Ismail atau Ishak: Analisis Kritis Perdebatan Idul Qurban
Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Pada kajian malam ini di kanal Graha Mualaf, kita kembali membahas tema Idul Qurban, khususnya perdebatan klasik mengenai identitas putra Nabi Ibrahim AS yang dikurbankan: apakah Ismail AS atau Ishak AS? Bersama Ustadz M. Ali, kita akan mengupas isu ini dari perspektif Islam, Yahudi, dan Kristen, dengan pendekatan kritis berbasis dokumen untuk menjawab tuduhan-tuduhan yang sering dilontarkan terhadap narasi Islam, serta meluruskan pemahaman yang keliru.
Latar Belakang Perdebatan
Peristiwa Idul Qurban, yang mengacu pada ujian pengorbanan Nabi Ibrahim AS, selalu memicu diskusi lintas agama. Dalam tradisi Islam, mayoritas umat di Indonesia meyakini bahwa putra yang dikurbankan adalah Ismail AS, sementara beberapa pendapat, terutama di kalangan ulama Arab Saudi, cenderung menyebut Ishak AS. Tuduhan dari kalangan non-Muslim, khususnya Kristen dan Yahudi, seringkali menyoroti bahwa Al-Qur’an tidak menyebut nama putra secara eksplisit, sedangkan Taurat (Kitab Kejadian) secara tegas menyebut Ishak. Narasi ini kadang digunakan untuk memojokkan Islam, dengan mengklaim bahwa Ismail, sebagai anak dari Hajar (yang disebut sebagai budak), kurang sah dibandingkan Ishak, anak dari Sarah. Tuduhan ini bahkan meluas hingga meremehkan sakralitas Makkah dan air Zamzam.
Namun, benarkah narasi ini sesederhana yang diklaim? Mari kita telusuri dengan pendekatan kritis berbasis teks dan dokumen.
Narasi Al-Qur’an: Konteks tanpa Nama Eksplisit
Dalam Al-Qur’an, kisah pengorbanan Ibrahim AS termaktub dalam Surah Ash-Shaffat (37:100–102). Ayat 100 berbunyi: “Rabbi habli minash-shalihin” (Ya Tuhanku, anugerahkan kepadaku keturunan yang shalih). Allah menjawab pada ayat 101: “Fabasysyarnahu bighulamin halim” (Maka Kami beri kabar gembira kepadanya dengan seorang anak yang halim). Ayat 102 melanjutkan, ketika anak tersebut telah baligh, Ibrahim berkata: “Wahai anakku, sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu, maka pikirkanlah apa pendapatmu.” Anak itu menjawab: “Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.”
Al-Qur’an tidak menyebut nama anak secara eksplisit, hanya menyebut ghulam halim (anak yang lemah lembut). Namun, terjemahan Al-Qur’an dalam bahasa Indonesia sering menyertakan catatan kaki bahwa anak tersebut adalah Ismail AS, berdasarkan konteks dan tafsir ulama. Kritik dari kalangan Kristen sering menyoroti ketiadaan nama eksplisit ini, dengan membandingkannya pada Kitab Kejadian 22:1–2, yang menyebut Ishak secara tegas: “Ambillah anakmu yang tunggal itu, yang engkau kasihi, yaitu Ishak, pergilah ke tanah Moria…”
Namun, apakah narasi ini benar-benar lebih kuat dalam Taurat? Mari kita analisis.
Narasi Taurat: Ishak dan Ketidakpastian Teks
Dalam Kitab Kejadian 22:1–7, disebutkan bahwa Ibrahim diperintahkan untuk mengorbankan Ishak. Namun, terdapat detail menarik:
- Ishak tidak tahu bahwa dirinya akan dikurbankan, sebagaimana terlihat dari pertanyaannya: “Ayah, ini sudah ada api dan kayu, tetapi di mana anak domba untuk korban bakaran?” (Kejadian 22:7). Ibrahim menjawab: “Allah sendiri yang akan menyediakan anak domba.”
