Skip to content
Selasa, September 8, 2026
Terbaru:
  • Makna Idul Qurban: Meneladani Ketaatan Nabi Ibrahim AS
  • Gaya Bahasa Al-Qur’an dan Taurat Membuktikan yang Dikorbankan adalah Ismail AS
  • Kritikan Gus Baha || Kitab Tafsir Tertua Sebut Ishak Qurban Ibrahim dan Bukan Ishmael
  • Fatima Putri Fir’aun dari Mesir || Menjawab Gugatan Muhibbin Ba’alawi & Misionaris Kristen
YPMA

  • Visi & Misi
  • Pengurus YP
  • Youtube GM
  • Profil
  • Tentang Kami
  • Log In
AqidahKisah IslamiSejarah

Apakah istilah “Israil” dalam Al-Qur’an sama dengan “Israel” dalam kitab-kitab lain?

29.09.2025 Idham Oka 99 Views

Pembawa Acara (Edi):
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Berjumpa lagi di channel kita, Edi bersama Menahem Ali Official dan Graha Mualaf. Seperti biasa, setiap malam Jumat kita mengadakan kajian dengan topik-topik menarik. Malam ini, kita ditemani oleh Ustadz Menahem Ali. Assalamualaikum, Ustadz.

Ustadz Menahem Ali:
Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh.

Pembawa Acara:
Kita juga kedatangan tamu istimewa dari Pulau Garam, Madura, yaitu Kiai Ahmad Zabidi. Assalamualaikum, Kiai.

Kiai Ahmad Zabidi:
Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Alhamdulillah, diberikan kesehatan oleh Allah.

Pembawa Acara:
Alhamdulillah. Malam ini, kita melanjutkan pembahasan tentang Israel dan Palestina, khususnya mengenai keangkuhan Israel dan identitas Yahudi. Kita sudah membahas sebelumnya bahwa Yerusalem bukan hanya milik Bani Israel, tetapi juga Bani Ismail, dengan leluhur bersama, yaitu Syem bin Nuh atau Melkisedek. Ustadz Ali, silakan lanjutkan.

Ustadz Menahem Ali:
Alhamdulillah, puji syukur kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Malam ini, kita akan membahas tema besar, yaitu identitas Israel dan Yahudi dari perspektif Al-Qur’an, dengan interaksi bersama Kiai Ahmad Zabidi. Fokus kita adalah Nabi Yakub alaihissalam dan klaim-klaim terkait generasinya.

Pertanyaan utama: Apakah istilah “Israil” dalam Al-Qur’an sama dengan “Israel” dalam kitab-kitab lain? Al-Qur’an sebagai dasar utama kita menyebutkan “Israil” dalam beberapa ayat. Misalnya, dalam Surah Al-Baqarah ayat 98, disebutkan: “Man kana ‘aduwwan lillahi wa mala’ikatihi wa rusulihi wa Jibril wa Mikal fa innallaha ‘aduwwun lil kafirin.” Dalam qira’ah Syubah, nama “Jibril” dibaca “Jabrail.” Ini menunjukkan variasi pelafalan, tetapi merujuk pada sosok yang sama. Dalam bahasa Ibrani, malaikat ini disebut Gabriel.

Variasi nama ini mirip dengan perubahan nama tempat, seperti “Wedi” di Surabaya yang menjadi “Tambak Wedi” dalam manuskrip abad ke-19. Perbedaan pelafalan tidak mengubah substansi. Begitu pula dengan nama “Israil” dan “Yakub.”

Mari kita cek Surah Al-Baqarah ayat 133: “Am kuntum syuhada idz hadhara Ya’quba al-mautu idz qala li banihi ma ta’buduna min ba’di qalu na’budu ilahaka wa ilaha aba’ika Ibrahima wa Isma’ila wa Ishaqa ilahan wahidan wa nahnu lahu muslimun.” Di sini disebutkan Ibrahim, Ismail, Ishak, dan Yakub. Dalam terjemahan Ibrani, nama-nama ini menjadi Abraham, Yishmael, dan Yitzhak, tetapi merujuk pada tokoh yang sama.

