Sejarah

Quran Banyak Versi dan Tidak Original | Menjawab Kesalahpahaman

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Kita bertemu lagi di channel Graha Mualaf Yayasan Pembina Mualaf At Tauhid di Surabaya. Kali ini, seperti biasa setiap malam Jumat, kita bersama Ustadz Ali. Ustadz, bagaimana kabar? Alhamdulillah sehat, ini puasa sudah mendekati akhir. Saya minta maaf karena minggu lalu tidak bisa bertemu karena kondisi kesehatan. Malam ini kita akan membahas tema yang lebih penting, terutama karena sekarang adalah malam ke-29 Ramadhan, ketika kita sudah berada di hari terakhir puasa.

Kita perlu memanfaatkan hari terakhir ini dengan baik, terutama di 10 malam terakhir bulan Ramadhan yang memiliki nilai besar bagi iman kita kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Di bulan suci ini, Alquran diturunkan secara bertahap, biasanya pada bulan puasa dan malam Lailatul Qadar. Sementara itu, beberapa teman dari keyakinan lain menuduh bahwa Alquran memiliki banyak versi dan tidak otentik. Tuduhan ini sudah lama beredar tetapi belum banyak yang menjelaskannya. Oleh karena itu, kita akan membahas Alquran dengan Ustadz Ali sebagai ahlinya.

Kita mulai dari hal yang mendasar. Dalam Alquran, di surah Al-Baqarah ayat 185,

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِيْٓ اُنْزِلَ فِيْهِ الْقُرْاٰنُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنٰتٍ مِّنَ الْهُدٰى وَالْفُرْقَانِۚ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُۗ وَمَنْ كَانَ مَرِيْضًا اَوْ عَلٰى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ اَيَّامٍ اُخَرَۗ يُرِيْدُ اللّٰهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيْدُ بِكُمُ الْعُسْرَۖ وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللّٰهَ عَلٰى مَا هَدٰىكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَ ۝١٨٥

Bulan Ramadan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu serta pembeda (antara yang hak dan yang batil). Oleh karena itu, siapa di antara kamu hadir (di tempat tinggalnya atau bukan musafir) pada bulan itu, berpuasalah. Siapa yang sakit atau dalam perjalanan (lalu tidak berpuasa), maka (wajib menggantinya) sebanyak hari (yang ditinggalkannya) pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu dan tidak menghendaki kesukaran. Hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu agar kamu bersyukur.

Allah mengaitkan bulan Ramadhan dengan Alquran. Di ayat tersebut disebutkan bahwa bulan Ramadhan adalah waktu Allah menurunkan Alquran sebagai petunjuk bagi manusia. Penting untuk dicermati bahwa Alquran diturunkan melalui wahyu, bukan dalam bentuk buku yang turun dari langit. Ini berlaku untuk semua kitab suci yang diturunkan sebelumnya.

Alquran adalah wahyu Allah yang diturunkan di bulan Ramadhan, terutama pada malam Lailatul Qadar. Alquran diturunkan pada abad ke-7 Masehi, dan Allah menegaskan bahwa Alquran terjamin keasliannya. Misalnya, di bagian awal Alquran, pada surat Al Baqoroh.

ذٰلِكَ الْكِتٰبُ لَا رَيْبَۛ فِيْهِۛ هُدًى لِّلْمُتَّقِيْنَۙ ۝٢

Kitab (Al-Qur’an) ini tidak ada keraguan di dalamnya; (ia merupakan) petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa,

Terdapat ayat yang menyatakan bahwa Alquran adalah kitab yang pasti. Oleh karena itu, kita perlu memahami bahwa Alquran adalah firman Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW dan para nabi sebelumnya.

Dengan istilahnya garansi, Allah menjamin bahwa Alquran ini tidak ada keraguan di dalamnya, yang menunjukkan bahwa Alquran bukanlah sesuatu yang remeh. Di dalam surah Al-Hijr (surah 15) ayat 9,

اِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَاِنَّا لَهُ لَحٰفِظُوْنَ ۝٩

Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Al-Qur’an dan pasti Kami (pula) yang memeliharanya.

