AqidahSejarah

Tuduhan bahwa Apakah Ka’bah adalah pusat berhala sejak awal ?

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Selamat malam, pemirsa setia channel Graha Mualaf, bersama Edi Prayitno dan Menachem Ali Official. Seperti biasa, setiap malam Jumat kita mengadakan kajian istimewa yang selalu ditunggu-tunggu. Malam ini, kita masih bersama Ustadz Menachem Ali. Assalamualaikum, Ustadz.

Ustadz Menachem Ali: Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Alhamdulillah, saya selalu berusaha menjaga kehidupan fisik saya tetap prima.

Edi: Malam ini kita lanjutkan topik yang sangat menarik, untuk menjawab tuduhan dari non-Muslim dan bahkan sebagian Muslim bahwa Ka’bah adalah pusat penyembahan berhala sejak awal, dan bahwa berhala-berhala tersebut dibawa oleh keturunan Ismail. Ustadz, bagaimana tanggapan Anda?

Ustadz Menachem Ali: Tuduhan bahwa Ka’bah adalah pusat berhala sejak awal, atau bahwa keturunan Ismail mempelopori penyembahan berhala, adalah kesalahpahaman yang perlu diluruskan. Saya tidak akan menyebut nama, tapi ada Muslim yang keliru menyatakan bahwa berhala dibawa oleh keturunan Ismail. Ini berbahaya jika dibiarkan, karena tujuan agama adalah kebenaran, bukan kepentingan pribadi atau kelompok. Kita harus berpijak pada dokumen, baik internal (Islam) maupun eksternal (non-Islam), untuk memperkuat hujah.

Edi: Jadi, kita harus berbasis dokumen, bukan dogma?

Ustadz Menachem Ali: Betul. Al-Qur’an sendiri, dalam Surah Ali Imran ayat 96, menyebutkan bahwa rumah suci pertama yang dibangun untuk manusia adalah di Bakkah (Mekah), tempat yang penuh berkah. Bakkah berasal dari akar kata baka (menangis), menunjukkan kekhususan kota ini. Dokumen eksternal, seperti Kitab Kejadian (Pasal 10 ayat 30), juga menyebutkan kawasan hunian keturunan Yoktan, dari Mesa hingga Sefar, pegunungan timur, yang mencakup Mekah.

Edi: Mesa itu Mekah?

Ustadz Menachem Ali: Iya, menurut Rebai Saadya Gaon (882–942 M), Mesa adalah nama lain Mekah. Dalam Kitab Kejadian, Pasal 10 ayat 25–30, disebutkan keturunan Yoktan, seperti Almodat, Selef, Hazar Mawet (Hadramaut), dan Hadoram (Jurhum), yang menguasai kawasan luas di Semenanjung Arab, termasuk Hijaz dan Mekah. Mereka bukan keturunan Ismail atau Ibrahim, melainkan Yoktan, keturunan Nuh.

Edi: Jadi, keturunan Yoktan ini menguasai wilayah keturunan Ismail?

Ustadz Menachem Ali: Benar. Dokumen eksternal, seperti Biblia Hebraica (terbitan 2012, Kairo) dan Alkitab terjemahan Madura (1994), menyebutkan bahwa keturunan Yoktan menguasai dari Mesa (Mekah) hingga Sefar. Hadoram, yang dalam bahasa Sabean disebut Jurhum, adalah salah satu keturunan Yoktan. Dokumen internal, seperti Tarikh al-Hadrami dan Kitab al-Asnam karya Hisyam bin Muhammad Al-Kalbi (wafat 304 H), juga menyebutkan bahwa Arab Aribah (Qahtaniyun/Yamaniyun) adalah keturunan Qahtan, bukan Ismail.

Edi: Siapa yang pertama kali membawa berhala ke Ka’bah?

Ustadz Menachem Ali: Saya perlu meluruskan kesalahan saya sebelumnya. Awalnya, saya menyebut Amru bin Harit, tapi yang benar adalah Amru bin Luhay bin Haritsah bin Amru bin Amir al-Azdi, dari suku Al-Azdi, keturunan Yoktan. Ibunya, Fuhairah (atau Qamah), berasal dari suku Jurhum, juga keturunan Yoktan. Menurut Kitab al-Asnam, Amru bin Luhay adalah orang pertama yang memasukkan berhala ke Ka’bah, mengubah ajaran tauhid menjadi paganisme.

