Kristologi

Esensi Kesalehan dalam Tindakan Berpuasa Menurut Yesaya 58:1-12

Pengertian puasa

Dalam teks Yesaya 58 kata puasa disebutkan sebanyak 6 kali pada 4 ayat berturut-turut yakni dalam ayat 3, ayat 4, ayat 5, dan ayat 6. Kata Ibrani untuk puasa adalah (tsum)  kata ini didefinisikan dalam strong tahun 1890 dengan kata to abstain from food fast yang berarti menjauhkan diri dari makanan, puasa.

Dari teks Yesaya 58 maka secara umum puasa ada beberapa pendapat yang menyebutkan tentang hal ini yakni; menahan diri terhadap makanan dan minuman.   Dalam Break yang tulisannya dibuat tahun 2014 menyatakan bahwasanya puasa ialah “bertarak  secara sukarela dari makanan untuk tujuan rohani itulah puasa Kristen”. Sedangkan tulisan Foster pada tahun 1996 dia menyatakan bahwa dalam seluruh Alkitab “berpuasa menunjuk kepada hal berpantang makanan untuk tujuan-tujuan rohani”. 

Daripada itu maka puasa bisa dikatakan sebagai penyengkalan diri secara sukarela dari fungsi normal demi kegiatan rohani yang intens.  Brake Dalam tulisannya di tahun 2014 juga mengatakan bahwasanya inti dari puasa yakni; hal yang dilakukan secara sukarela tidak dapat dipaksakan.   dan puasa bukanlah sesuatu rencana yang dibuat untuk melakukan diet namun lebih kepada rohani.

Daripada itu dalam Yesaya 58 ayat 2 sampai 3 Nabi Yesaya memberikan ungkapan ekspresi mengenai kesalehan hidup dari bangsa Israel yakni salah satunya mereka melakukan ibadah berpuasa. Pada ayat ini dijelaskan bahwasanya mereka bangsa Israel ketika melakukan puasa untuk mendekatkan diri kepada Allah untuk mengenal jalan yang lurus yang dicari mereka untuk melakukan sebuah kebenaran dan juga mencari akan esensi daripada keimanan namun pada kenyataannya Allah meninggalkan mereka, Allah tidak memperhatikan mereka,  mengapa Allah tidak memperhatikan mereka pada hal mereka juga berpuasa dan tetap merendahkan diri di hadapanNya ? Karena pada kala itu mereka sedang melakukan puasa namun mereka masih tetap mengurus urusannya masing-masing dan mereka mendesak-desak semua budak-budak mereka. 

Daripada Apa yang dijelaskan di atas maka penulis menjelaskan bahwasanya Apa yang dilakukan oleh orang-orang Yahudi dan juga Nasrani mengenai puasa adalah sama hal yang dilakukan oleh orang-orang sebelum mereka yakni yang beriman kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala.  Esensi dari puasa sejatinya adalah tindakan untuk menahan diri dari makan dan minum yang Tujuannya adalah untuk mencapai ketinggian rohani dan juga bentuk ketakwaan kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. 

Dan tidak hanya menahan diri saja untuk tidak makan dan minum ketika puasa namun secara sukarela mereka melakukan puasa ini tanpa tekanan dan juga paksaan sebagai bentuk penghambaan dan juga mendapatkan jalan untuk mengenal Allah.  Ditekankan pada akhir dari ayat tersebut pada ayat 2 dan 3 maka kita ketahui bahwasanya segala sesuatu dalam bentuk puasa yang tujuannya mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala namun semuanya tidak akan diterima karena kebanyakan dari mereka masih mengurusi urusan-urusan ke duniawiannya atau melakukan tindakan yang dilarang dan juga dalam artian mereka melakukan tindakan yang membuat Allah murka.  

Daripada itu seperti hanya Islam berpuasa tidak hanya saja menahan makan dan minum dari terbitnya matahari hingga terbenamnya matahari namun juga menahan diri dari semua hal-hal yang dilarang oleh Allah subhanahu wa ta’ala dan juga RasulNya. Dari ayat-ayat Yesaya dari 1 sampai 12 yang penulis ingin jabarkan disini mari kita bedah satu persatu dari ayat 2 bahwasanya pada ayat ini disebutkan ketika berpuasa adalah mencari Allah.  Mencari Allah dapat diartikan pula sebagai bentuk untuk mencari kebenaran.  

