Dari Ismail ke Muhammad: Nubuwah yang Terjeda?
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, berjumpa lagi di channel kita Graha Mualaf. Setiap malam Jumat, kita mengadakan kajian, dan malam ini kita hadirkan Ustaz Menachem Ali. Beliau baru saja pulang dari mudik, seperti juga saya. Kita mengucapkan Minal aidin wal faizin dan semoga amal ibadah kita di bulan Ramadan menjadi berkah.
Pada malam ini, kita akan membahas tuduhan dari Saifudin Ibrahim, yang kini berada di Amerika Serikat. Ia menuduh bahwa tidak ada nabi dari Bani Ismail, dan semua nabi berasal dari Israel, kecuali Nabi Muhammad. Tuduhan ini bukan hanya datang dari Saifudin Ibrahim, tetapi juga terdapat di kalangan beberapa orang Muslim yang tidak memahami apakah ada nabi setelah Nabi Ismail dan sebelum Nabi Muhammad.
Tuduhan ini sering muncul dalam diskusi lintas agama di kampus atau di warung kopi. Saifudin Ibrahim mewakili suara kaum Kristiani yang mengklaim bahwa nabi-nabi hanya diutus di kalangan Bani Israel, sementara di Bani Ismail tidak ada nabi yang diutus Tuhan. Pernyataan ini perlu dikritisi, karena jika ingin menyatakan demikian, harus ada bukti yang jelas. Tanpa bukti, apa yang dikatakan Saifudin Ibrahim perlu kita kaji ulang.
Oleh karena itu, kita akan membahasnya dengan kepala dingin dan berdasarkan dokumen yang ada. Kita mulai dari Alquran sebelum membahas dokumen lain. Salah satu frase dalam Alquran menyatakan bahwa setiap ummat diutus seorang nabi. Semua etnik dan bangsa pasti ada utusan Tuhan berfungsi sebagai nabi. Istilah nabi dalam bahasa Arab, Nevi dalam bahasa Ibrani, dan istilah lainnya dalam bahasa lain.
Dalam tradisi lain seperti bahasa Sansekerta, kita kenal istilah Avatar, yang mirip dengan konsep kenabian. Termasuk dalam tradisi bangsa Semit di Timur Tengah, nabi disebut dengan istilah yang beragam. Misalnya, Nabi Musa dalam bahasa Arab disebut Rasullulah, artinya utusan Allah. Dalam tradisi lain seperti India, konsep kenabian juga ada, meskipun tidak menggunakan istilah nabi, tetapi menggunakan istilah Avatar sebagai utusan Tuhan.
Penjelmaan Tuhan dalam bentuk yang datang kepada manusia di Bumi dijelaskan dalam kitab srimat Bhagawadgita. Di sana disebutkan bahwa jika kebenaran semakin menurun dan kejahatan semakin meningkat, Tuhan akan turun untuk membawa misi keilahian. Ini adalah bahasa metaforis yang dimaksudkan untuk melindungi orang-orang yang baik dan menegakkan kebenaran. Dalam tradisi Hindu, hal ini dikenal sebagai Avatar, dengan contoh seperti Sri Krisna dan Sri Rama. Konsep kenabian atau utusan juga digunakan oleh berbagai bangsa dan agama, tidak hanya terbatas pada Bani Israel.
Kitab agama Khonghucu menyebutkan Nabi Konghu, menunjukkan bahwa tradisi kenabian ada di semua budaya. Alquran juga menyatakan bahwa semua bangsa memiliki hak untuk mendapatkan Anugerah Ilahi dalam bentuk kenabian, termasuk Bani Ismail dan bangsa lain di luar Bani Arab. Ada kemungkinan di Indonesia juga terdapat nabi-nabi sebelum Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam, meskipun informasi tentang mereka tidak selalu tercatat.