Edi: Jadi, bukan keturunan Ismail?

Ustadz Menachem Ali: Bukan. Suku Jurhum dan Al-Azdi adalah keturunan Qahtan, bukan Ismail. Dalam tradisi Islam, Nabi Ismail menikahi wanita dari suku Jurhum, sehingga mustahil Jurhum adalah keturunan Ismail. Tuduhan bahwa Jurhum adalah Bani Ismail keliru, karena ada miskonsepsi teks, seperti menghilangkan kata “bi” dalam “Jurhuman bi Bani Ismail,” yang berarti “Jurhum bersama Bani Ismail,” bukan “Jurhum adalah Bani Ismail.”

Edi: Bagaimana peran Bani Ismail dalam konteks ini?

Ustadz Menachem Ali: Amru bin Luhay merebut kekuasaan pengelolaan Ka’bah dari suku Jurhum dengan bantuan Bani Ismail. Namun, Bani Ismail tidak terlibat dalam penyembahan berhala. Mereka hanya membantu pengambilalihan kekuasaan. Setelah itu, Amru bin Luhay memperkenalkan berhala, yang kemudian memengaruhi sebagian orang, termasuk beberapa dari Bani Ismail, hingga akhirnya dibersihkan oleh Nabi Muhammad SAW.

Edi: Jadi, Ka’bah awalnya suci?

Ustadz Menachem Ali: Tepat. Ka’bah dibangun oleh Nabi Ibrahim dan Ismail sebagai pusat tauhid. Penyembahan berhala adalah penyimpangan yang dibawa oleh Amru bin Luhay dari suku Al-Azdi dan Jurhum, bukan inisiatif Bani Ismail. Dokumen eksternal, seperti tulisan Santo Theophanes (wafat 817 M), juga menyebutkan bahwa keturunan Yoktan (Himyar, Hadramaut) adalah orang Yaman, bukan keturunan Ismail. Peta Claudius Ptolomius (wafat 170 M) pun mengkonfirmasi keberadaan suku-suku ini di Yaman.

Edi: Mengapa ada yang tersinggung saat kita membahas Yaman?

Ustadz Menachem Ali: Kita tidak menggeneralisasi bahwa semua orang Yaman penyembah berhala. Banyak tokoh hebat dari Yaman, seperti Muqatil bin Sulaiman, mufasir terkenal dari suku Al-Azdi. Nabi Muhammad SAW juga memuji sebagian orang Yaman. Yang kita luruskan adalah fakta sejarah bahwa Amru bin Luhay, oknum dari suku Al-Azdi dan Jurhum, mempelopori penyembahan berhala di Ka’bah, bukan Bani Ismail. Kita bicara berdasarkan dokumen, bukan emosi atau kultus.

Edi: Jadi, intinya Ka’bah awalnya suci, dan penyimpangan terjadi karena oknum tertentu?

Ustadz Menachem Ali: Betul. Ka’bah adalah pusat tauhid warisan Nabi Ibrahim dan Ismail. Penyembahan berhala adalah penyimpangan yang dibawa oleh Amru bin Luhay dari keturunan Qahtan, bukan Ismail. Bani Ismail hanya terlibat dalam perebutan kekuasaan, bukan penyembahan berhala. Ini dikonfirmasi oleh dokumen internal dan eksternal.

Edi: Terima kasih, Ustadz. Untuk pemirsa, Yayasan Pembina Mualaf sedang membangun pondok pesantren di Wonosalam, Jombang, sebagai pusat pendidikan mualaf dan intelektual Muslim. Silakan berdonasi ke rekening Bank Syariah Indonesia nomor 1118889971 atas nama YPM Jawa Timur.

Ustadz Menachem Ali: Semoga bermanfaat. Mohon maaf jika ada salah kata. Wabillahi taufiq wal hidayah, wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Edi: Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh.

Link; https://youtu.be/WC6MVakbYoQ?si=udCc0AMKuJkdOHss

Silahkan bagikan di :