יׅדְרֹשׁ֔וּ  / yi-derosh-un. Dalam arti ini menurut bahasa aslinya yang artinya memiliki kata dasar yakni cari.  Semua manusia pastilah mencari sebuah kebenaran yang hakiki,  mereka akan mencari jati diri bahwasanya mereka membutuhkan Tuhan yang mengatur dan juga menuntun mereka ketika menjalani kehidupan.  Dari ayat ini,maka manusia sejatinya harus mencari sebuah kebenaran dari apa yang Tuhan berikan kepada mereka berupa akal pikiran.  

Akal tersebut gunanya untuk mencari hal-hal yang sudah ditentukan dalam ranah kehidupan manusia.   ketika itu sudah ditemukan dalam sebuah kitab suci, maka itulah petunjuk yang benar.   Ketika proses pencarian itu terus berlanjut maka sampailah manusia kepada suatu titik bahwasanya mereka tidak dapat melakukan apapun kecuali atas izin Allah Subhanahu Wa Ta’ala.  Maka sejatinya jika manusia itu benar-benar mencari sebuah kebenaran maka kebenaran itu ada dalam Islam yang telah menyempurnakan agama-agama terdahulu dan juga tata cara ibadah puasa yang sesuai dengan syariat terakhir yang dibawa oleh Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam.

“וְדַעַת (we-da-at) memiliki arti mengenal jalan Allah.  Dari apa yang ditulis oleh strong tahun 1890 menyatakan bahwasanya arti dari bahasa Ibrani ini memiliki makna pengetahuan.  Memiliki pengetahuan mengenai jalan Allah yang dalam teks ini ditulis dengan kata jalanku.  Mengapa kita perlu mengenal jalan Allah bukan tempat Allah? Karena Allah ingin dengan proses seseorang ataupun manusia itu menempuh jalan kebenaran.  Hal ini sesuai dengan apa yang Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam Sebutkan bahwasanya setiap dari manusia itu butuh untuk terus memperbarui niat dalam menjalani kehidupan. 

Terus mencari jalan yang benar dalam niat yang   nbenar.  Bukan untuk urusan dunia semata namun juga melibatkan urusan akhhirat dalam menjalani hidup.  Karena niat yang baik akan mendapatkan proses menempuh kebenaran dengan jalan yang baik pula.  Allah juga menjelaskan mengenai jalan yang lurus dalam surat al-fatihah yang kita selalu baca sebanyak 17 kali minimal dalam sehari saat kita melakukan Sholat.  Mengenal Allah yakni sejatinya adalah mencari jalan menuju kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala,  jalan yang lurus bukan yang dilalui oleh mereka orang-orang yang sesat dan juga dimurkai. 

Dari apa yang penulis ungkapkan dalam tulisan di atas menjelaskan bahwasanya kata-kata Ibrani seperti kata puasa,  cari dan juga pengetahuan semuanya itu ada dalam Islam.   jika para pembaca lebih mendalami apa yang penulis ungkapkan di atas maka kata-kata itu semua ada dalam bahasa Arab. Dapatkah para pembaca mengetahui kata bahasa Arab yang hampir mirip dengan kata Ibrani dalam tulisan di atas?  silakan para pembaca bisa mencarinya di kamus ataupun di internet. 

Dengan kemudahan teknologi yang ada kita mengetahui bahwasanya ada kesinambungan antara tulisan Ibrani dengan tulisan Arab yang merujuk semuanya kepada suatu bentuk pengajaran daripada nabi-nabi terdahulu dan disempurnakan oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam dalam bahasa Arab yang dimudahkan bagi kita seluruh dunia untuk membacanya dan juga memahami.

Penulis ingin langsung menuliskan bahwasanya bentuk puasa dalam Yesaya ayat 2 Pada poin yang terakhir dalam bahasa Ibrani yakni “קׅרְבׅת (qirbat) kata dasar קְרָבָה (qerbah).  Dalam ayat ini disebutkan arti definisi yang ditulis juga dalam strong pada tahun 1890 yakni artinya mendekat. Bentuk puasa artinya juga mendekatkan kepada Allah Subhanahu wa ta’ala dan arti mendekat dalam bahasa Ibrani juga mendekati kata dalam bahasa Arab. 

Sekali lagi apabila pembaca mengetahui tulisan Ibrani yang penulis sudah ungkapkan maka Apakah arti mendekat dalam kosakata bahasa Arab? Hal ini menyatakan bahwasanya sebuah kehidupan yang dekat dengan jalan Allah ataupun mendekatkan diri kita kepada Allah adalah sebuah keyakinan, bahwasanya Allah Subhanahu Wa Ta’ala akan menunjukkan kita kepada hal-hal yang baik dan sesuai dengan jalan kebenaran. 