Fitrah manusia adalah untuk mengakui adanya kekuatan yang lebih tinggi dan ini mungkin merupakan bagian dari pencarian mereka akan Tuhan. Semua agama memberikan pengajaran tentang Ketuhanan dan melalui cara komunikasi masing-masing. Muncul pertanyaan Apakah Bani Ismail Tidak Memiliki Nabi?. Untuk menjawab ini, kita bisa mulai dengan merujuk Alquran. Dalam surah Al-Baqarah, dikatakan bahwa Nabi Ibrahim bersama putranya, Ismail, berdoa kepada Tuhan untuk mengutus seorang rasul dari kalangan mereka. Dimulai denga napa yang dilkukan Ibrahim dan Isail untuk meninggikan fondai Baitullah pada Surat Al Baqoroh ayat 127, Allah berfirman:
وَاِذْ يَرْفَعُ اِبْرٰهمُ الْقَوَاعِدَ مِنَ الْبَيْتِ وَاِسْمٰعِيْلُۗ رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّاۗ اِنَّكَ اَنْتَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ ١٢٧
wa idz yarfa‘u ibrâhîmul-qawâ‘ida minal-baiti wa ismâ‘îl, rabbanâ taqabbal minnâ, innaka antas-samî‘ul-‘alîm
(Ingatlah) ketika Ibrahim meninggikan fondasi Baitullah bersama Ismail (seraya berdoa), “Ya Tuhan kami, terimalah (amal) dari kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.
Dalam doa Nabi Ibrahim di surah Al-Baqarah ayat 128, Allah berfirman:
رَبَّنَا وَاجْعَلْنَا مُسْلِمَيْنِ لَكَ وَمِنْ ذُرِّيَّتِنَآ اُمَّةً مُّسْلِمَةً لَّكَۖ وَاَرِنَا مَنَاسِكَنَا وَتُبْ عَلَيْنَاۚ اِنَّكَ اَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمُ ١٢٨
rabbanâ waj‘alnâ muslimaini laka wa min dzurriyyatinâ ummatam muslimatal laka wa arinâ manâsikanâ wa tub ‘alainâ, innaka antat-tawwâbur-raḫîm
Ya Tuhan kami, jadikanlah kami berdua orang yang berserah diri kepada-Mu, (jadikanlah) dari keturunan kami umat yang berserah diri kepada-Mu, tunjukkanlah kepada kami cara-cara melakukan manasik (rangkaian ibadah) haji, dan terimalah tobat kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Penerima Tobat lagi Maha Penyayang.
Selanjutnya pada ayat ke 129, Allah berfirman:
رَبَّنَا وَابْعَثْ فِيْهِمْ رَسُوْلًا مِّنْهُمْ يَتْلُوْا عَلَيْهِمْ اٰيٰتِكَ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتٰبَ وَالْحِكْمَةَ وَيُزَكِّيْهِمْۗ اِنَّكَ اَنْتَ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُࣖ ١٢٩
rabbanâ wab‘ats fîhim rasûlam min-hum yatlû ‘alaihim âyâtika wa yu‘allimuhumul-kitâba wal-ḫikmata wa yuzakkîhim, innaka antal-‘azîzul-ḫakîm
Ya Tuhan kami, utuslah di antara mereka seorang rasul dari kalangan mereka, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat-Mu, mengajarkan kitab suci dan hikmah (sunah) kepada mereka, dan menyucikan mereka. Sesungguhnya Engkaulah Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.”
Ia meminta agar Tuhan mengutus seorang utusan yang akan membacakan ayat-ayat-Nya, mengajarkan kitab, dan menyucikan mereka. Ada dua ayat yang penting, yaitu ayat 128 dan 129, di mana Nabi Ibrahim meminta agar dia dan keturunannya menjadi umat yang berserah diri kepada Tuhan. Ini menegaskan bahwa dalam konteks tersebut, doa Nabi Ibrahim bersifat eksklusif dan diarahkan kepada anak dan cucunya.
Dengan demikian, penting untuk memahami bahwa keturunan Ismail juga memiliki kehadiran nabi sebagai bagian dari tradisi agama ini, dan pengakuan terhadap utusan ini merupakan hal yang universal dalam konteks ketuhanan.
