Perbandingan Kisah Kelahiran Nabi Isa dalam Al-Qur’an dan Alkitab: Akademik atas Perbedaan dan Kesamaan
Pendahuluan
Dalam kajian agama komparatif, kisah kelahiran Nabi Isa Al-Masih (Yesus Kristus) sering menjadi topik perdebatan antara umat Islam dan Kristen. Al-Qur’an menyebutkan bahwa Nabi Isa dilahirkan di bawah pohon kurma, sementara Injil kanonik seperti Lukas menggambarkan kelahiran di palungan (tempat makan ternak, sering diartikan sebagai kandang domba), dan Matius menyebutkan kelahiran di sebuah rumah. Kritikus sering menuduh Al-Qur’an “salah” karena perbedaan ini, dengan alasan Al-Qur’an datang 600 tahun setelah peristiwa tersebut. Namun, analisis mendalam menunjukkan bahwa perbedaan ini bukanlah hal baru; ada varian dalam Alkitab itu sendiri, dan Al-Qur’an memiliki kesamaan dengan Injil apokrif yang lebih kuno. Kajian ini bertujuan untuk membahas data secara akademik, tanpa doktrin, dengan menekankan konsistensi dan validasi historis.
Artikel ini merangkum diskusi dari kajian malam Jumat di channel Edi Prayitno, Menachem Ali Official dan Graha Mualaf, yang membahas tema ini sebagai lanjutan dari serial sebelumnya tentang Bunda Maria dan tuduhan terkait kehamilannya dalam Talmud Yahudi. Kami akan menyertakan ayat-ayat Al-Qur’an dalam teks Arab beserta artinya, serta teks Ibrani dari Perjanjian Lama (Taurat) jika relevan, lengkap dengan terjemahan.
Perbedaan Kisah Kelahiran dalam Injil Kanonik
Injil kanonik (Matius, Markus, Lukas, Yohanes) yang diakui oleh gereja Kristen menunjukkan varian dalam kisah kelahiran Yesus. Markus dan Yohanes tidak membahas kelahiran sama sekali, sementara Matius dan Lukas memberikan detail yang berbeda.
Kisah dalam Injil Lukas
Injil Lukas (pasal 2:6-7) menggambarkan kelahiran di luar rumah penginapan, dengan bayi dibaringkan di palungan:
“Dan sementara mereka di situ, genaplah waktunya bagi Maria untuk bersalin, dan ia melahirkan anak laki-lakinya yang sulung, lalu dibungkusnya dengan lampin dan dibaringkannya di dalam palungan, karena tidak ada tempat bagi mereka di rumah penginapan.”
Ayat selanjutnya (Lukas 2:8-13) menyebutkan gembala di padang yang diberitahu oleh malaikat, memperkuat gambaran palungan sebagai tempat makan ternak, sering diinterpretasikan sebagai kandang domba. Tradisi gereja, terutama Katolik, menjelaskan bahwa kata Yunani “kataluma” bukan berarti penginapan umum (pandokeion), melainkan ruang keluarga yang penuh sesak, sehingga bayi ditempatkan di palungan.
Kisah dalam Injil Matius
Injil Matius (pasal 2:1-11) tidak menyebutkan palungan, melainkan orang-orang Majus menemukan bayi di sebuah rumah:
“Maka masuklah mereka ke dalam rumah itu dan melihat anak itu bersama Maria ibunya lalu sujud menyembah Dia. Mereka pun membuka tempat harta bendanya dan mempersembahkan persembahan-Nya kepada-Nya yaitu emas, kemenyan, dan mur.”
Ini menunjukkan varian: Lukas fokus pada palungan di luar rumah, sementara Matius pada rumah. Perbedaan ini bukan kontradiksi, tapi varian informasi yang menjadi dasar tradisi gereja.
Kisah Kelahiran dalam Al-Qur’an
Al-Qur’an tidak menyebutkan kandang domba atau rumah, melainkan Maryam (Maria) melahirkan di bawah pohon kurma (Surah Maryam 19:23-25):
Teks Arab: فَأَجَاءَهَا الْمَخَاضُ إِلَىٰ جِذْعِ النَّخْلَةِ قَالَتْ يَا لَيْتَنِي مِتُّ قَبْلَ هَٰذَا وَكُنْتُ نَسْيًا مَنْسِيًّا فَنَادَاهَا مِنْ تَحْتِهَا أَلَّا تَحْزَنِي قَدْ جَعَلَ رَبُّكِ تَحْتَكِ سَرِيًّا وَهُزِّي إِلَيْكِ بِجِذْعِ النَّخْلَةِ تُسَاقِطْ عَلَيْكِ رُطَبًا جَنِيًّا
Artinya (Terjemahan Kemenag RI): “Maka rasa sakit akan melahirkan anak memaksa ia (Maryam) mencari tempat berlindung pada pangkal pohon kurma, dia berkata: ‘Aduhai, alangkah baiknya aku mati sebelum ini, dan aku menjadi sesuatu yang tidak berarti, lagi dilupakan.’ Maka Jibril menyerunya dari tempat yang rendah: ‘Janganlah engkau bersedih hati, sesungguhnya Tuhanmu telah menjadikan anak sungai di bawahmu. Dan goyanglah pangkal pohon kurma itu ke arahmu, niscaya pohon itu akan menggugurkan buah kurma yang masak kepadamu.'”
