KESEJAJARAN YESUS DAN NABI SAW
By: Menachem Ali – Ricky Valdy
The Yeshiva Institute
Ada yang bisa menjelaskan maksud hadits dan ayat Quran berikut ini? Kedua teks ternyata menggunakan ungkapan verba yang sepadan, yakni كنت (kunta) dan ارسلناك (arsalnaka), dan keduanya merupakan verba yang dalam bahasa Arab disebut bentuk fi’il madhi, dan bukan fi’il mudhari’. Kedua bentuk verba tersebut amat penting untuk memahami latar teks dan maksudnya.
١. متى كنت نبيا، قال وادم بين الروح و الجسد
(المصنف ابن ابي شيبة الكوفي ٨: ٤٣٨
٢. وما ارسلنك الا رحمة للعالمين. قل انما يوحى الي انما الهكم اله واحد فهل انتم مسلمون
(سورة الانبيلء ٢١: ١٠٧ – ١٠٨)
1. Shahabah bertanya: “Kapan engkau telah ada sebagai nabi?” Rasulullah menjawab: “Aku telah ada sebagai nabi tatkala Adam antara ruh dan jasad.”
Hadits ini merupakan pertanyaan para Shahabah kepada Rasulullah SAW, dan Nabi SAW kemudian bersabda kepada mereka dan menjawabnya demikian. Jawaban Nabi SAW tersebut tentu sangat mengejutkan para Shahabah waktu itu. Beliau menyatakan hal itu kepada mereka saat beliau telah mengemban misi kenabian di dunia, dan tatkala beliau telah ditabalkan kenabiannya di usia 40 tahun. Namun, jawabannya sungguh di luar dugaan. Beliau menyatakan bahwa ALLAH telah menahbiskan kenabiannya sejak masa purbakala, tatkala Adam belum tercipta sebagai manusia di bumi. Hadits ini merupakan dialog terbuka antara para Sahabat dengan Nabi SAW.
2. Artinya: “Tidaklah Kami telah mengutusmu kecuali sebagai rahmat bagi alam semesta. Katakanlah: “Sesungguhnya Dia mewahyukan kepadaku bahwasannya TUHAN kalian hanyalah TUHAN Yang Esa. Apakah kalian semua berserah diri kepada-Nya?” Ayat Quran tersebut menegaskan bahwa ALLAH berfirman kepada Nabi SAW bahwa dia sebenarnya telah diutus oleh-Nya sejak zaman purba untuk seluruh alam semesta. Dia selanjutnya mengumumkan kenabiannya tersebut saat menerima wahyu di dunia ini tatkala beliau berinteraksi dengan kaumnya. Itulah sebabnya pada Qs. Al-Anbiya’ 21:108 digunakan ungkapan verba bentuk fi’il mudhari’ (يوحى الي) , lit. “Dia sedang memberikan wahyu kepadaku.” Sebaliknya, Qs. Al-Anbiya’ 21:107 TUHAN menegaskan bahwa sejak masa purbakala Dia telah mengutusnya sebagai rakhmat bagi alam semesta. Dalam konteks ini, justru digunakan penanda verba bentuk fi’il madhi (ارسلنك), lit. “Kami telah mengutusmu.” Jadi, ayat ini menegaskan kerasulan Sang Nabi SAW telah terjadi sejak masa purbakala sebelum beliau dilahirkan, dan berita ini ditegaskan ulang oleh-Nya melalui ayat ini, yang merupakan dialog antara TUHAN dengan Nabi SAW secara eksklusif. Dengan demikian, dialog antara TUHAN dengan Sang Nabi SAW tersebut menegaskan pengutusannya sebagai rakhmat bagi alam semesta justru sejak awal zaman, yakni sebelum beliau ditahbiskan sebagai nabi saat berusia 40 tahun. Qs. Al-Anbiya’ 21:107-108 dalam versi Quran terjemahan bahasa Yunani tertulis demikian teksnya.
“Και δεν σε στειλαμε ω Μουχαμμεντ παρα μονο απο ελεος για ολο τον χοσμο. Να πεις: Εκεινο που μου δοθηχε με εμπνευση, ειναι οτι ο θεος σας ειναι ενας Θεος. Ειστε – λοιπον – εσεις υποταγμενοι στη θεληση Του στο Ισλαμ.”
Lihat Al-Qur’an al-Karim wa Tarjamah Ma’aniyah ila al-Lughah al-Yunaniyyah. To Iero Koranio (Madinah: Mamlakah al-‘Arabiyyah al-Su’udiyyah, 1418 H.), hlm. 483
Pada teks Yunani tersebut, ternyata digunakan ungkapan στειλαμε (baca: steilame), artinya: “Kami telah mengutus.” Verba bentuk lampau dalam gramatika bahasa Yunani tersebut meniscayakan makna tentang penahbisan kerasulan Sang Nabi SAW yang secara teologis terjadi di zaman lampau. Dan hal ini tidak bermakna pada konteks penahbisan kerasulan Sang Nabi SAW yang terjadi di dunia ini secara historis pada saat beliau berusia 40 tahun.
