf.
Ustadz Menachem Ali: Yayasan Pembina Mualaf sedang membangun masjid dan pondok pesantren. Kami mengajak donatur untuk menyumbang melalui rekening Bank Syariah Indonesia, nomor 11188 9971, atas nama YPM Jawa Timur. Dana akan digunakan untuk program, termasuk debat dengan empat pendeta di Bali pada awal November 2023. Kami juga mohon maaf jika ada salah kata.
Edi: Terima kasih, Ustadz. Kajian ini bukan untuk menyerang, tapi mengajak berpikir ilmiah. Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Link; https://youtu.be/9jLVNqtL1gI?si=6IHjenkambhNXVOs