Ayat 127 menegaskan saat Ibrahim mendirikan pondasi rumah Allah bersama putranya, Ismail. Dalam konteks ini, Ibrahim dan Ismail secara jelas disebutkan berdoa, “Rabbana taqobbal minna,” yang berarti “Wahai Tuhan kami, terimalah dari kami. ” Dalam ayat 128, mereka memohon agar dijadikan ummah yang tunduk kepada Tuhan, yang mengacu pada keturunan Ibrahim melalui Ismail, menjadi satu bangsa besar. Ini menunjukkan bahwa yang dimaksud adalah lebih dari sekadar individu, melainkan satu ummah dengan nasab dari Nabi Ibrahim melalui Ismail.
Permohonan Ibrahim untuk diutusnya seorang nabi dari keturunannya diungkapkan dalam ayat 128. Ummah besar ini berasal dari keturunan Ismail, dan Alquran menegaskan bahwa di antara keturunan Ismail, Allah mengutus seorang nabi. Walaupun Alquran tidak menyebutkan jumlah nabi, dalam tradisi Islam, nabi terakhir adalah Muhammad, yang merupakan keturunan Ismail.
Tradisi Yahudi dan Kristiani juga mengakui asal-usul dari keturunan Ismail. Dalam Alkitab berbahasa Ibrani, ada informasi tentang anak-anak Ismail yang tercantum dalam kitab Kejadian pasal 25 ayat 13 hingga 18, menuliskan nama-nama antara lain Nebayot, Kedarl, dan lainnya. Ismail hidup hingga 137 tahun dan kemudian meninggal, sedangkan keturunannya mendiami daerah dari Hawila sampai Sure, di sebelah timur Mesir.
Informasi dalam Alkitab tersebut penting karena juga diperiksa oleh saudara-saudara Kristiani, baik Katolik, Ortodoks, maupun Protestan. Dalam kitab keagamaan Yahudi yang ditulis dalam bahasa Ibrani, nama-nama keturunan Ismail disebutkan berdasarkan urutan lahir, termasuk nama Masha yang berarti ucapan Ilahi, menunjukkan makna positif dan berkaitan dengan nubuatan.
Selain itu, dalam Kitab Amsal pasal 30 ayat 1,
דִּבְרֵי אָגוּר בֶּן־יָקֶה הַמַּשָּׂא
נְאֻם הַגֶּבֶר לְאִיתִיאֵל לְאִיתִיאֵל וְאֻכָל׃
Transliterasi:
Divrei Agur ben-Yakeh ha-Masa, ne’um hagever l’Iti’el, l’Iti’el ve’Ukhal.
Terjemahan
“Perkataan Agur bin Yake dari Masa…”
ada penyebutan seorang yang bernama Masha, yang menggambarkan lainnya yang berpotensi menjadi nabi. Penugasan ini memberikan gambaran tentang keterkaitan dan harapan akan datangnya seorang nabi dari keturunan Ismail dan suku-suku yang bersangkutan.
Agur bin Yake adalah keturunan Masha dan memiliki hubungan dengan Ismail. Ini menunjukkan bahwa Agur bin Yake bukan hanya nama, tetapi juga membuktikan nasab dari Masha dan Ismail. Ada pertanyaan mengenai apakah Agur bin Yake hanya orang biasa atau memiliki kepercayaan dari Tuhan untuk menyampaikan ucapan ilahi. Ucapan Agur bin Yake diabadikan dalam Kitab Amsal, yang menunjukkan pentingnya pernyataan tersebut.
Salomo, sebagai anak Nabi Daud, memiliki status penting. Meskipun ada yang berpendapat bahwa Daud bukan nabi, Kitab Perjanjian Baru menetapkan Daud sebagai nabi dalam Kisah Para Rasul pasal 2 ayat 30,
Teks Yunani Asli (Kisah Para Rasul 2:30)
Προφήτης οὖν ὢν καὶ εἰδὼς ὅτι ὅρκῳ ὤμοσεν αὐτῷ ὁ θεὸς ἐκ καρποῦ τῆς ὀσφύος αὐτοῦ καθίσαι ἐπὶ τὸν θρόνον αὐτοῦ
Prophētēs oun ōn kai eidōs hoti horkō ōmosen autō ho Theos ek karpou tēs osphyos autou kathisai epi ton thronon autou.