Allah menyatakan bahwa Dia yang menurunkan Alquran dan juga yang menjaganya, ini juga merupakan garansi. Apabila Alquran bisa diuji, maka seharusnya bisa dibuktikan. Ketika ada orang yang meragukan Alquran, hal itu perlu dijawab dan dibuktikan. Salah satu cara adalah membiarkan Alquran membela dirinya sendiri.

Ada narasi yang menyatakan bahwa Alquran dicampur dengan pernyataan orang setelah Nabi Muhammad wafat, misalnya terkait dengan surah Al-Isra (surah 17) ayat 1.

سُبْحٰنَ الَّذِيْٓ اَسْرٰى بِعَبْدِه لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ اِلَى الْمَسْجِدِ الْاَقْصَا الَّذِيْ بٰرَكْنَا حَوْلَه لِنُرِيَه مِنْ اٰيٰتِنَاۗ اِنَّه هُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ ۝١

Mahasuci (Allah) yang telah memperjalankan hamba-Nya (Nabi Muhammad) pada malam hari dari Masjidilharam ke Masjidilaqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.

Mereka berdebat tentang penggunaan istilah Masjidil Aqsa, yang menurut mereka baru dibangun oleh Khalifah Abdul Malik bin Marwan pada tahun 685-705 Masehi. Ini menjadi argumen bahwa ayat tentang Masjidil Aqsa dalam Alquran ditambahkan setelah masa kekhalifahan tersebut.

Namun, data sejarah mengenai Abdul Malik bin Marwan memang valid dan diakui secara luas, menjadi pertanyaan tentang keberadaan ayat tersebut sebelum masa beliau. Jika istilah Masjidil Aqsa dianggap baru ditambahkan, maka harus ada bukti bahwa ayat tersebut tidak ada sebelum masa beliau. Pertanyaan yang muncul adalah apakah ada bukti Alquran yang ada sekarang yang tidak mencantumkan ayat tersebut.

Dalam menjawab asumsi tersebut, penting untuk menunjukkan bahwa tidak ada bukti valid bahwa ayat itu tidak ada pada masa sebelum Abdul Malik bin Marwan. Salah satu bukti yang bisa ditunjukkan adalah Alquran yang dinisbatkan kepada Ali Bin Abi Thalib, yang harganya cukup tinggi dan secara historis ditemukan. Ini menunjukkan bahwa Alquran yang ada saat ini memiliki kelengkapan yang tetap konsisten dengan yang ada di masa lalu.

Memang wilayah dakwah Amirul Mukminin Ali Bin Abi Thalib radhiyallahu Anhu itu di kawasan Yaman. Fakta ini tercatat dalam dokumen Islam. Jadi, jika ditemukan di Sana’a, itu b   isa divalidasi bahwa itu adalah mushaf yang ditulis oleh Ali Bin Abi Thalib radhiyallahu Anhu atau orang yang menyalinnya berdasarkan riwayat dari Ali, Radiallahu anhu. Kebetulan yang menerbitkan bisa dilihat di sini. Jadi, kita lihat di sini tidak ada fathah, tidak ada kasrah, tidak ada dhomma, tidak ada titik satu dan dua. Tapi yang di sini adalah Alquran dengan huruf modern sekarang ya untuk bisa dicari kesamaannya. Apakah ada beda atau tidak? Kesimpulannya, antara yang tertulis di sini dan versi Quran yang kita punya sekarang ini sama.

Sekarang, kita mulai dari pernyataan yang meragukan bahwa ayat Alquran dalam surah Al-Isra, surah 17 ayat yang pertama yang frasanya tertulis Minal Masjidil Haram Ilal Masjidil Aqsa merupakan tambahan. Jawabannya sederhana, Quran San’a ini sudah diidentifikasi oleh para ahli. Manuskrip ini, yang merupakan fotocopy dan faksimilenya, ditulis oleh seorang profesor yang ahli di bidang kimia radio karbon. Ternyata, manuskrip ini memiliki keakuratan 95%, dan usianya antara tahun 578 sampai 669 masehi. Catat: 578 sampai 669 masehi. Ini manuskrip Qur’an, sementara Nabi Muhammad hidup antara tahun 571 sampai 632 masehi. Selisihnya tidak lebih dari 15 tahun setelah Nabi Muhammad wafat.

