Sejarah

Kisruh Keaslian Nasab Bani ‘Alawi Vs Bani Jawi |YPMA

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Dalam pertemuan malam ini di channel Graha Mualaf, Menachem Ali, dan Edi Prayitno, kita mengundang Ustadz Ali, Ustadz Ali akan menjawab pertanyaan mengenai topik yang sedang viral, yaitu masalah nasab, terutama di antara kelompok Wali Songo dan Bani Alawiyah yang kini menjadi perdebatan hangat di media.

Ustadz Ali mengungkapkan bahwa ada konflik yang muncul di masyarakat saat ini terkait nasab, yang terlihat semakin meruncing. Beberapa pihak bahkan mengekspresikan kekesalan mereka secara berlebihan, termasuk dengan mengeluarkan senjata. Dia menekankan pentingnya persatuan dalam Islam dan berharap agar perbedaan pandangan ini tidak berkepanjangan tanpa solusi.

Ustadz Ali juga menjelaskan bahwa kita perlu mendiskusikan persoalan ini dengan cara yang ilmiah dan mengkaji dengan bijak. Dia berperan sebagai pengkaji, meneliti dokumen-dokumen yang bisa membantu menjembatani konflik ini. Ustadz akan membaca dokumen dari Bani Jawi dan Bani Alawiyah untuk memahami lebih baik tentang sejarah nasab yang terkait dengan Nabi Ismail. Dia menyebutkan adanya dokumen seperti Serat Para Mayoko yang dianggap penting bagi Bani Jawi, di mana banyak informasi berharga dapat ditemukan.

Dalam konteks ini, Ustadz Ali berusaha menelusuri dokumen-dokumen yang berkaitan dengan nasab dan menemukan banyak hal menarik yang belum pernah dibahas sebelumnya. Dia berharap dengan membuka dialog berdasar pada dokumen yang ada, kedua kelompok dapat mengurangi ketegangan dan mencapai kesepahaman.

Ustadz mengajak semua untuk mengkaji dengan cara yang sistematik dan mendalami dokumen dengan serius. Dia juga mengacu pada dokumen-dokumen dari tradisi Yahudi yang telah ada sejak abad ke-3 SM, seperti naskah Laut Mati, yang digunakan dalam konteks kitab suci. Tujuannya adalah untuk menemukan kesamaan dan saling menghargai di antara kedua kelompok agar bisa hidup harmonis.

Dalam Sefer Bereishit (סֵפֶר בְּרֵאשִׁית), terdapat informasi tentang anak-anak Ismail, yang kemudian disebut dengan sebutan Arab dalam Targum Jonathan (תרגום יונתן בן עוזיאל). Dokumen ini berasal dari abad pertama Masehi. Sebagai awal, disebutkan terjemahan Kitab Kejadian yang menyatakan nama-nama anak Ismail sesuai urutan kelahiran, yaitu

📖 Isi Kejadian 25:13 (Bereshit 25:13)

“Inilah nama anak-anak Ismael menurut nama-nama mereka, menurut urutan kelahiran mereka: Nebayot, Kedar, Adbeel, Mibsam, Mishma, Duma, Masa, Hadad, Tema, Yetur, Nafish, dan Kedmah.”

Disebutkan bahwa mereka ini ada 12 orang yang menjadi raja-raja dengan sukunya masing-masing. Usia Ismail saat meninggal adalah 137 tahun, dan setelah meninggal, ia dikumpulkan kepada leluhurnya. Mereka menetap di daerah dari Hawila hingga Syur, di sebelah timur Mesir.