Terjemahan:
“Karena ia (Daud) adalah seorang nabi, dan mengetahui bahwa Allah telah bersumpah kepadanya dengan sumpah bahwa dari keturunan tubuhnya, Ia akan mendudukkan seseorang di atas takhtanya…”
yang menjadi bukti bahwa Daud memang seorang nabi. Sulaiman juga bukan sekadar raja, tetapi dia juga disebut nabi. Oleh karena itu, Amsal yang ditulis oleh Sulaiman merupakan ucapan ilahi.
Ucapan oleh Agur bin Yake diadopsi dalam Kitab Amsal, yang merupakan bagian dari pewahyuan di Kitab Perjanjian Lama. Lemuel, raja Masha, mendapatkan ucapan dari ibunya dan juga memiliki hubungan yang sama. Oleh karena itu, Agur bin Yake dan Lemuel adalah orang-orang yang diberi wahyu oleh Tuhan, dan ucapan mereka tercatat dalam Kitab Amsal, yang diakui oleh kaum Kristen sebagai bagian dari Bible.
2. Amsal 31:1 – Lemuel
Teks Ibrani (Masoretic Text):
דִּבְרֵי לְמוּאֵל מֶלֶךְ מַשָּׂא אֲשֶׁר יִסְּרַתּוּ אִמּוֹ׃
Terjemahan:
“Perkataan Lemuel, raja Massa, yang diajarkan ibunya kepadanya.”
Kata Kunci:
- Lagi-lagi muncul kata מַשָּׂא (massa) — bisa berarti “wahyu/nubuat” atau nama tempat/suku.
- Walau ucapan ini datang dari ibunya, dicatat dalam bentuk yang setara dengan literatur hikmat dan kenabian, dan dianggap bagian dari Kitab Suci.
Lemuel juga diposisikan sebagai penyampai wahyu atau pernyataan penting, setidaknya dalam bentuk hikmat raja yang berasal dari pendidikan spiritual.
Dari keturunan Masha, terdapat orang-orang yang diangkat oleh Tuhan menjadi penyampai kebenaran, termasuk Agur bin Yake. Nama Agur bin Yake tidak tercantum dalam Al-Quran, melainkan lemuel, yang menunjukkan bahwa dia termasuk dalam nabi-nabi besar. Menurut hadis, terdapat 124. 000 nabi, tetapi hanya 25 yang disebut dalam Al-Quran. Ini menunjukkan bahwa banyak nabi tidak disebutkan dalam Al-Quran, termasuk Yesaya.
Tuduhan bahwa hanya keturunan Ishak dari Bani Israel yang memiliki nabi sudah terjawab, karena Ismail juga memiliki anak, yang menjadi 12 raja dari keturunan Arab. Ini menunjukkan bahwa kita tidak boleh meremehkan keturunan Ismail. Agur dan Lemuel adalah contoh orang-orang pilihan yang menerima wahyu, dan ucapan mereka adalah ucapan ilahi.
Kalau seseorang menerima wahyu dan ucapannya dari Tuhan, maka dia disebut nabi. Seorang nabi mendapatkan kepercayaan dari Tuhan untuk menyampaikan ucapan Ilahi yang diabadikan dalam Kitab Amsal, yang merupakan amsal dari Nabi Sulaiman. Amsal ini diakui dalam tradisi Yahudi dan Kristiani sebagai bagian dari kitab suci Perjanjian Lama. Apapun pengakuan orang lain, posisi nabi tetap mulia. Angka 12 juga memiliki makna khusus; terdapat 12 suku Israel, 12 suku bangsa Arab, dan nabi Yesus memiliki 12 murid. Angka 12 simbolis dan mencerminkan ciri-ciri bangsa-bangsa.
