AqidahKisah IslamiSejarah

Meluruskan Sejarah Awal Penyembahan Berhala di Ka’bah – Bukan dari Keturunan Ismail

Host: Pak Edi (Graha Mualaf) 

Narator Utama: Ustaz Menachem Ali 

Pak Edi: Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Berjumpa lagi di channel kita, GrahaMualaf, Pak Edi dan Menachem Ali Official. Seperti biasa, setiap malam Jumat kita adakan diskusi menarik sesuai topik viral. Malam ini, kita ditemani Ustaz Menachem Ali. Assalamu’alaikum Ustaz!

Ustaz Menachem Ali: Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Alhamdulillah, saya selalu jaga fisik prima.

Pak Edi: Bagaimana kabarnya Ustaz? Malam ini mau bahas apa lagi? Pembahasan kemarin untuk jawab tuduhan non-Muslim bahwa Ka’bah awalnya pusat berhala, bahkan dibangun dengan berhala sejak awal. Kita sudah bahas siapa yang bawa berhala pertama ke Ka’bah. Tapi aneh, bukan hanya non-Muslim yang tuduh, bahkan ada Muslim, termasuk YouTuber Muslim, bilang berhala dibawa keturunan Ismail. Ini kan aneh! Gimana Ustaz, klarifikasi dong?

Ustaz Menachem Ali: Betul, Pak Pak Edi. Ada keragaman pemahaman karena horizon bacaan. Ada yang hanya pakai dokumen internal, ada yang bandingkan dengan eksternal. Itu hak masing-masing, tapi jangan salahkan yang pakai dokumen eksternal untuk kuatkan iman. Al-Qur’an sendiri dorong bandingkan bukti eksternal, biar bukan dogma sepihak.

Fatal kalau Muslim sendiri bilang penyembahan berhala di Makkah dipelopori keturunan Ismail. Artinya, sejak awal mereka penyembah berhala? Kalau non-Muslim bilang, masih toleransi. Tapi Muslim bilang begitu karena kurang dokumen, bahaya. Harus diluruskan dengan otokritik. Saya nggak sebut nama, tapi yang cerdas paham.

Kita mulai dari Al-Qur’an, biar nggak disalahpahami.

QS. Ali Imran: 96 (Arab dan Terjemahan Indonesia):

إِنَّ أَوَّلَ بَيْتٍ وُضِعَ لِلنَّاسِ لَلَّذِي بِبَكَّةَ مُبَارَكًا وَهُدًى لِلْعَالَمِينَ 

“Sesungguhnya rumah (ibadah) yang mula-mula dibangun untuk manusia, ialah yang di Bakkah (Makkah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi seluruh alam.”

Bakkah sama dengan Makkah, akar kata dari “baka yabki” (tempat tangisan, suci). Ini kawasan spesial, bukan hanya Qur’an bilang, tapi dokumen luar juga akui sebagai kawasan Ismail.

Pak Edi: Kita lanjut ke Kitab Kejadian ya, Ustaz?

Ustaz Menachem Ali: Ya, Kitab Kejadian (Sefir Bereshit) Pasal 10:30. Dalam teks Ibrani:

Kejadian 10:25-30 (Transliterasi Ibrani):

– וּלְעֵבֶר יֻלַּד שְׁנֵי בָנִים שֵׁם הָאֶחָד פֶּלֶג… וְשֵׁם אָחִיו יָקְטָן׃ 

  (Ule’Ever yullad shnei vanim… veshem achiv Yoqtan.)

– וְיָקְטָן יָלַד אֶת־אַלְמוֹדָד… וְאֶת־חַצַרְמָוֶת… וְאֶת־הֲדוֹרָם… 

  (Vayoqtan yalad et-Almodad… ve’et-Chazarmavet… ve’et-Hadoram.)

– וַיְהִי מוֹשְׁבֹתָם מִמֵּשָׁא בֹּאֲכָה סְפָרָה הַר הַקֶּדֶם׃ 

  (Vayehi moshvotam mi-Mesha bo’akha Sefarah har ha-qedem.)

Terjemahan: “Daerah kPak Ediaman mereka terbentang dari Mesha ke arah Sefar, yaitu pegunungan di sebelah timur.”