Selanjutnya, dalam teks berbahasa Ibrani di pasal yang sama, ditekankan pentingnya pemahaman bagi umat Muslim, karena ini bukan dokumen Islam. Di dalamnya, terdapat nama-nama anak Ismail sesuai urutan kelahiran. Ismail, sebagai anak sulung, dalam kitab sejarah Arab disebutkan dengan sebutan Kedar. Jumlah total anak Ismail adalah 12 orang, yang masing-masing disebut sebagai pemimpin atau raja dari kaumnya. Nama Kedar disebutkan dengan istilah khusus dalam kitab Targum Jonathan (תרגום יונתן בן עוזיאל)

Selain itu, dikemukakan bahwa keturunan Ismail, khususnya kaum Kedar, disebut dengan sebutan Arab. Ini menjadi bukti bahwa sebutan tersebut sudah ada jauh sebelum Islam, yang muncul pada abad ke-7 Masehi. Dokumen ini menekankan keterkaitan historis antara keturunan Ismail dan sebutan Arab, yang dicatat dalam dokumen Yahudi abad pertama Masehi.

Selanjutnya, informasi dari dokumen tradisi Kristiani pun menarik, meskipun tidak membahas tentang kekristenan modern, tetapi lebih pada kekristenan purba sebelum munculnya Islam. Dokumen dari gereja Markus di Mesir, didirikan oleh Santo Markus, penulis Injil Markus, juga berasal dari abad pertama. Dalam dokumen ini terdapat referensi tentang anak-anak Ismail, yang dinyatakan lahir dari Hagar, budak Hagar asal Mesir. Dokumen ini mengonfirmasi bahwa nama-nama anak Ismail disebutkan sesuai dengan urutan kelahiran mereka.

Secara keseluruhan, teks ini membahas keturunan Ismail dalam konteks sejarah yang luas, melibatkan tradisi Yahudi, Arab, dan Kristiani, menjelaskan hubungan antara sebutan Arab dan anak-anak Ismail dengan latar belakang sejarah yang lebih dalam.

Teks ini membahas tentang tokoh Ismail dan nasabnya dalam konteks sejarah Arab, dengan fokus pada kaitan antara Ismail dan orang-orang Quraisy. Ismail adalah anak Abraham dan dikenal sebagai nenek moyang orang Arab. Dalam catatan sejarah, seperti yang terdapat dalam teks Aramaik dan dokumen gereja Ortodoks, dinyatakan bahwa keturunan Ismail meliputi orang-orang Quraisy.

Dokumen dari Santo Theodore, seorang sejarawan gereja Ortodoks dari abad ke-5 Masehi, menguatkan bahwa orang Arab di Syria juga memiliki nasab yang berhubungan dengan Ismail. Ini sejalan dengan catatan Imam Ibnu Jarir At-Tabari yang menyatakan bahwa beberapa tokoh Arab memiliki garis keturunan sampai kepada Ismail. Baik dokumen dari tradisi Yahudi maupun catatan Ortodoks memberikan bukti yang valid bahwa kedar (keturunan Ismail) memiliki hubungan langsung dengan orang-orang Quraisy.

Teks ini juga menjelaskan bahwa melacak nasab tidak hanya bergantung pada satu sumber dokumen, melainkan harus melibatkan beberapa dokumen yang bersifat pembanding dari berbagai wilayah dan waktu. Hal ini dibuktikan bahwa tradisi Arab sudah menghargai nasab bahkan sebelum Islam, yang terlihat dari inskripsi-inskripsi kuno yang menunjukkan perhatian mereka terhadap garis keturunan.

Penelitian oleh Profesor Ahmad Al-Jalad mengungkapkan bahwa ada tradisi mengukir informasi tentang nasab pada batu, yang merupakan cara orang Arab mengingat dan mencatat garis keturunan mereka sebelum ada tulisan formal. Teks ini menegaskan pentingnya memvalidasi informasi tentang nasab dengan menggunakan berbagai sumber dokumen dari berbagai zaman dan bahasa.

Kita telah membahas inskripsi Bahasa Arab kuno, bahasa Ibrani dari tradisi Yahudi, dan bahasa Kristen Koptik yang awalnya menggunakan bahasa Coptik. Ketika Islam datang, mereka mulai menggunakan bahasa Arab. Ada penegasan bahwa Quraisy adalah keturunan Kedar, yang juga dikenal sebagai keturunan Ismail. Namun, isu yang sedang dibahas sekarang adalah apakah Bani Alawi benar-benar memiliki nasab yang terkait dengan Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam. Secara teori, dijelaskan bahwa Muhammad berasal dari kalangan Quraisy, yang sudah dikenal secara luas. Dalam Islam terkuat ada dokumen yang mencatat bahwa Nabi Muhammad adalah keturunan Ismail, namun perlu adanya bukti atau validasi dari dokumen di luar tradisi Islam.