Pembahasan ini berfokus pada keturunan Ismail dan bagaimana ada orang-orang yang dipilih Tuhan untuk menyampaikan ucapan Ilahi. Salah satu sumber informasi berasal dari tafsiran para Rabi Yahudi, khususnya dari The JPS Torah Commentary: Genesis yang ditulis oleh Nahum M. Sarna, seorang editor terkenal. Penerbitan ini berasal dari tahun 1989, yang ada kaitannya dengan tradisi Yahudi. Sarna mencatat bahwa keturunan Ismael terdiri dari dua belas anak laki-laki, sebagaimana disebutkan dalam Kejadian 25:12–18. Ia menyoroti bahwa daftar ini mencerminkan konfederasi suku yang kuat dan berpengaruh. Beberapa nama keturunan Ismael, seperti Kedar dan Nebayot, juga muncul dalam sumber-sumber Timur Dekat kuno di luar Alkitab, menunjukkan keberadaan dan pengaruh mereka di wilayah tersebut. Sarna menekankan bahwa batas-batas antara keturunan Ismael dan Keturah seringkali kabur, mencerminkan fluiditas dan ketidakstabilan aliansi suku di Timur Dekat kuno.
Tafsiran tersebut menghubungkan nama-nama anak Ismail dalam Kitab Kejadian Pasal 10 ayat 30 hingga Pasal 25 ayat 13 sampai 18. Dalam Pasal 10 ayat 30,
📖 Kejadian 10:30 dalam Bahasa Ibrani
Teks Ibrani (Masoretic Text):
וַיְהִי מוֹשְׁבָם מִמֵּשָׁא בֹּאֲכָה סְפָרָה הַר הַקֶּדֶם׃
Transliterasi:
Vayehi moshvam mi-Mesha bo’akha Sefara har ha-kedem.
Terjemahan :
“Wilayah mereka terbentang dari Mesha sampai ke arah Sefar, gunung sebelah timur.”
dijelaskan bahwa daerah kediaman mereka terbentang dari Mesa ke arah Sefar, yaitu pegunungan di timur. Tafsir ini menunjukkan bahwa kawasan Messa mungkin merujuk pada nama Masha dalam pasal yang berbeda, yang menandakan bahwa ada relasi antara nama tersebut. Ayat ini adalah bagian dari Daftar Keturunan Sem, khususnya keturunan Yoktan, anak dari Eber. Meskipun ini bukan langsung garis keturunan Ismael, namun nama-nama dan lokasi yang disebutkan di sini — seperti Mesha dan Sefar — mungkin berkaitan secara geografis dan etnologis dengan kelompok-kelompok yang kemudian termasuk atau berinteraksi dengan keturunan Ismael (Kej. 25:13–18).
📖 Kaitan dengan Kejadian 25:13–18 (Anak-anak Ismael)
Di Kejadian 25:13–18, dituliskan daftar anak-anak Ismael:
“Inilah nama anak-anak Ismael, dengan nama-nama mereka menurut urutan lahirnya: Nebayot, Kedar, Adbeel, Mibsam, Mishma, Duma, Masa, Hadad, Tema, Yetur, Nafish, dan Kedma.”
- Beberapa nama seperti Masa (מַשָּׂא, Massa), Tema, dan Kedar dapat ditemukan dalam sumber geografis dan sejarah sebagai suku Arab di daerah timur atau selatan — dekat atau dalam wilayah yang disebutkan di Kejadian 10:30.
- Oleh karena itu, tafsiran Yahudi atau modern sering menghubungkan keturunan Yoktan (Kej. 10) dengan keturunan Ismael (Kej. 25) karena kemiripan lokasi dan nama.
Ketika membahas Pasal 10 ayat 30, Dalam Kejadian 10:30, disebutkan bahwa keturunan Yoktan menetap di wilayah yang membentang dari Mesha hingga Sefar, di daerah pegunungan sebelah timur. Beberapa penafsir dan ahli geografi Alkitab mengaitkan lokasi ini dengan wilayah di selatan Jazirah Arab, yang berdekatan dengan tempat-tempat yang kemudian dihuni oleh keturunan Ismael.
Kejadian 10:30 dalam Bahasa Ibrani
וַיְהִי מוֹשָׁבָם מִמֵּשָׁא בֹּאֲכָה סְפָרָה הַר הַקֶּדֶם׃
Transliterasi: Vayehi moshavam mi-Mesha bo’akha Sefarah har ha-kedem.
Terjemahan: “Wilayah kediaman mereka adalah dari Mesha sampai ke Sefar, di pegunungan sebelah timur.”
