Muallaf

Mullaf Karena Berfikir

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Selamat malam saudara-saudaraku sekalian. Kembali kita bertemu dalam acara rutin setiap malam Jumat bersama Yayasan Pembina Mualaf (YPM) At Tauhid Jawa Timur. Seperti biasa, kita akan membahas berbagai topik menarik, khususnya seputar kristologi dan perjalanan keimanan. Malam ini, kita kedatangan tamu istimewa yang insyaAllah akan memperkaya wawasan kita tentang perjalanan spiritual menuju Islam. Mari kita sambut, Umar Al Farisi, yang sebelumnya dikenal sebagai Valen.

Perkenalan Tamu: Umar Al Farisi

Pembawa Acara: Assalamualaikum, Mas Umar.
Umar: Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Terima kasih atas kesempatan ini. Saya sangat bersyukur bisa hadir kembali di studio Yayasan Pembina Mualaf bersama Mas Edi Prayitno dan Gus Imron.

Pembawa Acara: Alhamdulillah, Mas Umar, atau yang kini dikenal sebagai Ustadz Umar Al Farisi, telah memeluk Islam dengan bersyahadat di bawah bimbingan Ustadz Menachem Ali di Masjid Al Akbar pada 10 Oktober 2022, belum genap satu tahun yang lalu. Beliau memiliki perjalanan spiritual yang luar biasa, dari seorang Kristen, kemudian mempelajari Yudaisme, hingga akhirnya menemukan kebenaran dalam Islam. Mas Umar, bisakah Anda berbagi secara singkat perjalanan spiritual Anda?

Perjalanan Spiritual Umar Al Farisi

Umar: Tentu, terima kasih. Saya lahir dan dibesarkan dalam keluarga Kristen. Sejak kecil, saya dididik dengan ajaran Kristen, mengikuti ibadah rutin setiap hari Minggu, mendengarkan khotbah pendeta tentang Yesus sebagai Tuhan dan Juru Selamat. Namun, saya mulai mempertanyakan ajaran tersebut ketika melihat diskusi di media sosial, khususnya di Facebook, di mana ada pihak non-Kristen yang menyebut bahwa Tuhan dalam Kristen adalah tiga, bukan satu. Hal ini bertentangan dengan apa yang diajarkan pendeta saya, bahwa Tuhan itu satu.

Saya kemudian bertanya kepada pendeta, namun jawabannya kurang memuaskan. Akhirnya, saya memutuskan untuk mempelajari sendiri konsep Trinitas, yang mengajarkan bahwa Allah adalah satu esensi dengan tiga pribadi: Bapa, Putra, dan Roh Kudus. Saya mempelajari sejarahnya, termasuk ajaran dari Bapak Gereja seperti Tertullian. Namun, konsep ini membuat saya semakin bingung. Saya berpikir, jika Tuhan itu satu, mengapa harus ada tiga pribadi? Akhirnya, saya memutuskan untuk meninggalkan konsep Trinitas, tetapi tetap sebagai Kristen.

Seiring waktu, saya mulai mempelajari Yudaisme Messianik di bawah bimbingan Isak Safira dan Italki, yang tidak mengimani Trinitas. Namun, ada hal yang membuat saya ragu, yaitu narasi tentang Yesus sebagai Imam Besar menurut peraturan Melkisedek dalam Perjanjian Baru. Dalam tradisi Yahudi, imam besar harus berasal dari suku Lewi, sedangkan Yesus berasal dari suku Yehuda. Ini menjadi kejanggalan bagi saya, karena peraturan Melkisedek tidak jelas asal-usulnya. Akhirnya, saya memutuskan untuk keluar dari Kristen Messianik dan memeluk Yudaisme secara penuh.

Selama mempelajari Yudaisme, saya mendalami Taurat, Nevi’im, dan Ketuvim, serta tradisi lisan. Suatu hari, saya menemukan diskusi menarik di mana seorang rabi ditanya tentang Islam. Rabi tersebut menyebut bahwa Islam adalah agama yang indah dengan konsep monoteisme yang sempurna dan bahwa umat Islam berhak atas surga. Pernyataan ini membuat saya penasaran. Saya mulai mempelajari Islam secara paralel dengan Yudaisme selama kurang lebih 6-7 tahun, termasuk berkonsultasi dengan Rabi Ben Abramson.

Puncaknya, saya menemukan keindahan dalam ayat pertama Al-Qur’an yang diturunkan, yaitu Iqra (baca). Ayat ini menekankan pentingnya membaca dan memahami, yang sangat logis dan gamblang. Dari situ, saya mulai mempelajari huruf-huruf hijaiyah dan ajaran Islam secara mendalam. Akhirnya, saya memutuskan untuk memeluk Islam, karena saya menemukan bahwa Islam mengajarkan konsep monoteisme yang selaras dengan logika dan ajaran para nabi seperti Musa dan Yesus.

Diskusi: Siapa Yesus dalam Perspektif Umar?

Pembawa Acara: Menarik sekali, Mas Umar. Sekarang, dari pengalaman Anda, bagaimana pandangan Anda tentang sosok Yesus? Apakah dia Tuhan, manusia, atau Rasul?

