Kajian Al-Aqsa dan Wacana Pembangunan Bait Suci Ketiga: Perspektif Lintas Agama
Diskusi virtual pada Kamis malam, yang diselenggarakan melalui Zoom oleh Yayasan Pembina Mualaf Attauhid, mengangkat tema Al-Aqsa dan Wacana Pembangunan Bait Suci Ketiga. Dipandu oleh Pak Dondi dan menghadirkan narasumber Pak Ali, kajian ini menyoroti signifikansi Masjidil Aqsa dalam tradisi Islam, Yahudi, dan Kristen, serta implikasi teologis dan historis dari wacana pembangunan Bait Suci ketiga di Yerusalem. Berikut adalah rangkuman dan analisis dari kajian tersebut.
Signifikansi Masjidil Aqsa dalam Tiga Agama Abrahamik
Perspektif Yahudi: Bet HaMikdash sebagai Pusat Kesucian
Pak Ali memulai dengan menjelaskan bahwa Masjidil Aqsa, yang dalam tradisi Yahudi disebut Bet HaMikdash (Bait Suci), adalah situs suci utama dalam agama Yahudi. Dalam doa harian Yahudi, sebagaimana dikutip dari teks Ibrani, Bet HaMikdash disebut sebagai “tempat kemuliaan Tuhan” dan “rumah keagungan yang disucikan”. Teks ini merujuk pada Yerusalem sebagai kota Tuhan dan Nabi Daud sebagai Mesias (Misho). Menurut Pak Ali, Bet HaMikdash dianggap sebagai Ruang Maha Kudus (Kodesh HaKodashim), tempat pelaksanaan hukum Torah secara lengkap, dengan batu fondasi (Even Shtiya) sebagai elemen sentral. Batu ini diyakini sebagai titik pijakan spiritual yang menghubungkan bumi dan langit, sebagaimana dicatat dalam tradisi Yahudi tentang mimpi Nabi Yakub di Bet El (Kejadian 28).
Perspektif Kristen: Nubuat Kehancuran Bait Suci
Dalam tradisi Kristen, Masjidil Aqsa atau Bet HaMikdash memiliki makna historis dan eskatologis. Pak Ali mengutip Injil Matius 23:37-39 dan 24:1-2, di mana Yesus meramalkan kehancuran Bait Suci: “Tidak satu batu pun di sini akan dibiarkan terletak di atas batu yang lain, semuanya akan diruntuhkan.” Nubuat ini terpenuhi pada tahun 70 Masehi saat Kaisar Titus menghancurkan Yerusalem dan Bait Suci, menyisakan Tembok Ratapan sebagai sisa reruntuhan. Dalam Injil Yohanes 4:19-21, Yesus juga menyatakan bahwa penyembahan tidak lagi terikat pada lokasi fisik seperti Gunung Gerizim atau Yerusalem, melainkan pada roh dan kebenaran, menunjukkan pergeseran makna Bait Suci menuju dimensi spiritual dalam Kristen.
Perspektif Islam: Masjidil Aqsa sebagai Situs Isra Mi’raj
Dalam Islam, Masjidil Aqsa adalah situs suci yang disebutkan dalam Al-Qur’an (Surah Al-Isra: 1), tempat Nabi Muhammad SAW melakukan perjalanan Isra dan Mi’raj. Pak Ali menjelaskan bahwa istilah Masjid dalam konteks ini tidak mensyaratkan adanya bangunan fisik, melainkan merujuk pada “tempat bersuci”. Pada masa Nabi, Masjidil Aqsa merujuk pada seluruh kompleks Bukit Bait Suci, bukan hanya bangunan Jami Al-Aqsa (Masjid Kubah Biru) atau Kubah Shakhrah (Kubah Emas). Ia menegaskan bahwa batu fondasi (Shakhrah), yang diyakini sebagai tempat pijakan Nabi saat Mi’raj, memiliki paralel dengan Hajar Aswad di Ka’bah, keduanya dianggap berasal dari surga menurut tafsir para mufassir awal.
