AqidahSejarah

Memahami Ishak dan Ismail dalam Perspektif Bahasa Quran dan Taurat

Pembawa Acara (Edi Prayitno): Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Selamat datang kembali di channel Graha Mualaf. Bersama saya, Edi Prayitno, dan Ustadz Ali. Setiap malam Jumat, kita mengadakan kajian rutin. Alhamdulillah, Ustadz baru kembali dari Singapura dan Malaysia. Assalamualaikum, Ustadz. Sehat?

Ustadz Ali: Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Alhamdulillah, sehat, Pak Edi. Baru kembali ke Surabaya.

Edi Prayitno: Alhamdulillah. Ustadz, topik kita sebelumnya tentang siapa yang dikorbankan oleh Nabi IbrahimIshak atau Ismailmemicu beragam komentar netizen. Ada yang mendukung Ishak, ada yang Ismail. Komentar beragam ini justru menginspirasi kita untuk meneliti lebih dalam. Malam ini, kita fokus pada gaya bahasa Al-Quran dan Taurat terkait isu ini. Apa yang bisa Ustadz jelaskan?

Ustadz Ali: Bismillah. Perdebatan tentang siapa yang dikorbankan oleh Nabi IbrahimIshak atau Ismailmemang selalu hidup, baik di kalangan Muslim, Kristen, maupun Yahudi. Banyak netizen merujuk hadis, tapi ulama sendiri berbeda pendapat. Malam ini, kita fokus pada karakter bahasa Semitik, khususnya gaya bahasa Al-Quran dan Taurat, yang punya kesejajaran.

Kita mulai dari Al-Quran, Surah As-Saffat (37):100-112. Ayat 100: “Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku keturunan yang saleh.” Ayat 101: “Maka Kami beri kabar gembira dengan seorang anak yang sangat sabar (ghulam halim).” Nama anak tak disebut, tapi konteksnya jelas. Di ayat 112, disebutkan: “Dan Kami beri kabar gembira kepadanya tentang kelahiran Ishak, seorang nabi dari kalangan orang-orang saleh.” Kata kunci: basyara (kabar gembira) di sini merujuk kelahiran Ishak. Logikanya, jika ayat 112 baru menyebut kelahiran Ishak, maka anak yang dikorbankan di ayat 101-111, sebelum Ishak lahir, pasti Ismail. Ini gaya bahasa Al-Quran yang sastrawi.

Bandingkan dengan Surah Ali Imran (3):39: “Allah memberi kabar gembira kepadamu tentang kelahiran Yahya.” Redaksinya sama: basyara untuk kelahiran, bukan kenabian. Jadi, konteks Quran jelas: anak yang dikorbankan adalah Ismail, karena Ishak belum lahir.

Edi Prayitno: Menarik, Ustadz. Jadi, gaya bahasa Quran ini sangat detail. Bagaimana dengan Taurat? Apakah ada kesejajaran?

Ustadz Ali: Ya, ada kesejajaran dengan Taurat, tapi juga perbedaan. Mari kita lihat Kejadian 18:1-7. Di sini, Abraham menerima tiga tamu (malaikat) dan menyuguhkan anak lembu yang empuk. Ayat 7: “Abraham mengambil seekor anak lembu yang empuk dan baik, lalu menyerahkannya kepada seorang bujangnya untuk diolah.” Dalam terjemahan Alkitab Indonesia (TB 2001), disebut “bujang.” Tapi di terjemahan baru (TB2, 2023), jadi “hamba.” Ini fatal.

Dalam tradisi Yahudi, teks lisan (Torah Shebaal Peh atau Midrash), seperti Midrash Rashi, menyebut “bujang” itu adalah Ismail, putra Abraham, bukan hamba sahaya. Bahasa Ibrani pakai kata na’ar (pemuda/remaja, usia 13 tahun), bukan eved (hamba). Di Midrash, Ismail disebut berusia 13 tahun saat membantu Abraham menyiapkan sembelihan sesuai hukum Taurat (mitzvah). Ini menunjukkan Ismail punya peran penting, bukan sekadar budak.

Tapi di terjemahan TB2, Ismail jadi “hamba sahaya.” Ini menurunkan derajatnya, seolah bukan putra Abraham. Ini bukan sekadar salah terjemah, tapi ada muatan politik teologis. Orang Yahudi di Indonesia pasti tersentak, karena tradisi mereka jelas: na’ar adalah Ismail, putra Abraham. Ini menimbulkan ketidakharmonisan antaragama.

Edi Prayitno: Jadi, ada kecenderungan dalam terjemahan baru untuk merendahkan Ismail?

Ustadz Ali: Betul. Dari “putra” (Midrash), jadi “bujang” (TB 2001), lalu “hamba” (TB2 2023). Ini semakin jauh dari teks asli Ibrani. Kalau kita literasi dokumen Yahudi, jelas Ismail adalah putra, bukan budak. Terjemahan ini seolah menggiring opini negatif tentang Ismail, mungkin untuk mengunggulkan Ishak dalam narasi teologis tertentu. Padahal, konteksnya jelas: Ismail hadir bersama Abraham saat menerima tamu, sebelum kelahiran Ishak, dan tahu soal kabar gembira kelahiran Ishak (karena Sarah tertawa, Kejadian 18:10-12).

Edi Prayitno: Ini terkait usia juga, ya? Gus Baha sebut usia anak yang dikorbankan 7 atau 13 tahun. Bagaimana Quran dan Taurat soal ini?

Ustadz Ali: Dalam Quran, As-Saffat 102 menyebut anak yang dikorbankan sudah balagha (dewasa, usia 7-13 tahun). Tafsir seperti Al-Jalalayn dan lainnya sebut usia 13 tahun. Di Taurat, Ismail sebagai na’ar juga usia 13 tahun saat membantu Abraham (Kejadian 18:7). Ini warisan bersama (common heritage). Usia 13 jadi kunci, karena saat itu Ismail belajar hukum Taurat dari Abraham, dan Ishak belum lahir. Jadi, anak yang dikorbankan logisnya Ismail, bukan Ishak.

Edi Prayitno: Jadi, bahasa Semitik ini sangat rinci. Apa pesan untuk netizen?

Ustadz Ali: Kita harus literasi teks asliQuran, Taurat, Midrashdalam bahasa Semitik (Arab dan Ibrani), bukan hanya terjemahan. Terjemahan bisa bias, seperti TB2 yang ubah “bujang” jadi “hamba.” Ini bukan sekadar nama, tapi soal kebenaran historis dan teologis. Ismail adalah putra Abraham, bukan budak. Kita harus kritis, bukan menerima begitu saja.

Edi Prayitno: Terima kasih, Ustadz. Sekali lagi, kami ucapkan terima kasih kepada donatur untuk pembangunan Pondok Pesantren At Tauhid dan masjid di Jombang. Donasi bisa disalurkan ke BSI nomor rekening 111889971 atas nama Yayasan Pembina Mualaf At Tauhid Jawa Timur. Semoga amal Bapak/Ibu diterima Allah SWT. Ada penutup, Ustadz?

Ustadz Ali: Ini kajian ilmiah untuk membuka wawasan. Kita hormati semua pandangan, termasuk Gus Baha. Fokus pada teks asli, bukan terjemahan yang bisa bias. Semoga bermanfaat. Mohon maaf jika ada salah kata. Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Edi Prayitno: Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Silahkan bagikan di :