Ishak atau Ismail? Membongkar Misteri Pengorbanan Ibrahim Melalui Lensa Bahasa Semitik
Di tengah hiruk-pikuk perdebatan netizen yang tak pernah padam, kajian malam Jumat rutin di channel Graham Mualaf, Ustadz Main Hakim Ali, dan Edi Prayitno kembali menghangat. Kali ini, fokusnya pada sosok yang dikorbankan oleh Nabi Ibrahim ASIshak atau Ismail? Ustadz Main Hakim Ali, yang baru pulang dari Singapura dan Malaysia, duduk bersama Edi Prayitno untuk membedah isu ini melalui gaya bahasa Al-Qur’an dan Taurat. Wawancara ini bukan sekadar diskusi teologis, tapi petualangan linguistik yang mengungkap clue tersembunyi dalam bahasa Semitik. “Kalau semua komentar netizen senada, kajian kita nggak rame,” ujar Ustadz Ali sambil tersenyum. Mari kita simak dialog penuh insight ini!
Pembuka: Kembali dari Perjalanan, Siap Bedah Komentar Netizen
Edi Prayitno: Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, Ustadz. Alhamdulillah, Ustadz sudah balik dari Singapura dan Malaysia. Sehat?
Ustadz Main Hakim Ali: Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Alhamdulillah sehat, Pak Edi. Dari luar negeri langsung ke Surabaya, siap lanjut kajian.
Edi Prayitno: Channel kita kemarin ramai soal pengorbanan. Komentar netizen terbelah: Ishak atau Ismail? Diskusi hidup banget!
Ustadz Ali: Betul. Kalau komentar senada, nggak menarik. Yang penting, bukan hujatanitu kita delete. Tapi macam-macam komentar justru inspirasi buat riset lebih dalam. Kemarin bahas nasab, nanti lain hari. Malam ini, fokus Ishak-Ismail, lanjutan pekan lalu.
Fokus Linguistik: Gaya Bahasa Al-Qur’an Membuka Tabir
Ustadz Ali langsung menukik ke inti: bukan hadis semata, tapi karakter bahasa Qur’an yang sering luput. “Para ulama beda pendapat, tapi kita konsentrasi gaya bahasa Qur’an dan Ibranikeduanya Semitik, sejajar.”
Ia mulai dari Surah As-Saffat (37), ayat 112. Berikut teks Arab asli, transliterasi, dan terjemahan:
Teks Arab:
وَبَشَّرْنَاهُ بِإِسْحَاقَ نَبِيًّا مِّنَ الصَّالِحِينَ
Transliterasi:
Wa bashsharnāhu bi-Isḥāqa nabiyyan mina aṣ-ṣāliḥīn.
Terjemahan:
“Dan Kami beri kabar gembira kepadanya (Ibrahim) tentang (kelahiran) Ishak, seorang nabi di antara orang-orang saleh.”
Ustadz Ali: Lihat ayat sebelumnya (101-111): bicara sosok dikorbankan. Ayat 112 baru sebut Ishak sebagai kabar gembira kelahiran. Logika sederhana: yang dikorbankan bukan Ishak, karena dia belum lahir! Putra sebelum Ishak? Ismail.
Edi Prayitno: Mirip doa Ibrahim, ya?
Ustadz Ali: Tepat! Doa: “Rabbi habli minas-shalihin” (Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku keturunan yang saleh). Dijawab dengan putra halim (sabar)Ismail, dari akar “sami’a” (mendengar), karena Allah mendengar doa.
Untuk perbandingan, Ustadz Ali kutip Surah Ali Imran (3):39 tentang Yahya:
Teks Arab:
فَنَادَتْهُ الْمَلَائِكَةُ وَهُوَ قَائِمٌ يُصَلِّي فِي الْمِحْرَابِ أَنَّ اللَّهَ يُبَشِّرُكَ بِيَحْيَىٰ مُصَدِّقًا بِكَلِمَةٍ مِّنَ اللَّهِ وَسَيِّدًا وَحَصُورًا وَنَبِيًّا مِّنَ الصَّالِحِينَ
Transliterasi:
Fanādat-hu al-malā’ikatu wa huwa qā’imun yuṣallī fī al-miḥrābi anna Allāha yubashshiruka bi-Yaḥyā muṣaddiqan bi-kalimatin mina Allāhi wa sayyidan wa ḥaṣūran wa nabiyyan mina aṣ-ṣāliḥīn.
Terjemahan:
“Maka para malaikat memanggilnya sedang ia berdiri shalat di mihrab: ‘Sesungguhnya Allah menggembirakanmu dengan (kelahiran) Yahya, yang membenarkan kalimat dari Allah, menjadi ikutan, menahan diri dari hawa nafsu, dan seorang nabi termasuk orang-orang saleh.'”
Ustadz Ali: Redaksi sama: basyara bi- berarti kabar gembira kelahiran, bukan kenabian. Qur’an sastrawinama diabadikan dari peristiwa. Ishak dari “tertawa” (Sarah tertawa saat dengar kabar, Surah Hud 11:71).
