AqidahKisah IslamiMuallaf

 Abraham sebagai Simbol Persatuan: Relasi Yahudi dan Islam dalam Teks Suci dan Konteks Historis

Sebagai penulis yang aktif di Yayasan Pembina Muallaf At Tauhid (YPMA) Jawa Timur, kami sering bertemu dengan muallaf yang penuh rasa ingin tahu tentang akar bersama antaragama. YPMA, sebagai lembaga pembinaan muallaf dan umat Islam di Jawa Timur, selalu menekankan dialog untuk memperkuat iman. Kami ingin menjelaskan bahwa Nabi Ibrahimatau Abraham dalam tradisi Yahudibukan hanya figur sejarah, melainkan simbol persatuan bagi tiga agama besar: Yahudi, Kristen, dan Islam. Apakah Kita pernah bertanya-tanya, mengapa nama Ibrahim disebutkan dalam shalat kita setiap hari, sementara tradisi Yahudi juga mengingatnya dalam doa mereka? Pertanyaan ini menggugah kami untuk menyelami lebih dalam relasi Yahudi dan Islam melalui teks suci, bahasa, dan konteks historis. Dalam artikel ini, kami akan mengerucut pada simbolisasi Ibrahim sebagai “Bapa Bangsa-bangsa” dan bagaimana ini menjadi payung bersama.

 Ibrahim: Tokoh Kunci dalam Ahlul Kitab

Menurut penulis, Ibrahim dikenal sebagai “Father of Nations” dalam tradisi Yahudi dan Kristen, serta “shuttle of Nations” dalam Islamsebuah istilah yang merujuk pada keturunannya yang menjadi akar tiga agama Abrahamik. Dalam Al-Qur’an, Taurat, dan Perjanjian Baru, nama Ibrahim disebutkan secara konsisten, menjadikannya tokoh bersama. Kami sebagai penulis ingin menekankan bahwa ini bukan kebetulan; ini adalah bukti kesatuan akar. Bayangkan, dalam shalat kita, kita mengucapkan “Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa ‘ala ali Muhammad kama shallaita ‘ala Ibrahim”sebuah doa yang mengikat kita dengan Ibrahim. Di sisi lain, tradisi Yahudi menggunakan bahasa Ibrani untuk doa serupa, membuktikan pentingnya figur ini yang diingat setiap momen.

Apakah ini hanya simbol? Tidak, karena teks suci saling melengkapi. Dalam Taurat (Kejadian 25:9), disebutkan bahwa Ibrahim dikuburkan oleh putra-putranya, Ishak dan Ismail. Urutannya: Ishak dulu, lalu Ismail. Sementara di Al-Qur’an, urutannya terbalikIsmail dulu. Pertanyaan yang menggugah: Apakah perbedaan urutan ini menyampaikan pesan tersembunyi? Menurut teori semiotik, ini bisa jadi penKita (signifier) dan pertKita (signified) yang mengajak kita berpikir out-of-the-box. Di YPMA, kami sering mendiskusikan ini dengan muallaf untuk memperkaya pemahaman mereka tentang kesamaan teks.

 Kesamaan Bahasa: Jembatan Ibrani dan Arab

Kami ingin menjelaskan bahwa kesamaan antara bahasa Ibrani dan Arab bukan sekadar linguistik, tapi juga simbolik. Tulisan Ibrani dibaca dari kanan ke kiri, mirip Arab. Contoh: Kata “asap” dalam Arab adalah “dukhān,” sementara dalam Ibrani “ashan”; “jin” menjadi “shedim”; “lam” menjadi “lamed.” Secara abjad, “ya” dalam Arab mirip “yod” dalam Ibrani. Ini menunjukkan kedekatan morfologis dan semantik.

Lebih menarik, nama “Ibrahim” memiliki variasi qira’at dalam Al-Qur’an. Di Surah Al-Baqarah, sering ditulis tanpa “ya” (Ibrahim), sementara di surah lain dengan “ya” (Ibraheem atau Ibrahaam).  Ini seperti dialek yang merujuk pada tokoh sama. Menurut penulis, ini mediator dari Allah, karena Ibrahim bukan nama asli Arabia disebut “Ibri” yang berarti “orang yang menyeberang,” bukan asli Arab tapi diarabkan. Apakah ini membuatnya payung bersama? Ya, dan di YPMA, kami gunakan ini untuk membina muallaf agar melihat Islam sebagai penyempurna tradisi sebelumnya.

