Apakah istilah “Israil” dalam Al-Qur’an sama dengan “Israel” dalam kitab-kitab lain?
Pembawa Acara (Edi):
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Berjumpa lagi di channel kita, Edi bersama Menahem Ali Official dan Graha Mualaf. Seperti biasa, setiap malam Jumat kita mengadakan kajian dengan topik-topik menarik. Malam ini, kita ditemani oleh Ustadz Menahem Ali. Assalamualaikum, Ustadz.
Ustadz Menahem Ali:
Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh.
Pembawa Acara:
Kita juga kedatangan tamu istimewa dari Pulau Garam, Madura, yaitu Kiai Ahmad Zabidi. Assalamualaikum, Kiai.
Kiai Ahmad Zabidi:
Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Alhamdulillah, diberikan kesehatan oleh Allah.
Pembawa Acara:
Alhamdulillah. Malam ini, kita melanjutkan pembahasan tentang Israel dan Palestina, khususnya mengenai keangkuhan Israel dan identitas Yahudi. Kita sudah membahas sebelumnya bahwa Yerusalem bukan hanya milik Bani Israel, tetapi juga Bani Ismail, dengan leluhur bersama, yaitu Syem bin Nuh atau Melkisedek. Ustadz Ali, silakan lanjutkan.
Ustadz Menahem Ali:
Alhamdulillah, puji syukur kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Malam ini, kita akan membahas tema besar, yaitu identitas Israel dan Yahudi dari perspektif Al-Qur’an, dengan interaksi bersama Kiai Ahmad Zabidi. Fokus kita adalah Nabi Yakub alaihissalam dan klaim-klaim terkait generasinya.
Pertanyaan utama: Apakah istilah “Israil” dalam Al-Qur’an sama dengan “Israel” dalam kitab-kitab lain? Al-Qur’an sebagai dasar utama kita menyebutkan “Israil” dalam beberapa ayat. Misalnya, dalam Surah Al-Baqarah ayat 98, disebutkan: “Man kana ‘aduwwan lillahi wa mala’ikatihi wa rusulihi wa Jibril wa Mikal fa innallaha ‘aduwwun lil kafirin.” Dalam qira’ah Syubah, nama “Jibril” dibaca “Jabrail.” Ini menunjukkan variasi pelafalan, tetapi merujuk pada sosok yang sama. Dalam bahasa Ibrani, malaikat ini disebut Gabriel.
Variasi nama ini mirip dengan perubahan nama tempat, seperti “Wedi” di Surabaya yang menjadi “Tambak Wedi” dalam manuskrip abad ke-19. Perbedaan pelafalan tidak mengubah substansi. Begitu pula dengan nama “Israil” dan “Yakub.”
Mari kita cek Surah Al-Baqarah ayat 133: “Am kuntum syuhada idz hadhara Ya’quba al-mautu idz qala li banihi ma ta’buduna min ba’di qalu na’budu ilahaka wa ilaha aba’ika Ibrahima wa Isma’ila wa Ishaqa ilahan wahidan wa nahnu lahu muslimun.” Di sini disebutkan Ibrahim, Ismail, Ishak, dan Yakub. Dalam terjemahan Ibrani, nama-nama ini menjadi Abraham, Yishmael, dan Yitzhak, tetapi merujuk pada tokoh yang sama.
Sekarang, fokus pada “Israil.” Dalam Surah Ali Imran ayat 93: “Kullut ta’ami kana hillan li Bani Israila illa ma harrama Israilu ‘ala nafsihi min qabli an tunazzala at-Tauratu…” Di sini, “Israil” dijelaskan dalam tanda kurung sebagai “Yakub.” Ulama sepakat bahwa Israil adalah nama lain Nabi Yakub. Dalam tradisi Yahudi, kitab Kejadian 32:22-29 menceritakan pergantian nama Yakub menjadi Israel setelah bergumul dengan “malaikat Tuhan” (malak Elohim), bukan Tuhan langsung. Istilah Elohim dalam bahasa Ibrani bisa merujuk pada hakim, penguasa, atau bahkan Nabi Musa (Keluaran 7:1).
Nama “Israil” berasal dari isra (hamba/tuan) dan il (Tuhan), sehingga berarti “hamba Allah” atau “yang bergumul dengan Allah.” Ini menunjukkan karakter Yakub yang kuat, bahkan disebut bergumul dengan malaikat.
Kiai Ahmad Zabidi:
Menarik. Ini mirip perubahan nama daerah, seperti Wedi menjadi Tambak Wedi. Pelafalan berbeda, tapi substansinya sama.
