AqidahSejarah

Munajat Nabi Ibrahim yang penuh harap dan ketakjuban

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh
Pembukaan Acara
[Musik]
Marhaban ya nuraini, marhaban…
Sallallahu ala Muhammad, Sallallahu Alaihi Wasallam…
Ya Rabbi sholli wasallim, shallallah ala Muhammad…

Pembawa Acara:
Bismillahirrahmanirrahim, Alhamdulillahi rabbil alamin, wassholatu wassalamu ala sayyidina wa maulana Muhammad wa ala alihi wasahbihi ajma’in.

Yang kami hormati, para undangan, dalam rangka peringatan Maulid Nabi Besar Muhammad Sallallahu Alaihi Wasallam serta haul ke-25 guru kita, Ayahanda Kiai Haji Ahmad Fauzi. Secara khusus, kami sambut kehadiran Prof. Dr. Al Ustadz Menahem Ali dari Surabaya, yang hadir untuk memberikan nasihat dalam rangka cinta sesama muslim dan peringatan Maulid Nabi.

Kami juga menyapa Ketua Masjid Jami Al-Bahr, Ayahanda Bapak Haji, serta para tokoh lainnya yang hadir. Untuk mempersingkat waktu, izinkan saya mengucapkan terima kasih kepada para jemaah, tetangga, dan undangan yang telah hadir sejak pagi untuk membaca Al-Qur’an, yang kita khususkan untuk acara ini, dilanjutkan dengan peringatan Maulid Nabi.

Hadirin sekalian, pagi ini kita kedatangan tokoh yang begitu gigih menjaga akidah kaum muslimin dan membentengi saudara-saudara kita yang baru memeluk Islam, yaitu Prof. Dr. Menahem Ali, dosen Universitas Merlaga Surabaya dan pendiri Yayasan Pembina Mualaf, yang sedang membangun pesantren dan masjid di Wonosalam, Jombang. Penting kita simak apa yang beliau sampaikan sebagai bekal di tengah zaman digitalisasi, di mana informasi mudah diputarbalikkan.

Saya selaku pribadi dan keluarga besar almarhum Kiai Haji Ahmad Fauzi mengucapkan ribuan terima kasih atas kehadiran Prof. Dr. Menahem Ali. Meski belum pernah bertemu langsung, semangat beliau menyampaikan ilmu Allah di tengah kesibukannya sangat luar biasa. Kami juga berterima kasih kepada para alim ulama, orang tua, tetangga, dan memohon maaf sebesar-besarnya jika ada sikap atau penerimaan panitia yang kurang berkenan. Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Hadirin: Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh.

Pembawa Acara: Demikian sambutan dari panitia peringatan Maulid Nabi dan haul ke-25 Kiai Haji Ahmad Fauzi. Kini, kita akan mendengarkan tausiah dari Al Ustadz Prof. Dr. Menahem Ali. Kami mohon jemaah yang masih di luar untuk mengisi ruang utama karena masih ada tempat kosong. Silakan, kami persilakan kepada beliau.

[Musik]

Ustadz Menahem Ali:
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Hadirin: Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh.

Ustadz Menahem Ali:
Alhamdulillahi rabbil alamin, alhamdulillahilladzi arsala rasulahu bil huda wa dinil haq. Ashadu alla ilaha illallah wahdahu la syarikalah, wa ashadu anna Muhammadan abduhu wa rasuluh.

Bismillahirrahmanirrahim, Allah ta’ala berfirman dalam Al-Qur’an: “Wa ma arsalnaka illa rahmatan lil alamin” (Kami tidak mengutus engkau, wahai Muhammad, kecuali sebagai rahmat bagi seluruh alam).

Yang saya muliakan, Kiai Fauzi, para alim ulama, asatidz, dan jemaah yang hadir dalam haul Kiai Haji Ahmad Fauzi, semoga Allah merahmati beliau. Pagi ini, kita hadir untuk tholabul ilmi sekaligus meneladani Nabi Muhammad Sallallahu Alaihi Wasallam melalui peringatan Maulid Nabi. Ini pertama kalinya saya hadir di sini, semoga kehadiran saya membawa manfaat baru dan meningkatkan iman serta takwa kita kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, sekaligus mempererat ukhuwah Islamiah.

Saudara sekalian, ayat yang saya bacakan tadi, “Wa ma arsalnaka illa rahmatan lil alamin”, adalah pengumuman besar dari Allah bahwa misi Nabi Muhammad adalah rahmat bagi seluruh alam. Ini terkait dengan Surah Al-Baqarah ayat 129, yang mengabadikan doa Nabi Ibrahim: “Rabbana wab’ats fihim rasulan minhum yatlu alaihim ayatika wa yu’allimuhumul kitaba wal hikmata wa yuzakkihim, innaka antal azizul hakim” (Ya Tuhan kami, utuslah di antara mereka seorang rasul dari kalangan mereka sendiri, yang membacakan ayat-ayat-Mu, mengajarkan Al-Kitab dan hikmah, serta menyucikan mereka. Sesungguhnya Engkau Maha Mulia lagi Maha Bijaksana).