Namun banyak orang salah memahami akan ayat ini yang diartikan bahwasanya mendekat kepada Allah adalah sebuah ungkapan dengan Allah yang Tritunggal yaitu Allah yang sama sekali tidak dapat disamakan dengan manusia.  Tri Tunggal adalah sebuah konsep yang sangat bertentangan dengan keesaan Allah Subhanahu Wa Ta’ala. 

Bagaimana bisa mendekatkan pada sesuatu yang tiga di dalam satu merupakan sesuatu yang tidak dapat dipahami secara logika oleh akal. Pada pemahaman mereka Tritunggal Allah yang sama sekali tidak dapat disamakan dengan manusia menyebutkan bahwasanya Allah tidaklah sama dengan makhluk yang dia ciptakan.  Maknanya Allah yang Tritunggal adalah sebuah kebohongan yang dibuat-buat karena bertentangan dengan kalimat selanjutnya bahwasanya tidak dapat disamakan dengan manusia.  Dan bagaimana mungkin manusia bisa menjadi Tuhan dalam waktu yang bersamaan? 

Kiranya dari Surat Yesaya 58 ayat 1 sampai 12 Penulis tidak dapat menulis lebih panjang dan lebar mengenai hal ini namun pada ayat 2 yang penulis ingin sampaikan di sini bahwasanya semua pokok yang diajarkan dalam ketentuan-ketentuan berpuasa yang dilakukan oleh orang-orang Kristen sejatinya adalah apa yang dilakukan oleh orang-orang zaman dahulu baik Yahudi dan orang-orang yang beriman kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala sesuai dengan ajaran yang diterimanya. 

Bentuk puasa sendiri sudah dijelaskan di atas sebagaimana yang dilakukan oleh umat Islam hari ini dengan melakukan puasa Ramadan.  Banyak hal yang menimbulkan pertanyaan dalam diri apa yang disebutkan dari surat Yesaya tersebut memiliki kesamaan dengan apa yang diajarkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala dalam Al Quranul Karim melalui Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam yang mengajarkan kepada kita untuk melakukan puasa sebagai bentuk ketaatan kepada Allah,  sebagai bentuk penghambaan kepada Allah,  sebagai bentuk mendekatkan diri kepada Allah,  sebagai bentuk ketundukan dan pasrah kepada Allah,  dan sebagai hamba untuk mencari sebuah kebenaran untuk mendapatkan ridho Allah subhanahu wa ta’ala agar kita tidak terombang-ambing dalam menjalani kehidupan di dunia ini.

 Alhamdulillah bagi kita yang sekarang melakukan puasa Ramadan di tahun 1446 ini kita semuanya mendapatkan ketenangan jiwa pada diri kita yang ujungnya untuk melatih kita  selalu lebih mendekatkan diri kepada Allah dengan puasa yang esensinya tidak hanya untuk menahan diri dari makan dan minum tetapi juga untuk  menjauhi segala apa yang Allah larang dalam menjalankan ibadah puasa.

Maka dari itu Puasa ini adalah sebuah bentuk untuk menentramkan jiwa dan rohani ini kepada sebuah tujuan yang hakiki, menurunkan ego diri dan egoisme hati untuk tidak mengikuti hawa nafsu yang kebanyakan dari hawa nafsu tersebut adalah mencelakakan diri manusia sendiri. Dan bagi teman-teman yang beragama Kristen ataupun Katolik yang mengimani ayat 2 dalam surat Yesaya ini sekiranya bisa melakukan puasa sebagaimana yang dilakukan oleh orang-orang Islam di saat bulan Ramadan ataupun puasa-puasa lainnya di luar bulan Ramadan karena ketika kita mencari akan esensi Tuhan yang sebenarnya maka jawabannya adalah Islam.

 Hadanallah wa iyyakum

 wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Blitar 11 Maret 2025 

Tulisan ini penulis buat di hari Selasa pada sore hari jam 16.21 menanti waktu berbuka dan akan penulis upload untuk Yayasan Pembina mualaf pada hari Jumat Insya Allah.  Tulisan ini pula dibaca dan ditelaah dari jurnal teologi praktika yang ditulis oleh Ester dan Florence Farida, sebagai bentuk perbandingan dan juga menambah wawasan penulis untuk kiranya dapat mengenal Bagaimana puasa menurut sudut pandang teologi Kristen?.  Tulisan ini dibuat juga untuk menambah keyakinan bagi kita sebagai umat Isam bahwasanya benar puasa adalah sebuah ibadah yang juga dilakukan oleh  orang-orang yang bertakwa sebelum kita.

Silahkan bagikan di :