Hazarmavet (חַצַרְמָוֶת) = Hadramaut. Hadoram (הֲדוֹרָם) = Jurhum (dialek Sabean). Yoktan (יָקְטָן) = Qahtan. Mereka kuasai dari Mesha (Makkah) sampai timur, termasuk Hijaz. Rabbi Saadia Gaon (sezaman al-Kalbi) bilang Mesha = Makkah, warisan Ismail.

Pak Edi: Jadi, awalnya wilayah Ismail, tapi dikuasai Qahtan?

Ustaz Menachem Ali: Betul. Anak Ismail (Kejadian 25:13-18): Nebayot, Kedar, Adbeel, Mibsam, Mishma, Dumah, Massa, Hadad, Tema, Yetur, Nafis, Kedmah. Massa = Mesha/Makkah. Awalnya hunian Massa (keturunan Ismail), diambil alih Yoktan/Jurhum.

Dokumen eksternal: Peta Claudius Ptolemaeus (170 M) tunjukkan Macoraba (Makkah), Katanite (Qahtan). Santo Theophanes (w. 817 M, sebelum Imam Muslim) bilang Himyar (Homeritae) dari Yoktan, bukan Ismail.

Dokumen internal: Adwarut Tarikh al-Hadrami sebut al-Arab al-Aribah = al-Qahtaniyun/al-Yamaniyun: Hamdan, al-Azdi, Himyar, Kindah, Hadramaut.

Pak Edi: Siapa pelopor berhala? Kemarin ada yang bilang dari Ismail.

Ustaz Menachem Ali: Bukan! Kitab al-Asnam (Hisham al-Kalbi, w. 204 H): Pelopor Amru bin Luhay (bukan Amru bin Harit, saya revisi kemarin). Nama lengkap: Amru bin Rabiah, laqab Luhay bin Haritsah bin Amru bin Amir al-Azdi. Ayah dari Khuza’ah, ibu Fuhairah dari Jurhum. Keduanya dari Qahtan/Yoktan, bukan Ismail.

Ia rebut kekuasaan Jurhum dibantu Bani Ismail (wa qatala al-Jurhum bi Bani Ismail – perangi Jurhum dengan bantuan Ismail). Bukan Jurhum = Ismail! Paradoks kalau Jurhum keturunan Ismail, padahal Ismail nikah wanita Jurhum.

Bani Ismail bantu rebut kekuasaan, tapi Amru bin Luhay perkenalkan berhala (dari Syam), masukkan ke Ka’bah. Awalnya tauhid Hanif, tercemar. Nabi SAW bersihkan.

Pak Edi: Kita nggak generalisasi Yaman ya, Ustaz? Ada Muqatil bin Sulaiman (mufasir al-Azdi) yang baik.

Ustaz Menachem Ali: Tentu! Nggak benci Yaman/Himyar/Azdi. Muqatil dari Azdi, tafsirnya 30 juz utuh. Nabi puji Yaman, tapi bukan generalisasi. Qur’an adil: sebagian baik, sebagian buruk. Bani Ismail mayoritas Hanif pra-Islam, tapi ikut-ikutan setelah disimpangkan.

Pak Edi: Ini jawab tuduhan non-Muslim: Ka’bah bukan awal berhala, tapi warisan tauhid Ibrahim-Ismail.

Ustaz Menachem Ali: Ya! Dokumen eksternal (Yahudi, Kristen, Romawi) + internal (Islam) kuatkan: Berhala dari Qahtan (Jurhum/Azdi), bukan Ismail. Jurhum bukan Ismail – tunjukkan dokumen kalau berani!

Dua poin: 

1. Pelopor berhala: Amru bin Luhay (Azdi/Jurhum, Qahtan). 

2. Bani Ismail bantu rebut kekuasaan, tapi disimpangkan setelahnya.

Ini filologi, bukan rasial. Ambil ilmu, buang salah. Donasi pembangunan pondok/masjid YPM Jawa Timur: Bank Syariah Indonesia 1118889971.

Pak Edi: Terima kasih Ustaz. Semoga manfaat. Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Ustaz Menachem Ali: Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh.

Silahkan bagikan di :