Dokumen tertua yang ada berkaitan dengan Nabi Muhammad adalah sirah Ibnu Ishaq, yang dari segi waktu ditulis oleh seorang penulis yang wafat tahun 150 hijriah. Dokumen lain kemudian muncul, seperti sirah Ibnu Hisyam dan tariqh al-Tabari, namun yang paling tua adalah sirah Ibnu Ishaq. Meski dokumen ini berasal dari tradisi Islam, pertanyaan yang muncul adalah apakah ada dukungan dari dokumen di luar Islam. Ini menjadi masalah ketika kita membahas kehadiran sejarah Rasul. Kita harus mencari bukti yang valid agar dapat menentukan apakah Muhammad adalah tokoh historis yang nyata atau hanya fiksi. Kita tidak seharusnya langsung menghakimi tanpa data yang jelas.

Ada dokumen anonim yang diperkirakan ditulis pada tahun 634 Masehi, berjudul ” “Doctrina Jacobi nuper baptizati” (artinya: Ajaran Yakobus yang baru saja dibaptis). ” Meskipun tidak menyebut nama langsung, dokumen ini menyebut sosok yang dianggap nabi palsu, tanpa merujuk langsung kepada nama Nabi Muhammad. Jika ada orang yang menyebut Nabi Muhammad sebagai nabi palsu, itu adalah soal keyakinan. Namun, hal itu tidak menghalangi fakta bahwa beliau adalah tokoh historis. Karenanya, meski ada yang meragukan statusnya sebagai nabi, keberadaannya sebagai tokoh historis dinyatakan di dalam dokumen tersebut.

Ketidakjelasan ini bukan tentang keturunan Nabi Muhammad dari Ismail, karena banyak dokumen yang sudah mendukung fakta bahwa beliau memang keturunan Quraisy. Quraisy adalah keturunan Kedar, yang juga keturunan Ismail. Semua ini terdokumentasi dalam berbagai catatan dan inskripsi oleh para sejarawan dan ahli di bidangnya.

Dalam teks ini, dibahas tentang Bani Alawi atau Bani Jawi serta tradisi orang Jawa. Bani Jawi merujuk pada tradisi orang Jawa yang menggunakan aksara Arab untuk menulis bahasa Jawa, selain juga menggunakan aksara Jawa. Penulis, yang lahir pada 1 Oktober 1972, menyatakan bahwa ia tidak menyukai konflik dan lebih suka mendamaikan perbedaan dengan cara yang seimbang.

Penulis menjelaskan keunikan dalam tradisi aksara Bani Jawi, yang termasuk aksara Pegon (huruf Arab tetapi bahasa Jawa) dan aksara carakan (huruf Jawa). Ia juga menyebutkan bahwa orang Madura berkontribusi dalam tradisi ini melalui penggunaan aksara Madura yang mirip. Selanjutnya, ada pengenalan beberapa dokumen penting, salah satunya adalah manuskrip yang ditulis di atas kertas khas Jawa bernama deluang. Manuskrip itu memperlihatkan tulisan Arab di bagian atas dan tulisan Jawa di bagian bawah, menunjukkan bahwa antara Islam dan kebudayaan Jawa tidak bisa dipisahkan.

Penulis menyoroti pentingnya dokumen-dokumen ini sebagai bukti adanya hubungan antara keislaman dan kejawaan. Ia menyebutkan satu contoh dokumen yang berisi tentang “Makrifah Al Islam Wal Iman” yang ditulis dalam bahasa Jawa dan mengklaim pentingnya untuk memahami hubungan ini. Ia juga mengingatkan tentang adanya karya yang dicetak di Mesir dengan bahasa Jawa, yang menunjukkan relasi antara budaya Jawa dan dunia Arab, terutama dalam konteks agama.