Masalahnya, apakah dalam manuskrip ini tidak tercantum ayat berisi Minal Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa? Mengingat manuskripnya berusia 578 masehi hingga 669 masehi, sementara Abdul Malik bin Marwan menjadi khalifah antara tahun 685 dan 705 masehi, berarti Quran ini ada sebelum Marwan menjadi khalifah. Apakah ada ayatnya atau tidak? Kita cek sekarang. Karena banyak tuduhan menyatakan bahwa Minal Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa itu ditambahkan belakangan. Nah.. sekarang manuskrip aslinya yang menjelaskan hal ini.

Dalam manuskrip ini, tertulis jelas Ilal Masjidil Aqsa. Kalimat Al Aqsa itu ada dalam manuskrip Sana’a. Penting diingat bahwa manuskrip ini ditulis sebelum Abdul Malik bin Marwan memerintah, sehingga tuduhan bahwa ayat ini adalah tambahan menjadi tidak berdasar karena ada bukti fisik manuskrip. Tuduhan apa pun tanpa bukti fisik hanyalah narasi tanpa bukti dan ngawur.

Selain itu, ada buku oleh Arthur Jeffrey, seorang orientalis, yang menyatakan bahwa Alquran tidak asli dan banyak versi manipulasi,

berdasarkan analisa naskah kuno. Arthur menyebutkan bahwa Alquran ditulis oleh seorang sahabat, Abdullah Ibn Mas’ud.

Ya, bacaan ini membahas tentang keberadaan beberapa bacaan Al-Quran yang disebutkan telah hilang, khususnya bacaan dari Ibnu Mas’ud, yang menurut informasi sudah tidak ada lagi. Namun, penting untuk dicermati bahwa meskipun ada klaim bahwa bacaan ini hilang, ia sebenarnya masih dapat ditemukan dalam Al-Quran yang ada sekarang. Penjelasan ini merujuk pada surat Al-Baqarah ayat 132 yang menegaskan kesatuan ajaran Islam.

وَوَصّٰى بِهَآ اِبْرٰهمُ بَنِيْهِ وَيَعْقُوْبُۗ يٰبَنِيَّ اِنَّ اللّٰهَ اصْطَفٰى لَكُمُ الدِّيْنَ فَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَاَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَۗ ۝١٣٢

Ibrahim mewasiatkan (ucapan) itu kepada anak-anaknya dan demikian pula Ya‘qub, “Wahai anak-anakku, sesungguhnya Allah telah memilih agama ini untukmu. Janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan muslim.”

Dalam penjelasan ini juga dibahas mengenai variasi bacaan Al-Quran atau qiraat, serta pentingnya untuk memahami perbedaan yang ada di antara bacaan tersebut. Dikatakan bahwa tidak ada yang hilang dari Al-Quran, melainkan hanya ada perbedaan dalam dialek yang digunakan. Pada kata :

wawasho (وَوَصَّىٰ) dan “awsho (أَوْصَىٰ)

Hal ini dijelaskan dengan menekankan bahwa Nabi Muhammad SAW sudah mengajarkan keragaman bacaan sejak awal, dan Khalifah Utsman bin Affan berhasil menghimpun dan menyusun bacaan tersebut dalam bentuk mushaf yang disebut mushaf Utsmani.

Selain itu, dinyatakan bahwa ada banyak klaim yang beredar di internet yang mencoba menyudutkan keaslian Al-Quran dan mengklaim adanya perbedaan yang besar di dalamnya. Misalnya, ada pernyataan mengenai 45. 000 perbedaan di dalam Al-Quran. Namun, penjelasan ini menegaskan bahwa kebanyakan perbedaan yang tampak hanyalah variasi dalam dialek dan tidak mengubah arti dari ayat-ayat tersebut. Ada penekanan pada filsafat di mana perbedaan ini tidak berarti ada yang dihilangkan, melainkan lebih pada cara penyampaian informasi.