Ayat ini adalah munajat Nabi Ibrahim yang penuh harap dan ketakjuban. Ia meminta seorang rasul dari keturunan mereka, tanpa menyebut nama secara langsung. Mengapa? Karena semua ulama tafsir, dari generasi salaf hingga khalaf, sepakat bahwa rasul yang dimaksud adalah Nabi Muhammad Sallallahu Alaihi Wasallam. Tidak ada perbedaan pendapat, sebab ayat ini menyangkut akidah, sesuatu yang pokok, bukan cabang seperti fikih yang memungkinkan perbedaan interpretasi.

Mengapa doa Nabi Ibrahim diterima?
Doa Ibrahim diterima karena orientasinya adalah investasi akhirat, bukan duniawi. Dalam Surah Al-Baqarah ayat 127, Allah berfirman: “Wa idz yarfa’u Ibrahimul qawa’ida minal baiti wa Ismail, Rabbana taqabbal minna innaka antas sami’ul alim” (Ketika Ibrahim dan Ismail mendirikan fondasi Baitullah, mereka berdoa: Ya Tuhan kami, terimalah amal kami, sesungguhnya Engkau Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui).

Mendirikan Baitullah adalah tindakan nyata Ibrahim untuk akhirat. Ini modal besar yang membuat doanya diterima. Kita perlu meneladani Ibrahim dalam dua hal:

  1. Motif hidup untuk akhirat. Contoh sederhana, ketika kita membayar parkir, apakah niatnya sekadar membayar atau sedekah? Jika sedekah, kita dapat dunia (kendaraan aman) dan akhirat (pahala). Jika hanya bayar parkir, kita hanya dapat dunia. Niat mengubah hasil, meski uang yang dikeluarkan sama.
  2. Keselarasan antara ucapan dan tindakan. Ibrahim tidak hanya berdoa, tetapi juga bertindak nyata dengan membangun Ka’bah. Banyak di antara kita yang ucapan dan tindakannya tidak selaras. Al-Qur’an mengkritik hal ini: “Ya ayyuhalladzina amanu lima taquluna ma la taf’alun” (Wahai orang-orang beriman, mengapa ucapanmu tidak sesuai dengan perbuatanmu?).

Hubungan Ibrahim dan Muhammad
Dalam Surah Ibrahim ayat 39, Allah berfirman: “Alhamdulillahilladzi wahaba li ‘ala al-kibari Isma’ila wa Ishaqa, inna Rabbi lasami’ud-du’a” (Segala puji bagi Allah yang menganugerahkan kepadaku di masa tua, Ismail dan Ishak. Sesungguhnya Tuhanku Maha Mendengar doa). Dalam Alkitab, disebutkan “Benai Abraham” (anak-anak Abraham) adalah Ishak dan Ismail. Al-Qur’an menyebut Ismail dulu, lalu Ishak, sesuai urutan kelahiran, sementara Alkitab sebaliknya, menonjolkan Ishak. Al-Qur’an datang untuk mengkonfirmasi kebenaran dan meluruskan kekeliruan kitab sebelumnya.

Nama Ibrahim dalam Al-Qur’an memiliki variasi bacaan (Qiraah Sab’ah): Ibrahim atau Ibraham, keduanya benar. Dalam bahasa Ibrani, disebut Abraham. Ini menunjukkan keluasan Al-Qur’an yang mengakomodasi pelafalan berbeda untuk tokoh yang sama. Contohnya, seperti “lawang” (Jawa) dan “labeng” (Madura) untuk pintu, atau “kucing” (Melayu) dan “kuciang” (Minang) untuk hewan yang sama.

Doa Ibrahim diijabah setelah puluhan generasi, dari Ismail hingga Nabi Muhammad Sallallahu Alaihi Wasallam. Jaraknya sangat panjang, menunjukkan kesabaran Ibrahim. Nama Ismail sendiri berarti “Allah mendengar,” mencerminkan terkabulnya doa Ibrahim. Nabi Muhammad adalah jawaban dari doa ini, sebagai rahmat bagi alam, sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an dan dikuatkan oleh hadis serta kitab sebelumnya.

Teladan Nabi Muhammad
Peringatan Maulid bukan sekadar merayakan kelahiran, tetapi meneladani akhlak dan iman Nabi. Dalam hadis, Nabi bersabda: “Ana dawatu abi Ibrahim, ana bisyaratu akhi Isa, ana rukyatu ummi fil manam” (Saya adalah doa ayah saya Ibrahim, berita gembira dari saudara saya Isa, dan mimpi ibu saya). Nabi mengakui bahwa kerasulannya adalah hasil doa Ibrahim, berita gembira Isa bin Maryam, dan mimpi ibunya, Aminah, yang melihat anaknya sebagai sebaik-baik makhluk.

