AqidahSejarah

Suku Jurhum dan Penyembahan Berhala di Ka’bah

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Selamat malam, pemirsa channel Graha Mualaf, bersama Edi Prayitno dan Ustadz Menahem Ali Official. Seperti biasa, setiap malam Jumat kita mengadakan dialog interaktif yang selalu dinanti. Malam ini, kita masih bersama Ustadz Menahem Ali. Assalamualaikum, Ustadz.

Ustadz Menahem Ali: Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Alhamdulillah, saya dalam kondisi sehat walafiat setelah perjalanan dari Jakarta ke Surabaya.

Edi: Malam ini kita lanjutkan pembahasan kemarin tentang tuduhan bahwa Ka’bah adalah pusat penyembahan berhala sejak awal, dan bahwa berhala dibawa oleh keturunan Ismail. Ada yang menyebut suku Jurhum adalah Bani Ismail, sehingga Bani Ismail dituduh sebagai penyembah berhala. Ustadz, bagaimana klarifikasinya?

Ustadz Menahem Ali: Tuduhan bahwa Ka’bah adalah pusat berhala sejak awal atau bahwa keturunan Ismail mempopulerkan penyembahan berhala adalah kesalahpahaman berbahaya. Sejarah harus diluruskan dengan dokumen, baik internal (Islam) maupun eksternal (non-Islam). Suku Jurhum bukan keturunan Ismail, melainkan bagian dari Arab Aribah (Qahtaniyun), keturunan Yoktan, bukan Ismail.

Edi: Jadi, suku Jurhum bukan Bani Ismail?

Ustadz Menahem Ali: Bukan. Dalam tradisi Islam, suku Jurhum disebut sebagai Arab Aribah, keturunan Qahtan (Yoktan), bukan Ismail. Dokumen eksternal, seperti Kitab Kejadian (Pasal 10 ayat 25–30) dalam Alkitab, menyebutkan keturunan Yoktan, seperti Almodat, Selef, Hazar Mawet (Hadramaut), dan Hadoram (Jurhum dalam bahasa Sabean). Dalam bahasa Ibrani, Hadoram adalah Jurhum, yang menguasai kawasan dari Mesa (Mekah) hingga Sefar.

Edi: Mesa itu Mekah?

Ustadz Menahem Ali: Ya, menurut Rebai Saadya Gaon (882–942 M), Mesa merujuk pada Mekah. Dokumen internal, seperti Akhbar al-Yaman karya Ubaid bin Syariah al-Jurhumi (zaman Khalifah Muawiyah, wafat 60 H), menyebutkan bahwa Arab Aribah meliputi suku Tsamud, Iram, Amalik, dan Jurhum, yang semuanya keturunan Qahtan, bukan Ismail.

Edi: Siapa yang pertama kali membawa berhala ke Ka’bah?

Ustadz Menahem Ali: Menurut Kitab al-Asnam karya Hisyam bin Muhammad al-Kalbi (wafat 204 H), orang pertama yang memasukkan berhala ke Ka’bah adalah Amru bin Luhay bin Haritsah bin Amru bin Amir al-Azdi, dari suku Al-Azdi, keturunan Qahtan. Ibunya, dari suku Jurhum, juga keturunan Qahtan. Amru bin Luhay mengubah ajaran tauhid Nabi Ismail menjadi penyembahan berhala.

Edi: Jadi, bukan keturunan Ismail?

Ustadz Menahem Ali: Tidak. Amru bin Luhay merebut pengelolaan Ka’bah dari suku Jurhum dengan bantuan Bani Ismail, tetapi Bani Ismail tidak mempopulerkan berhala. Mereka hanya terlibat dalam perebutan kekuasaan. Penyembahan berhala diperkenalkan oleh Amru bin Luhay, dari suku Al-Azdi dan Jurhum, yang keduanya keturunan Qahtan, bukan Ismail.

Edi: Mengapa ada kesalahpahaman bahwa Jurhum adalah Bani Ismail?