Historisitas dan Penistaan Bait Suci
Pak Ali menyoroti sejarah kelam Bet HaMikdash sebelum era Islam. Pada abad ke-4 Masehi, Ratu Helena, ibu Kaisar Konstantin, memerintahkan penistaan situs suci ini dengan menjadikannya tempat pembuangan sampah, termasuk limbah ekstrem seperti kain bekas darah haid, sebagai bentuk anti-Semitisme. Hal ini berlangsung selama 307 tahun (330–637 Masehi) hingga Khalifah Umar bin Khattab membersihkan situs tersebut pada tahun 637 Masehi dan membangun masjid sederhana, yang menjadi cikal bakal Masjidil Aqsa modern.
Dokumen Katekhismus Romanus (1566) juga mencatat wacana anti-Semitisme dalam tradisi Kristen Byzantium dan Roma, yang menuduh orang Yahudi sebagai “pembunuh Tuhan” dan “penghianat”. Tuduhan ini baru dicabut pada Konsili Vatikan II (1962), setelah 396 tahun berlaku. Sementara itu, teks Yahudi seperti Pirkei D’Rabbi Eliezer (abad ke-1) meramalkan bahwa keturunan Ismail akan membangun sebuah bangunan di atas Bet HaMikdash, yang terwujud melalui pembangunan Masjidil Aqsa oleh Khalifah Umar.
Wacana Pembangunan Bait Suci Ketiga
Wacana pembangunan Bait Suci ketiga menjadi topik sensitif. Dalam tradisi Yahudi, Bait Suci ketiga dianggap akan dibangun oleh Mesias, dengan syarat menghancurkan Masjidil Aqsa yang ada saat ini. Pak Ali menyebutkan bahwa persiapan seperti penyediaan sapi merah (Parah Adumah) dan pelatihan imam Lewi telah dilakukan. Namun, menurut perspektif Islam, pembangunan ini akan memicu konflik global dan menjadi tanda eskatologis menjelang hari kiamat. Ia menegaskan bahwa situs suci ini, baik sebagai Bet HaMikdash maupun Masjidil Aqsa, memiliki nilai universal yang menghubungkan tiga agama Abrahamik.
Dialog Lintas Agama dan Refleksi
Diskusi ini menegaskan bahwa Masjidil Aqsa bukan sekadar situs fisik, melainkan simbol kesucian yang menghubungkan Yahudi, Kristen, dan Islam. Pak Ali menyoroti kesamaan antara Yerushalayim (kota damai) dan Darussalam (surga dalam Al-Qur’an), serta paralel antara Ka’bah dan Bet HaMikdash sebagai kiblat spiritual. Ia juga menekankan pentingnya memahami bahwa umat Yahudi dan Islam tidak menyembah batu (seperti Even Shtiya atau Hajar Aswad), melainkan menghormati situs suci sebagai titik koneksi dengan Tuhan.
Menurut penulis, kajian ini berhasil menjembatani pemahaman lintas agama dengan menunjukkan keterkaitan teologis dan historis antara ketiga agama. Namun, wacana pembangunan Bait Suci ketiga tetap menjadi isu sensitif yang memerlukan pendekatan dialogis untuk mencegah konflik. Kajian lebih lanjut tentang teks Qumran dan Talmud dapat memperkaya pemahaman tentang kontinuitas situs suci ini.
Penutup
Kajian ini menggarisbawahi pentingnya Masjidil Aqsa sebagai situs suci yang menyatukan narasi Yahudi, Kristen, dan Islam. Dengan pendekatan filologis dan teologis, diskusi ini membuka ruang untuk refleksi lintas agama dan mendorong penghormatan terhadap nilai-nilai universal kesucian. Penulis berharap kajian serupa dapat terus dilakukan untuk memperkuat dialog antaragama dan mencegah eskalasi konflik di masa depan.
Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Simak kajian ini di ; https://youtu.be/Aeb4vKV0ZTw?si=Z2rE39qaJDX46Le5

