AqidahSejarah

Perbedaan Dialek dalam Al-Qur’an dan Varian dalam Alkitab: Respons terhadap Kritik atas Tuduhan Ketidakkonsistenan

Pendahuluan

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Dalam kajian malam Jumat di channel Ed M Ali Official dan Graha Mualaf, pembahasan kali ini merespons komentar kritis dari seorang penonton bernama Kionomo Zua 9669. Komentar tersebut menyatakan bahwa Al-Qur’an seharusnya tidak memiliki perbedaan dialek atau varian karena diturunkan melalui satu nabi (Muhammad SAW), satu bahasa (Arab), dan satu periode kenabian. Sementara itu, Alkitab diakui wajar memiliki varian karena ditulis oleh banyak orang, meskipun tetap dianggap diilhami Roh Kudus. Kajian ini menekankan bahwa konsep “kitab suci” adalah proses historis, bukan turun langsung sebagai buku jadi.

Dengan pendekatan akademik, kajian membandingkan varian lafaz (qira’at) dalam Al-Qur’an yang tidak mengubah makna atau jumlah kata dengan varian substansial dalam Alkitab, seperti perbedaan redaksi dalam Taurat Yahudi vs. Samaria, atau kanon Mazmur dan deuterokanonika antar denominasi Kristen. Hasil pencarian konfirmasi menunjukkan perbedaan ini historis dan signifikan, seperti Moriah vs. Moreh dalam Kejadian 22 (, ), Psalm 151 dalam Orthodox vs. Catholic/Protestant (, ), dan deuterokanonika yang bervariasi (, ).

Konsep Kitab Suci sebagai Proses Historis

Kitab suci bukanlah dokumen yang turun langsung dari langit dalam bentuk akhir, melainkan hasil proses historis panjang. Al-Qur’an dan Alkitab sama-sama mengalami tahap kompilasi, redaksi, dan kanonisasi. Kritik bahwa Al-Qur’an harus “sama persis” karena satu nabi, satu bahasa, dan satu periode mengabaikan fakta bahwa varian lafaz adalah bagian dari pewahyuan itu sendiri, sebagaimana diajarkan Rasulullah SAW.

Demikian pula, Alkitab khususnya Taurat diklaim ditulis oleh satu tokoh (Musa), dalam satu bahasa (Ibrani), dan satu periode, tapi faktanya ada varian signifikan. Ini bukan dogma “taken for granted”, tapi hasil proses historis yang melibatkan redaksi dan transmisi.

Varian dalam Al-Qur’an: Hanya Lafaz dan Penomoran, Makna Tetap Sama

Varian dalam Al-Qur’an adalah qira’at (bacaan) yang diajarkan Rasulullah SAW untuk memudahkan umat, dengan 10 riwayat mutawatir populer (seperti Hafs, Warsy, Hisyam). Jumlah kata tetap 78,364, 114 surah, 30 juz—tanpa penambahan/pengurangan. Perbedaan hanya dialek (lahjah), bukan makna.

Contoh dari QS. Al-Baqarah: 132:

Teks Arab (Riwayat Hafs, umum di Indonesia): وَوَصَّىٰ بِهَآ إِبْرَٰهِۦمُ بَنِيهِ وَيَعْقُوبُ يَٰبَنِىَّ إِنَّ ٱللَّهَ ٱصْطَفَىٰ لَكُمُ ٱلدِّينَ فَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ

Artinya (Terjemahan Kemenag RI): “Dan Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Yakub. (Ibrahim berkata): ‘Hai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama Islam.'”

Teks Arab (Riwayat Warsy, dari Ibnu Mas’ud): وَأَوْصَىٰ بِهَآ إِبْرَٰهِۦمُ بَنِيهِ وَيَعْقُوبُ يَٰبَنِىَّ إِنَّ ٱللَّهَ ٱصْطَفَىٰ لَكُمُ ٱلدِّينَ فَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ

Perbedaan: “Wawassa” vs. “Wa awsa” dialek, makna wasiat sama. Penomoran ayat bisa berbeda karena bukan wahyu, tapi teks lengkap identik. Ini seperti perbedaan “perbedaan” (Indonesia) vs. “perbezaan” (Malaysia)sa ma makna, beda lafaz.

Kompilasi Utsman bin Affan menyatukan mushaf, membakar varian campur aduk (seperti mushaf Ali dengan asbabun nuzul), tapi riwayat lafaz tetap terjaga.