 Gua Machpelah: Simbol Milik Bersama

Salah satu simbol terkuat adalah Gua Machpelah di Hebron, dikenal sebagai Cave of the Patriarchs bagi Yahudi dan Sanctuary of Abraham bagi Muslim.  Pada 2017, UNESCO menyatakan situs ini sebagai warisan dunia milik bersama, tidak boleh dikuasai satu pihak. Dalam tradisi Islam, ini disebut Al-Haram Al-Ibrahimi atau Masjid Ibrahim. Bangunan ini memiliki dua tempat ibadah bersebelahan, dipisah oleh kuburan IbrahimMuslim berdoa dengan Shalawat Ibrahimi, Yahudi dengan doa mereka. Pada momen tertentu, situs ini dibagikan untuk ibadah bersama.

Pertanyaan untuk Kita: Bisakah kita bayangkan tempat suci seperti ini di Indonesia? Ini mengajarkan toleransi, di mana nama Ibrahim dilafalkan berbeda tapi merujuk tokoh sama. Di YPMA Jawa Timur, kami ajak muallaf mengunjungi situs virtual seperti ini untuk memahami konteks politik dan keagamaan.

 Kisah Ibrahim Dibakar Api: Fakta atau Fiksi?

Kami sebagai penulis ingin mengerucut pada kisah ikonik: Ibrahim dibakar api tapi diselamatkan (Al-Qur’an 21:68-70). Apakah ini fiksi? Tidak, karena mirip dengan tradisi Yahudi midrashik, di mana Abraham dilempar ke tungku Nimrod karena menolak berhala.  Ini tidak ada di Tanakh (Perjanjian Lama), tapi di Midrash dan legenda Yahudi. Tradisi Kristen purba, seperti Gereja Koptik, juga mengakuinya dari kawasan Ur Kasdim.

Manuskrip Laut Mati (Dead Sea Scrolls), ditemukan 1947, berisi teks Alkitab tertua dari abad 3 SM hingga 1 M, termasuk narasi terkait Abraham.  Meski tidak langsung cerita api, ini menunjukkan kesamaan teks dengan Al-Qur’an. Jarak waktu 1000 tahun antara DSS dan Al-Qur’an tak mengurangi validitasmalah memperkuat sebagai warisan bersama. Di YPMA, kami diskusikan ini sebagai “ayat-ayat Israiliyyat,” bukan hadis yang dicurigai, tapi informasi Qur’ani yang melengkapi.

 Takwil dan Interpretasi: Kesamaan dengan Exegesis Yahudi

Akhirnya, kami ingin menjelaskan takwilinterpretasi alegoris dalam Islam, seperti menghindari antropomorfisme (misalnya, “tangan Allah” bukan harfiah). Ini mirip exegesis Yahudi, di mana Talmud dan komentar menghindari pemahaman fisik Tuhan.  Contoh: Dalam Zabur (Mazmur 37:29), “orang benar mewarisi bumi,” mirip Al-Qur’an (21:105) “orang shaleh mewarisi bumi.” Ini bukan plagiat, tapi repetisi ilahi.

Apakah takwil baru di Islam? Tidak, karena mirip metode Yahudi dari abad 2 M. Di YPMA, kami ajak muallaf kajian ini untuk membangun iman ilmiah, mempertemukan tradisi revisionis dan tradisional.

 Kesimpulan: Menuju Dialog yang Lebih Dalam

Menurut penulis, Ibrahim adalah simbol persatuan yang melintas batas teologis, linguistik, dan historis. Di YPMA Jawa Timur, kami terus membina umat dengan pendekatan ini, mengajak bertanya: Apakah kita siap memvalidasi fakta bersama untuk perdamaian? Mari eksplorasi lebih lanjuthubungi YPMA untuk sesi pembinaan. Terima kasih telah membaca; semoga menggugah pikiran Kita.

Hadanallah Wa Iyyakum

Wassakamualaikum

 

Silahkan bagikan di :