Penjelasan Geografis
- Mesha: Lokasi ini tidak dapat diidentifikasi dengan pasti, namun beberapa ahli mengaitkannya dengan daerah di selatan Jazirah Arab, mungkin dekat dengan Mecca.
- Sefar: Diduga merujuk pada wilayah di selatan Arab, mungkin di daerah Hadramaut (sekarang bagian dari Yaman).
- Har ha-kedem: Secara harfiah berarti “gunung di timur”, menunjukkan bahwa wilayah ini berada di bagian timur dari lokasi yang dikenal oleh penulis.
Dalam Kejadian 25:13–15, disebutkan nama-nama anak Ismael, termasuk Massa dan Tema, yang diyakini menetap di wilayah Arab bagian utara dan tengah. Beberapa ahli berpendapat bahwa ada kemungkinan hubungan geografis antara keturunan Yoktan dan keturunan Ismael, mengingat kedekatan lokasi tempat tinggal mereka.
Meskipun tidak ada bukti definitif yang menghubungkan langsung antara Mesha dan Massa, analisis geografis menunjukkan bahwa wilayah kediaman keturunan Yoktan dan keturunan Ismael berada dalam kawasan yang berdekatan di Jazirah Arab. Hal ini menunjukkan kemungkinan adanya interaksi atau hubungan antara kedua kelompok tersebut dalam sejarah awal bangsa-bangsa Semitik.
Daerah kediaman mereka dijelaskan, dan menunjukkan adanya koneksi antara nama Mesha dan Massa. Nama-nama ini memiliki huruf yang sama, sehingga ada hubungan antara kawasan Messa dan keturunan Ismail, yaitu masa. Ketika dijelaskan lebih jauh oleh Rabi, dikatakan bahwa mereka mendiami kawasan dari Mekkah menuju kawasan al-Madinal di timur. Istilah Masha dipahami sebagai Makkah, dan ini adalah nama dari keturunan Ismail yang dijelaskan oleh Nahum Sharma.
Di ayat kejadian pasal 25 ayat 13, Masya Allah, ini hebat. Ini berarti kita sudah membongkar satu rahasia lagi. Dulu, si Udin pernah ngomong bahwa Nabi Ibrahim bertemu dengan Ismail dan mendirikan Ka’bah atau meletakkan batu Ka’bah. Saat itu, di Arab belum ada orang karena masih padang pasir. Namun, penjelasan di sini menunjukkan bahwa keturunan Nabi Ismail sudah mendiami Arab hingga ke Madinah. Ini bukan hanya dari Alquran, tetapi juga dari kitab orang Yahudi yang ditulis atau ditafsirkan oleh nabi-nabi. Oleh karena itu, tuduhan bahwa Arab Saudi waktu itu belum ada orangnya terbantahkan.
Dokumen tradisi Yahudi memperkuat bahwa ada kawasan yang disebut oleh Herba sebagai Makkah. Dalam bahasa Ibrani, kawasan yang dihuni kaum keturunan Ismail juga dikenal sebagai Makkah. Ini berarti keturunan Ismail sudah menyebar ke kota Makkah. Penulisnya adalah orang Yahudi yang memiliki sejarah yang otoritatif, tidak hanya berdasarkan tulisan tetapi juga arkeologi yang menguatkan bukti-bukti sejarah.
Ada dua kesaksian di sini: pertama, ada nabi-nabi dari keturunan Ismail yang menyebar hingga ke Arab Saudi, dan kedua, tuduhan bahwa di Makkah saat itu belum ada manusia terbantahkan. Oleh karena itu, jika mau mempelajari kitab Perjanjian Lama, harus merujuk pada sumber yang otentik, yaitu kaum Yahudi yang memahami kitab tersebut.
Jika ada orang yang meragukan tulisan para Rabi Yahudi, bagaimana mungkin? Kitab Perjanjian Lama merupakan kitab orang Yahudi sendiri, sedangkan orang-orang yang mengklaim kitab Perjanjian Lama sebagai bagian dari Alkitab harus berpikir jernih dan merujuk pada kitab awalnya. Dalam konteks ini, orang Yahudi dan Muslim bisa dilihat sebagai saudara, sementara kaum Kristen sebagai yang kedua.