Varian dalam Taurat: Yahudi vs. Samaria Bukan Hanya Dialek

Taurat (Pentateukh) diklaim dari Musa, satu bahasa (Ibrani), satu periode tapi varian antar versi Yahudi (Masoretik) dan Samaria signifikan, bukan sekadar dialek. Ada sekitar 6,000 perbedaan, kebanyakan minor, tapi beberapa substansial seperti lokasi dan hari istirahat ().

Contoh Kejadian 2:1-2:

Teks Ibrani (Versi Yahudi/Masoretik): וַיְכֻלּוּ הַשָּׁמַיִם וְהָאָרֶץ וְכָל־צְבָאָם׃ וַיְכַל אֱלֹהִים בַּיּוֹם הַשְּׁבִיעִי מְלַאכְתּוֹ אֲשֶׁר עָשָׂה וַיִּשְׁבֹּת בַּיּוֹם הַשְּׁבִיעִי מִכָּל־מְלַאכְתּוֹ אֲשֶׁר עָשָׂה׃

Terjemahan (Berdasarkan LAI): “Demikianlah diselesaikan langit dan bumi dan segala isinya. Ketika Allah pada hari ketujuh telah menyelesaikan pekerjaan yang dibuat-Nya itu, berhentilah Ia pada hari ketujuh dari segala pekerjaan yang telah dibuat-Nya itu.”

Teks Ibrani (Versi Samaria): וַיְכֻלּוּ הַשָּׁמַיִם וְהָאָרֶץ וְכָל־צְבָאָם׃ וַיְכַל אֱלֹהִים בַּיּוֹם הַשִּׁשִּׁי מְלַאכְתּוֹ אֲשֶׁר עָשָׂה וַיִּשְׁבֹּת בַּיּוֹם הַשְּׁבִיעִי מִכָּל־מְלַאכְתּוֹ אֲשֶׁר עָשָׂה׃

Terjemahan: “Demikianlah diselesaikan langit dan bumi dan segala isinya. Ketika Allah pada hari keenam telah menyelesaikan pekerjaan yang dibuat-Nya itu, berhentilah Ia pada hari ketujuh dari segala pekerjaan yang telah dibuat-Nya itu.”

Perbedaan: “Hari ketujuh” (shvi’i) vs. “Hari keenam” (shishi)—mempengaruhi praktik Sabat.

Lainnya: Kejadian 22:2—lokasi pengorbanan Ishak: Moriah (Yahudi, dekat Yerusalem) vs. Moreh (Samaria, dekat Nablus) (, ). Ini bukan dialek, tapi objek berbeda, memengaruhi situs suci.

Versi Masoretik Yahudi sendiri terpecah: Ben Asher (masih ada) vs. Ben Naftali (banyak dibakar).

Varian dalam Mazmur dan Kanon Alkitab

Mazmur (Zabur) diklaim dari Daud, tapi varian kanon antar denominasi Kristen signifikan. Yahudi, Catholic, Protestant: 150 pasal. Orthodox: 151 pasal, dengan Psalm 151 (, ).

Teks Ibrani (Mazmur 151, dari Septuaginta Yunani, basis Orthodox; tidak ada dalam Masoretik): הַלְלוּיָהּ לְדָוִד בֶּן־יִשַׁי. קָטֹנְתִּי מִכֹּל אַחַי וְצָעִיר אֲנִי בְּבֵית אָבִי רֹעֶה צֹאן אָבִי הָיִיתִי

Terjemahan (Berdasarkan Orthodox Bible): “Hallelujah of David the son of Jesse. I was the smallest among my brothers, and the youngest in my father’s house; I tended my father’s sheep.”

Deuterokanonika: Catholic punya 7 (Tobit, Judith, dll.); Orthodox lebih (3-4 Maccabees, Psalm 151, dll.); Protestant tolak sebagai apokrifa (, ).

Ini menunjukkan kanon tidak seragam, meski klaim ilham Roh Kudus.

Kesimpulan

Kritik bahwa Al-Qur’an harus “sama persis” mengabaikan qira’at sebagai pewahyuan, dengan makna dan jumlah kata tetap. Alkitab memiliki varian lebih substansial, seperti hari istirahat (ke-6 vs. ke-7) atau lokasi suci (Moriah vs. Moreh), meski dari satu tokoh (Musa). Perbedaan ini historis, bukan mengurangi nilai iman masing-masing.

Dukung YPMA untuk pembangunan pondok pesantren dan masjid di Wonosalam, Jombang, serta binaan mualaf: Rekening BSI 1118889971 atas nama Yayasan Pembina Mualaf Attauhid Jawa Timur. Beli buku Ustadz Menachem Ali seperti Ismail dalam Alkitab dan Manuskrip Qumran via Tokopedia atau link di deskripsi.

Wabillahi taufiq wal hidayah, wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Silahkan bagikan di :