Ustadz Menahem Ali: Kesalahpahaman muncul karena miskonsepsi teks. Misalnya, frasa “Jurhuman bi Bani Ismail” (Jurhum bersama Bani Ismail) disalahartikan sebagai “Jurhum adalah Bani Ismail.” Selain itu, nama Qahtan muncul dalam dua jalur: satu dari keturunan Ismail melalui Nebayot/Nabid, dan satu lagi dari keturunan non-Ismail (Yoktan). Jurhum dan Al-Azdi berasal dari Qahtan non-Ismail, bukan dari Ismail.

Edi: Ada dokumen lain yang mendukung?

Ustadz Menahem Ali: Ya, dokumen eksternal seperti peta Claudius Ptolomius (wafat 170 M) menyebutkan suku Himyar, Hadramaut, dan lainnya sebagai keturunan Yoktan, bukan Ismail. Santo Theophanes (wafat 817 M) juga menyebut Himyar dan Hadramaut sebagai orang Yaman, bukan keturunan Ismail. Dalam tradisi Islam, Al-Anis fi al-Ansab karya Al-Maghribi, mengutip Wahab bin Munabbih (wafat 111 H), menegaskan bahwa Qahtan dari jalur Ismail tidak terkait dengan Jurhum.

Edi: Jadi, Ka’bah awalnya suci?

Ustadz Menahem Ali: Tepat. Ka’bah dibangun oleh Nabi Ibrahim dan Ismail sebagai pusat tauhid. Penyembahan berhala adalah penyimpangan yang diperkenalkan oleh Amru bin Luhay dari suku Al-Azdi dan Jurhum, bukan Bani Ismail. Bani Ismail terpengaruh belakangan, tetapi Nabi Muhammad SAW, dari keturunan Ismail, membersihkan Ka’bah dari berhala.

Edi: Mengapa ada yang tersinggung saat kita menyebut Yaman?

Ustadz Menahem Ali: Kita tidak menggeneralisasi bahwa semua orang Yaman penyembah berhala. Banyak tokoh hebat dari Yaman, seperti Ibnu Hisyam (penulis Sirah Nabawiyah) dari suku Himyar, atau Ubaid bin Syariah al-Jurhumi yang menulis Akhbar al-Yaman. Yang kita luruskan adalah fakta sejarah bahwa Amru bin Luhay, oknum dari Al-Azdi dan Jurhum, mempopulerkan berhala, bukan Bani Ismail.

Edi: Jadi, intinya?

Ustadz Menahem Ali: Dua poin penting: (1) Suku Jurhum dan Al-Azdi adalah keturunan Qahtan (Arab Aribah), bukan Ismail. (2) Amru bin Luhay, dari suku Al-Azdi dan Jurhum, adalah orang pertama yang memasukkan berhala ke Ka’bah, bukan keturunan Ismail. Sejarah harus diluruskan agar tidak menodai kehormatan Bani Ismail dan Nabi Ibrahim.

Edi: Untuk pemirsa, Yayasan Pembina Mualaf (YPM) At-Tauhid sedang membangun pondok pesantren dan masjid di Wonosalam, Jombang. Silakan berdonasi ke rekening Bank Syariah Indonesia nomor 1118889971 atas nama YPM Jawa Timur. Terima kasih kepada yang telah berdonasi, semoga Allah membalas kebaikan Anda.

Ustadz Menahem Ali: Saya juga telah menulis buku Filologi Biblikal dan Kritik Historis: Ismail dan Identitas Kearaban, diterbitkan oleh Airlangga University Press, dan tersedia di Tokopedia. Buku ini membahas Ka’bah, Mekah, dan identitas Ismail berdasarkan dokumen eksternal, seperti teks Yunani kuno dan manuskrip Qumran. Segera terbit juga buku baru saya, Ismail dalam Alkitab dan Manuskrip Qumran, oleh Al-Kautsar Jakarta.

Edi: Terima kasih, Ustadz. Pemirsa, catat baik-baik materi ini agar sejarah tidak diputarbalikkan. Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Ustadz Menahem Ali: Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh.

Silahkan bagikan di :