- Dalam narasi ini, Ibrahim ditemani dua bujang, yang menurut tafsir Yahudi kuno adalah Ismail dan Eliezer. Menariknya, tafsir ini menyebutkan bahwa Ismail tahu tentang rencana pengorbanan Ishak dan berkata kepada Eliezer: “Abraham akan mengorbankan Ishak, dan aku akan menjadi pewaris sulung.” Ini menunjukkan bahwa Ismail, meskipun tidak menjadi korban, terlibat dalam peristiwa tersebut dan mengetahui rencana pengorbanan.
Namun, ketika menelusuri dokumen yang lebih tua, seperti Dead Sea Scrolls (ditemukan di Gua Qumran, berasal dari abad ke-3 SM), tidak ada penyebutan nama Ishak atau Ismail dalam narasi pengorbanan. Dead Sea Scrolls, yang lebih tua dari manuskrip Masoretik Taurat (abad ke-9 M), hanya menyebut “putra tunggal” tanpa nama spesifik. Ini menunjukkan bahwa penyebutan nama Ishak dalam Taurat versi Masoretik muncul belakangan, setelah Islam telah eksis (Nabi Muhammad SAW wafat pada 632 M, sedangkan manuskrip Masoretik berasal dari abad ke-9 M).
Dengan demikian, Al-Qur’an dan Dead Sea Scrolls memiliki kesamaan: keduanya tidak menyebut nama eksplisit, hanya merujuk pada “putra tunggal” atau ghulam halim. Ini melemahkan klaim bahwa narasi Taurat lebih kuat karena menyebut Ishak secara eksplisit.
Tafsir Awal Islam: Ismail vs. Ishak
Dalam tradisi Islam, tafsir generasi awal menunjukkan adanya dua pendapat mengenai identitas putra yang dikurbankan:
- Tafsir Muqatil bin Sulaiman (w. 150 H): Menyebut bahwa putra yang dikurbankan adalah Ishak, putra Sarah. Tafsir ini tidak menggunakan sanad (mata rantai periwayatan).
- Tafsir Sufyan Ats-Tsauri (w. 161 H): Menyebut bahwa putra tersebut adalah Ismail, dengan sanad yang jelas (Sufyan ‘an Abi Najih ‘an Mujahid fi qawlihi). Karena tafsir ini menggunakan sanad, ia dianggap lebih kuat dalam tradisi Islam.
Kedua ulama ini hidup pada zaman yang sama, menunjukkan bahwa sejak generasi awal (abad ke-2 H), sudah ada dua pendapat: Ismail dan Ishak. Klaim bahwa tafsir awal hanya menyebut Ishak adalah ketidakjujuran akademik, karena tafsir Sufyan Ats-Tsauri dengan jelas menyebut Ismail dengan sanad yang sahih. Tafsir belakangan, seperti karya Ath-Thabari, Al-Qurthubi, dan Ibnu Katsir, lebih condong memperkuat Ismail sebagai putra yang dikurbankan, dengan merujuk pada konteks bahwa peristiwa ini terjadi di Makkah (Mina), bukan di Palestina.
Lokasi Pengorbanan: Makkah vs. Moria/Moreh
Selain identitas putra, lokasi pengorbanan juga menjadi poin krusial:
- Dalam tradisi Islam: Baik Ismail maupun Ishak, lokasi pengorbanan disepakati berada di Mina, Makkah, yang terkait dengan sakralitas Ka’bah dan ibadah haji. Ini didukung oleh kitab-kitab hadis dan tafsir, yang tidak menyebutkan pengorbanan di Syam (Palestina).
- Dalam tradisi Yahudi dan Samaritan: Nama putra yang dikurbankan adalah Ishak, tetapi lokasinya berbeda. Versi Yahudi menyebut Moria (terkait dengan Yerusalem), sedangkan versi Samaritan menyebut Moreh (terkait dengan Nablus/Sikhem, Palestina utara). Perbedaan ini bukan sekadar pelafalan, melainkan merujuk pada dua lokasi berbeda, yang mencerminkan perpecahan teologis antara Yahudi (selatan) dan Samaritan (utara) dalam menentukan kiblat dan tempat suci.