Dokumen-dokumen ini, seperti yang disampaikan penulis, adalah bagian dari tanggung jawabnya sebagai guru untuk melestarikan warisan budaya dan literatur. Penulis menekankan bahwa hal ini sangat berharga dan perlu dicermati, terutama mengenai bagaimana bahasa Jawa dan kebudayaan Islam saling terkait dan saling mempengaruhi satu sama lain. Karya-karya yang diterbitkan di luar Jawa menunjukkan bahwa orang Jawa telah menuntut ilmu agama hingga ke negara-negara Arab zaman dahulu.

Dalam keseluruhan diskusi, penulis ingin mempertahankan bahwa ada integrasi antara budaya Jawa dan Islam, yang diwujudkan melalui aksara, bahasa, serta dokumen-dokumen penting. Sangat penting, menurut penulis, untuk tidak memisahkan keduanya, karena keduanya saling melengkapi dan memberikan identitas bagi masyarakat yang menganut nilai-nilai tersebut. Penulis berharap agar generasi mendatang memahami dan meneruskan warisan ini.

Orang Jawa tidak bisa dipisahkan dari Islam, dan memiliki memori kolektif yang berkaitan dengan sosok Nabi Ismail. Selain itu, terdapat seorang tokoh bernama Joko Sengkolo atau Aji Soko, yang juga menjadi bagian dari identitas orang Jawa. Memori kolektif ini diturunkan dari generasi ke generasi, melintas waktu. Penulis yang membahas tema ini adalah Ki Bagus Burhan, yang dikenal dengan nama Ronggowarsito, lahir pada tahun 1802 dan wafat pada tahun 1873. Penelitian dan karya-karya Ronggowarsito menunjukkan keterkaitan antara budaya Jawa dan Islam.

Ronggowarsito adalah murid dari Kyai Kasan Besari yang terkemuka pada masa penjajahan Belanda, dan memiliki garis keturunan dari Pujangga Yosodipuro, yang juga dikenal di lingkungan kesusastraan Jawa. Dalam penelitiannya, Ronggowarsito menghubungkan nasab Kanjeng Nabi Muhammad dengan Joko Tingkir, yang juga dikenal sebagai Sultan Hadiwijoyo, menyiratkan bahwa ada kesan historis dalam identitas Jawa yang berakar pada tradisi Islam.

Dokumen ini menjelaskan bahwa ada teks yang menggambarkan hubungan antara Aji Soko dan Prabu Sartil. Dalam teks tersebut, Prabu Sartil merupakan keturunan Nabi Ismail, yang menjadikan Aji Soko sebagai datuk orang Jawa. Aji Soko juga dihubungkan dengan memori kolektif orang Jawa yang mengklaim keturunan Ismail, yang memperkuat identitas mereka sebagai Muslim.

Aji Soko dan Prabu Sartil memiliki peran penting dalam pembentukan identitas Jawa, yang dianggap telah menjadi bagian dari tradisi Jawa. Meskipun terdapat beberapa elemen mitos dalam cerita ini, tetap ada keyakinan bahwa orang Jawa yang mengaku keturunan Aji Soko pasti akan menjadi Muslim. Ini menunjukkan bahwa ada keyakinan yang mengikat orang Jawa dengan ajaran Islam, meskipun cara penulisan dan penyampaian informasi diformat dalam konteks budaya Jawa.

Dokumen mencantumkan beberapa kitab yang menjadi rujukan, di antaranya kitab miladhunired dan soroh, yang perlu diperhatikan oleh mereka yang memahami identitas Bani Jawi. Akhirnya, penulis juga menekankan pentingnya mengkaji kembali teks-teks yang ada agar tidak menghilangkan warisan budaya yang telah ada sepanjang sejarah, sekaligus mempertahankan hubungan spiritual orang Jawa dengan Islam.