Pada akhir penjelasan, ditekankan untuk hati-hati terhadap informasi yang beredar, terutama yang berasal dari sumber-sumber yang mencurigakan atau tidak memahami dengan baik tentang Al-Quran. Menurut narasi tersebut, penting untuk mempelajari Al-Quran secara mendalam agar tidak terjebak dalam pemahaman yang keliru mengenai perbedaan bacaan atau terjemahan yang ada. Bacaan ini menekankan perlunya pendidikan dan pemahaman yang baik tentang Al-Quran agar individu dapat menghadapi klaim seputar keaslian dan perbedaan di dalamnya.

Seperti yang telah dijelaskan, banyak orang meragukan Quran karena mereka mempunyai misi tertentu, padahal kitab suci mereka sendiri terkadang lebih buruk dari tuduhan yang mereka berikan. Kita akan mendalami perbandingan ini, dan saat ini kita akan membahas Alquran terlebih dahulu. Memang, ada lebih banyak kitab di luar Alquran yang perlu diteliti lebih lanjut, sesuai dengan yang diungkapkan oleh Ustadz Ali. Kita tidak hanya berbicara tanpa bukti, dan semua itu akan kita bahas. Semoga Pak Ali yang baru saja sembuh tetap sehat agar bisa berbagi ilmu yang belum banyak dibahas.

Pak Ali memiliki banyak buku yang belum dijelaskan, dan lewat saluran YouTube seperti di Graha Mualaf, channel Menachem Ali Official, dan channel saya Edi Prayitno, beliau akan membeberkan ilmunya setiap malam Jumat. Ini sangat bermanfaat bagi umat Muslim yang sering difitnah. Alhamdulillah, Pak Ali berinisiatif membeli buku-buku karena kecintaannya pada ilmu, tanpa memikirkan biaya dan pengorbanan.

Ketika membaca suatu tulisan, penting memahami ortografi. Misalnya, dalam mushaf tidak ada tanda baca seperti fathah, kasrah, atau dhomah. Namun, para ulama kemudian memberikan tanda tanpa mengubah cara bacanya. Pada titik tertentu, perbedaan dalam ortografi menunjukkan adanya perkembangan dan pewarisan tradisi keilmuan. Contohnya, tulisan Arab dan Ibrani mengalami perkembangan. Jika tulisan Ibrani dapat berkembang, tulisan Arab juga harusnya bisa.

Perubahan dalam penulisan dapat dilihat dari ejaan bahasa Indonesia, di mana dulu banyak yang menggunakan huruf miring dan disambung, sedangkan sekarang lebih banyak yang terpisah. Meskipun bentuk tulisan mungkin berbeda, cara bunyinya tetap sama. Hal ini menunjukkan bahwa mereka yang tidak memahami perbedaan dalam ortografi mungkin memang tidak tahu mengenai Alquran. Ketika dituduh ada 45. 000 perbedaan, itu mungkin tidak sepenuhnya akurat. Hal ini perlu dipahami, dan semangat untuk mengkritik harus diapresiasi.

Satu persatu semangat untuk mengkritisi tetapi ketika mengkritisi tanpa data itu menjadi bumerang bagi mereka sendiri, bahwa mereka memang tidak punya ilmu tetapi terlalu berani untuk berkata sesuatu, apalagi mengkritik Alquran. Kita tahu bahwa para penghafal Quran tidak hanya yang ini tapi juga berbagai variasi lainnya. Jika ada keragaman dan perbedaan sampai 43. 000, namun mereka hafal semua itu tentu luar biasa. Penerbitan Alquran oleh Saudi Arabia ada tiga atau empat versi dengan tulisan berbeda, dan meskipun ada 45. 000 perbedaan, itu adalah perkembangan tulisan yang tidak merubah makna. Kesimpulannya adalah Alquran bisa menjawab sendiri dan kita harus menguasai ilmu sebelum berkomentar.

Perbedaan tulisan yang dipermasalahkan adalah perkembangan dari tulisan itu sendiri. Kita perlu berhati-hati terhadap website yang mengatasnamakan sunnah tetapi sebenarnya non-Muslim yang bertujuan menghancurkan Islam. Memahami Alquran membutuhkan keilmuan yang tidak mudah, namun penting ada bukti fisik untuk memvalidasi tuduhan yang ada.

Terima kasih dan wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Silahkan bagikan di :