Umar: Dalam perspektif Perjanjian Baru, Yesus disebut sebagai manusia, sama seperti Musa, yang juga pernah disebut sebagai Elohim (Tuhan) dalam konteks Ibrani. Namun, Elohim dalam tradisi Yahudi tidak selalu merujuk pada Tuhan, melainkan bisa berarti hakim atau pemimpin terhormat. Dalam mindset Ibrani, Yesus adalah manusia, bukan Tuhan seperti yang dinarasikan dalam perspektif Hellenistik yang dipengaruhi oleh Bapak Gereja. Misalnya, Arius, seorang presbiter di Alexandria, pernah menyatakan bahwa ada masa ketika Putra Allah tidak ada, yang memicu polemik besar hingga muncul Konsili Nicea dan Konstantinopel. Dalam pandangan saya, Yesus adalah manusia, seorang nabi, bukan Tuhan.

Apakah Yesus Menikah?

Pembawa Acara: Ada isu menarik yang sempat ramai, yaitu apakah Yesus pernah menikah. Dalam tradisi Yahudi, seorang rabi harus menikah. Bagaimana pandangan Anda?

Umar: Dalam Yudaisme, seorang rabi wajib mematuhi mitzvot (perintah Taurat), termasuk perintah ke-213 dari 613 mitzvot yang mewajibkan pernikahan, kecuali jika seseorang adalah Nazir (orang yang bernazar khusus). Yesus dalam Perjanjian Baru disebut sebagai rabi, yang berarti dia harus mematuhi perintah ini, termasuk membaca gulungan Taurat di sinagoge. Jika Yesus adalah rabi, logikanya dia harus sudah menikah, karena itu adalah syarat mutlak.

Ada ayat dalam Wahyu 19:7-9 yang menyebut tentang “perkawinan Anak Domba,” yang dalam tradisi Kristen diartikan sebagai Yesus. Namun, apakah ini metafora atau peristiwa nyata, sulit untuk ditafsirkan secara pasti. Dalam 2 Korintus 11:2, Paulus juga menyebut tentang “mempertunangkan” jemaat kepada Kristus sebagai perawan suci. Narasi ini sering dianggap metafora dalam kekristenan. Namun, dalam konteks Yahudi, seorang rabi yang tidak menikah adalah pengecualian yang sangat langka.

Mengapa Memilih Islam?

Pembawa Acara: Setelah perjalanan panjang dari Kristen, Messianik, lalu Yudaisme, apa yang membuat Anda akhirnya memilih Islam?

Umar: Dalam Yudaisme, saya menemukan konsep monoteisme yang kuat, tetapi ada tantangan praktis, seperti keharusan tinggal di Israel bagi yang berkonversi atau mematuhi 613 mitzvot, termasuk aturan makanan kosher yang sangat ketat. Selain itu, beberapa rabi justru menyarankan saya untuk mempelajari Islam, karena mereka menganggap Islam sebagai agama monoteistik yang sempurna dan lebih mudah diterima bagi non-Yahudi. Mereka menyebut Islam sebagai bagian dari hukum Sheva Mitzvot Bnei Noach (tujuh hukum untuk keturunan Nuh), yang berlaku untuk umat di luar Israel.

Saya juga menemukan bahwa para rabi mengakui kenabian Nabi Muhammad SAW untuk umat di luar Israel, meskipun mereka tidak menerimanya sebagai nabi bagi bangsa Yahudi karena beliau bukan dari keturunan Israel. Dalam literatur Yudaisme, seperti Melakhim Umit pasal 11 oleh Rabi Maimonides, Nabi Muhammad disebut sebagai bagian dari rencana Tuhan untuk mempersiapkan jalan bagi Mesias dengan menyebarkan konsep monoteisme.

Dukungan untuk Yayasan Pembina Mualaf

Pembawa Acara: Terima kasih atas sharing yang luar biasa, Mas Umar. Sebelum menutup, kami ingin mengajak saudara-saudara sekalian untuk mendukung pembangunan pondok pesantren dan masjid kami di Wonosalam, Jombang. Alhamdulillah, pembangunan sudah hampir selesai, termasuk pemasangan granit dan fasilitas wudhu. Kami sedang menarik air dari sumber sejauh 2,5 km dengan kebutuhan 700 pipa dan pembangunan tandon berukuran 6×12 meter. InsyaAllah, masjid ini akan diresmikan bersamaan dengan salat Idul Adha dan penyembelihan hewan kurban.

Bagi yang ingin berkontribusi, baik untuk pembangunan masjid maupun hewan kurban, silakan menyalurkan donasi ke rekening Bank Syariah Indonesia nomor 111889971 atas nama Yayasan Pembina Mualaf Jawa Timur. Semoga amal kebaikan kita semua diterima oleh Allah SWT.

Penutup

Umar: Terima kasih kepada seluruh ikhwan dan akhwat yang telah mendengarkan. Saya berharap kita semua tetap istiqomah dalam Islam dan dipertemukan di surga-Nya. Doakan saya agar terus istiqomah dan diberi kemudahan dalam berdakwah. Dulu, saya sering berdebat dengan teman-teman Muslim, tapi kini Alhamdulillah kita menjadi saudara seiman. Semoga diskusi ini bermanfaat.

Pembawa Acara: MasyaAllah, luar biasa perjalanan Mas Umar. Mari kita doakan beliau tetap istiqomah. Terima kasih kepada pemirsa yang telah menyimak. Sampai jumpa di acara berikutnya. Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Linkk Youtube; https://youtu.be/wchYdg1qRQo?si=MxaOe-Ok4eBJcWgP

Silahkan bagikan di :