Dokumen ini membahas tentang pelacakan nasab keturunan Bani Jawi dan Bani Alawi, yang membutuhkan pencarian informasi dari kitab-kitab kuno. Dokumen ini fokus pada tokoh bernama Alwi atau Alawi, yang dikaitkan dengan nasab sampai Rasulullah melalui beberapa imam penting. Masalah utama adalah menemukan bukti yang kuat mengenai hubungan nasab ini, karena ada kebingungan mengenai nama seperti Ubaidillah dan Abdullah dalam dokumen sejarah.

Kyai Haji Imaduddin berusaha menemukan data yang dapat menghubungkan keturunan Alawi dengan Rasulullah. Dalam kajiannya, ia mencatat bahwa Nasab Alawi harus ditelusuri dari Ubaidillah bin Ahmad hingga Imam Ahmad dan seterusnya, sampai kepada Imam Ali Zainal Abidin dan Imam Husein, dan akhirnya kembali kepada Rasulullah melalui Sayyidah Fatimah. Namun, terdapat kesulitan dalam menemukan dokumen pendukung yang jelas mengenai keturunan ini, terlebih selama 550 tahun terakhir.

Satu hal yang dicatat adalah bahwa penyebutan nama Ubaidillah dan Abdullah sering diperselisihkan. Ada dokumen yang menyatakan bahwa nama Abdullah muncul dalam teks dari Al Jundi yang berumur sekitar 730 Hijriyah, tetapi terjadi kebingungan dalam menyebutkan nama yang mungkin merujuk pada orang yang sama. Selain itu, terdapat rujukan kepada kitab yang ditulis oleh Imam Ibnu Hajar Al Haitami yang mencantumkan Alwi bin Ubaidillah.

Diskusi ini juga mencakup pengetahuan budaya Jawa tentang pelacakan nasab, dengan keinginan untuk menemukan kitab miladhu niren yang dianggap penting. Ketidakadaan dokumen dari abad ke-4 sampai ke-7 Hijriyah menjadi tantangan utama dalam penelitian ini. Dalam konteks ini, ada harapan agar semua pihak yang terlibat, termasuk para habaib, dapat bekerja sama dalam mencari data dan informasi ini.

Masalah kekosongan informasi dalam sejarah sangat merugikan kelanjutan nasab, dan pentingnya melakukan kolaborasi antara Bani Jawi dan Bani Alawi dalam pencarian data tersebut ditekankan. Jika informasi ini tidak ditemukan, maka nasab yang ada bisa terputus dan menyebabkan perselisihan yang tidak perlu. Maka dari itu, semangat kerjasama untuk mencari dan menemukan dokumen yang hilang sangat diharapkan demi melanjutkan tradisi dan kejelasan nasab yang valid.

Masalahnya adalah apakah kita sudah bekerja keras untuk mencari data sebagai akademisi serta menghindari kebencian dan perselisihan. Semua orang harus saling menghargai, terutama yang memiliki keturunan Bani Ismail. Penting untuk tidak menunjukkan arogansi atau menggunakan nasab untuk kepentingan pribadi karena itu bisa membuat umat menjadi kurang cerdas.

Lebih baik jika kita berdiskusi dan mencari data bersama, terutama dari kalangan Bani Jawi yang dapat mengakses dokumen-dokumen bahasa Arab dan Jawa. Para habaib dari Bani Alawi juga sebaiknya mencari dan belajar dari dokumen-dokumen tua dalam bahasa Arab agar bisa memahami dengan baik. Jika tidak menguasai bahasanya, kita tidak bisa menyelesaikan masalah.

Kita tidak boleh merasa sudah pintar dan berhenti belajar, karena itu berbahaya. Kita perlu mencerdaskan masyarakat dan menjaga tradisi akademik. Penulis buku yang membahas fisiologi biblika dan kritik historis ingin supaya masyarakat Indonesia lebih sering membaca buku-buku yang ilmiah, bukan hanya yang bersifat tausiah, agar tidak hanya mengandalkan persuasi tetapi juga argumentasi. Buku ini sudah dicetak dan tersedia di Tokopedia dengan bahasa yang mudah dipahami dan relevan untuk akademisi.

Penulis juga mengingatkan tentang pentingnya mencari data valid tentang sosok seperti Ubaidillah, yang belum ada informasi yang jelas. Validasi tokoh sejarah, seperti Nabi Muhammad, membutuhkan dokumen yang diakui dan tidak hanya klaim sepihak.