Redaksional teks yang senada dengan ayat Quran dan teks hadits tersebut juga termaktub dalam Alkitab. Bandingkan pula dengan teks berikut ini yang menggunakan term كاءن pada ayat Alkitab.
قال يسوع المسيح : قبل ايكون ابرهيم انا كاءن
Yesus berkata: “Sebelum Abraham ada, aku telah ada.” (Injil Yohanes 8:57-58).
Latar ayat tersebut juga terkait dengan pertanyaan orang-orang Yahudi terkait kenabian Yesus di dunia ini, yang saat itu belum genap berusia 50 tahun (Yohanes 8:53-57). Namun, justru jawaban Yesus tersebut diluar dugaan. Yesus justru menyatakan bahwa dia ada sebelum Abraham ada. Apakah hal ini bermakna bahwa eksistensi Yesus sudah ada sebelum siapapun dan sebelum apapun? Berdasarkan pada redaksional teksnya, ayat Alkitab tersebut hanya dapat menjadi dalil bahwa Yesus telah ada sebelum Abraham (Yohanes 8:58). Artinya, keberadaan Yesus memang telah ada sebelum Abraham ada, dan hal ini tidak ada kaitannya bahwa Yesus telah ada sebelum Adam. Jadi, Yesus hanya menjelaskan bahwa dia telah ada sebelum Abraham ada. Dengan demikian, ayat itu tidak bisa dijadikan dalil kalau Yesus dìanggap sebagai permulaan ciptaan dari antara semua ciptaan, atau pun dia dianggap sebagai αρχε (arche) atau pun sumber dari segala ciptaan yang ada. Begitu pula riwayat hadits shahih yang redaksional teksnya tersebut demikian.
كنت نبيا و آدم بين الروح و الجسد
Hadits ini juga terdapat pembatasan berupa lafadz نبيا (nabi). Maka, makna dari riwayat itu adalah Nabi Muhammad telah ada dan menjadi nabi sejak Adam belum ada. Riwayat tersebut tidak membicarakan tentang makhluk yang pertama kali diciptakan. Dengan kata lain, Sang Nabi SAW telah ada sebelum Adam ada, dan hadits tersebut memang tidak menjelaskan mengenai adanya Sang Nabi SAW sebelum segala sesuatu menjadi ada. Hal ini akan dibahas lebih lanjut pada pembahasan hadits yang lain.
Berdasar pada riwayat-riwayat hadits yang berbicara tentang “kebermulaan” penciptaan Nabi Muhammad SAW, sebagian teks haditsnya ada yang bersifat terbatas (muqayyad), dan bukan bersifat mutlak (muthlaq). Namun, sebagian teks haditsnya juga ada yang bersifat mutlak (mutlak), dan bukan bersifat terbatas (muqayyad). Dalam riwayat hadits yang termaktub pada kitab Al-Mushannaf Ibn Abi Syaibah (w. 235 H) memang konteksnya bersifat terbatas (muqayyad) karena dalam riwayat tersebut terdapat pembatasan (qayyid) yang menentukan konteks riwayat tersebut. Dengan demikian, karena konteksnya terbatas, maka tidak berlaku dalam setiap hal.
Hal senada juga termaktub pada hadits yang termaktub dalam kitab Tafsir, yang berbunyi demikian.
ﻭﺟﻌﻠﺘﻚ ﺃﻭﻝ اﻟﻨَّﺒِﻴﻴﻦ ﺧﻠﻘﺎ ﻭَﺁﺧﺮﻫﻢْ ﺑﻌﺜﺎ
Ternyata teks hadits tersebut telah menjadi wacana kolektif dan diakui validitasnya sejak era sebelum tahun 150 H. Itulah sebabnya ada ulasan penafsiran yang tentu saja merujuk pada “matan” teks hadits tersebut meskipun tanpa menyebutkan “sanad” haditsnya, sebagaimana yang termaktub dalam kitab tafsir tertua, yakni kitab Tafsir Muqatil bin Sulaiman (w. 150 H), terkait pembahasan Qs. al-Ahzab 33:7. Lihat Tafsir Muqatil bin Sulaiman juz III (Beirut, Lebanon: Dar al-Kutub Ilmiyyah, 2003), hlm. 36. Artinya, hadits tersebut merupakan wacana tertua dan termaktub dalam dokumen terkuno era pra-tahun 150 H., dan wacana itu ternyata juga termuat dan dikonfirmasi kebenaran haditsnya berdasar dokumen kitab Tafsir at-Thabari (w. 310 H). Sementara itu, redaksi hadits كنت نبيا وادم بين الروح والجسد ternyata merupakan hadits yang paling otentik karena kekunoan redaksional teksnya dan kekunoan dokumen manuskripnya. Fakta filologis ini termaktub dalam Mushannaf Abu Bakr bin Abi Syaibah (w. 235 H). Dengan demikian, hadits tersebut ternyata lebih kuno redaksional haditsnya dibanding redaksional hadits