Sekarang, fokus pada “Israil.” Dalam Surah Ali Imran ayat 93: “Kullut ta’ami kana hillan li Bani Israila illa ma harrama Israilu ‘ala nafsihi min qabli an tunazzala at-Tauratu…” Di sini, “Israil” dijelaskan dalam tanda kurung sebagai “Yakub.” Ulama sepakat bahwa Israil adalah nama lain Nabi Yakub. Dalam tradisi Yahudi, kitab Kejadian 32:22-29 menceritakan pergantian nama Yakub menjadi Israel setelah bergumul dengan “malaikat Tuhan” (malak Elohim), bukan Tuhan langsung. Istilah Elohim dalam bahasa Ibrani bisa merujuk pada hakim, penguasa, atau bahkan Nabi Musa (Keluaran 7:1).

Nama “Israil” berasal dari isra (hamba/tuan) dan il (Tuhan), sehingga berarti “hamba Allah” atau “yang bergumul dengan Allah.” Ini menunjukkan karakter Yakub yang kuat, bahkan disebut bergumul dengan malaikat.

Kiai Ahmad Zabidi:
Menarik. Ini mirip perubahan nama daerah, seperti Wedi menjadi Tambak Wedi. Pelafalan berbeda, tapi substansinya sama.

Ustadz Menahem Ali:
Tepat. Sekarang, kita bahas istilah “Bani Israil” dan “Yahudi” dalam Al-Qur’an. “Bani Israil” selalu merujuk pada nasab (keturunan Yakub) dan konteksnya positif, sebelum kelahiran Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam. Sedangkan “Yahudi” merujuk pada penganut agama atau ideologi, bukan nasab, terutama pada era Rasulullah.

Contohnya, Surah Al-Maidah ayat 18: “Wa qalatil Yahudu wan Nasara nahnu abna’ullahi wa ahibba’uh…” (Orang-orang Yahudi dan Nasrani berkata, “Kami adalah anak-anak Allah dan kekasih-kekasih-Nya”). Al-Qur’an mengkritik klaim ini, menegaskan bahwa mereka hanyalah manusia biasa, bukan istimewa karena nasab. Istilah ahibba (kekasih) dalam bahasa Arab adalah jamak dari habib, menunjukkan klaim keistimewaan mereka.

Pembawa Acara:
Jadi, mereka mengklaim keistimewaan karena nasab?

Ustadz Menahem Ali:
Ya, mereka mengklaim, “Anahnu kullam mizra Abraham, mizra Yitzhak, mizra Ya’akov” (Kami keturunan Ibrahim, Ishak, dan Yakub). Padahal, tidak semua Yahudi adalah keturunan Yakub. Yahudi Askenazi, misalnya, bukan dari 12 suku Bani Israil, melainkan pendatang dari Eropa, keturunan Yafet, bukan Syem. Sedangkan Yahudi Mizrahi, Temani, atau Falasha (keturunan Nabi Sulaiman dan Ratu Balqis) justru sering didiskriminasi di Israel, meskipun mereka lebih sah secara genetik.

Kiai Ahmad Zabidi:
Ini mirip di Indonesia, seperti klaim nasab yang tidak sinkron dengan sejarah. Misalnya, Sunan Bonang yang makamnya diklaim di dua tempat, atau Sunan Muria. Seharusnya, nasab dan sejarah harus sejalan, didukung bukti otentik, termasuk genetika.

Ustadz Menahem Ali:
Betul. Klaim Yerusalem sebagai milik eksklusif Yahudi juga salah. Nabi Sulaiman memang membangun Baitul Maqdis, tapi peletak dasarnya adalah Syem bin Nuh (Melkisedek). Jadi, Yerusalem adalah warisan bersama, bukan milik satu kelompok.

Pembawa Acara:
Jadi, konflik ini bukan hanya soal agama, tapi juga ideologi dan politik?

Ustadz Menahem Ali:
Tepat. Al-Qur’an, Nabi Isa, Nabi Yahya, hingga Imam Al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin mengkritik mereka yang menyombongkan nasab. Al-Ghazali menegaskan bahwa kemuliaan bukan dari nasab, tapi dari ketakwaan. Ini sejalan dengan Al-Qur’an: “Inna akramakum ‘indallahi atqakum” (Yang paling mulia di sisi Allah adalah yang paling bertakwa).

Kiai Ahmad Zabidi:
Saya setuju. Nasab adalah fakta biologis, tapi ideologi adalah abstrak. Klaim nasab tidak boleh digunakan untuk merendahkan orang lain. Kita harus netral, logis, dan objektif. Sejarah berulang, seperti konflik di Gaza yang terus berlanjut, mengorbankan masyarakat sipil.