Ini menggambarkan kelahiran di luar ruangan, di bawah pohon kurma, tanpa menyebut Yusuf atau pendamping lain. Kritikus mengklaim ini “salah” karena berbeda dengan Injil kanonik, tapi ini mengabaikan sumber apokrif.
Validasi dari Injil Apokrif
Al-Qur’an bukan menciptakan kisah baru; ada kesamaan dengan Injil apokrif (non-kanonik), yang ditulis sebelum Islam (abad 1-3 M). Injil apokrif seperti Pseudo-Matius (atau Protoevangelium of James) menyebutkan kelahiran di bawah pohon kurma. Teks Latin Pseudo-Matius (bab 20-21) menceritakan Maria melahirkan di gua atau di bawah pohon, dengan varian pohon kurma dalam beberapa versi.
Injil apokrif lainnya:
- Injil Thomas: Menceritakan Yesus membuat burung dari tanah liat (mirip Al-Qur’an, Surah Al-Maidah 5:110), tidak ada di Injil kanonik.
- Injil Yakobus: Menyebutkan nama ayah Maria (Yoachim) dan ibunya (Hanna), diterima dalam tradisi gereja meski apokrif.
Apokrif berarti “tersembunyi” atau non-kanonik, ditentukan oleh konsili gereja (seperti Konsili Nicea 325 M). Namun, Perjanjian Baru sendiri mengutip apokrif, seperti Surat Yudas 1:14 yang mengutip Kitab Henokh (apokrif):
“Juga tentang mereka Henokh, keturunan yang ketujuh dari Adam, telah bernubuat, katanya: ‘Sesungguhnya Tuhan datang dengan beribu-ribu orang kudus-Nya.'”
Kitab Henokh 1:9 (apokrif) mirip: Ini menunjukkan ketidakkonsistenan jika Al-Qur’an dikritik karena kesamaan dengan apokrif, sementara Perjanjian Baru juga demikian.
Kasus Zakaria: Perbedaan Detail
Kisah Zakaria (bapak Yohanes Pembaptis) juga menunjukkan varian. Injil Lukas (1:20, 1:57-64) menyebutkan Zakaria bisu selama 9 bulan (sejak pengumuman malaikat hingga kelahiran).
Al-Qur’an (Surah Maryam 19:10):
Teks Arab: قَالَ رَبِّ اجْعَلْ لِي آيَةً ۖ قَالَ آيَتُكَ أَلَّا تُكَلِّمَ النَّاسَ ثَلَاثَ لَيَالٍ سَوِيًّا
Artinya (Terjemahan Kemenag RI): “Zakaria berkata: ‘Ya Tuhanku, berilah aku suatu tanda.’ Tuhan berfirman: ‘Tanda bagimu ialah bahwa engkau tidak dapat bercakap-cakap dengan manusia selama tiga malam, padahal engkau sehat.'”
Ini 3 hari/malam, bukan 9 bulan. Perbedaan ini mirip varian dalam Alkitab sendiri.
Varian dalam Perjanjian Lama dan Baru
Untuk konsistensi, lihat Kisah Para Rasul 7:14 (Perjanjian Baru): Yusuf membawa 75 jiwa keluarga Yakub ke Mesir.
Sementara Kitab Kejadian 46:27 (Perjanjian Lama, Taurat):
Teks Ibrani: וּבְנֵי יוֹסֵף אֲשֶׁר-יֻלַּד-לוֹ בְמִצְרַיִם, נֶפֶשׁ שְׁנָיִם; כָּל-הַנֶּפֶשׁ לְבֵית-יַעֲקֹב הַבָּאָה מִצְרַיְמָה, שִׁבְעִים.
Terjemahan (Berdasarkan LAI): “Dan anak-anak Yusuf yang lahir baginya di Mesir ada dua orang. Jadi keluarga Yakub yang tiba di Mesir seluruhnya berjumlah tujuh puluh jiwa.”
Ini 70 jiwa (vs. 75 di Kisah Para Rasul). Jarak waktu: Kejadian (abad 13-15 SM) vs. Kisah Para Rasul (abad 1 M), selisih >1000 tahun. Jika Al-Qur’an dikritik karena varian 600 tahun, maka Perjanjian Baru juga demikian terhadap Perjanjian Lama.
Kesimpulan
Perbedaan kisah kelahiran Nabi Isa bukan bukti “kesalahan” Al-Qur’an, tapi varian historis yang ada dalam tradisi Yahudi-Kristen sendiri. Al-Qur’an memiliki validasi dari Injil apokrif yang lebih kuno, dan kritik harus konsisten jika apokrif ditolak, maka kutipan apokrif dalam Perjanjian Baru juga bermasalah. Kajian ini mengajak pendekatan akademik: hormati keyakinan masing-masing, tapi diskusikan data dengan cerdas, tanpa tebang pilih. Bagi umat Islam, Al-Qur’an adalah wahyu; bagi Kristen, Alkitab adalah inspirasi Roh Kudus. Perbedaan boleh, tapi persatuan lebih penting.
Untuk diskusi lebih lanjut, hubungi channel terkait atau sumber primer seperti Al-Qur’an, Alkitab, dan teks apokrif. Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