Ustadz Menahem Ali:
Tepat. Sekarang, kita bahas istilah “Bani Israil” dan “Yahudi” dalam Al-Qur’an. “Bani Israil” selalu merujuk pada nasab (keturunan Yakub) dan konteksnya positif, sebelum kelahiran Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam. Sedangkan “Yahudi” merujuk pada penganut agama atau ideologi, bukan nasab, terutama pada era Rasulullah.
Contohnya, Surah Al-Maidah ayat 18: “Wa qalatil Yahudu wan Nasara nahnu abna’ullahi wa ahibba’uh…” (Orang-orang Yahudi dan Nasrani berkata, “Kami adalah anak-anak Allah dan kekasih-kekasih-Nya”). Al-Qur’an mengkritik klaim ini, menegaskan bahwa mereka hanyalah manusia biasa, bukan istimewa karena nasab. Istilah ahibba (kekasih) dalam bahasa Arab adalah jamak dari habib, menunjukkan klaim keistimewaan mereka.
Pembawa Acara:
Jadi, mereka mengklaim keistimewaan karena nasab?
Ustadz Menahem Ali:
Ya, mereka mengklaim, “Anahnu kullam mizra Abraham, mizra Yitzhak, mizra Ya’akov” (Kami keturunan Ibrahim, Ishak, dan Yakub). Padahal, tidak semua Yahudi adalah keturunan Yakub. Yahudi Askenazi, misalnya, bukan dari 12 suku Bani Israil, melainkan pendatang dari Eropa, keturunan Yafet, bukan Syem. Sedangkan Yahudi Mizrahi, Temani, atau Falasha (keturunan Nabi Sulaiman dan Ratu Balqis) justru sering didiskriminasi di Israel, meskipun mereka lebih sah secara genetik.
Kiai Ahmad Zabidi:
Ini mirip di Indonesia, seperti klaim nasab yang tidak sinkron dengan sejarah. Misalnya, Sunan Bonang yang makamnya diklaim di dua tempat, atau Sunan Muria. Seharusnya, nasab dan sejarah harus sejalan, didukung bukti otentik, termasuk genetika.
Ustadz Menahem Ali:
Betul. Klaim Yerusalem sebagai milik eksklusif Yahudi juga salah. Nabi Sulaiman memang membangun Baitul Maqdis, tapi peletak dasarnya adalah Syem bin Nuh (Melkisedek). Jadi, Yerusalem adalah warisan bersama, bukan milik satu kelompok.
Pembawa Acara:
Jadi, konflik ini bukan hanya soal agama, tapi juga ideologi dan politik?
Ustadz Menahem Ali:
Tepat. Al-Qur’an, Nabi Isa, Nabi Yahya, hingga Imam Al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin mengkritik mereka yang menyombongkan nasab. Al-Ghazali menegaskan bahwa kemuliaan bukan dari nasab, tapi dari ketakwaan. Ini sejalan dengan Al-Qur’an: “Inna akramakum ‘indallahi atqakum” (Yang paling mulia di sisi Allah adalah yang paling bertakwa).
Kiai Ahmad Zabidi:
Saya setuju. Nasab adalah fakta biologis, tapi ideologi adalah abstrak. Klaim nasab tidak boleh digunakan untuk merendahkan orang lain. Kita harus netral, logis, dan objektif. Sejarah berulang, seperti konflik di Gaza yang terus berlanjut, mengorbankan masyarakat sipil.
Pembawa Acara:
Menarik sekali. Kita juga mengingatkan bahwa Graha Mualaf sedang membangun masjid dan pesantren di Wonosalam, Jombang. Donasi dapat disalurkan ke rekening Bank Syariah Indonesia: 1118889971. Terima kasih kepada para donatur, semoga Allah melipatgandakan pahala.
Ustadz Menahem Ali (Penutup):
Dua poin:
- Islam adalah ajaran para nabi dari awal hingga akhir, dengan tokoh yang sama dalam Al-Qur’an dan kitab sebelumnya.
- Kritik terhadap penyalahgunaan nasab telah disampaikan oleh Nabi Isa, Nabi Yahya, Rasulullah, dan Imam Al-Ghazali. Jangan lupakan sejarah, karena ia berulang.
Kiai Ahmad Zabidi:
Nasab harus didukung bukti otentik, seperti genetika. Ideologi tidak boleh dicampur dengan nasab. Kita harus objektif dan logis.
Pembawa Acara:
Terima kasih kepada Ustadz Ali dan Kiai Zabidi. Kami mengundang siapa saja, termasuk pendeta, mualaf, atau ulama, untuk berdialog di studio Graha Mualaf. Hubungi admin kami melalui email atau kolom komentar. Semoga kajian ini bermanfaat. Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Hadirin:
Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh.
Link; https://youtu.be/HE0000Qxnbk?si=IQqV4OdOvQUUkLzi