Teks Arab (Hud 11:71):
وَامْرَأَتُهُ قَائِمَةٌ فَضَحِكَتْ فَبَشَّرْنَاهَا بِإِسْحَاقَ وَمِن وَرَاءِ إِسْحَاقَ يَعْقُوبَ
Transliterasi:
Wa imra’atuhu qā’imatun faḍaḥikat fabashsharnāhā bi-Isḥāqa wa min warā’i Isḥāqa Ya’qūb.
Terjemahan:
“Dan istrinya berdiri, lalu ia tertawa. Maka Kami beri kabar gembira kepadanya tentang (kelahiran) Ishak, dan setelah Ishak, Ya’qub.”
Kesejajaran dengan Taurat: Malaikat, Sapi, dan Bujang Misterius
Transisi ke Taurat (Kejadian 18:1-7). Ustadz Ali soroti narasi malaikat datang bawa kabar gembira, mirip Qur’an (Hud 11:69):
Teks Arab (Hud 11:69):
وَلَقَدْ جَاءَتْ رُسُلُنَا إِبْرَاهِيمَ بِالْبُشْرَىٰ قَالُوا سَلَامًا ۖ قَالَ سَلَامٌ ۖ فَمَا لَبِثَ أَن جَاءَ بِعِجْلٍ حَنِيذٍ
Transliterasi:
Wa laqad jā’at rusulunā Ibrāhīma bil-bushrā qālū salāman qāla salāmun famā labitha an jā’a bi’ijlin ḥanīdh.
Terjemahan:
“Dan sungguh, utusan-utusan Kami (malaikat) telah datang kepada Ibrahim membawa kabar gembira. Mereka mengucapkan: ‘Salam.’ Ia menjawab: ‘Salam.’ Maka tak lama kemudian, ia membawa daging anak sapi yang dipanggang.”
Ustadz Ali: Di Taurat, Ibrahim sajikan anak lembu. Ayat 7: Ibrahim serahkan ke “bujangnya”.
Teks Ibrani Asli (Kejadian 18:7):
וְאֶל־הַבָּקָר רָץ אַבְרָהָם וַיִּקַּח בֶּן־בָּקָר רַךְ וָטוֹב וַיִּתֵּן אֶל־הַנַּעַר וַיְמַהֵר לַעֲשׂוֹת אֹתוֹ
Transliterasi Ibrani:
V’el-ha-bakar ratz Avraham va-yikach ben-bakar rach va-tov va-yiten el-ha-na’ar va-y’maher la’asot oto.
Terjemahan Literal:
“Dan ke kawanan sapi berlari Abraham, lalu ia mengambil anak sapi yang empuk dan baik, dan memberikannya kepada ha-na’ar (pemuda itu), lalu ia segera mengolahnya.”
Ustadz Ali: Ha-na’ar bukan nama, tapi status: pemuda/remaja. Di tradisi Yahudi (Midrash, seperti Rashi), ini Ismail! Usia 13 tahunusia bar mitzvah, saat anak laki-laki Yahudi terkena hukum Taurat. Ismail dilatih Abraham laksanakan perintah, termasuk sembelih halal.
Edi Prayitno: Tapi terjemahan Indonesia berubah?
Ustadz Ali: Ya! Terjemahan Lama (1974-2010): “bujangnya” (masih lumayan, usia belasan). Terjemahan Baru Edisi 2 (TB2, 2023): “seorang hambanya” (hamba sahaya). Padahal Ibrani na’ar = pemuda/putra, bukan eved (hamba). Ini turunkan derajat Ismail dari putra jadi budak!
Tafsir Kuno dan Common Heritage
Ustadz Ali kutip tafsir awal:
– Tafsir Muqatil bin Sulaiman (tanpa sanad): sebut Ishak.
– Tafsir Sufyan ats-Tsauri (w. 161 H, dengan sanad): sebut Ismaillebih kuat secara ilmu hadis.
Usia korban: 13 tahun (Jalalain, Midrash). Bukan 5-7 tahunterlalu kecil bawa kayu, naik bukit. Ishak belum lahir saat kejadian ini.
Ustadz Ali: Ini common heritage Yahudi-Islam. Gus Baha bilang 7-13; kita konfirmasi 13, saat Ishak belum lahir.
Penutup: Ajakan Literasi dan Donasi
Edi Prayitno: Terjemahan punya muatan politik?
Ustadz Ali: Pasti. Muslim harus literasi dokumen Yahudi asli. Jangan biar Ismail dilabel buruk. Ini menyentuh tiga agamakita tersinggung juga!
Mereka tutup dengan ajakan donasi Pondok Pesantren At-Tauhid: Bank Syariah Indonesia, No. Rek. 1118899971, a.n. Yayasan Pembinaan Mualaf Jatim.
Ustadz Ali: Buka data seluas-luasnya, pakai bahasa asli. Ismail bukan budak, tapi putra tercinta.
Edi Prayitno: Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Wawancara ini bukan akhir, tapi undangan mendalami warisan Semitik. Siapa tahu, netizen berikutnya justru jadi peneliti handal? Kajian berikutnya: tuduhan pada ibu Ismail. Tetap tune in!

