AqidahSejarah

Kajian Idul Qurban: Ismail atau Ishak?

Pendahuluan
Wawancara ini merangkum kajian dari channel Graha Mualaf tentang siapa putra Nabi Ibrahim yang dikurbankan: Ismail atau Ishak. Diskusi antara Host (Pak Edi, Yayasan Pembina Mualaf At Tauhid) dan Ustadz Menachem Ali bertujuan meluruskan tuduhan non-Muslim, menjawab pandangan ulama seperti Gus Baha, dan menganalisis Al-Qur’an, Taurat, Alkitab, serta tradisi Yahudi dan Samaritan secara ilmiah. Idul Qurban dipahami sebagai simbol korban cinta agung, bukan penebusan dosa. Transkrip asli telah diperbaiki untuk kejelasan tanpa mengubah esensi.

Wawancara

Host (Pak Edi):
Assalamualaikum. Selamat datang di Graha Mualaf. Bersama Ustadz Menachem Ali, malam ini kita bahas Idul Qurban: siapa putra Nabi Ibrahim yang dikurbankan, Ismail atau Ishak? Tuduhan non-Muslim sering mempersoalkan ini, dan Gus Baha menyebut ulama Arab Saudi condong ke Ishak, sementara ulama Indonesia ke Ismail. Ustadz, apa dasar perdebatan ini?

Ustadz Menachem Ali:
Wa’alaikumsalam. Idul Qurban selalu memunculkan debat: Ismail atau Ishak? Filosofinya adalah korban cinta agung, bukan penebusan dosa, sebagaimana dipahami dalam Islam, Yahudi, dan Samaritan. Mari kita mulai dari Al-Qur’an, Surah As-Saffat (37:100-102):

رَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِينَ
“Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku keturunan yang saleh.” (37:100)
فَبَشَّرْنَاهُ بِغُلَامٍ حَلِيمٍ
“Maka Kami beri kabar gembira kepadanya dengan seorang anak yang halim.” (37:101)
فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَى فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرَى قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ
“Ketika anak itu sampai (pada umur) sanggup berusaha bersamanya, Ibrahim berkata, ‘Wahai anakku, aku bermimpi akan menyembelihmu, apa pendapatmu?’ Ia menjawab, ‘Wahai ayahku, lakukan perintah Tuhan, insya Allah engkau akan mendapati aku termasuk orang-orang yang sabar.'” (37:102)

Al-Qur’an tidak menyebut nama, tapi konteks merujuk Ismail. Tafsir Indonesia mencatat Ismail di catatan kaki. Kritik Kristen menyebut Al-Qur’an tak eksplisit, sementara Taurat (Kejadian 22:2) menyebut Ishak:

וַיֹּאמֶר קַח־נָא אֶת־בִּנְךָ אֶת־יְחִידְךָ אֲשֶׁר־אָהַבְתָּ אֶת־יִצְחָק וְלֶךְ־לְךָ אֶל־אֶרֶץ הַמֹּרִיָּה
“Ambillah anakmu, anakmu satu-satunya yang kaukasihi, yaitu Ishak, dan pergilah ke tanah Moriah.”

Namun, manuskrip Dead Sea Scrolls (abad 3 SM) tak menyebut nama Ishak atau Ismail, hanya “anakmu.” Tora Masora (abad 9 M) yang menyebut Ishak lebih belakangan dari Islam (abad 7 M). Tafsir awal Islam, seperti Muqatil bin Sulaiman (w. 150 H), menyebut Ishak, tapi Sufyan al-Thauri (w. 161 H) menyebut Ismail dengan sanad, lebih kuat. Jadi, sejak awal ada dua pendapat.

Lokasi kurban juga krusial. Islam sepakat di Mina, Hijaz. Taurat versi Yahudi menyebut Moriah (Palestina selatan), versi Samaritan menyebut Moreh (Nablus, utara), berdasarkan Kejadian 12:6:

וַיַּעֲבֹר אַבְרָם בָּאָרֶץ עַד מְקוֹם שְׁכֶם עַד אֵלוֹן מוֹרֶה
“Abraham berjalan hingga dekat Sikhem, ke pohon tarbantin di Moreh.”

Perbedaan lokasi ini punya implikasi teologis soal kiblat. Islam konsisten di Mekah, sedangkan Yahudi (Yerusalem) dan Samaritan (Nablus) berbeda. Menariknya, tafsir Yahudi awal menyebut Ismail tahu soal kurban, sesuai Al-Qur’an (37:102), sementara Ishak tidak tahu (Kejadian 22:7). Ini menunjukkan Ismail lebih mungkin sebagai anak sulung yang dikurbankan.

Host (Pak Edi):
Jadi, fokus bukan hanya nama, tapi lokasi dan implikasi teologisnya. Ini kajian ilmiah, bukan untuk berdebat dengan ulama seperti Gus Baha, yang kita hormati. Terima kasih atas donasi untuk pesantren Jombang. Sumbangan dapat dikirim ke BSI 111889971 atas nama YPM At Tauhid Jawa Timur.

Ustadz Menachem Ali:
Cukup. Semoga kajian ini memperluas wawasan dengan pendekatan kritis berbasis dokumen. Mohon maaf atas kekurangan. Wassalamualaikum.

Penutup
Perdebatan Ismail atau Ishak bukan hanya soal nama, tapi lokasi (Mina vs. Moriah/Moreh) dan implikasi kiblat. Islam konsisten menempatkan kurban di Mekah, simbol korban cinta, bukan penebusan dosa. Bukti historis menunjukkan keragaman pendapat sejak awal, dengan Ismail lebih kuat berdasarkan konteks dan sanad.

Silahkan bagikan di :