Pembawa Acara:
Menarik sekali. Kita juga mengingatkan bahwa Graha Mualaf sedang membangun masjid dan pesantren di Wonosalam, Jombang. Donasi dapat disalurkan ke rekening Bank Syariah Indonesia: 1118889971. Terima kasih kepada para donatur, semoga Allah melipatgandakan pahala.

Ustadz Menahem Ali (Penutup):
Dua poin:

  1. Islam adalah ajaran para nabi dari awal hingga akhir, dengan tokoh yang sama dalam Al-Qur’an dan kitab sebelumnya.
  2. Kritik terhadap penyalahgunaan nasab telah disampaikan oleh Nabi Isa, Nabi Yahya, Rasulullah, dan Imam Al-Ghazali. Jangan lupakan sejarah, karena ia berulang.

Kiai Ahmad Zabidi:
Nasab harus didukung bukti otentik, seperti genetika. Ideologi tidak boleh dicampur dengan nasab. Kita harus objektif dan logis.

Pembawa Acara:
Terima kasih kepada Ustadz Ali dan Kiai Zabidi. Kami mengundang siapa saja, termasuk pendeta, mualaf, atau ulama, untuk berdialog di studio Graha Mualaf. Hubungi admin kami melalui email atau kolom komentar. Semoga kajian ini bermanfaat. Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Hadirin:
Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh.

Link; https://youtu.be/HE0000Qxnbk?si=IQqV4OdOvQUUkLzi

Silahkan bagikan di :
  • Pos Sebelumnya
  • Bagaimana seseorang yang dianggap biasa, seperti Ismail, bisa melahirkan 12 raja?
Share This Post:

You May Also Like

Penutup Seri Nasab

03.11.2025 Idham Oka

Dialog Nasab: Antara Tradisi, Qur’an, dan Dokumen Sejarah 

17.10.2025 Idham Oka

Bagaimana seseorang yang dianggap biasa, seperti Ismail, bisa melahirkan 12 raja?

30.09.2025 Idham Oka

Sejarah Pra-Islam: Penguasaan Kaum Qahtan atas Hijaz dan Awal Masuknya Berhala ke Ka’bah

03.11.2025 Idham Oka

Meneladani kisah Pak Tono

21.08.2025 Idham Oka

Ketaatan dalam Islam: Mengapa Salat adalah Wujud Kepatuhan Seorang Muslim?

03.07.2025 Idham Oka

Form YPMA

Daftar Jadi Muallaf
Daftar jadi Volunteer
Hubungi Admin

Kategori

  • Aqidah 57
  • Fiqih 6
  • Kisah Islami 32
  • Kristologi 57
  • Muallaf 9
  • Sejarah 77
  • Uncategorized 21

Artikel Menarik

id="breaking-news-widget-prev_colormag_breaking_news_widget-3">
  • Perbandingan Kisah Kelahiran Nabi Isa dalam Al-Qur’an dan Alkitab: Akademik atas Perbedaan dan Kesamaan

    Perbandingan Kisah Kelahiran Nabi Isa dalam Al-Qur’an dan Alkitab: Akademik atas Perbedaan dan Kesamaan

    15.11.2025 Idham Oka
  • Membebaskan Agama dari Doktrin || Dokumen Internal Cukup Diimani Saja !!

    Membebaskan Agama dari Doktrin || Dokumen Internal Cukup Diimani Saja !!

    06.03.2026 Idham Oka
  • Ishak Anak Perjanjian? Ismail Ditolak? Bongkar Mitos Kejadian 17:18-20 dari Teks Ibrani Asli

    Ishak Anak Perjanjian? Ismail Ditolak? Bongkar Mitos Kejadian 17:18-20 dari Teks Ibrani Asli

    10.10.2025 Idham Oka
  • Kajian Idul Qurban: Ismail atau Ishak?

    Kajian Idul Qurban: Ismail atau Ishak?

    05.10.2025 Idham Oka
id="breaking-news-widget-next_colormag_breaking_news_widget-3">

Video YPMA

Komentar

Tidak ada komentar untuk ditampilkan.
  • Visi & Misi
  • Youtube GM
  • Profil

Copyright 2025 - Powered by YPMA

Read Next

Refleksi Akademik atas Polemik Nasab: Menuju Diskursus Bermartabat dan Berbasis Data

24.10.2025 Idham Oka

Silsilah Yesus yang dihilangkan

28.07.2025 Idham Oka