Diskusi Israel-Palestina
Pembawa Acara (Hedi Pritno):
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Berjumpa lagi di channel kita, Hedi Pritno bersama Menahem Ali Official dan Gerakan Mualaf. Seperti biasa, setiap malam Jumat kita mengadakan live untuk membahas isu-isu viral belakangan ini. Malam ini, kita bersama Ustadz Menahem Ali. Assalamualaikum, Ustadz.
Ustadz Menahem Ali:
Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh.
Pembawa Acara:
Kita kedatangan tamu, sebenarnya bukan orang baru. Jauh sebelum Yayasan Pembina Mualaf (YPM) terbentuk, beliau sudah aktif membantu kita. Assalamualaikum.
Mas Dedi:
Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh.
Pembawa Acara:
Beliau biasa dipanggil apa? Syekh? Habib?
Mas Dedi:
Panggil saja Mas Dedi.
Pembawa Acara:
Jadi malam ini kita bersama Mas Dedi, yang dulu aktif di Facebook, kemudian menenggelamkan diri, dan kini kita munculkan kembali. Pembahasan malam ini adalah isu perang Israel dan Palestina. Kita selalu berdoa agar perang ini segera usai dan korban tidak semakin bertambah. Kita mendukung kemerdekaan Palestina, karena saudara-saudara muslim kita di sana menderita. Rumah sakit, pengungsian, bahkan iring-iringan ambulans dibom, meski sudah ada perjanjian untuk menyeberang ke Mesir. Kita berdoa agar saudara kita di Palestina segera mendapat kedamaian dan kemerdekaan. Ustadz Ali, mungkin ada informasi penting terkait isu ini?
Ustadz Menahem Ali:
Tema ini sangat krusial. Kita harus punya empati terhadap saudara-saudara di Palestina yang tertindas. Kita perlu membaca situasi ini dari perspektif Al-Qur’an. Konflik Israel-Palestina memiliki akar masalah yang bisa dilihat dari dua sisi: politik dan agama. Dari sisi agama, kita berpijak pada kitab suci masing-masing penganut agama. Dari sisi politik, kita tahu kapan Israel berdiri dan siapa mereka sebenarnya.
Dulu, di kawasan yang kini disebut Palestina, tidak ada konflik berkepanjangan. Muslim, Kristen, dan Yahudi hidup damai. Saat Khalifah Umar bin Khattab menaklukkan Yerusalem, kunci kota diserahkan secara sukarela oleh pihak Kristen. Dalam Alkitab terbitan sebelum 1960-an, peta wilayah selalu menyebut “Palestine,” bukan Israel. Ini menunjukkan bahwa istilah Palestine diakui bersama oleh Muslim, Kristen, dan Yahudi Mizrahi—Yahudi yang berbahasa Arab dengan tulisan Ibrani.
Konflik bermula pada 1946, saat migrasi besar-besaran Yahudi Eropa ke Palestina akibat kekejaman Hitler. Nazi menganggap Yahudi sebagai “manusia kelas rendah” (untermensch) dibandingkan “manusia unggul” (ubermensch) Arya. Akibat Holocaust, banyak Yahudi Eropa mengungsi ke Palestina, yang dianggap sebagai tanah leluhur mereka, atas rekomendasi Inggris.
Namun, migrasi ini menyebabkan kepadatan dan ketidaknyamanan, menjadi akar konflik. Pada 1948, Israel mendeklarasikan kemerdekaan, diikuti perampasan tanah. Puncaknya pada Perang Enam Hari 1967, ketika Israel memperluas kekuasaan. Salah satu contoh perampasan sejarah adalah makam Syekh Abbad, seorang ulama Muslim, yang diubah menjadi makam Rabi Asyi.
Rabi Asyi, menurut dokumen Yahudi, hidup pada abad ke-5 Masehi (352–427 M), sebagai editor Talmud Bavli, kitab penting dalam tradisi Yahudi. Namun, makam Syekh Abbad, yang masyhur di kalangan Muslim Palestina dan Lebanon, diubah namanya setelah 1967 berdasarkan klaim spiritual (mukasyafah) Rabi Mordekhai, tanpa bukti arkeologi. Makam ini terbelah dua oleh pagar di perbatasan Lebanon-Israel, dengan bagian Israel diklaim sebagai makam Rabi Asyi, sementara Muslim Lebanon dan Palestina tetap menganggapnya makam Syekh Abbad.