Perbedaan lokasi ini memiliki konsekuensi teologis besar. Dalam Islam, sakralitas Makkah sebagai kiblat tidak diragukan, terlepas dari apakah putra yang dikurbankan adalah Ismail atau Ishak. Namun, dalam tradisi Yahudi dan Samaritan, perbedaan antara Moria dan Moreh mencerminkan konflik mengenai lokasi tempat suci, yang memengaruhi identitas kiblat mereka.
Makna Filosofis Idul Qurban
Terlepas dari perdebatan tentang nama putra, hikmah Idul Qurban adalah korban cinta yang agung. Dalam Islam, peristiwa ini bukan tentang penebusan dosa (seperti dalam beberapa interpretasi Kristen), melainkan tentang ketaatan total kepada Allah SWT. Al-Qur’an menegaskan bahwa anak yang dikurbankan mengetahui dan rela menjadi korban, menunjukkan kesediaan dan kepasrahan kepada perintah Allah. Dalam tafsir Yahudi, meskipun Ishak tidak tahu bahwa dirinya akan dikurbankan, Ismail disebut mengetahui rencana tersebut, yang menunjukkan kesejajaran dengan narasi Al-Qur’an.
Fokus pada nama (Ismail atau Ishak) sering kali mengalihkan perhatian dari esensi teologis: pengorbanan adalah simbol pelepasan ego dan keterikatan duniawi demi keridhaan Allah. Lokasi pengorbanan dalam Islam (Mina, Makkah) memperkuat sakralitas Ka’bah sebagai kiblat umat Islam, yang tidak terpengaruh oleh perdebatan nama putra.
Menjawab Tuduhan dan Pentingnya Pendekatan Kritis
Tuduhan bahwa Ismail kurang sah karena status Hajar sebagai “budak” sering digunakan untuk merendahkan narasi Islam. Namun, analisis kritis menunjukkan:
- Dead Sea Scrolls (abad ke-3 SM) tidak menyebut nama Ishak atau Ismail, sehingga narasi Al-Qur’an setara dengan dokumen Yahudi tertua.
- Tafsir awal Islam (Muqatil dan Sufyan) menunjukkan adanya dua pendapat sejak generasi awal, bukan hanya Ishak seperti yang diklaim.
- Lokasi pengorbanan dalam Islam (Mina) konsisten dengan sakralitas Makkah, sedangkan Yahudi dan Samaritan terpecah antara Moria dan Moreh.
Pendekatan kritis berbasis dokumen ini penting untuk menghindari kesimpulan yang bias atau taken for granted. Tuduhan terhadap Islam sering kali mengabaikan fakta bahwa terjemahan Alkitab juga menambahkan nama Ishak pada ayat-ayat yang tidak menyebutnya secara eksplisit, seperti dalam Kejadian 21:8–9, di mana Ismail hanya disebut sebagai “anak Hajar” dalam teks asli Ibrani.
Kesimpulan
Perdebatan apakah Ismail atau Ishak yang dikurbankan oleh Nabi Ibrahim AS bukanlah inti dari Idul Qurban. Dalam tradisi Islam, kedua pendapat ada sejak generasi awal, dengan tafsir ber-sanad (Sufyan Ats-Tsauri) lebih kuat menyebut Ismail. Dokumen tertua, seperti Dead Sea Scrolls, tidak menyebut nama eksplisit, sehingga narasi Al-Qur’an setara dengan Taurat awal. Yang lebih penting adalah lokasi pengorbanan: Islam menegaskan Mina (Makkah) sebagai tempat suci, sedangkan Yahudi dan Samaritan terpecah antara Moria dan Moreh.
Idul Qurban mengajarkan kita untuk fokus pada esensi ketaatan dan pengorbanan cinta kepada Allah SWT, bukan pada polemik nama. Dengan pendekatan kritis berbasis dokumen, kita dapat menjawab tuduhan dengan logis dan memperluas wawasan teologis tanpa menciptakan kontroversi. Semoga kajian ini menjadi pencerahan bagi umat, dan kita tetap menghormati para ulama seperti Gus Baha yang turut memperkaya diskusi ini.
Hadanallah Waiyyakum.
Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Link Video : https://youtu.be/vunrOXMNE54?si=QKL9weaqTOxtbhrf