Lebih lanjut, penulis menyoroti hubungan antara Bani Jawi dan Wali Songo, dan pentingnya mempublikasikan informasi tentang keturunan Walisongo di berbagai daerah di Indonesia, bukan hanya di Jawa. Kini banyak orang keturunan Walisongo juga ada di Sunda, Madura, Aceh, dan tempat lainnya. Data ini harus dibukakan untuk publik agar dapat dipelajari. Para akademisi diharapkan untuk membuka informasi dan berdiskusi langsung tanpa membawa ego masing-masing. Semua pihak harus duduk bersama untuk membahas hal ini tanpa berdebat.

Debat akademik seharusnya didasarkan pada bukti dan dokumen, bukan emosi atau ayat. Harapannya, diskusi hari ini bisa membantu kedua belah pihak dan memberikan pencerahan. Ada hubungan antara orang Jawa dan Ismail, yang menjelaskan mengapa orang Jawa menerima Islam. Sebelumnya, ada penolakan terhadap penggambaran Joko Tingkir dalam lagu-lagu karena dianggap melecehkan tokoh-tokoh penting, termasuk Sayyid dari keturunan Nabi Muhammad. Keturunan Nabi disebut alawiyin, dan mereka bisa berasal dari keturunan Imam Hasan atau Imam Husain.

Bani Alawi adalah kelompok kecil yang berasal dari keturunan Alwi, yang konon dapat ditelusuri kembali ke Imam Ahmad dan Imam Ja’far. Jadi, alawiyin mencakup semua keturunan Nabi, sedangkan Bani Alawi adalah kelompok tertentu. Walisongo, misalnya, tidak termasuk dalam kelompok Bani Alawi ini. Ada buku baru yang terbit, yang bisa dibeli secara online di Tokopedia, berjudul “Filologi Publical dan Kritik Historis Ismail dan Identitas ke Harapan“. Buku ini ditulis oleh Profesor Shafaatun Al Mirzanah dari UIN Sunan Kalijaga. Penulis juga sedang mengerjakan buku tentang rekonstruksi Bani Jawi dan Bani Alawi berdasarkan manuskrip.

Kesimpulan dari apa yang dibahas oleh Pak Ali dalam diskusi ini. “Saya berharap apa yang telah saya sampaikan dan diskusikan bisa memberi sudut pandang baru bahwa nasab itu penting, baik di zaman Islam maupun sebelum Islam. Orang-orang Arab sudah memiliki tradisi mencatat, dan ini bisa dibaca dari penelitian Profesor Ahmad Al Jalla. Namun, apakah kitab-kitab itu sudah ditemukan? Kita perlu belajar dengan lebih serius dan menghindari perseteruan antara keturunan Ismail, seperti Bani Jawi dan Bani Alawi, yang keduanya memiliki tradisi pencatatan nasab. Penting untuk menjalin koneksi dan klarifikasi di antara mereka. Saya ingin berbagi pengalaman membaca dokumen untuk manfaat bersama. Terima kasih dan mohon maaf jika ada kesalahan.”

Akhir kata, pertemuan ini diharapkan dapat memberikan pencerahan dan mengajak semua pihak untuk saling memahami serta menemukan titik temu dalam perbedaan yang ada.

Pembangunan pondok pesantren di Wonosalam Jombang telah dimulai, dan banyak donatur yang telah menyumbang. Terima kasih kepada semua donatur yang telah memberikan dana untuk pembangunan. Saat ini, masjid sedang dibangun dengan pemasangan granit yang sudah dimulai dan diharapkan dapat digunakan untuk salat Idul Adha. Namun, masih banyak dana yang dibutuhkan, terutama untuk jendela, kusen, dan pipa air sejauh 2,5 kilometer. Bagi yang ingin menyumbang, dapat menggunakan nomor rekening Bank Syariah Indonesia 111889971 atas nama yayasan Pembina Mualaf Jawa Timur.

Silahkan bagikan di :