yang berbunyi كتبت نبيا وادم بين الروح والجسد sebagaimana teks hadits yang terdokumentasi dalam Musnad al-Shahabah karya Abu Bakr bin Harun ar-Ruyani (w. 307 H). Musnad Abi ‘Ashim (w. 287 H) ternyata juga menggunakan redaksi كنت نبيا, dan justru sebaliknya, Musnad Abu Bakr bin Harun al-Ruyani (w. 307 H) ternyata menggunakan redaksional hadits كتنت نبيا tersebut, dan fakta membuktikan bahwa redaksional hadits tersebut paling tua justru termaktub pada dokumen tahun 307 H. Artinya, kitab Mushannaf Ibn Abi Syaibah al-Kufi (w. 235 H) merupakan dokumen kitab hadits terkuno dibanding dokumen selainnya, terutama terkait eksistensi/keberadaan Sang Nabi SAW dan penahbisan kenabiannya sebelum beliau “nuzul” dan dilahirkan sebagai manusia di bumi. Hadits كنت نبيا (kuntu nabiyya) dishahihkan “sanad” dan “matan”-nya dalam kitab Mushannaf Ibn Abi Syaibah (w. 235 H), Musnad Abi ‘Ashim (w. 287) yang ditahqiq oleh Allamah Muhammad Nashiruddin Al-Albani. Bahkan juga termaktub kitab Al-Mustadrak ‘ala as-Shahihayn karya Imam ‘Al-Hakim (w. 405 H), dan “sanad” serta “matan”-nya juga dishahihkan oleh Imam Al-Hakim, dan Imam adz-Dzahabi (w. 748 H). Lihat kitab Al-Mustadrak Al-Hakim juz II (Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 1990 M/ 1411 H), hlm. 665-666.
Sementara itu, ada 3 kata kunci pada hadits yang termaktub dalam kitab Tafsir at-Thabari (w. 310 H) tersebut. Pertama, penggunaan fi’il madhi جعلتك pada hadits ini merupakan bukti kuat bahwa beliau telah diutus sebagai Nabi sebelum beliau dilahirkan sebagai manusia di bumi. Kedua, penggunaan term اول semakin memperkuat makna bahwa beliau adalah ciptaan yang paling awal dalam konteks نبوة (nubuwwah) di awal zaman, dan bukan dalam konteks خليقة (khaliqah), penciptaannya sebagai manusia di bumi. Ketiga, penggunaan term خلق pada teks hadits ini tidak dapat dimaknai pada saat beliau dilahirkan, tetapi dapat dimaknai sebagai خلق pada saat beliau belum dilahirkan. Apakah hadits ini mengindikasikan bahwa beliau merupakan “ciptaan” yang paling awal di antara semua ciptaan di jagad semesta? Apakah beliau sebagai ciptaan yang paling awal dari rentetan para nabi lainnya? Ini sangat menarik bila dikaji secara linguistik dan teologis. Bila ungkapan خلق pada hadits tersebut dimaknai dalam konteks “saat kelahiran secara manusiawi, maka hadits tersebut tidak akan punya makna apapun, karena term بعثا (ba’tsan) itu sendiri konteksnya merujuk pada saat beliau berusia 40 tahun tatkala beliau ditahbiskan sebagai nabi. Maka redaksional hadits yang berbunyi:
جعلتك أول النبيين …
Di situ terdapat pembatasan (qayyid) dalam konteks النبيين (nabi-nabi) bagi kata “awwal.” Bila hanya merujuk pada hadits ini, dengan adanya pembatasan (qayyid), maka dapat dipahami bahwa Nabi Muhammad memang adalah ciptaan pertama, tapi dalam konteks kenabian. Artinya, Nabi Muhammad adalah nabi yang pertama kali diciptakan. Dan sebagai nabi yang diciptakan pertama kali, tidak melazimkan dengan sendirinya menjadi makhluk yang diciptakan pertama kali. Namun, bila merujuk pada kajian hadits yang lain, yang redaksional teks haditsnya bersifat mutlaq (mutlaq), dan bukan bersifat pembatasan (muqayyad), maka akan terbukti bahwa Sang Nabi SAW sebenarnya adalah ciptaan yang paling awal sebelum diciptakannya segala ciptaan yang ada di jagad semesta ini. Hal tersebut akan dibahas pada artikel yang lain.
Dengan demikian, riwayat hadits yang terdokumen dalam kitab Mushannaf Ibn Abi Syaibah (w. 235 H) tersebut memang dapat dijadikan dalil bahwa Nabi Muhammad adalah nabi yang diciptakan pertama kali (mendahului nabi-nabi yang lain), akan tetapi tidak dapat dijadikan dalil bahwa Nabi Muhammad adalah makhluk yang diciptakan pertama kali di jagad semesta.