Nabi memiliki lima nama: Muhammad, Ahmad, Mahi (penghapus dosa), Aqib (penutup kerasulan), dan Hasyir (pembangkit umat). Nama Ahmad disebutkan oleh Isa dalam Al-Qur’an (Surah As-Saff ayat 6): “Wa mubasyiran birasulin ya’ti min ba’di ismuhu Ahmad” (Dan memberi kabar gembira tentang seorang rasul yang datang setelahku, namanya Ahmad).

Diskusi dengan Non-Muslim
Saya pernah berdiskusi dengan seorang dokter non-Muslim, Dr. Stanley, yang rutin datang ke rumah saya setiap Selasa malam untuk belajar. Ia menantang soal perbedaan penyebutan anak yang dikurbankan dalam Al-Qur’an dan Alkitab. Dalam Alkitab (Kejadian 22:2), disebutkan Ishak sebagai anak tunggal yang dikasihi, sementara Al-Qur’an tidak menyebut nama, hanya “putra yang penyantun.” Dr. Stanley bertanya, mengapa Al-Qur’an menyimpulkan Ismail?

Jawabannya, dalam Al-Qur’an, anak tersebut tahu dan ikhlas akan dikurbankan, sebagaimana disebutkan: “Ya abati, if’al ma tu’mar” (Wahai ayahku, lakukanlah perintah Allah). Dalam Alkitab, Ishak justru bertanya, “Mana dombanya?” menunjukkan ia tidak tahu akan dikurbankan. Ini menunjukkan Al-Qur’an lebih dramatis dan logis, bahwa anak yang dikurbankan adalah Ismail, yang ikhlas menerima perintah Allah. Diskusi ini membuka pemahaman Dr. Stanley, hingga akhirnya ia bersyahadat setelah setahun berdiskusi.

Kesimpulan
Dua pelajaran utama:

  1. Ubah motif hidup kita untuk investasi akhirat, bukan dunia semata.
  2. Selaraskan ucapan dan tindakan, seperti teladan Ibrahim dan Muhammad.

Meski kita tidak bisa menjadi nabi, kita bisa meneladani jalan kenabian. Peringatan Maulid adalah momen untuk menjadikan Nabi sebagai uswah hasanah, teladan bagi muslim dan non-muslim. Semoga kita menjadi umat yang dirahmati, mati dalam husnul khatimah.

Saya tutup dengan doa: Subhanakallahumma wa bihamdika, ashadu alla ilaha illa anta, astaghfiruka wa atubu ilaik.
Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Hadirin: Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh.

Pembawa Acara:
Syukran katsiran kepada Ustadz Prof. Dr. Menahem Ali atas pencerahannya. Alhamdulillah, kelahiran Nabi adalah nikmat besar bagi umat manusia, sebagaimana firman Allah: “Laqad manna Allahu ‘alal mu’minin idz ba’atsa fihim rasulan min anfusihim” (Sungguh Allah telah memberi karunia besar kepada orang-orang mukmin dengan mengutus seorang rasul dari kalangan mereka).

Nabi diutus untuk membacakan ayat-ayat Allah, menyucikan umat dari kekafiran menuju tauhid, dan mengajarkan Al-Qur’an serta hikmah. Mari jadikan Maulid ini sebagai arena bersyukur, mendasari setiap ibadah dengan syukur atas diutusnya Nabi. Nabi juga hadir dengan tawadhu, mengakui kerasulannya berkat doa Nabi Ibrahim, berita gembira Nabi Isa, dan mimpi ibunya, Aminah.

Semoga peringatan ini menjadikan kita umat yang meneladani akhlak Nabi, istiqamah dalam ibadah, dan mati dalam husnul khatimah. Alfatihah…

Doa Penutup:
Bismillahirrahmanirrahim, Alhamdulillahi rabbil alamin, Rabbana atina fid dunya hasanah wa fil akhirati hasanah wa qina adzaban nar. Wassalatu wassalamu ala sayyidina Muhammadin wa ala alihi wasahbihi ajma’in, walhamdulillahi rabbil alamin. Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Hadirin: Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh.

Pembawa Acara:
Alhamdulillahi rabbil alamin. Saya mohon maaf atas kekurangan dalam memandu acara ini, baik sikap, perilaku, maupun tutur kata. Mari kita tutup dengan lafaz hamdalah: Alhamdulillahi rabbil alamin. Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Hadirin: Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh.

Link; https://youtu.be/QzAV_PtoxE8?si=VfTWTgACOzk8iiyg

Silahkan bagikan di :