Hal ini menunjukkan bahwa terjadi perbedaan penafsiran antara tradisi Yahudi dan tradisi Islam. Namun, dalam banyak hal, penafsiran mereka masih mempertahankan keaslian teks. Kitab yang dibawa adalah karya dari tradisi Yahudi yang diterbitkan di Yerusalem dan Amerika. Jika ada penolakan terhadap data ini, itu mungkin karena ketidakmampuan mengikuti alur berpikir. Tradisi Yahudi tetap jujur dalam menyampaikan informasi.
Akhirnya, mereka menyatakan bahwa kawasan Meisya sebenarnya dihuni oleh keturunan Ismail dan kawasan ini adalah kota Makkah. Dua keturunan ini dianggap sebagai nabi dan termasuk dalam Kitab Amsal, yang juga merupakan kitab orang Yahudi dan bagian dari tradisi kaum Kristiani, termasuk Katolik. Keturunan ini masih diakui sebagai bangsa besar, dan salah satunya adalah Agur bin Yake. Ini belum termasuk bahasan tentang nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam. Pembicaraan ini berfokus pada dua orang dari 12 raja-raja, yang juga dituduh dalam konteks yang kompleks. Meskipun ada yang tidak percaya pada nabi Muhammad, mereka menyebutnya Nabi Bani קֵדָר (Qēdār),, yang secara tidak langsung mengakui keturunan Ismail.
Saifudin menyatakan bahwa meskipun menolak kenabian Muhammad, ia juga mengakui bahwa Muhammad adalah nabi. Keberadaan keturunan Ismail juga dianggap penting dalam konteks ini. Jika ditanya kepada Pak Edi, ia mungkin merasa bangga jika disebut sebagai Nabi Bani קֵדָר (Qēdār), yang menunjukkan hubungan dengan Ismail. Namun, ada tuduhan yang kompleks bahwa keturunan Bani קֵדָר (Qēdār), akan menyerang Bani Israel, sementara dalam kitab raja-raja malah diceritakan bahwa pertikaian terjadi di antara suku Israel sendiri.
Perpecahan di antara keturunan Yakub menyebabkan pertumpahan darah, termasuk satu suku yang dihabiskan. Ini menghadirkan konteks yang lebih mendalam tentang keturunan Ismail dan para nabi dari keturunannya. Ditegaskan bahwa saat Nabi Ibrahim bertemu dengan Ismail, sudah ada suku-suku yang tinggal di wilayah tersebut, bukan hanya kawasan yang gersang. Area seperti Kota Mekah dikenal dalam tradisi Yahudi dan dianggap sakral. Keturunan Ismail, terutama yang bernama Masha, mendapatkan kehormatan dari Tuhan. Dua contoh yang disebutkan menjelaskan bahwa keturunan ini mendapatkan posisi penting dalam membawa amanah ilahi.
Terima kasih saudara-saudaraku untuk kajian malam ini. Kami sedang membangun pondok pesantren di Jombang dan sudah menerima dana untuk memulai pembangunan. Masyarakat di sekitar sangat membutuhkan masjid, karena mereka saat ini harus turun ke bukit untuk melaksanakan salat Jumat. Kami berharap pembangunan masjid ini bisa segera selesai. Kami juga butuh dukungan dari donatur. Dana yang diperlukan untuk pembangunan masjid mencapai sekitar 300 juta. Jika ada yang ingin berinfak,
Silahkan anda bisa kirim ke rekening:
Bank SYARIAH INDONESIA
► Kode bank: (451) No Rek: 111-888-9971
► an. YPM At Tauhid Jawa Timur ,
► Bukti transfer dapat dikonfirmasikan ke :
HP/WA +6281235871100 (24 Jam)
Kami berkomitmen untuk menggunakan dana ini hanya untuk pembangunan. Terima kasih, wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Bagi para pemirsa yang menginginkan tayangan Video dapat cek di: https://youtu.be/v4-goxbIh44?si=cCDR2g7PK2r9sVwB