Pembawa Acara:
Jadi, ini seperti “ronsen kuburan”?
Ustadz Menahem Ali:
Ya, dalam tradisi Yahudi, metode mukasyafah ini mirip dengan kasyaf dalam tradisi Sufi atau kabbalah dalam Yahudi. Rabi Mordekhai menggunakan metode ini untuk mengklaim makam tersebut sebagai milik Rabi Asyi, meski secara historis lebih kuat sebagai makam Syekh Abbad, karena Islam muncul belakangan (abad ke-6 M).
Mas Dedi:
Ini seperti pengaskenasian makam, ya?
Ustadz Menahem Ali:
Betul. Pemerintahan Israel saat ini dikuasai Yahudi Askenazi, bukan Yahudi Mizrahi, Sephardi, atau Falasha (keturunan Ratu Sheba dan Nabi Sulaiman). Yahudi Askenazi berasal dari keturunan Yafet, bukan Syem, menurut Alkitab (Kejadian 10:1–2). Mereka bukan bagian dari 12 suku Israel, melainkan dari suku Askenas, keturunan Gomer, saudara Magog (Yakjuj-Makjuj).
Yahudi Askenazi mendominasi Israel dan menerapkan sistem kasta, bahkan terhadap Yahudi lain seperti Falasha, yang didiskriminasi karena kulit hitam mereka. Kebijakan mereka, termasuk pengaskenasian sejarah seperti makam Syekh Abbad, tidak didukung Yahudi Mizrahi atau Ortodoks, yang sering berdemo menentang pemerintahan Zionis.
Pembawa Acara:
Jadi, ini bukan konflik agama murni, tapi politik yang dibungkus agama?
Ustadz Menahem Ali:
Tepat. Konflik ini lebih kepada politik, meski agama digunakan sebagai pembungkus. Korban utama adalah warga sipil Muslim—wanita, anak-anak—yang tidak bersalah. Rumah sakit, pengungsian, dan pasokan air dihancurkan, menunjukkan kejahatan perang yang luar biasa.
Mas Dedi:
Ini mirip pengaskenasian di tempat lain, termasuk di Indonesia. Menghapus sejarah adalah cara efektif untuk melemahkan identitas bangsa. Jika dokumen dan data digital seperti peta Palestina dihapus, generasi mendatang akan lupa jati diri mereka.
Ustadz Menahem Ali:
Benar. Menghapus sejarah, seperti mengganti nama makam Syekh Abbad menjadi Rabi Asyi, adalah strategi untuk menghilangkan identitas Palestina. Bahkan di internet, data tentang Syekh Abbad sudah dihapus, digantikan Rabi Asyi. Ini bukan hanya perampasan fisik, tapi juga sejarah dan dunia maya.
Pembawa Acara:
Pesan Bung Karno, “Jas Merah,” jangan sekali-kali melupakan sejarah, sangat relevan. Kita harus jaga sejarah bangsa agar tidak hilang seperti di Palestina. Kita juga wajib berempati dan membantu saudara Muslim di Palestina yang diblokade, kelaparan, dan kehilangan air serta makanan.
Kami juga mengingatkan program pembangunan masjid dan pesantren di Wonosalam, Jombang. Donasi dapat disalurkan ke rekening Bank Syariah Indonesia: 1118889971.
Ustadz Menahem Ali (Penutup):
Dua poin penting:
- Pemerintahan Israel saat ini dikuasai Yahudi Askenazi, bukan bagian dari 12 suku Israel, melainkan keturunan Yafet.
- Perang Enam Hari 1967 menjadi titik puncak perampasan wilayah dan sejarah Palestina, termasuk penggantian makam Syekh Abbad menjadi Rabi Asyi, yang hingga kini menghilangkan identitas Muslim dari sejarah.
Mas Dedi:
Sejarah adalah identitas bangsa. Jika dihapus, kita kehilangan jati diri. Mari jaga sejarah, seperti pesan Bung Karno, agar generasi mendatang tidak lupa.
Pembawa Acara:
Terima kasih, Ustadz Ali dan Mas Dedi. Sampai jumpa di kajian malam Jumat berikutnya, membahas isu-isu viral dengan pendekatan ilmiah. Mohon maaf jika ada salah kata. Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Hadirin:
Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh.

